NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama di Rumah yang Asing

Langkah kaki Fatimah terasa begitu gamang saat melewati ambang pintu sebuah rumah berarsitektur modern minimalis di sudut kota.

Bau harum sisa kebersihan menyambut indra penciumannya, sangat kontras dengan aroma tanah kubur dan bunga kamboja yang melekat di pakaiannya sejak sore tadi.

Ini adalah rumah milik suami barunya, tempat di mana ia harus menghabiskan sisa hidupnya mulai malam ini.

Sesuai dengan kesepakatan keluarga pasca-pemakaman Ayah, Faisal dan Ibu meminta Fatimah untuk langsung ikut bersama suaminya.

Tidak ada gunanya menunda keberangkatan, sebab tanggung jawab Fatimah kini sepenuhnya telah berpindah tangan.

Rayhan—yang kini telah ia ketahui nama lengkapnya adalah Rayhan Khalif—melangkah masuk terlebih dahulu sembari menjinjing tas ransel besar milik Fatimah.

Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu membalikkan badan, lalu menatap istri kecilnya yang masih berdiri mematung di dekat pintu depan dengan kepala tertunduk dalam.

"Masuklah, Fatimah. Ini rumahmu juga sekarang. Anggap saja seperti rumahmu sendiri, jangan merasa sungkan."

Ujar Rayhan, suaranya terdengar sangat lembut dan penuh pembawaan yang tenang.

"Iya, Mas Rayhan," bisik Fatimah lirih.

Fatimah menutup pintu depan perlahan, lalu melangkah mengikuti Rayhan menuju sebuah kamar utama yang terletak di lantai bawah.

Kamar itu tampak begitu rapi dan luas, dengan sebuah ranjang berukuran besar yang ditutupi sprei berwarna abu-abu pekat.

Rayhan meletakkan tas milik Fatimah di samping lemari besar, lalu berbalik menghadapi istrinya.

Menyadari atmosfer kecanggungan yang begitu pekat di antara mereka, Rayhan tersenyum maklum.

Sebagai seorang pria dewasa, ia sangat memahami guncangan emosional yang sedang dialami gadis dua puluh tahun di hadapannya ini.

Dalam satu hari, Fatimah harus kehilangan cita-cita kuliahnya, menikah dengan pria yang jauh lebih tua, dan kehilangan ayah tercintanya.

Beban itu terlalu berat untuk dipikul sendirian.

"Fatimah."

Panggil Rayhan lembut, membuat Fatimah mendongak sedikit.

"Di dalam rumah ini, hanya ada kita berdua."

"Tidak ada orang asing atau pandangan lelaki lain yang perlu kamu batasi."

"Jika kamu merasa gerah atau tidak nyaman, lepaskanlah cadarmu. Kamu bebas menjadi dirimu sendiri di sini."

Fatimah tertegun mendengar kalimat suaminya yang begitu pengertian. Ia menatap sekeliling kamar yang tertutup rapat, lalu perlahan-lahan mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala.

Jemarinya yang ramping membuka simpul tali kain hitam yang selama setahun ini selalu melindungi wajahnya dari pandangan dunia luar.

Ketika kain cadar itu terlepas dan turun ke dadanya, untuk pertama kalinya Rayhan bisa melihat secara utuh wajah sang istri.

Wajah Fatimah tampak begitu bersih, polos, dengan hidung yang mancung kecil dan bibir yang sedikit pucat.

Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, sisa-sisa gurat kesedihan dan bekas air mata yang mengering masih tercetak jelas di pipinya yang halus.

Keindahan yang begitu terjaga, membuat Rayhan sempat tertahan napasnya selama beberapa detik sebelum akhirnya ia mengucap hamdalah dan rasa kagum di dalam hati.

Rayhan berjalan mendekati lemari, mengambil selembar handuk bersih dan sebuah kaus longgar baru dari dalam sana.

"Kamu pasti sangat lelah dan gerah setelah seharian ini."

"Bersihkan dirimu dulu dengan air hangat agar pikiranmu sedikit tenang."

"Ini ada pakaian ganti, ukurannya mungkin agak besar, tapi cukup nyaman untuk tidur."

Fatimah menerima pakaian itu dengan takzim.

"Terima Kasih, Mas Rayhan."

"Sama-sama."

"Setelah selesai, kita salat Isya berjamaah? Kita doakan Ayah bersama-sama di sini,"

sambung Rayhan sembari mengusap pelan puncak kepala Fatimah yang kini sudah tidak tertutup lagi dengan jilbab.

Sentuhan tangan Rayhan yang begitu hangat dan penuh penghormatan perlahan mengikis rasa takut yang sempat bersarang di dada Fatimah.

Saat ia melangkah menuju kamar mandi, setitik keikhlasan baru mulai tumbuh di hatinya.

Pria bernama Rayhan Khalif ini bukan lagi sebuah belenggu takdir, melainkan sebuah payung teduh yang dikirimkan Allah untuk melindunginya di kala badai kehidupan sedang mengamuk dengan hebatnya.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!