Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Es Teh Tarik di Musim Panas
Pagi itu, cuaca di Kota Benteng Oakhaven mendadak berubah menjadi sangat terik. Matahari faksi selatan bersinar begitu garang hingga zirah besi para ksatria gerbang bisa digunakan untuk menggoreng telur dadar secara instan. Di tengah gelombang panas yang membuat para petualang menjulurkan lidah seperti anjing kehausan, Raditya justru berdiri tegak di depan ruko barunya dengan senyum kapitalis paling berkilau abad ini.
Berkat surat sakti bebas pajak dari Baron Vane dan sisa saldo 1.280 Poin Survival, Raditya resmi meng-upgrade lapak terpal reyotnya menjadi sebuah kedai kayu dua lantai yang estetik di area strategis Alun-alun Bawah. Di atas pintu masuk, tergantung sebuah papan nama kayu jati yang dipahat rapi: "WARKOP SACHET RADITYA – Cabang Utama Lintas Dimensi".
"Tuan Raditya, udara hari ini seperti tungku api penyihir tingkat tinggi," keluh Nona Lira yang duduk di dekat kipas angin portable bertenaga baterai AA yang disewa dari sistem seharga 2 poin per jam. "Mengapa kau malah menyuruhku menumbuk balok es batu dari tadi?"
"Nona Lira, dengarkan prinsip dasar ekonomi makro dari Bumi," ujar Raditya sambil menyobek sebungkus Teh Tarik Instan Sachet Kualitas Premium dengan kecepatan tangan +40%. "Di mana ada penderitaan karena dehidrasi, di sana ada pundi-pundi koin perak yang mengalir. Hari ini, kita tidak jualan yang panas-panas. Hari ini, kita lakukan invasi es sachet!"
Ding!
[Sistem v3.0 Memberikan Sentilan Sarkas]:
Analisis Tindakan: Mengonversi penderitaan iklim penduduk lokal menjadi margin keuntungan 900% lewat sebungkus bubuk perasa teh buatan.
Status Moral: Sangat dipertanyakan, tetapi sangat disukai oleh algoritma kasir otomatis.
Pesan Sistem: Selamat, Manajer. Anda berhasil membawa budaya 'Nongkrong di Warkop sampai Lumutan' ke dunia fantasi yang harusnya penuh dengan petualangan heroik ini.
Raditya mengabaikan ejekan sistem. Dia memasukkan bubuk teh tarik ke dalam gelas shaker stainless steel, menambahkan air, es batu hasil tumbukan Lira, lalu mulai melakukan gerakan mengocok shaker dengan gaya barista profesional yang sangat dilebih-lebihkan.
SHAKE! SHAKE! SHAKE!
Aroma manis susu berpadu dengan kepekatan teh hitam langsung menguar, memotong udara panas yang pengap. Begitu dituangkan ke dalam gelas bambu lokal, lapisan busa (foam) yang lembut terbentuk di atasnya, berkilau dingin diguyur tetesan air es.
"Es Teh Tarik Sachet... siap merusak tatanan minuman sehat di dunia ini," seringai Raditya komedi.
Belum sempat Raditya meneriakkan jargon promosinya, sebuah kereta kuda mewah berornamen perak berkilau berhenti tepat di depan warkopnya. Kereta itu dikawal oleh sepasang ksatria elit kastel. Pintu kereta terbuka, dan turunlah seorang gadis muda yang langsung membuat seluruh petualang di alun-alun menahan napas.
Gadis itu adalah Lady Vivienne Vane, putri tunggal Baron Vane. Dia memiliki rambut pirang bergelombang yang indah, mata sebiru permata safir, dan gaun sutra musim panas yang anggun. Namun, di balik keanggunannya, Vivienne dikenal memiliki lidah yang sangat pemilih dan dingin terhadap semua pria yang mencoba mendekatinya.
Vivienne melangkah masuk ke dalam warkop, membuat Nona Lira refleks berdiri dan membungkuk hormat. Sementara Raditya? Dia tetap asyik mengelap meja konternya dengan kain lap kumal seolah yang datang hanyalah pelanggan reguler penyuka mi instan.
"Jadi... kau yang bernama Raditya?" suara Vivienne terdengar lembut namun penuh selidik. Matanya yang indah menatap kemeja flanel kotak-kotak Raditya dengan dahi mengernyit. "Pria asing berpakaian aneh yang membuat ayahku rela menandatangani surat bebas pajak demi secangkir sup mercon?"
"Selamat datang di Warkop Sachet, Lady Vivienne," sahut Raditya, memasang wajah ramah namun penuh pretensi bisnis. "Sup mercon itu sudah lewat masa tayangnya untuk pagi ini. Sekarang kami beralih ke menu penyejuk jiwa. Ada yang bisa saya bantu? Atau Anda ke sini hanya untuk melakukan inspeksi visual terhadap ketampanan manajer grosir?"
Nona Lira di sudut ruangan langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar narsisme Raditya yang tak kenal tempat itu.
Vivienne sempat tertegun. Biasanya, para bangsawan muda akan berlutut dan membacakan puisi busuk untuk menarik perhatiannya. Pria flanel di depannya ini justru memperlakukannya seperti pembeli grosiran.
"Lancang sekali bicaramu," ujar Vivienne, wajahnya agak memerah—entah karena panasnya cuaca atau karena kejujuran sarkas Raditya. "Aku ke sini karena ayahku terus-menerus mengigau tentang makananmu. Dan hari ini sangat panas, pelayan kastel tidak ada yang bisa membuat minuman yang menyegarkan. Jika minumanmu tidak bisa memuaskan lidahku, aku akan menyuruh ayahku mencabut surat izin dagangmu!"
"Tantangan yang sangat klise, tapi saya terima dengan senang hati," kekeh Raditya.
Dengan gerakan teatrikal, Raditya menyodorkan segelas bambu besar berisi Es Teh Tarik Sachet yang busanya masih meluap-luap, lengkap dengan sedotan bambu kecil di dalamnya. "Silakan, My Lady. Minum ini, dan rasakan bagaimana peradaban modern Bumi mendinginkan ego bangsawan Anda."
Ding!
[Sistem v3.0 Membuka Mode Deteksi Asmara Amatir]:
Target: Lady Vivienne Vane.
Status Mental: Gengsi tingkat tinggi (95%), Penasaran (80%), Kehausan (100%).
Peringatan Sistem: Hati-hati, Manajer. Efek visual dari gerakan mengocok gelas Anda tadi tampaknya memberikan serangan kritikal tak disengaja pada standar pria idaman sang Lady. Jangan buat dia jatuh cinta, atau Anda harus berurusan dengan Baron yang protektif beserta seluruh pasukan ksatria berzirahnya.
Vivienne menerima gelas itu. Rasa dingin yang merembes dari dinding bambu langsung membuat tangannya yang halus terasa nyaman. Dia mendekatkan sedotan ke bibir ranumnya, lalu menyedot minuman itu perlahan.
Sluuuurp...
Detik itu juga, waktu seolah berhenti bagi Vivienne. Rasa manis yang pas, kelembutan susu yang gurih, dan sensasi dingin yang menghantam tenggorokannya seketika menyapu bersih seluruh rasa gerah yang menyiksanya sejak pagi. Aliran rasa segar itu mengalir ke seluruh tubuhnya, membuatnya mendadak merasa seperti sedang berdiri di puncak gunung es yang sejuk.
"I-Ini..." Vivienne menurunkan gelasnya. Matanya bergetar menatap Raditya. Jantungnya mendadak berdegup kencang secara abnormal.
Bukan hanya karena minumannya yang luar biasa enak, tapi saat dia melihat ke arah Raditya, pemuda itu sedang tersenyum tipis sembari menyeka keringat di pelipisnya dengan sapu tangan. Sinar matahari terik yang menembus celah jendela warkop membuat siluet Raditya tampak... sangat berbeda dari pria-pria manja di kastel. Ada aura kemandirian, kecerdasan, dan sedikit sifat 'berandalan komersial' yang sangat memikat di mata Vivienne yang selama ini terkekang aturan protokol bangsawan.
"Bagaimana, Lady Vivienne? Apakah izin dagang saya jadi dicabut, atau Anda mau menambah pesanan untuk dibawa pulang ke kastel?" tanya Raditya dengan nada mengejek yang jenaka.
"K-Kau... minuman ini lumayan!" Vivienne buru-buru memalingkan wajahnya yang kini benar-benar memerah padam sampai ke telinga, berusaha keras menyembunyikan senyum kegembiraannya. "Tapi jangan serakah! Aku... aku hanya memastikan kau tidak meracuni penduduk kota ini!"
Vivienne buru-buru meletakkan dua keping koin emas—bukan koin perak—di atas meja konner Raditya. "Ini uangnya! Dan... dan karena minuman ini tidak buruk, aku akan memastikan untuk datang ke sini setiap minggu untuk... melakukan pengawasan! Ya, pengawasan resmi!"
Tanpa menunggu jawaban Raditya, sang Lady langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kereta kudanya dengan langkah yang agak panik, menyisakan para ksatrianya yang kebingungan melihat tingkah nona mereka yang mendadak salah tingkah.
Raditya menatap dua koin emas di mejanya, lalu menatap kereta kuda yang menjauh. "Wah, Sistem. Ternyata bangsawan di sini kalau bayar suka salah hitung ya? Nominalnya kelebihan banyak banget ini."
Ding!
[Sistem v3.0 Menepuk Jidat Virtual]:
Kesimpulan: Anda benar-benar buta emosional, Manajer. Itu bukan salah hitung, itu namanya 'Uang Jajan Modus' dari seorang gadis yang diam-diam mulai menaruh hati pada penjual sachet flanel berwajah pas-pasan seperti Anda.
Hasil Ekspansi: Es Teh Tarik sukses besar! Reputasi warkop melesat ke level [Legenda Lokal].
Poin Survival Saat Ini: 1.480 Poin (Termasuk bonus tips dari sang Lady).
Nona Lira melangkah mendekat, menatap Raditya dengan pandangan menyipit penuh kecurigaan perempuan. "Tuan Raditya... apakah kau menyadari bahwa Lady Vivienne tadi menatapmu seperti seekor kucing yang melihat ikan asin premium?"
"Ah, Nona Lira, jangan gosip," kibas Raditya santai sembari memasukkan koin emas ke saku celana kargonya. "Kucing atau bukan, yang jelas dia adalah aset konsumen kelas paus. Ayo, tumbuk es batu lagi! Antrean di luar sudah mengular sampai ke perempatan jalan!"
Warkop Sachet Raditya resmi bergulir, dan bersamanya, benih-benih drama asmara lintas dimensi serta kegilaan kuliner instan Bumi baru saja dimulai di Oakhaven.