NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Pelajaran yang Mustahil

Ruang kelas Alpha tidak lagi terasa seperti ruang belajar. Saat jam menunjukkan pukul delapan pagi, dinding kaca yang mengelilingi mereka berubah menjadi layar interaktif yang memancarkan ribuan variabel data. Tidak ada guru yang menjelaskan teori. Yang ada hanyalah suara statis dari sistem yang memerintahkan mereka untuk memulai 'Proyeksi Analitis Eksponensial'.

Soal pertama muncul di permukaan meja masing-masing: Sebuah simulasi krisis di mana sebuah kapal pengangkut data di orbit dihantam meteorit, menyisakan sepuluh menit sebelum oksigen di seluruh modul habis. Pilih: menyelamatkan satu ilmuwan dengan pengetahuan kunci, atau menyelamatkan sepuluh teknisi yang mampu mengoperasikan stasiun.

Gavin, yang dikenal sebagai jenius matematika di angkatannya, terdiam. Tangannya menggantung di atas meja. "Ini bukan soal logika dasar," gumamnya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Ini adalah dilema moral yang dipadukan dengan perhitungan trajektori orbit yang berubah setiap detik. Aku belum pernah melihat variabel variabel input seperti ini di kurikulum manapun."

Di sekelilingnya, suasana menjadi kacau. Raka mencoba menghitung secara manual, namun sistem terus mengubah angka-angka di tabelnya setiap lima detik, membuat jawabannya selalu salah. Celine tampak frustrasi, ia terus mengetik, namun setiap kali ia memasukkan jawaban, sistem memberikan feedback berupa peringatan merah: Error: Faktor kemanusiaan diabaikan.

Atharva tetap tenang. Ia tidak mencoba menghitung trajektori meteorit atau jumlah oksigen yang tersisa. Ia menyadari sesuatu yang tersembunyi di balik susunan angka yang berantakan itu.

Ini bukan tentang menyelamatkan siapa, pikir Atharva. Ini tentang mematikan simulasi itu sendiri.

Ia mulai mengabaikan instruksi untuk memilih antara ilmuwan atau teknisi. Sebagai gantinya, ia membalikkan logika sistem tersebut. Ia memasukkan baris perintah yang memaksa sistem untuk mendefinisikan ulang definisi stasiun menjadi sistem pendukung kehidupan. Dengan satu gerakan cepat, ia memutus koneksi simulasi dengan pusat kendali di Bumi, membuat kapal tersebut menjadi entitas mandiri yang tidak membutuhkan data pusat untuk bertahan.

Input: Simulasi Dibatalkan. Status: Selamat.

Layar di depannya berubah menjadi hijau. Ia telah menyelesaikan soal pertama dalam waktu kurang dari tiga menit.

"Selesai," ucap Atharva pelan.

Suara-suara di sekitarnya berhenti. Sepuluh pasang mata menoleh padanya dengan tatapan tak percaya. Bu Maya, yang berdiri di balik bayang-bayang pintu masuk kelas, perlahan melangkah masuk. Ia menatap layar Atharva, lalu beralih ke seluruh kelas yang masih berjuang dengan angka-angka yang mustahil itu.

"Kalian masih terjebak dalam aturan yang diberikan oleh sistem," suara Bu Maya dingin namun mengandung kekaguman yang samar. "Kalian mencoba memecahkan masalah dengan logika yang sudah disediakan. Itulah sebabnya kalian akan gagal."

Ia melirik hasil kerja Atharva. "Hanya dia yang memahami bahwa untuk memenangkan permainan, kalian harus berhenti mengikuti peraturannya."

Bu Maya menekan satu tombol, dan seluruh layar di ruangan itu padam seketika. "Sesi ini berakhir. Siswa lain, nilai kalian hari ini nol. Atharva, kau akan tetap di sini. Sisanya, kembali ke asrama dan pelajari cara berpikir di luar batasan algoritma, atau kalian tidak akan selamat melewati minggu ini."

Saat teman-temannya keluar dengan wajah lesu dan penuh tekanan, Atharva tetap duduk di kursinya. Bu Maya mendekat, meletakkan sebuah pad digital di depan Atharva yang berisi file yang lebih rahasia daripada soal simulasi mana pun.

"Kau cepat, Atharva," kata Bu Maya, suaranya kini terdengar berbeda lebih rendah, hampir seperti berbisik. "Tapi jangan terlalu cepat. Leonard dan Dewan Siswa Elite sedang mengawasimu. Mereka menunggu celah untuk menjatuhkanmu. Jika kau ingin terus membongkar apa yang terjadi di sini, kau butuh lebih dari sekadar kecerdasan. Kau butuh sekutu yang tidak terlihat."

Atharva menatap gurunya itu. Ia baru saja menyadari bahwa di Kelas Alpha, bahkan wali kelasnya pun memiliki agenda sendiri. Pelajaran yang mustahil tadi bukanlah ujian tentang logika, melainkan ujian untuk melihat siapa yang berani menantang otoritas pusat. Dan Atharva baru saja lulus dengan nilai sempurna.

...****************...

Bu Maya mematikan lampu di kelas, membuat ruangan hanya diterangi oleh cahaya sisa dari pad digital di atas meja Atharva. Ia berdiri di ambang pintu, bayangannya memanjang di lantai ruangan yang kini terasa jauh lebih luas dan sepi.

"Kau pikir tantangan tadi adalah tentang menyelamatkan ilmuwan atau teknisi?" tanya Maya tanpa menoleh. "Itu adalah ujian untuk melihat apakah kau memiliki empati atau hanya sekadar kalkulator berjalan. Sistem menginginkan seorang pemimpin yang dingin, Atharva. Seseorang yang sanggup mengorbankan nyawa atas nama efisiensi."

Atharva menatap pad digital itu. Di sana, tertulis data mengenai sejarah lokasi yang persis sama dengan koordinat yang diberikan Leonard padanya. "Mengapa Ibu memberi tahu saya ini? Bukankah Ibu bagian dari sistem yang membangun akademi ini?"

Maya tertawa kecil, suara yang terdengar pahit dan sarat akan penyesalan yang panjang. "Sistem ini dibangun oleh orang-orang yang menganggap manusia hanyalah kode yang bisa diperbaiki. Tapi kode yang terlalu sering dimanipulasi akan menghasilkan glitch. Dan kau, Atharva, adalah glitch terbesar yang pernah muncul dalam sepuluh tahun terakhir."

Ia melangkah pergi, namun sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, ia berbalik sekali lagi. "Leonard bukanlah musuhmu, tapi dia juga bukan temanmu. Dia adalah budak yang tahu cara merantai dirinya sendiri. Hati-hati dengan apa yang kau cari di Sektor 9-G. Beberapa pintu di sana memang sebaiknya tetap tertutup selamanya."

Pintu kelas tertutup otomatis dengan suara klik yang mantap.

Atharva sendirian di dalam ruangan itu. Ia menarik pad digital tersebut mendekat. Layar menampilkan peta bawah tanah akademi yang sangat rinci. Sektor 9-G digambarkan sebagai area luas di bawah lapisan beton terdalam, tempat di mana sistem pendingin pusat dan menurut data yang muncul sebuah labolatorium tertutup yang tidak terdaftar dalam denah bangunan resmi.

Ia segera menyalin data tersebut ke dalam perangkatnya. Sambil melakukannya, ia merasakan getaran halus di bawah kakinya. Itu adalah detak dari sistem utama akademi. Atharva menyadari bahwa setiap detiknya di ruangan ini sudah direkam, namun dengan hasil ujian mustahil tadi, ia telah berhasil menanamkan backdoor kecil ke dalam algoritma penilaian sekolah. Ia tidak bisa lagi hanya dipantau; ia kini memiliki akses untuk memanipulasi data yang dilihat oleh instruktur.

Saat ia bangkit dari kursi, ia melirik jam digital di dinding: pukul 12.15 siang. Ia memiliki waktu sebelum sesi latihan berikutnya dimulai.

Atharva melangkah keluar kelas dengan langkah yang tenang, namun pikirannya berpacu. Leonard memberinya kunci, dan Bu Maya memberinya peta. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dipindahkan oleh dua pemain yang berbeda untuk saling menghancurkan. Namun, ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi pion.

Ia membelokkan langkahnya, bukan menuju kantin atau asrama, melainkan menuju lorong ventilasi yang mengarah ke area servis bawah tanah. Ia tidak akan menunggu hingga malam tiba. Jika Sektor 9-G adalah rahasia yang paling dijaga, maka di sanalah jawaban tentang Alvaro dan alasan mengapa ia sendiri dibawa ke Nexus Academy berada.

Di setiap langkah yang ia ambil, Atharva bisa merasakan sensor kamera di sepanjang koridor seolah-olah mengikuti gerakannya dengan lebih tajam. Ia tahu sistem mulai curiga, namun untuk pertama kalinya sejak ia tiba, ia tidak merasa takut. Ia merasa sedang memegang kendali atas arus permainan yang selama ini mencoba menelannya bulat-bulat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!