Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koridor Sekolah
Seperti murid-murid lainnya, Sephia dan Hana pun bergegas merapikan alat tulis mereka untuk menuju ke kantin. Perut mereka sudah sama-sama demo minta diisi.
Namun, baru saja mereka melangkah mendekati pintu kelas, sebuah suara berat dari arah belakang tiba-tiba menginterupsi.
"Permisi..." sapa Alan, yang kini sudah berdiri di dekat meja guru sambil memeluk tumpukan buku paket yang cukup tebal.
Sephia dan Hana refleks menghentikan langkah lalu berbalik.
"Ruang guru arahnya ke mana, ya?" tanya Alan, menatap bergantian ke arah mereka berdua dengan ekspresi bingung.
Mendengar pertanyaan itu, mata Hana langsung berbinar nakal. Dia merasa ini adalah kesempatan emas untuk membuat Sephia bisa berdekatan dengan anak baru itu.
"Eh... Pia, aduh, gue ke toilet dulu deh! Kebelet!" ucap Hana asal, lalu tanpa menunggu jawaban, dia langsung ngacir keluar kelas begitu saja.
"Eh? Ih, Hana! Ampun deh tuh anak!" teriak Sephia kesal. Dia menatap punggung Hana yang menjauh dengan gemas.
Begitu menoleh kembali ke depan, Sephia langsung mati kutu. Dia mendadak kikuk saat menyadari kini hanya tinggal dirinya dan Alan yang berdiri di dekat pintu. Tatapan Alan yang lurus ke arahnya membuat Sephia mendadak lupa cara bernapas dengan santai.
"Jadi... arahnya di mana?" tanya Alan lagi, memecah kecanggungan.
Sephia terdiam sebentar, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat. Dia menarik napas pelan sebelum menjawab.
"Lo dari sini belok kanan," ucap Sephia sambil menunjuk ke arah koridor luar. "Terus nanti ada pertigaan, lo belok kiri. Lurus aja terus ke pojok sampai ujung koridor. Di situ ruang gurunya, ada tandanya kok di atas pintu."
Melihat Sephia yang tampak tegang, sudut bibir Alan perlahan terangkat. Cowok itu tersenyum tipis. Entah kenapa, dia merasa ekspresi wajah gadis di depannya ini terlihat lucu dan menggemaskan saat sedang panik.
Setelah selesai menjelaskan rutenya dengan cepat, Sephia langsung bersiap-siap untuk kabur. Dia benar-benar ingin segera pergi dari situasi canggung ini sebelum Hana kembali dari toilet dan makin meledeknya.
"Kalau gitu... gue pergi duluan, ya," pamit Sephia buru-buru.
Dia memutar tubuh dan baru saja akan melangkahkan kaki melewati ambang pintu kelas. Namun, belum sempat kakinya menapak di koridor, suara Alan kembali menahannya.
"Gimana kalau lo anterin gue aja ke ruang guru?"
Langkah Sephia langsung terhenti seketika.
"Habis itu kita bareng ke kantin, gue juga laper," sambung Alan santai.
Kata-kata itu sukses membuat mata Sephia terbuka lebar. Dia berbalik lambat-lambat dengan raut wajah syok. Sephia benar-benar tidak menyangka cowok asing yang baru beberapa jam lalu pindah ke sekolah ini akan mengucapkan kalimat seberani itu kepadanya.
Mengantar ke ruang guru? Lalu jalan bareng ke kantin berdua?
Otak Sephia mendadak macet. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Alan berdiri di sana sambil memeluk buku, menatapnya lurus dengan senyuman santai, menunggu jawaban seolah ajakan barusan adalah hal yang biasa bagi mereka.
Pada akhirnya, Sephia tidak bisa menolak. Masuk akal juga, sih, Alan kan anak baru yang benar-benar buta rute sekolah ini. Mau tidak mau, Sephia mengangguk pasrah, meskipun dalam hati dia sudah bisa membayangkan betapa hebohnya gosip yang akan berseliweran di koridor jika mereka terlihat berjalan berduaan.
Mereka pun mulai berjalan beriringan menyusuri koridor kelas sebelas menuju ruang guru. Langkah kaki mereka ritmis, ditemani kecanggungan yang sempat menggantung di udara.
"Nama lo siapa?" tanya Alan tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.
"Sephia. Tapi biasa dipanggil Pia," jawab Sephia dengan nada sedatar mungkin.
Aslinya, ada letupan senang yang menggelitik dadanya karena si anak baru tampan ini menanyakan namanya. Namun, Sephia sengaja memasang wajah tembok demi menekan gosip-gosip tidak penting yang malas dia ladeni nanti.
Sambil melirik situasi koridor yang mulai ramai oleh murid lain, Sephia langsung mencari cara agar kebersamaan mereka tidak kebablasan sampai ke kantin.
"Oh ya, Lan. Habis nganter lo ke ruang guru, gimana kalau lo ke kantinnya sendiri aja? Dari sana rutenya tinggal lurus doang, kok," ucap Sephia menawarkan opsi aman bagi reputasinya.
"Kenapa?" tanya Alan, menoleh dan menatap Sephia seolah benar-benar butuh penjelasan.
Pertanyaan singkat itu langsung membuat Sephia mentok. Otaknya mendadak buntu, bingung harus menjawab apa. Ini pertama kalinya dia diinterogasi secepat ini oleh cowok yang baru dikenal beberapa jam. Tidak mungkin, kan, dia jujur kalau dia takut digosipkan?
"Ya... enggak apa-apa, sih," jawab Sephia akhirnya, terdengar sangat tidak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
"Lo gak nyaman jalan sama gue?" tanya Alan lagi. Kali ini nadanya terdengar lebih dingin.
Nah, kan... Pia! Lo mau jawab apa coba sekarang? Sephia merutuki kebodohannya dalam hati.
Sebelum Sephia sempat membuka mulut untuk meluruskan keadaan, langkah kaki Alan tiba-tiba berhenti tepat di belokan koridor yang sudah dekat dengan ruang guru.
"Udah, sampai sini aja. Makasih, ya," ucap Alan ketus.
Tanpa menunggu balasan dari Sephia, cowok itu langsung memutar tubuh dan berjalan cepat, lurus ke arah pintu ruang guru yang tinggal beberapa meter lagi.
Sephia terpaku di tempatnya berdiri, menatap punggung Alan yang menjauh dengan perasaan campur aduk.
Tuh, kan, Pia... dia ngambek! batin Sephia frustrasi. Niat hati ingin menghindari gosip, sekarang dia malah sukses membuat anak baru itu tersinggung di hari pertamanya sekolah.
Sephia akhirnya memutar tubuh dan bergegas melangkah menuju kantin.
Dah lah, bodo amat sama anak baru itu! batinnya ketus.
Meskipun mulutnya berkata begitu, ada rasa kesal yang mengganjal di dadanya, bercampur dengan sedikit rasa bersalah yang tidak bisa dia pungkiri. Niatnya kan baik, kenapa malah berakhir jadi canggung begitu?
Setibanya di kantin yang super ramai dan bising, mata Sephia langsung mengedar mencari keberadaan sahabatnya. Benar saja, Hana sudah duduk manis di salah satu meja kosong yang letaknya tepat di dekat gerobak tukang bakso langganan mereka.
Begitu melihat Sephia datang, Hana langsung melambaikan tangannya dengan heboh.
"Gimana? Sukses?" tanya Hana langsung saat Sephia baru saja mendaratkan bokongnya di kursi. Matanya berbinar-binar penasaran.
"Gila ya lo! Udah ah, gue laper!" jawab Sephia ketus sambil cemberut.
Hana langsung melongo bingung. Dia mengernyit, mencoba membaca situasi. Kenapa niat baiknya membantu Sephia malah dibalas dengan marah-marah begini? Hana jelas butuh penjelasan.
Namun, Sephia memilih diam dan mengabaikan tatapan kepo sahabatnya. Dia langsung berdiri untuk memesan semangkuk bakso, sengaja menghindari interogasi Hana karena dia sendiri masih bingung harus merasa kesal pada Alan atau pada dirinya sendiri.