Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
"Tuh kan pa, apa mama bilang, anak jalanan seperti dia memang tidak pantas untuk ditolong. Kalau saja waktu itu papa mendengar kata-kata mama."
"Tapi mau bagaimana lagi ma, kalau pilihan kita memang cuma dia. Tapi seenggaknya sekarang kita mesti bersabar."
"Pa, putri kita juga sudah besar, sampai kapan akan kita sembunyikan keberadaannya. Dan seharusnya putriku yang menikah dengan Joshua."
"Ma, papa juga sudah mengatakan hal itu pada Anisa. Hanya saja anak itu keras kepala dan tak ingin dijodohkan. Dia akan menentang ku dan mengatakan kalau aku berniat menjualnya. Jalan satu-satu kita adalah Dian."
"Aku akan menjelaskan padanya karena mungkin dia mengira yang akan dijodohkan dengan nya bukan kriteria nya. Jika papa punya fotonya Joshua mama akan menunjukkan fotonya pada Anisa."
"Sudah terlambat juga ma, kita tidak mungkin memperkenalkan Anisa pada Joshua saat dia tahu Dian yang akan dijodohkan dengan nya. Itu sama saja kita menipu dan menghinanya. Jadi biarkan saja rencana ini tetap berjalan, lagian mama sendiri yang ingin Dian pergi dari rumah kita, inilah saatnya. Lagian itu merupakan pernikahan kontrak."
"Emangnya persyaratan seperti apa yang diberikan calon mempelai?"
"Persyaratan nya pernikahan Dian dan Joshua hanya bertahan sampai 2 tahun 5 bulan."
"Kok begitu sih pa? Untung saja bukan anakku yang menikah dengan Joshua meskipun aku sangat mendambakan menantu yang seperti dia."
"Nggak tahu juga, katanya ada masalah di keluarga mereka yang mengharuskan putra mereka menikah. Tapi tenang saja kok, papa telah meminta jatah yang lebih dan kontraknya juga, papa tambahkan sedikit syarat dari papa. Anggap saja itu sebagai bayaran karena kita telah merawat dan membesarkan Dian."
"Berarti setelah Dian bercerai dengan Joshua dia akan kembali ke kehidupannya yang susah dulu."
Pak Joshua menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan istrinya."Kita sudah tidak punya tanggungan apapun untuk Dian."
"Dan setelah itu kita akan memperkenalkan putri kita Anisa ke publik."
"Tentu saja."
Dian berjalan menyusuri jembatan di mana ia diturunkan tadi. Ia menatap keindahan kota pada malam hari sambil merenung nasib sialnya.
"Ternyata keinginan ku untuk punya keluarga yang lengkap itu sangatlah salah besar. Mama! Ternyata hanya orang tua kandung lah yang akan peduli pada anak kandung nya. Sekarang aku tidak tahu jalan apa yang akan aku ambil, adikku sampai sekarang tidak tahu dimana dia berada."
Dian menyandar pada tiang jembatan sambil mengintip ke dalam air laut yang memantulkan wajahnya berkat cahaya rembulan.
"Kamu nggak pulang?"
Suara seorang pria dari belakang mengejutkan nya. Ia berbalik dan mengetahui kalau Joshua sedang menatapnya penuh tanya.
"Eh kamu, aku sedang mencari udara segar."
"Udara segar? Bukankah cuaca malam ini sangat dingin untuk dikatakan segar?"
Dian melihat pria dihadapan nya. Ia merasa risih karena pria tersebut seolah-olah sedang mengakrabkan diri, padahal mereka baru kenalan beberapa jam yang lalu.
"Aku memang suka udara yang seperti ini." Kata Dian dengan ketus.
"Hahahaha," Dian bingung saat Joshua tertawa. Apakah yang lucu, apa pria dihadapan nya ini sudah gila.
"Kenapa kamu ketawa?"
"Bukan begitu, aku hanya menyadari kalau kamu memang tidak suka padaku. Dan sikapmu saat di restoran tadi kukira hanya perasaan ku saja, tetapi itu memang adalah sifat aslimu."
"Aku memang tidak suka padamu, memangnya apa yang lucu dengan itu."
"Benarkah, apa sebaiknya kita membatalkan perjodohan kita?"
"Itu lebih bagus." Dian senang mendengar pernyataan pria dihadapannya itu.
"Hahaha, ternyata kamu orang yang blak-blakan ya. Padahal perkataan ku tadi cuman bercanda."
"Aku nggak bercanda, perkataan ku ini memang sangat serius."
"Apa kamu dipaksa oleh orang tuamu untuk menikah dengan ku?" Dian terdiam setelah mendengar kan pertanyaan yang diberikan oleh Joshua.
"Apa tebakanku benar?"
"Bukan urusan mu. Sudahlah aku mau pulang."
"Mau ku antarkan?"
"Nggak perlu, aku bisa naik bus."
"Jarak dari sini ke halte bus lumayan jauh, loh."
Dian berpikir bahwa perkataan Joshua ada benarnya, ia juga nggak mungkin memaksa berjalan ke halte bus menggunakan sepatu tumit 2 Inc tersebut. Yang ada malah kakinya yang pegal dan bengkak.
"Jika kamu mau, aku akan mengantarmu hanya sampai di halte bus. Anggap saja sebagai bantuan."
"Baiklah. Nggak mungkin juga aku menolak tawaran baikmu."
Dian akhirnya masuk ke dalam mobil Joshua. Sesuai janjinya, Joshua mengantar Dian hanya sampai depan halte bus. Sebelum Dian akan turun Joshua menahannya.
"Jika kamu ingin aku membatalkan perjodohan kita, maka lakukan cara yang bisa membuat aku ilfeel sama kamu." Dian berpikir sejenak.
"Baiklah, aku setuju."
"Apa kamu mau aku menemani mu menunggu bus datang?"
"Nggak usah, aku bukanlah anak kecil yang tidak bisa menjaga diri. Lagian aku tidak suka merepotkan orang lain."
"Kalau begitu aku pergi dulu,"
"Tunggu sebentar. Aku perlu menyimpan nomor handphone mu, biar aku bisa memastikan keberadaan mu dan melakukan aksiku."
"Apa nomor ku sangat penting? Jangan bilang ini hanya modus mu untuk bisa menghubungi ku," Kata Joshua dengan senyum manis yang terukir di bibirnya.
"Jangan kegeeran, aku hanya ingin melakukan rencana ku. Dan aku tidak akan pernah menikah dengan mu."
"Berikan handphone mu!" Joshua mengulurkan tangannya menunggu.
Dian mengikuti perkataan Joshua dan mengambil handphone yang ada di dalam tasnya.
Joshua mulai mengetik nomornya pada handphone Dian, setelah itu diserahkan kembali pada Dian.
"Ini handphone mu. Aku sudah menuliskan namaku sebagai pria idaman jadi tinggal ketik saja." Joshua tertawa cengengesan dan pergi tanpa mempedulikan teriakan Dian.
Benar saja apa yang Joshua katakan. Namanya ditulis sebagai pria idaman Dian.
"Ihh sapa yang mau." Dian segera menggantikannya dengan nama Pria Gila. Ia masuk ke dalam bus dan duduk di kursi yang paling pojok. Penumpang bus malam ini tidak terlalu banyak, bahkan ia bisa menghitung menggunakan jarinya.
Pemberhentian berikutnya ia turun karena mereka sudah melewati dua pemberhentian. Ia memilih untuk ikut jalur gang kecil, karena tinggal lurus saja akan tiba di samping pagar tembok rumahnya. Jika ia mengambil jalan besar, maka ia harus memutar lagi, hal itu akan membuat nya capek sendiri. Jadi jika ada jalur alternatif ngapain memikirkan jalur jauh lain.
"Baru pulang," Dian disambut oleh bu Lani, dengan wajahnya yang ketus. Entah kenapa wanita tua itu selalu mencari masalah padanya.
Dian tidak menjawab dan langsung berjalan ke kamarnya.
"Dasar anak kurang ajar. Pengemis yang nggak tahu terima kasih." Dian mendengar celotehan nya itu, hanya saja dia mencoba untuk tidak peduli pada kata-katanya. Karena hari ini suasana hati nya sedang dalam keadaan yang terpuruk. Kalau tidak mungkin dia akan meladeni perang adu mulut diantara mereka. Dan jika dia mau, dia bisa membuat wajah wanita tua itu babak belur.