NovelToon NovelToon
Jalan Abadi Sang Pengembara

Jalan Abadi Sang Pengembara

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Wuxia
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: LanzT0k3

Shen Yu hanyalah seorang pemburu yatim piatu dari desa terpencil yang setiap hari hidup dalam hinaan. Takdirnya berubah saat ia memperoleh warisan Menara Dewa Kuno, peninggalan terakhir Sekte Dewa Kuno yang telah dimusnahkan.

Di balik kekuatan itu tersembunyi rahasia kematian kedua orang tuanya dan konspirasi Dua Belas Sekte Besar yang menguasai dunia kultivasi.

Dengan tekad membalas dendam, membangkitkan kembali Sekte Dewa Kuno, dan mencapai puncak kultivasi, Shen Yu memulai perjalanan untuk menjadi True God.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian Pewaris

​Shen Yu menatap lekat-lekat ke dalam pintu raksasa yang telah terbuka lebar.

​Pilar cahaya keemasan yang memancar dari dalam menara menyinari seluruh sudut dasar jurang yang semula gelap. Namun, anehnya, Shen Yu tidak merasakan kehangatan sedikit pun dari cahaya itu. Sebaliknya, sekelumit hawa sedingin es menjalar dari telapak kakinya, menusuk hingga ke tulang sumsum.

​Roh Menara berdiri kokoh di samping gerbang dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung. Sepasang mata keemasannya melirik Shen Yu.

​"Apa kau takut, Anak Muda?"

​Ujung bibir Shen Yu terangkat, membentuk senyum tipis yang sarat akan sarkasme. "Tentu saja aku takut."

​Roh Menara sedikit terkejut, tidak menyangka akan jawaban sejujur itu. "Kau mengakuinya begitu saja? Tanpa gengsi?"

​"Hanya orang bodoh yang tidak punya rasa takut. Dan di dalam hutan, orang-orang bodoh seperti itu biasanya mati paling cepat dan berakhir menjadi kotoran binatang buas," sahut Shen Yu tenang.

​Jawaban yang tidak biasa itu seketika membuat Roh Menara tertawa pelan. Nada suaranya dipenuhi rasa kagum.

​"Bagus! Sangat bagus! Keberanian sejati bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap melangkah maju meski rasa takut itu sedang mencengkeram jiwamu."

​Shen Yu menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara jurang, lalu memantapkan langkah kakinya melewati ambang pintu menara.

​Wuuuung!

​Gelombang energi spasial mendadak bergejolak. Pemandangan di sekitar Shen Yu berubah total dalam sekejap mata. Gubuk tua, desa, bahkan struktur menara hitam tadi lenyap tanpa bekas.

​Di hadapannya kini terbentang sebuah padang tandus tak berujung yang dipenuhi oleh ribuan pedang kuno yang tertancap berantakan. Langit di atas kepalanya berwarna merah darah yang pekat, sementara angin malam yang berhembus membawa aroma karat besi dan anyir darah yang sangat menyengat.

​"Ilusi?" gumam Shen Yu, tangannya refleks meraba belati di pinggangnya.

​"Ini bukan sekadar ilusi fana," suara Roh Menara bergema dari segala penjuru langit, berat dan berwibawa. "Ini adalah Ruang Ujian Jiwa milik Sekte Dewa Kuno. Di tempat ini, tidak ada teknik kultivasi tinggi, tidak ada harta karun tersembunyi. Hanya ada satu hal: Ujian hidup dan mati."

​Shen Yu mengangguk paham. "Kalau begitu, apa yang harus kuhadapi?"

​Belum sempat suara itu memberikan jawaban...

​Brak!

​Salah satu pedang berkarat yang tertancap di tanah bergetar hebat hingga menimbulkan retakan di sekitarnya.

​Seberkas kabut hitam tebal mendadak meletus, dan dari balik kabut tersebut, sesosok pria berjubah hitam berjalan keluar secara perlahan.

​Begitu sosok itu sepenuhnya terlihat, mata Shen Yu seketika membelalak. Wajah pria itu, postur tubuhnya, bahkan bekas luka goresan kecil di dagunya... semuanya sama persis dengan dirinya.

​"Menarik..." Shen Yu memiringkan kepalanya, menatap kembarannya dengan pandangan menilai. "Jadi, ujian pertama ini mengharuskanku membunuh diriku sendiri?"

​Sosok berjubah hitam itu tidak memberikan jawaban verbal. Dengan gerakan kilat, ia mencabut sebilah pedang panjang dari tanah dan langsung menerjang maju!

​Swiiing!

​Serangan itu begitu cepat dan fatal, mengincar tepat di vena leher Shen Yu.

​"Sial, cepat sekali!" Shen Yu merunduk ekstrem, membiarkan mata pedang lawan melintas hanya sejarak satu senti di atas kepalanya.

​Sadar bahwa belati pendeknya kalah jangkauan, Shen Yu dengan tangkas mencabut sebilah pedang tua acak yang tertancap di dekat kakinya.

​Clang!

​Dua bilah logam beradu kuat, menciptakan percikan api yang menerangi wajah keduanya.

​Namun, baru tiga jurus saling bertukar serangan, wajah Shen Yu berubah menjadi sangat serius. Jantungnya berdesir hebat.

​"Luar biasa... Sialan, dia bahkan meniru setiap kebiasaan dan cara bertarungku secara mendetail!" batin Shen Yu mendelik.

​Setiap tipuan, setiap tebasan sudut sempit, hingga cara Shen Yu memanfaatkan berat tubuhnya saat menghindar, semuanya dibalas dengan gerakan yang sama persis oleh sosok misterius itu. Mereka berdua bertarung bagaikan seseorang yang sedang berduel melawan bayangannya sendiri di depan cermin.

​Puluhan jurus berlalu dalam tempo cepat tanpa ada satu pun yang berhasil mencetak luka.

​Tiba-tiba, sosok berjubah hitam itu menghentikan serangannya sejenak. Ia menyeringai tipis—sebuah senyuman meremehkan yang sama persis dengan milik Shen Yu.

​Sosok itu membuka mulutnya, mengucapkan satu kalimat dengan nada dingin: "Aku mengenal dirimu... jauh lebih baik daripada kau mengenal dirimu sendiri."

​BOOM!

​Begitu kalimat itu berakhir, aura energi dari tubuh sosok tersebut melonjak drastis secara tidak masuk akal. Tekanan aura yang dipancarkannya begitu masif hingga membuat tanah di bawah kaki Shen Yu mulai retak dan amblas ke bawah.

​Shen Yu menggenggam erat gagang pedangnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Sepertinya... ujian sialan ini memang tidak sesederhana yang kukira."

​Clang! Clang! Clang!

​Pedang besi Shen Yu kembali beradu dengan pedang kembarannya dalam tempo yang jauh lebih brutal. Benturan demi benturan itu memercikkan bunga api ke segala arah.

​Shen Yu terpaksa melompat mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Napasnya mulai memburu, dadanya kembang kempis kehabisan oksigen. Sementara itu, lawannya masih berdiri tegak dengan aura yang kian pekat, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

​"Kalau pertarungan ini terus berlanjut dengan cara konvensional seperti ini, staminaku yang akan habis duluan dan aku pasti mati," pikir Shen Yu cepat.

​Mata tajamnya mengamati setiap jengkal gerakan sang lawan. Cara berjalan, sudut genggaman pedang, hingga arah lirikan matanya—semuanya identik.

​"Tidak..." Shen Yu menggelengkan kepalanya pelan, sebuah kilatan cerdik melintasi matanya. "Tidak mungkin ada sesuatu yang benar-benar sama seratus persen."

​Tanpa memberikan waktu bagi Shen Yu untuk berpikir, sosok hitam itu kembali menerjang.

​Sret!

​Mata pedang lawan melesat lurus, membelah udara dengan kecepatan penuh menuju tepat ke tengah dada Shen Yu. Serangan tusukan mematikan yang tidak menyisakan ruang untuk menghindar.

​Namun, di luar dugaan, kali ini Shen Yu sama sekali tidak mencoba melompat mundur atau memblokir serangan itu. Ia justru mengambil langkah lebar, memajukan tubuhnya menyambut mata pedang tersebut!

​"Dasar gila! Apa kau berniat bunuh diri?!" suara Roh Menara berteriak panik di dalam ruang ilusi.

​Tepat pada detik krusial ketika ujung pedang lawan tinggal sejengkal dari kulit dadanya, Shen Yu memutar poros tubuhnya secara ekstrem ke arah kanan.

​Clang!

​Ia membiarkan pedang lawan menyerempet pelindung bahu bajunya, membelokkan arah tusukan tersebut dengan paksa. Di saat yang sama, memanfaatkan jarak mereka yang kini sedekat satu jengkal, Shen Yu menghantamkan gagang pedang kayunya dengan kekuatan penuh ke arah pergelangan tangan lawan.

​Krak!

​Tulang pergelangan tangan sosok itu berbunyi keras, membuat genggamannya terlepas dan pedangnya jatuh ke tanah.

​Sebelum sosok berjubah hitam itu sempat menarik tubuhnya mundur, bilah pedang tua milik Shen Yu sudah menempel dengan dingin, menekan tepat di urat leher lawan.

​"Aku menang," ucap Shen Yu datar, napasnya terengah-engah tepat di depan wajah kembarannya.

​Namun, di luar ekspektasi, sosok itu tidak menunjukkan kemarahan. Ia justru tersenyum lebar secara misterius.

​"Akhirnya... kau memahaminya."

​Shen Yu mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Memahami apa?"

​"Dalam sebuah pertarungan hidup dan mati... kau tidak akan pernah bisa melampaui batas dirimu jika kau hanya terpaku meniru dan mengulangi cara bertarung yang sama dengan masa lalumu."

​Wush!

​Begitu kalimat filosofis itu selesai diucapkan, tubuh sosok berjubah hitam itu hancur, berubah menjadi jutaan butiran cahaya keemasan yang indah dan hilang ditiup angin. Bersamaan dengan itu, seluruh lanskap padang pedang berdarah runtuh bagaikan kaca yang pecah berkeping-keping.

​Saat Shen Yu mengerjapkan matanya kembali, ia sudah berdiri tegak di dalam aula lantai pertama Menara Dewa Kuno.

​Roh Menara menatapnya dari udara dengan sorot mata yang dipenuhi rasa puas yang mendalam dan binar kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.

​"Selama puluhan ribu tahun ini, telah ada ribuan jenius kultivasi terpandang dari berbagai klan besar yang mencoba melewati ujian pertama ini. Banyak dari mereka yang jauh lebih kuat darimu, banyak pula yang bakat alaminya berada di tingkat monster."

​"Namun, mereka semua berakhir menjadi mayat di dalam sana," lanjut Roh Menara dengan nada bangga.

​Shen Yu menurunkan pedangnya, menyeka keringat di dahinya. "Kenapa mereka bisa gagal?"

​"Karena mereka terlalu sombong dan hanya mengandalkan kekuatan kasar! Mereka mencoba mengalahkan bayangan mereka dengan energi yang lebih besar, tanpa sadar bahwa bayangan itu akan selalu melipatgandakan kekuatannya sebanding dengan mereka."

​Roh Menara kemudian melambaikan tangan kanannya ke udara.

​Wush!

​Sebuah gulungan kitab kuno yang terbuat dari lembaran emas murni perlahan-lahan muncul dari udara kosong, memancarkan tekanan spiritual yang sangat suci dan menenangkan.

​"Gulungan ini menyimpan teknik kultivasi warisan tertinggi dan paling rahasia yang pernah dimiliki oleh Sekte Dewa Kuno. Sebuah teknik yang bisa membalikkan hukum alam. Namanya adalah..."

​[Kitab Dewa Abadi]

​Mendengar nama itu, jantung Shen Yu berdegup dua kali lebih cepat. Darahnya mendidih, seolah-olah ada resonansi alami antara tubuh fananya dengan kitab emas tersebut.

​Roh Menara mendorong gulungan itu secara perlahan hingga melayang tepat di depan dada Shen Yu.

​"Namun, Shen Yu... sebelum kau meneteskan darahmu untuk mempelajari kitab tingkat dewa ini, ada satu kebenaran mutlak mengenai asal-usul darahmu yang harus kau ketahui sekarang."

​Ekspresi wajah Roh Menara mendadak berubah menjadi sangat serius, matanya menatap tajam.

​"Kedua orang tua kandungmu... mereka sama sekali bukan rakyat jelata atau penduduk desa fana seperti yang kau duga selama ini. Mereka berdua adalah sepasang Maha Tetua Tertinggi dari Sekte Dewa Kuno yang melegenda!"

​Boom!

​Mata Shen Yu membelalak sempurna, kepalanya terasa pening mendengar kenyataan gila tersebut. Jadi, dirinya bukanlah anak buangan yang tidak diinginkan, melainkan—

​Belum sempat Shen Yu melontarkan rentetan pertanyaan yang berkecamuk di otaknya, seluruh struktur Menara Dewa Kuno mendadak berguncang dengan sangat hebat!

​BOOOOMMMM!!!

​Dinding-dinding batu menara bergoyang, debu-debu kuno berjatuhan, dan rantai raksasa yang melilit menara berdenting keras menahan tekanan luar biasa dari arah atas jurang.

​Roh Menara seketika mendongak, menatap ke arah langit-langit menara dengan tatapan horor. Wajahnya yang semula tenang dan bijaksana, kini untuk pertama kalinya dipenuhi oleh rasa terkejut dan kepanikan yang teramat sangat.

​"Sial! Bagaimana bisa... mereka berhasil menemukannya sesepat ini?!" geram Roh Menara dengan suara bergetar.

​Shen Yu ikut bersiaga, menggenggam pedangnya kembali. "Siapa yang datang?!"

​"Musuh dari masa lalu... Seseorang dari dunia atas sedang mengerahkan kekuatan besar untuk menghancurkan dan membuka paksa segel gaib jurang ini dari luar!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!