NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Devouring Void Core,Perut Dan Taring Dalam Mulut

 (ilustrasi merupakan fanart.. mengilustrasikan kemegahan dalam kombinasi serangan mematikan sang dua heroine)

Drawn By : Xian Nying

Gw menatap simbol tengkorak bersilang belati yang terukir di permukaan batu gua—tanda yang baru saja dibersihkan oleh Carmelia. Senyum sinis gw langsung mengembang. Tempat ini bukan sekadar ruang kosong yang aman; ini adalah markas dan titik kumpul utama para kelompok perampok yang menguasai bagian bawah penjara bawah tanah ini.

"Tuan... apakah kita sebaiknya pindah ke tempat lain?" tanya Lyra dengan suara yang sedikit bergetar, jari-jarinya tanpa sadar meremas gagang biola putih bergambar sayap kuda bersayap miliknya.

"Pindah?" Gw terkekeh pelan, suaranya terdengar dingin dan bergema memenuhi ruangan batu yang lembap ini. "Buat apa lari? Biarkan mereka datang. Biar kita liat siapa Banditnya disini... semuanya bakal jadi santapan tambahan yang paling enak buat sistem kelaparan gw."

Sambil membiarkan potongan daging besar hasil buruan kita—daging banteng batu raksasa—terus dipanaskan di dekat api unggun, gw memejamkan mata sebentar. Di tengah situasi yang butuh kesiapan tempur maksimal ini, gw butuh satu jurus baru yang bisa gw kendalikan dari jarak jauh, cukup kuat buat menguasai seluruh ruangan tanpa gw harus banyak bergerak dan membuang tenaga sia-sia.

Ding!

[Terdeteksi niat bertarung dan kebutuhan strategis dari Pengguna.]

[Syarat terpenuhi: Tingkat Energi Kelaparan saat ini stabil di angka 15% (setelah mengonsumsi daging kelas atas).]

[Membuka akses cabang kekuatan jarak jauh: 'Kekosongan'...]

[Selamat! Kamu telah mempelajari Keterampilan Baru: Devouring Void Core (Lv. 1)]

Penjelasan: Memadatkan seluruh esensi rasa lapar tak berujung dari Sistem Kelaparan Akhir Zaman menjadi satu inti energi padat. Bisa dilepaskan dari jarak jauh untuk melahap apa saja yang menjadi sasaran—baik benda fisik, sihir, maupun energi—sampai tidak tersisa sedikit pun, bahkan sampai tingkat partikel terkecil sekalipun.

Begitu tulisan di layar maya itu hilang, gw langsung merasakan aliran energi dingin yang pekat mengalir deras masuk ke kedua lengan gw. Zirah besi hitam berbentuk kulit naga yang gw pakai—ringan, kuat, dan dibuat pas di tubuh seperti pakaian khusus—tiba-tiba bereaksi. Sisa-sisa energi dari kekuatan Kekosongan yang belum sepenuhnya terbangkitkan mulai memancarkan kilatan cahaya ungu samar, bergerak merayap indah di sepanjang pelindung lengan gw.

Gw mengepalkan tangan erat. Kekuatan ini... rasanya gelap, luas, dan bisa menghancurkan apa saja yang menghalangi. Akhirnya gw benar-benar punya senjata yang bikin gw jadi penguasa mutlak di medan perang.

"Mereka datang," bisik Carmelia tiba-tiba. Gadis berambut biru tua itu langsung menundukkan badannya dalam posisi siap serang, sepasang belati pendek di tangannya sudah siap terayun kapan saja. Indra instingnya yang terlatih menangkap bunyi langkah kaki berat dan banyak orang yang naik dari lorong di atas kita.

Fase Awal: Pengendali Medan yang Dingin

Langkah! Langkah! Langkah!

Lebih dari sepuluh orang berpakaian gelap langsung menyerbu masuk, sampai ke wilayah Lantai Lima Puluh Satu ini. Mereka adalah kelompok penjahat kelas berat—mantan petualang peringkat tinggi yang akhirnya menjadi buronan karena kejahatan yang mereka lakukan. Pimpinan mereka, pria bertato ular besar di lehernya, langsung menyeringai lebar begitu melihat gw duduk santai di dekat api, ditemani dua gadis yang penampilan dan wajahnya jelas jauh lebih cantik daripada orang biasa.

"Hahaha! Ternyata anak orang kaya malah asyik piknik di tempat milik kita!" teriak si pemimpin itu sambil mengacungkan pedang besarnya. "Serahkan baju besi hitam mahal itu sama kantong penyimpanan ruang milikmu, dan gw janji bakal biarkan dua cewek cantik ini menemani kami dengan enak di dalam tenda!"

Mendengar ucapan kotor dari laki-laki tua berwajah kasar itu, hati Lyra langsung panas dan muak. Orang gila! Berani banget mulut busuk itu bicara seenaknya sama gw! Padahal Tuan gw yang terkenal kejam sekalipun gak pernah ngomong sehina ini!

"Lyra, ambil posisi di tengah. Cek dan catat cara mereka bertarung," perintah gw dengan nada tegas, sama sekali gak peduli omongan sampah musuh itu. "Carmelia, tugas lo jadi tameng lincah kita. Potong siapa saja yang berani melangkah masuk lebih dulu."

"Siap, Tuan!" jawab mereka serempak, sama cepat dan tegasnya.

Tiga orang anak buahnya langsung melesat cepat dari sisi kanan tempat kita bersembunyi, memanfaatkan sudut pandang yang sulit dilihat untuk menyerang gw duluan. Gw sama sekali gak menggeser kaki gw sejengkal pun. Gw cuma mengangkat tangan kanan yang terbalut baju besi hitam itu, lalu mengarahkan dua jari ke arah mereka.

Cahaya ungu di lengan gw berdenyut makin terang dan cepat.

[Mengaktifkan keterampilan: Devouring Void Core]

Wuuush!

Satu bola energi hitam pekat sebesar kepalan tangan langsung terbentuk di ujung jari gw, memutar dan membuat cahaya di sekitarnya jadi bengkok karena gaya tariknya yang kuat, lalu terbang melaju tanpa suara sedikit pun.

Jlasssh!

Gak ada ledakan, gak ada bunyi keras, gak ada asap. Dua orang yang lari paling depan langsung hilang bagian kepalanya begitu bola itu menyentuh mereka—leher mereka terpotong rapi sempurna, tubuhnya masih lari beberapa langkah sebelum akhirnya ambruk jatuh ke tanah. Yang tersisa satu orang lagi langsung mematung, matanya melotot penuh rasa takut, nyalinya hilang seketika dan gak berani melangkah maju lagi.

Fase Tengah: Tarian Darah dan Kelahiran Wilayah Kekuasaan

Melihat teman-temannya mati begitu saja dalam sekejap, sisanya langsung panik dan cepat menyebar ke seluruh ruangan, bersembunyi di tempat yang gelap buat menyusun serangan lagi dari arah yang kita gak duga. Rasanya seolah-olah kita dikelilingi bahaya dari mana-mana.

Tapi di saat yang sama, di tempat dia berdiri, energi sihir di dalam tubuh Lyra tiba-tiba meledak naik sampai batas tertinggi. Efek dari latihan keras yang gw berikan padanya kemarin—yang awalnya dia kira cuma menyiksa—ternyata berhasil membuka kunci potensi tersembunyi yang selama ini gak dia sadari.

Lyra menarik napas panjang, membuang semua rasa takut dan ragu yang masih tersisa, lalu mengangkat biola putih miliknya ke bahu.

Sreeek—!

Begitu penggeseknya menyentuh senar, yang keluar bukan sekadar bunyi musik biasa, tapi satu peristiwa sihir yang luar biasa hebat. Energi Lyra yang meluap habis terwujud menjadi gelombang suara berwarna ungu muda putih keperakan, berputar dan menyebar memenuhi seluruh ruangan gua ini—dia baru saja menciptakan Wilayah Kekuasaan miliknya sendiri.

Secara kasat mata, alunan musik itu terlihat seperti lautan ombak energi yang berkilauan. Di tengah tengah lautan itu, Lyra terlihat begitu anggun, tenang, dan cantik—seperti putri raja yang berenang santai di tengah air, padahal tempatnya berada adalah medan perang yang penuh bahaya. Bagi kita yang dia anggap teman, gelombang ini bikin hati jadi tenang dan kekuatan kita makin besar. Tapi bagi musuh, lautan energi ini adalah mesin pembunuh yang terus merusak tubuh dan menurunkan kemampuan mereka setiap detiknya.

[Efek Kerjasama Aktif: Wilayah - Symphony of Fate (Lyra)]

[Target: Carmelia – Kelincahan dan Fokus Meningkat Sangat Besar!]

Deng!

Di bawah pengaruh kekuatan Lyra, pandangan Carmelia berubah—segala sesuatu di sekitarnya terasa bergerak jauh lebih lambat dari biasanya. Musik yang dimainkan Lyra masuk sampai ke dalam hatinya, membangkitkan naluri bertarung asli yang ada di dalam darahnya: Mata Pembunuh.

Sekarang, di mata Carmelia, seluruh kegelapan di dalam gua ini terbelah oleh garis-garis tipis berwarna merah menyala—jalur-jalur tak terlihat yang langsung menunjuk ke titik lemah dan bagian terpenting tubuh setiap musuh, jalan terbaik buat belatinya mengenai sasaran dengan pasti.

"Carmelia! Arah jam satu! Ikuti irama ketukan ketiga! Posisi mereka gak akan berubah sampai itu!" teriak Lyra dari tengah wilayah kekuasaannya, bertindak sebagai pengamat dan penentu arah serangan kita.

"Roger!"

BOOM!

Sesuai arahan, tubuh Carmelia yang dibalut baju biru muda ringan melesat maju secepat suara, sampai udara di sekitarnya berbunyi keras karena kecepatannya. Baju yang dia pakai memang gak terlalu kuat menahan pukulan, tapi bahannya sangat ringan dan kuat gak mudah robek—sengaja dibuat biar dia bisa bergerak sebebasnya. Dia bergerak seperti menari di antara garis merah tadi, jalannya berbelok-belok, gak bisa ditebak sama sekali oleh siapa pun yang melihat.

Srett! Jlasssh! Jlasssh!

Setiap kali belatinya bergerak, selalu kena tepat di tempat yang paling berbahaya bagi musuh. Berkat kerjasama sempurna dengan kekuatan Lyra, setiap serangannya punya peluang kena bagian vital sampai 70%—tujuh orang penyerang kuat itu jatuh bergelimpangan mati dalam waktu yang cuma hitungan detik, di tengah lautan musik yang indah tapi mematikan.

Fase Akhir: Penghancuran Total

"Sialan! Kalian bukan manusia, tapi monster apa sih?!" teriak pemimpin mereka yang masih hidup, berdiri di ujung lorong paling jauh. Pasukan andalannya habis dibantai cuma dalam beberapa menit oleh dua orang gadis di hadapan gw.

Sadari dia gak akan bisa masuk ke dalam wilayah kekuasaan Lyra begitu saja, dia mundur makin jauh lagi. Dari balik bajunya dia mengeluarkan tongkat sihir kecil, lalu menyalurkan seluruh tenaga dan sihir yang dia miliki untuk satu serangan terakhir yang paling kuat—yang dia harapkan bisa langsung menghancurkan Lyra yang dia anggap sebagai sumber masalah ini.

"Mati kalian semua!! Giga Flame Burst!!"

Satu lingkaran sihir raksasa berwarna merah menyala terbentuk di udara, lalu menembakkan gelombang api besar yang panasnya bisa melelehkan batu sekalipun, melaju lurus menuju tempat Lyra berdiri.

Melihat serangan api besar itu datang, gw melangkah maju dan berdiri tepat di depan wilayah kekuasaan Lyra, menjadi perisai terakhir kita.

Gw mengulurkan tangan kanan gw ke arah serangan itu. Cahaya ungu di lengan gw menyala sekuat-kuatnya, seluruh tenaga dan energi dari Sistem Kelaparan gw langsung dikeluarkan semuanya dan dikumpulkan di satu titik. Kali ini Devouring Void Core yang terbentuk dua kali lebih besar dari sebelumnya, berputar dengan kecepatan luar biasa seolah-olah benda ini punya gaya tarik sendiri yang bisa menarik apa saja di sekitarnya.

"Makan nihh," bisik gw pelan.

Gw melepaskan bola hitam raksasa itu terbang ke depan.

SUUUUUT!

Pemandangan yang gila terjadi tepat di depan mata kita. Gelombang api besar yang seharusnya bisa membakar seluruh gua ini langsung berbelok arah seolah-olah ada tangan raksasa yang menariknya, tersedot masuk ke dalam bola hitam gw sampai habis tak tersisa. Gak ada asap, gak ada suara ledakan, gak ada jejak—sihir api itu lenyap begitu saja seolah-olah gak pernah ada.

Dan bola hitam gw terus melaju lurus tanpa berkurang tenaganya sedikit pun, langsung menabrak dada si pemimpin bandit yang masih berdiri ternganga gak percaya apa yang baru saja dia lihat.

Slaap.

Pusaran kekosongan itu langsung melahap seluruh bagian tubuhnya dari pinggang ke atas sampai bersih, gak menyisakan tulang atau darah sedikit pun. Saat bola hitam itu hilang, yang masih berdiri di sana cuma sepasang kaki bagian bawahnya—berdiri tegak selama dua detik penuh sebelum akhirnya ambruk jatuh ke lantai batu yang dingin.

Suasana di dalam gua Lantai Lima Puluh Satu kembali hening seketika. Gelombang energi milik Lyra perlahan hilang, seiring dengan napasnya yang mulai berat karena habis tenaga. Gw menurunkan tangan gw, melihat sekeliling ruangan yang sekarang sudah benar-benar aman dan bersih dari ancaman.

Gw berbalik badan. Lyra sudah duduk lemas di tanah, sedangkan Carmelia berlutut dengan napas yang terengah-engah—keduanya menatap gw dengan pandangan campuran antara takut, kagum, dan hormat, menyadari lagi betapa besarnya kekuatan gw sebagai penguasa medan perang yang bisa mengalahkan siapa saja, dari jarak dekat maupun jauh.

"Latihan hari ini selesai," kata gw dengan nada datar sambil berjalan kembali ke dekat api unggun. "Bersihkan semua mayat dan sisa barang mereka. Besok pagi, kita turun ke Lantai Lima Puluh Dua."

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!