Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 : Pak Revan Menyebalkan
Wajah Queen langsung berubah. Semua keterkejutan yang tadi muncul perlahan berganti menjadi ekspresi tidak suka.
"Ma..." protesnya sambil menoleh ke arah Ibu Farah. "Yang Mama maksud guru privat itu Pak Revan?"
"Iya." Ibu Farah tersenyum puas. "Bukankah bagus?"
"Bagus apanya?"
"Beliau dosen, lulusan luar negeri, dan berpengalaman dalam membimbing skripsi."
Queen langsung memijat pelipisnya. "Aku nggak butuh dosen seserius ini buat ngajarin aku setiap sore."
"Justru karena itu Mama pilih beliau."
"Ma..."
"Tidak ada bantahan."
Revan yang berdiri di dekat pintu hanya memperhatikan perdebatan ibu dan anak itu dengan tenang. Sudut bibirnya bahkan sempat terangkat tipis.
"Sepertinya saya tidak terlalu disukai," ucapnya santai.
Queen langsung menoleh. "Bukan sepertinya. Memang."
"Queen!" tegur Ibu Farah.
Namun Revan malah terlihat tidak tersinggung sedikit pun. "Tidak apa-apa, Tante." Lalu pria itu memandang Queen. "Kita mulai sekarang?"
Queen ingin menolak. Tapi tatapan tajam Ibu Farah membuat semua protesnya tertahan di tenggorokan.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di ruang kerja tamu keluarga. Di atas meja, tumpukan buku, laptop, dan berkas skripsi berserakan ke segala arah.
Revan duduk di sofa seberang sambil membuka lembar demi lembar skripsi milik Queen.
Sedangkan Queen duduk dengan wajah malas. Tangannya menopang dagu, tatapannya mengarah ke jendela. Jelas terlihat tidak bersemangat.
Ruangan menjadi sunyi selama beberapa menit. Sampai akhirnya, Revan menghela napas panjang. Lalu menggeleng pelan.
Queen langsung menoleh. "Kenapa?"
Revan menutup salah satu lembar revisi. "Kamu serius kuliah tidak sih?"
Queen langsung mengernyit. "Apa maksudnya?"
Pria itu mengangkat beberapa lembar kertas yang penuh coretan revisi. "Ini."
Queen melirik sekilas. "Itu kan revisi."
"Bukan sekadar revisi." Revan menatapnya datar. "Ini hampir semuanya revisi."
Queen langsung mendecih. "Ya terus?"
"Kamu sudah berapa lama mengerjakan skripsi ini?" Queen diam. "Dua tahun?"
Wajah Revan tetap tenang. "Kalau saya tidak salah, kamu seharusnya sudah lulus dua tahun lalu."
Queen langsung merasa kesal. "Pak Revan."
"Hm?"
"Mau ngajarin saya nggak?"
"Ini Saya sedang mengajari."
"Nggak perlu banyak ceramah."
Revan terdiam.
Queen melanjutkan dengan nada ketus. "Kalau mau ngajar ya ngajar aja. Jangan banyak komentar."
Tatapan Revan tidak berubah sedikit pun.
Sedangkan Queen sudah mulai kesal. "Bapak dibayar buat jadi guru privat saya."
Ruangan langsung sunyi.
"Bukan buat jadi penasihat hidup saya." Tatapan Queen menantang. "Paham?"
Beberapa detik berlalu. Namun berbeda dari yang Queen kira, Revan tidak marah.
Pria itu hanya menggeleng pelan. Lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Baik."
Jawaban itu justru membuat Queen bingung.
Revan mengambil pulpen. "Oke, mari kita fokus pada skripsi."
Queen mengangkat alis. "Dia nggak marah sama sekali?" batinnya.
Namun detik berikutnya, Revan membuka halaman pertama. "Bab satu."
Queen mengangguk.
"Salah."
"Hah?"
"Rumusan masalahnya salah."
Pria itu membalik halaman berikutnya. "Kerangka penelitian juga salah." Halaman berikutnya lagi. "Metodenya tidak sesuai."
Queen mulai membeku.
Revan kembali membalik halaman. "Lalu ini..."
Pria itu mengetuk salah satu paragraf dengan ujung pulpennya. "Kamu bahkan mengutip sumber yang sudah tidak relevan."
Queen mulai menelan ludah.
Dan Revan masih belum selesai. "Saya sekarang mengerti kenapa dosen pembimbingmu hampir putus asa."
"Pak!"
"Saya hanya jujur."
Queen langsung menatapnya kesal.
Sedangkan Revan tetap terlihat tenang. "Tapi tenang saja."
"Hm?"
Pria itu menutup berkas skripsi tersebut. "Skripsi ini masih bisa diselamatkan."
Queen sedikit terkejut. "Serius?"
"Ya." Kali ini Revan tersenyum tipis. "Asalkan pemiliknya berhenti keras kepala."
Queen hanya terdiam.
"Dan mulai mau belajar."
Queen langsung mendecih kesal. Namun entah kenapa, dalam dua tahun terakhir ini ada seseorang yang melihat skripsinya berantakan seperti itu dan tetap berkata bahwa skripsinya masih bisa diselamatkan. Dan meskipun menyebalkan, ucapan itu membuat Queen sedikit lebih bersemangat.
Queen terdiam beberapa saat setelah ucapan Revan tadi. Kini sejak sesi bimbingan dimulai, ia benar-benar fokus memperhatikan penjelasan pria itu.
Revan menjelaskan bagian demi bagian skripsinya dengan sabar, menunjukkan letak kesalahan, cara memperbaiki, bahkan memberikan beberapa contoh yang lebih mudah dipahami. Dan tanpa disadari, hampir satu jam berlalu.
"Jadi untuk bagian ini, kamu harus mengganti variabelnya," jelas Revan sambil menuliskan beberapa catatan di atas kertas.
Queen mengangguk pelan. "Oke."
Baru saja suasana mulai kondusif.
Drrttt...
Ponsel Queen yang tergeletak di meja bergetar. Nama Nathan muncul di layar. Queen melirik sekilas lalu mengabaikannya.
Namun beberapa detik kemudian.
Drrttt...
Nathan menelepon lagi. Queen mulai gelisah.
Drrttt...
Telepon ketiga.
Revan yang sejak tadi menjelaskan akhirnya mengangkat pandangan. "Angkat saja."
Queen langsung menoleh. "Hah?"
"Kalau memang penting."
Queen tersenyum canggung. "Sebentar ya, Pak."
"Maksimal dua menit."
"Iya."
Queen langsung mengangkat telepon itu. "Halo?"
"Akhirnya diangkat juga!" suara Nathan terdengar dari seberang sana. "Dari tadi gue telepon."
"Maaf, gue lagi belajar."
"Masih sama guru privat?"
"Iya."
Nathan langsung mengeluh. "Kasian banget sih pacar aku."
Queen terkekeh kecil. Mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya Queen menutup telepon.
"Oke, gue lanjut belajar dulu ya."
"Yaudah, dah sayang.
"Dadah sayang."
Telepon terputus.
Queen kembali duduk. Awalnya ia mencoba fokus. Namun tak lama kemudian, tangannya mulai bergerak di bawah meja.
Ketik. Ketik. Ketik.
Pesan demi pesan mulai terkirim kepada Nathan.
Nathan : Guru privatnya galak?
Queen : Banget.
Nathan : Wkwkwk.
Nathan : Kasian pacar aku.
Queen : Gue pengen kabur.
Nathan : Kabur aja, nanti gue jemput.
Queen menahan tawa.
Sementara itu, di seberang meja, Revan sedang menjelaskan sesuatu.
"Bagian analisis data ini..."
Pria itu berhenti. Karena Queen sama sekali tidak melihat ke arahnya. Matanya justru fokus pada layar ponsel.
Revan menarik napas panjang. "Queen."
"Hm?"
"Kamu dengar saya?"
"Dengar kok."
"Apa yang baru saja saya jelaskan?"
Queen langsung membeku. "Eee..."
Revan sudah tahu jawabannya. Pria itu mengulurkan tangan. "Ponselnya."
Queen mengernyit. "Hah?"
"Ponselnya."
"Nggak."
"Ponselnya."
"Nggak mau."
Tatapan Revan berubah datar. "Queen."
"Apa sih, Pak?"
"Ponselnya."
Queen langsung memeluk ponselnya seperti menjaga harta karun. "Nggak mau."
Revan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau begitu saya pulang dan kamu pasti akan di marahi mama kamu."
"Hah?"
"Kamu tidak fokus."
Queen langsung melotot. "Pak, masa gitu sih?"
"Saya datang ke sini untuk membantu skripsimu."
"Tapi kan saya dengerin."
"Kamu sedang chatting."
Queen langsung terdiam. Karena memang benar.
"Jadi?"
Queen mendecih kesal. Dengan berat hati ia meletakkan ponselnya di atas meja. "Nih."
Revan langsung mengambilnya. "Terima kasih."
"Menyebalkan."
"Pujiannya saya terima."
Queen langsung melotot.
Sedangkan Revan tampak sama sekali tidak merasa bersalah. "Setelah materi selesai, saya kembalikan."
"Astaga..." Queen menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Bapak ini guru privat atau guru BK sih?"
Revan menahan senyum tipis. "Kalau perlu dua-duanya."
"Pak Revan!"
"Fokus."
Queen mendengus kesal. Namun kali ini, karena ponselnya sudah berada di tangan Revan, ia benar-benar tidak punya pilihan selain memperhatikan.
Dan yang membuatnya semakin kesal. Materi yang dijelaskan Revan ternyata mulai masuk ke kepalanya.
Satu jam kemudian...
"Jadi begitu?" tanya Revan.
Queen menatap lembar revisinya, kini ia benar-benar memahami bagian yang selama ini selalu membuatnya pusing. Perlahan gadis itu mengangguk.
"Oh..."
Revan mengangkat alis. "Oh?"
"Saya ngerti sekarang."
"Bagus."
Lalu pria itu meletakkan ponselnya kembali di atas meja.
Queen langsung menyambarnya cepat. "Selesai."
Revan berdiri sambil merapikan berkas-berkasnya. "Sampai ketemu besok."
Queen masih sibuk memeriksa puluhan pesan dari Nathan. Namun sebelum pergi, Revan berhenti sejenak di dekat pintu. "Queen."
"Hm?"
"Kalau kamu belajar setengah dari waktu yang kamu pakai untuk chatting..."
Pria itu menatap tumpukan skripsi di meja. "Mungkin kamu sudah wisuda dua tahun yang lalu."
Queen langsung membelalakkan mata.
Sedangkan Revan berjalan keluar dengan tenang.
"Pak Revan!" Suara protes Queen menggema ke seluruh rumah.
Dan dari ruang makan, Ibu Farah yang mendengarnya justru tersenyum puas. Sepertinya kini ada seseorang yang mampu membuat putrinya benar-benar belajar.
Saling support sabi kali ya😉