NovelToon NovelToon
Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Delapan Tahun Lalu Dan Sebuah Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:404
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Arga Baskara hidup dalam bayang-bayang janji masa kecil yang ia genggam selama delapan tahun. Ketika Nala Anindita kembali ke kehidupannya sebagai teman sekelas, ia berharap waktu akan menyatukan kembali keduanya. Namun, Nala telah berubah—ia tak lagi mengingat masa lalu yang begitu berarti bagi Arga.


Di tengah realitas baru, Arga harus menghadapi cinta yang tak berbalas, diperparah oleh kehadiran Satria yang semakin dekat dengan Nala. Terjebak antara kenangan dan kenyataan, Arga dihadapkan pada pilihan: terus bertahan pada perasaan lama, atau belajar melepaskan.


Kisah ini menggambarkan tentang cinta yang tertinggal oleh waktu, dan perjuangan seseorang untuk menerima bahwa tidak semua janji akan kembali utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Riuh rendah suara siswa kelas sebelas IPA dua seketika mereda saat langkah kaki Pak Broto terdengar mendekat dari balik pintu kayu jati yang sedikit terkelupas di bagian bawahnya. Arga Baskara masih terpaku pada buku catatannya, pura-pura sibuk menggoreskan garis-garis abstrak yang tidak bermakna. Ia mencoba mengabaikan bisikan Dimas yang sedari tadi tidak berhenti membahas tentang strategi baru dalam gim ponsel yang mereka mainkan semalam.

Arga, coba lihat ke depan sekali saja, bisik Dimas sambil menyenggol lengan Arga dengan siku.

Arga hanya berdeham pendek tanpa mengalihkan pandangan. Baginya, pagi di SMA Tunas Bangsa selalu sama. Aroma pembersih lantai yang tajam beradu dengan udara dingin dari pendingin ruangan yang dipasang maksimal. Namun, suasana mendadak berubah ketika Pak Broto berdeham keras, memberikan tanda bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar absensi rutin.

Selamat pagi semuanya. Hari ini kelas kita kedatangan anggota baru. Dia baru saja pindah dari luar kota, kata Pak Broto dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa.

Detak jantung Arga seolah berhenti sejenak. Ia mengenal suara langkah kaki itu. Ringan, ragu, namun tetap memiliki ketegasan yang khas. Saat ia akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat kepala, dunianya seakan berhenti berputar. Di sana, tepat di samping meja guru, berdiri seorang gadis dengan seragam yang masih tampak sangat baru dan rapi.

Nala Anindita. Nama itu bergema di kepala Arga, lebih keras dari sorakan teman-teman sekelasnya yang mulai kasak-kusuk. Delapan tahun. Arga menghitung setiap hari dalam diam, menyimpan setiap potong memori tentang gadis kecil yang dulu suka mengepang rambutnya dengan pita biru. Sekarang, gadis itu berdiri di hadapannya sebagai sosok remaja yang mandiri, dengan tatapan mata yang jernih namun terasa begitu asing.

Silakan perkenalkan diri kamu, Nala, ujar Pak Broto mempersilakan.

Nala tersenyum tipis, sebuah senyum sopan yang ia berikan kepada semua orang di ruangan itu tanpa terkecuali. Halo semuanya, nama saya Nala Anindita. Saya pindahan dari luar kota. Mohon bantuannya ya, ucapnya singkat dan lugas.

Suaranya tidak lagi cempreng seperti dulu. Kini terdengar lebih rendah dan tenang, mencerminkan kedewasaan yang tidak Arga duga. Arga menatap Nala tanpa berkedip, berharap ada satu detik saja di mana mata gadis itu akan menangkap bayangannya dan menyadari bahwa ada seseorang yang telah menunggunya selama hampir satu dekade. Namun, Nala hanya menyapu pandangannya ke seluruh kelas secara umum, lalu kembali menatap Pak Broto.

Nala, kamu bisa duduk di kursi kosong sebelah Rara, di barisan kedua dari depan, instruksi Pak Broto sambil menunjuk ke arah Rara yang sudah melambaikan tangan dengan semangat.

Arga hanya bisa melihat punggung Nala yang menjauh. Gadis itu berjalan melewati barisannya tanpa menoleh sedikit pun. Tidak ada tanda-tanda pengenalan, tidak ada kejutan di matanya, bahkan tidak ada keraguan saat melewati meja Arga yang berada di pojok belakang. Arga merasa seolah ia hanyalah bagian dari dekorasi kelas yang tidak penting.

Wah, sepertinya doa kamu terkabul, Ga, tapi kok dia kelihatannya tidak kenal kamu ya? celetuk Dimas dengan volume suara yang sangat rendah, namun cukup tajam untuk menggores hati Arga.

Arga menutup buku catatannya dengan gerakan pelan. Ia tidak menjawab ucapan sahabatnya itu. Di barisan depan, Satria yang merupakan bintang tim basket sekolah sudah lebih dulu bertindak. Satria memutar tubuhnya ke belakang, memberikan senyum terbaiknya kepada Nala.

Hai Nala, kalau butuh bantuan keliling sekolah atau penjelasan soal guru-guru di sini, tanya saya saja ya. Nama saya Satria, ujar cowok itu dengan kepercayaan diri yang meluap-luap.

Nala mengangguk sopan. Terima kasih, Satria. Saya hargai tawarannya.

Pemandangan itu membuat Arga merasa sesak. Ia bisa melihat bagaimana Nala dengan mudah berinteraksi dengan orang-orang baru, seolah-olah masa lalu di antara mereka memang benar-benar telah terkubur di bawah tumpukan waktu. Arga merasakan tatapan lain dari arah depan. Tania Larasati, siswi yang duduk tepat di depannya, sedang memperhatikannya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tania seolah tahu bahwa Arga sedang berjuang dengan badai di dalam dadanya.

Tania kemudian berbalik sepenuhnya, mencoba menarik perhatian Arga. Arga, nanti saat istirahat kamu mau ke perpustakaan? Aku mau meminjam buku referensi biologi yang baru, tanyanya dengan nada suara yang lembut dan penuh perhatian.

Arga menggeleng pelan, mencoba memaksakan senyum tipis yang tampak sangat tidak meyakinkan. Maaf, Tan. Sepertinya aku ada urusan lain.

Tania mengangguk dengan sedikit kecewa, lalu kembali menghadap ke depan. Arga tahu bahwa Tania adalah pilihan yang lebih masuk akal. Tania ada di sana, nyata, dan jelas-jelas menunjukkan ketertarikan padanya. Namun, hatinya tetaplah sebuah labirin yang jalan keluarnya hanya diketahui oleh gadis yang baru saja duduk beberapa meter di depannya itu.

Rara, yang kini menjadi teman sebangku Nala, tampak langsung akrab dan membisikkan sesuatu yang membuat Nala tertawa kecil. Tawa itu masih sama, pikir Arga. Ada nada renyah di sela-selanya yang selalu bisa membuat Arga merasa tenang sekaligus gelisah di saat yang bersamaan.

Arga menarik napas panjang dan mencoba memfokuskan pikirannya pada penjelasan Pak Broto yang sudah mulai menulis di papan tulis. Namun, setiap kali ia mencoba berkonsentrasi, matanya secara tidak sadar selalu tertuju pada Nala. Ia melihat bagaimana Nala merapikan rambutnya, bagaimana ia memegang pulpen dengan jari-jarinya yang ramping, dan bagaimana ia tampak sangat fokus pada pelajaran seolah-olah tidak ada hal lain yang penting baginya selain nilai akademis.

Nala Anindita benar-benar telah kembali ke Sinduraya, namun Arga Baskara mulai menyadari bahwa ia mungkin telah kembali ke orang yang salah. Baginya, Nala adalah pusat semestanya selama delapan tahun terakhir. Namun bagi Nala, Arga mungkin hanyalah satu dari sekian banyak orang yang ia temui di hari pertamanya bersekolah kembali. Janji masa kecil yang Arga rawat seperti pusaka, kini terasa seperti beban yang berat dan sepi, sementara sang pemilik janji lainnya telah melangkah jauh tanpa pernah menoleh ke belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!