Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Ruang Meeting
Saskia melangkah keluar dari lift eksekutif yang dindingnya dilapisi cermin emas. Di belakangnya, pintu lift menutup tanpa suara. Di depannya, koridor lebar dengan karpet abu-abu gelap membentang sepanjang dua puluh meter.
Dinding kaca di kiri dan kanan menampilkan pemandangan kota Surabaya dari ketinggian yang membuat kepala sedikit pusing.
"Silakan, Mbak. Ruang meeting Anggrek di ujung."
Seorang sekretaris dengan blazer hitam dan rok pensil memandu langkahnya. Suaranya sopan, tapi matanya melirik ke sepatu pantofel Saskia yang mengelupas di bagian tumit. Saskia melihat lirikan itu. Ia tidak bereaksi.
"Apa perlu saya bawakan air minum, Mbak?"
"Tidak usah. Terima kasih."
Sekretaris itu mengangguk dan mundur, meninggalkan Saskia sendirian di depan pintu kayu besar dengan plakat emas bertuliskan "Ruang Anggrek".
Saskia menarik nafas dalam-dalam. Tiga detik ia menahan nafas di dada. Lalu menghembuskannya perlahan.
Ia mendorong pintu.
Ruang meeting itu lebih besar dari seluruh rumahnya. Meja konferensi dari kayu jati solid memanjang di tengah, dikelilingi delapan kursi kulit hitam dengan sandaran tinggi.
Di ujung meja, proyektor menggantung di langit-langit. Di dinding, layar presentasi otomatis sudah terpasang. Jendela kaca dari lantai ke langit-langit menampilkan pemandangan Surabaya yang membentang sampai ke Pelabuhan Tanjung Perak.
Dan di ujung meja, dengan punggung menghadap jendela, duduk Daniel Hardjono.
Setelan Armani gelap. Kemeja putih dengan kancing manset perak. Dasi abu-abu dengan simpul Windsor yang sempurna. Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, tapi satu helai jatuh di dahi, sedikit merusak kesempurnaan itu. Di depannya, sebuah laptop terbuka. Di sampingnya, secangkir kopi hitam yang masih mengepul.
Ia tidak berdiri ketika Saskia masuk.
"Silakan duduk."
Suaranya datar. Tidak ada jejak keramahan di dalamnya. Tangannya bahkan tidak bergerak dari keyboard laptop. Matanya masih menatap layar, membaca sesuatu yang sepertinya jauh lebih menarik daripada tamu yang baru masuk.
Saskia berjalan ke kursi di seberang Daniel. Ia duduk dengan punggung tegak, meletakkan tas jinjingnya di lantai, dan mengeluarkan proposal yang sudah ia jilid rapi. Gerakannya tenang. Terukur. Tidak ada getaran di jemarinya, meskipun di dalam dadanya, jantungnya berdetak seperti genderang perang.
Daniel akhirnya mendongak.
Matanya menatap Saskia dari atas sampai bawah. Dari sanggul rambutnya yang sederhana, ke kebaya putih yang sudah sedikit pudar, ke jarit coklat yang motifnya sudah tidak trendi, ke sepatu pantofel bekas yang kulitnya mengelupas di bagian tumit. Matanya berhenti di sepatu itu selama dua detik lebih lama.
Lalu ia tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya.
"Dari penampilan, saya kira Anda salah alamat. Kantor PMI ada di seberang jalan."
Kata-kata itu meluncur ringan, hampir santai. Tapi maknanya setajam silet. PMI. Palang Merah Indonesia. Tempat orang-orang datang untuk mencari donasi, bukan untuk berbisnis.
Saskia menatap lurus ke mata Daniel. Matanya tidak berkedip.
"Saya di sini untuk bisnis, Pak Hardjono. Bukan donasi."
Daniel mengangkat satu alisnya. Gerakan kecil, hampir tidak terlihat. Jemarinya yang tadinya mengetuk-ngetuk keyboard, berhenti.
"Saya undang Anda ke sini karena video yang direkam Budi. Operasi caesar darurat di pinggir jalan. Cukup mengesankan untuk seseorang yang mengaku belajar sendiri. Tapi..."
Ia menutup laptopnya. Sekarang perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Saskia.
"...video tidak menjual daging. Saya perlu bukti. Angka. Data yang bisa diverifikasi. Bukan klaim sepihak dari peternak yang bahkan tidak punya kaus kaki yang layak."
"Datanya ada di proposal ini."
Saskia mendorong proposal itu melintasi meja. Jemarinya menyentuh permukaan kayu jati yang dingin dan licin. Proposal itu berhenti tepat di depan Daniel.
Daniel tidak menyentuhnya. Matanya masih menatap Saskia.
"Saya sudah baca proposal Anda. Yang Anda kirim via email kemarin."
"Dan?"
"Dan saya tidak percaya."
Saskia tidak bergeming. "Bagian mana yang tidak Bapak percaya?"
"Semuanya." Daniel menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya terlipat di dada. "Kenaikan massa otot empat puluh persen dalam tiga minggu. Rasio konversi pakan satu banding empat koma tiga. Tebal lemak punggung yang meningkat tanpa penambahan porsi pakan signifikan. Ini data yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan."
"Itu data yang saya ukur sendiri, Pak."
"Itu data yang bisa direkayasa."
"Saya bisa buktikan."
"Bagaimana?"
Saskia menarik nafas. "Saya bawa satu ekor sapi. Blind test. Bapak tentukan sendiri standarnya. Bapak pilih sendiri jurinya. Kalau hasilnya di bawah standar, saya tidak akan ganggu Bapak lagi."
Daniel tersenyum lagi. Kali ini sedikit berbeda. Ada sesuatu di sudut bibirnya yang bergerak.
"Anda tahu berapa banyak orang yang datang ke kantor ini setiap bulan, menawarkan hal yang sama? 'Blind test, Pak. Sapi saya yang terbaik, Pak. Data saya tidak bisa ditandingi, Pak.'"
"Saya tidak tahu."
"Tujuh belas orang bulan lalu." Daniel mencondongkan tubuhnya ke depan. "Semuanya gagal. Semuanya minta maaf dan tidak pernah kembali."
"Saya bukan mereka."
"Lalu apa yang membuat Anda berbeda?"
Pertanyaan itu. Tepat di jantung.
Saskia bisa menjawab dengan data. Dengan angka. Dengan grafik pertumbuhan yang sudah ia susun rapi di proposalnya. Tapi instingnya mengatakan bahwa Daniel tidak butuh itu. Daniel butuh sesuatu yang lain.
"Saya tidak takut gagal, Pak."
Daniel menatapnya. Pandangannya berubah. Dari sinis dan merendahkan, menjadi... menilai. Lebih tajam. Lebih dalam.
"Kenapa?"
"Karena saya sudah pernah gagal lebih besar dari ini. Saya sudah pernah kehilangan lebih banyak dari kontrak. Saya sudah pernah jatuh lebih dalam dari lantai dua puluh tujuh."
Keheningan. Hanya suara AC yang mendesir pelan.
Daniel mengambil proposal itu. Jemarinya yang panjang dan terawat membuka halaman pertama. Matanya bergerak membaca, tapi Saskia tahu ia tidak benar-benar membaca. Pikirannya ada di tempat lain.
"Anda aneh, Mbak Saskia."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Saya tahu."
Daniel menatapnya lagi. Lebih lama kali ini. Matanya yang coklat tua menelusuri wajah Saskia, mencari sesuatu. Mungkin kelemahan. Mungkin kebohongan. Mungkin celah yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan argumennya.
"Baik." Ia meletakkan proposal itu di meja. "Saya beri Anda satu kesempatan. Blind test. Dua minggu dari sekarang. Di laboratorium uji coba kami di Sidoarjo. Saya akan hadir sendiri."
"Saya akan datang."
"Jangan terlambat."
"Saya tidak pernah terlambat."