NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Ruang Tanpa Nama

Ruang OSIS itu masih sama.

Tapi suasananya tidak lagi sama.

Bukan karena cahaya.

Bukan karena suara.

Tapi karena sesuatu yang tidak lagi bisa dijelaskan dengan logika sekolah biasa.

Selene berdiri paling dekat pintu.

Tangannya masih gemetar, tapi matanya mulai berubah.

Bukan takut.

Tapi sadar bahwa ia sudah terjebak terlalu jauh untuk mundur.

Arsen berdiri di tengah.

Tidak bergerak.

Tidak berkedip.

Dan Anya…

berdiri sedikit lebih jauh dari mereka berdua.

Seperti seseorang yang baru saja menutup pintu terakhir dari sebuah ruangan yang tidak punya kunci balik.

Sunyi.

Lalu layar laptop di meja OSIS menyala sendiri.

Padahal tidak ada yang menyentuhnya.

Selene langsung mundur.

“…ini bukan aku lagi.”

Arsen menatap layar itu.

Sebuah tulisan muncul perlahan.

Huruf demi huruf.

Seperti sistem yang menulis dirinya sendiri.

“IDENTITAS TIGA TERDETEKSI.”

Selene menahan napas.

“APA ITU?!”

Anya tidak menjawab.

Tapi matanya sedikit menyempit.

Arsen melangkah maju.

“Ini bukan sistem sekolah.”

Ia berhenti di depan layar.

“Ini layer lain.”

Selene menatapnya tajam.

“Layer apa?!”

Belum sempat dijawab—

layar berubah.

“PENGGUNA BARU TERDETEKSI: ARSENIO RAFARDHAN”

Selene menoleh cepat ke Arsen.

“…itu kamu.”

Arsen tidak bereaksi.

Tapi matanya tajam.

“Jadi aku sudah tercatat.”

Anya akhirnya berbicara pelan.

“…kamu tidak diundang.”

Arsen menatapnya.

“Tapi aku tetap masuk.”

Sunyi.

Lalu layar berubah lagi.

“PROTOKOL UJI: DIMULAI”

Selene langsung panik.

“Uji apa?!”

Lampu ruang OSIS tiba-tiba mati.

Total.

Gelap.

Hanya layar laptop yang menyala.

Dan suara sistem yang tidak berasal dari speaker.

Tapi langsung di dalam ruangan.

“TIGA SUBJEK TERDETEKSI.” “ANOMALI STABIL.” “INTEGRITAS EMOSI AKAN DIUJI.”

Selene menoleh cepat.

“Ini gila…”

Arsen tetap tenang.

“…ini bukan ancaman.”

Ia menatap layar.

“Ini seleksi.”

Anya menatap Arsen untuk pertama kalinya lebih lama.

“…kamu mengerti terlalu cepat.”

Arsen menjawab:

“Karena ini mirip sistem bisnis tingkat tinggi.”

Selene tertawa kecil, tapi patah.

“Bisnis?! Kita lagi di ruang sekolah yang gelap!”

Suara sistem kembali:

“UJI PERTAMA: KEJUJURAN”

Layar berubah.

Tiga nama muncul.

ARSEN ANYA SELENE

Di bawah masing-masing nama, muncul satu kalimat.

Dan kalimat itu bukan dari sistem.

Tapi dari data mereka sendiri.

Selene langsung mundur.

“Ini… ini nyari kelemahan kita?!”

Arsen membaca kalimat di bawah namanya.

Matanya sedikit mengeras.

Anya menatap layar.

Tidak bergerak.

Tapi untuk pertama kalinya…

jari tangannya sedikit menegang.

Sistem berbicara:

“UNGKAPAN YANG PALING TIDAK PERNAH DIUCAPKAN AKAN DITAMPILKAN.”

Selene langsung berteriak:

“STOP!”

Tapi layar tidak berhenti.

Nama SELENE menyala.

Dan kalimat muncul:

“AKU TAKUT TIDAK PERNAH BERARTI APA-APA TANPA KEKUASAAN.”

Selene membeku.

Seluruh tubuhnya berhenti.

“…itu…”

suaranya pecah.

“…bukan aku.”

Arsen menatapnya sekilas.

Lalu kembali ke layar.

Anya tidak bergerak.

Tapi matanya sedikit turun.

Selene menatap layar lagi, panik.

“MATIKAN INI!”

Sistem lanjut:

“RESPON EMOSI TERDETEKSI: PENOLAKAN”

Selene mundur lagi.

“…ini gila…”

Sekarang nama ARSEN menyala.

Arsen tidak bereaksi.

Dia hanya membaca.

Kalimatnya:

“AKU TAKUT MENJADI PENERUS YANG TIDAK LEBIH BAIK DARI AYAHKU.”

Hening.

Selene menoleh ke Arsen.

“…kamu…”

Arsen tidak menjawab.

Tapi tatapannya sedikit berubah.

Bukan lemah.

Tapi lebih manusia.

Selene terdiam.

“…jadi semua orang punya ini?”

Anya akhirnya berbicara pelan.

“Bukan semua orang.”

Ia menatap layar.

“Hanya mereka yang dianggap cukup berbahaya untuk sistem ini.”

Selene menelan ludah.

“…berbahaya?”

Anya mengangguk.

“Untuk stabilitas sesuatu yang lebih besar.”

Sistem berbicara lagi:

“SUBJEK TERAKHIR: ANYA CLARISSA”

Ruangan menjadi lebih dingin.

Selene langsung menatap Anya.

“…kamu juga?”

Anya tidak menjawab.

Layar menampilkan namanya.

Dan beberapa detik tidak ada apa-apa.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Selene berbisik:

“…kenapa kosong?”

Arsen menyipitkan mata.

“Tidak kosong.”

Ia menatap layar.

“Disembunyikan.”

Anya akhirnya berkata pelan:

“…atau dihapus.”

Tiba-tiba layar berkedip keras.

Dan sistem berhenti.

“KESALAHAN” “SUBJEK TIDAK SESUAI FORMAT”

Selene terkejut.

“…apa maksudnya?!”

Arsen menatap Anya.

“…kamu bukan data biasa.”

Anya tidak menjawab.

Tapi untuk pertama kalinya—

dia sedikit memalingkan wajah.

Sistem terakhir berbunyi:

“UJI KEJUJURAN SELESAI” “HASIL: TIDAK STABIL”

Lampu menyala kembali.

Laptop mati.

Seperti tidak pernah terjadi apa pun.

Selene terjatuh duduk.

“…apa barusan itu…”

Arsen melangkah pelan ke meja.

“…kita baru saja dipindai.”

Anya menatap lantai.

“Bukan dipindai.”

Ia mengangkat wajah.

“Diuji apakah kita pantas masuk lebih dalam.”

Sunyi.

Selene tertawa kecil.

“Tolong bilang ini cuma sistem sekolah yang diretas.”

Arsen menatap Anya.

“Ini bukan sekolah.”

Anya mengangguk pelan.

“Sudah lama bukan.”

Hening.

Lalu Arsen berkata:

“Jadi EL bukan hanya sistem.”

Anya menatapnya.

“Sudah kubilang.”

Arsen melanjutkan:

“Tapi lapisan seleksi manusia.”

Anya tidak membantah.

Dan itu jawaban paling jelas yang bisa ada.

Selene menatap keduanya.

“…jadi kita sekarang apa?”

Arsen menjawab pelan:

“Subjek yang belum lulus.”

Anya menambahkan:

“…atau belum gagal.”

Dan di luar ruang OSIS—

angin malam berhembus pelan melewati jendela yang retak sedikit.

Seperti dunia sedang mengamati mereka balik.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!