Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suasana lobi balai lelang yang tadinya sunyi seketika berubah menjadi sangat hening dan tegang.
Semua mata pengunjung dan staf kini tertuju ke arah patung kuda perunggu di dalam lemari pameran utama.
Wajah Leo memerah padam menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Kamu berani menghina koleksi kebanggaan saya anak muda?" desis Leo dengan suara bergetar.
"Saya beli patung perunggu itu dari kolektor Eropa seharga ratusan juta rupiah lima tahun lalu."
Arga tersenyum tipis dan melangkah maju mendekati meja resepsionis tanpa rasa takut sedikit pun.
"Harga beli ratusan juta gak ngejamin barang itu asli kalau yang nilai cuma orang sok tahu," balas Arga telak.
"Kalau bapak emang yakin itu asli, berani gak bapak buka lemari kacanya sekarang juga di depan semua orang?"
Leo mengepalkan tangannya dan mendengus kasar.
"Untuk apa saya menuruti permintaan konyol dari penipu amatir seperti kamu?" tolak Leo berkilah.
Beberapa tamu VIP yang penasaran mulai mendekat ke arah meja resepsionis.
Mereka adalah para kolektor seni yang sangat menjunjung tinggi keaslian dan kejujuran dalam berbisnis.
"Buka saja lemari kacanya Pak Leo," ucap seorang pria berjas rapi dari kerumunan tamu.
"Kita semua ingin tahu apakah pemuda ini asal bicara atau memang punya bukti yang kuat."
Desakan dari para tamu membuat Leo tidak berkutik dan terpaksa menelan ludahnya sendiri.
Dia tidak mungkin mengusir para klien penting yang selama ini menghidupi balai lelang tersebut.
Leo berjalan dengan langkah berat menuju lemari kaca dan mengeluarkan kunci kecil dari saku jasnya.
Klak.
Pintu lemari kaca pameran itu terbuka lebar memperlihatkan patung kuda perunggu berukuran sedang.
Arga melangkah mendekat dan berdiri tepat di sebelah Leo yang masih memasang wajah angkuh.
"Coba bapak cium bau bagian bawah alas patung kuda ini dari jarak dekat," suruh Arga menunjuk alas patung.
"Peninggalan sejarah ratusan tahun harusnya punya aroma tanah kuno atau oksidasi alami murni."
"Bukan bau bahan kimia klorin buatan yang dipakai buat ngelunturin warna tembaga biar kelihatan usang."
Leo mengerutkan dahinya dan menundukkan kepalanya mendekati alas patung tersebut.
Aroma menyengat khas bahan kimia klorin samar-samar memang tercium masuk ke dalam rongga hidungnya.
Keringat dingin mulai menetes dari pelipis Kepala Kurator itu.
"Bau seperti ini bisa saja berasal dari cairan pembersih kaca yang dipakai petugas kebersihan," bantah Leo mencari alasan.
Arga tertawa pelan mendengar alasan bodoh yang baru saja diucapkan oleh pria paruh baya itu.
"Oke, kalau bau kimia bapak anggap biasa, sekarang coba bapak balik patungnya dan lihat bagian rongga dalamnya," tantang Arga lagi.
Leo ragu-ragu untuk mengangkat patung perunggu yang lumayan berat tersebut.
Tangannya yang terbalut sarung tangan putih mulai bergetar saat dia membalikkan patung itu ke atas meja.
Buk.
Patung itu terbaring miring di atas meja resepsionis dan memperlihatkan bagian bawah alasnya yang berongga.
"Barang perunggu kuno itu dibuat pakai teknik cetakan tanah liat tradisional yang dipecah setelah dingin," jelas Arga dengan suara lantang agar semua orang mendengar.
"Teknik itu pasti ninggalin permukaan yang kasar dan gak rata di bagian rongga dalam patung."
Arga menunjuk lurus ke bagian rongga dalam patung kuda milik Leo.
"Tapi lihat rongga dalam patung bapak ini, permukaannya sangat mulus dan ada garis cetakan mesin simetris di tengahnya," ungkap Arga membongkar fakta memalukan itu.
"Ini murni patung cetakan pabrik modern yang diproduksi massal pakai mesin las presisi tinggi."
Semua tamu yang berkerumun langsung mencondongkan tubuh mereka untuk melihat bagian dalam patung tersebut.
Mereka semua adalah kolektor berpengalaman dan langsung mengenali garis cetakan mesin modern yang sangat jelas itu.
Suara gumaman dan bisik-bisik kecewa mulai terdengar memenuhi ruangan lobi balai lelang.
"Astaga, ternyata benar itu cetakan mesin pabrik," ucap salah satu tamu dengan nada tidak percaya.
"Bagaimana bisa seorang Kepala Kurator tidak menyadari kecacatan semencolok itu pada koleksi utamanya?" timpal tamu lainnya.
Wajah Leo kini berubah menjadi sangat pucat pasi seolah tidak ada aliran darah sama sekali.
Reputasinya selama dua puluh tahun hancur berkeping-keping hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Dia tidak bisa lagi membantah bukti fisik yang sangat terang benderang di depan mata semua kliennya.
"Ini tidak mungkin, kolektor Eropa itu menipuku mentah-mentah," gumam Leo dengan suara bergetar panik.
"Yang nipu bapak itu bukan cuma kolektor Eropa, tapi kesombongan bapak sendiri," potong Arga dengan nada dingin.
"Bapak terlalu merendahkan orang lain sampai lupa buat teliti sama barang pajangan bapak sendiri."
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan pelan namun tegas dari arah tangga utama lobi.
Prok prok prok.
Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara tepuk tangan tersebut.
Seorang pria lanjut usia berpakaian tradisional batik lengan panjang berjalan menuruni anak tangga dengan sangat berwibawa.
Pria itu memiliki rambut yang sudah memutih sepenuhnya namun postur tubuhnya masih sangat tegap dan lurus.
Dua orang pengawal berbadan besar bersetelan jas hitam mengikuti pria tua itu dengan jarak dua langkah di belakangnya.
Para tamu VIP yang berkerumun langsung membelah jalan dan menundukkan kepala mereka dengan sangat hormat.
"Selamat siang Tuan Wijaya," sapa para tamu itu hampir serempak.
Arga menyipitkan matanya melihat sosok pria tua yang sepertinya memiliki pengaruh sangat besar di tempat ini.
'Orang ini pasti bukan kolektor sembarangan sampai semua tamu VIP nunduk hormat begitu,' batin Arga menganalisis situasi.
Pria tua bernama Wijaya itu berjalan menghampiri meja resepsionis dan berdiri tepat di sebelah Arga.
Dia menatap patung kuda perunggu yang terbaring miring itu sekilas lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Anak muda ini benar seratus persen Leo," kata Wijaya dengan suara yang berat dan tenang.
"Itu memang barang tiruan pabrik murahan yang bahkan tidak pantas diletakkan di garasi rumah saya."
Leo langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam dan tidak berani menatap mata pria tua tersebut.
"Maafkan kecerobohan saya Tuan Wijaya, saya akan segera menyingkirkan patung ini dari sini," ucap Leo dengan nada memelas.
"Kamu bukan hanya ceroboh Leo, kamu juga hampir mengusir tamu yang membawa harta karun asli ke tempat ini," tegur Wijaya menatap lurus ke arah Arga.
Wijaya mengalihkan pandangannya menuju guci keramik Dinasti Song Utara yang masih tergeletak di atas meja kaca.
Mata pria tua itu langsung memancarkan kilau ketertarikan yang sangat kuat saat melihat pola naga biru tersebut.
Dia mengambil saputangan sutra dari sakunya dan memegang guci itu dengan sangat hati-hati.
Wijaya meraba permukaan glasir guci itu menggunakan ibu jarinya perlahan-lahan.
Dia lalu membalikkan guci itu dan memeriksa cap huruf Tiongkok kuno di bagian bawah alasnya.
"Luar biasa," gumam Wijaya dengan nada suara yang dipenuhi kekaguman mendalam.
"Ketebalan glasirnya sangat sempurna dan pori-pori tanah liatnya menunjukkan proses pembakaran tungku kayu tradisional ratusan tahun lalu."
Wijaya meletakkan guci itu kembali ke atas meja dan menatap Arga dengan senyum ramah.
"Anak muda, dari mana kamu bisa mendapatkan barang peninggalan kaisar sedemikian mulus kondisinya?" tanya Wijaya penuh minat.
"Saya dapet barang ini dari warisan keluarga yang udah disimpen lama banget Pak Wijaya," jawab Arga berbohong dengan tenang.
"Keluarga saya mutusin buat jual barang ini sekarang buat tambahan modal usaha di Jakarta."
Wijaya mengangguk pelan menerima penjelasan Arga yang terdengar sangat masuk akal bagi seorang kolektor.
Barang antik kelas atas memang sering kali muncul dari penyimpanan rahasia keluarga kaya yang sedang membutuhkan uang.
"Nama kamu siapa anak muda?" tanya Wijaya lagi.
"Nama saya Arga Pak, kebetulan saya baru aja buka perusahaan jual beli barang antik namanya PT Arga Antik Nusantara," jawab Arga sekalian mempromosikan bisnis barunya.
"Menarik sekali Arga," balas Wijaya tersenyum semakin lebar. "Balai lelang ini sebenarnya adalah salah satu perusahaan milik keluarga saya."