【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Goda-goda jenaka dari para wali murid masih terus berdengung di dalam ruang kelas, membuat menit-menit yang dilalui Tina terasa berjalan begitu lambat. Setiap kali ia menyerahkan selembar ijazah, setiap kali pula ia harus menerima senyuman penuh arti dan kedipan mata dari ibu-ibu desa. Dengan sisa-sisa ketegaran yang dimilikinya, Tina berusaha tetap tersenyum ramah dan menyelesaikan tugasnya hingga wali murid terakhir melangkah keluar dari pintu pagar PAUD.
Begitu suasana sekolah mendadak sunyi, Tina mengembuskan napas panjang, bersandar pada sandaran kursi kayu sembari mengipasi wajahnya yang masih terasa hangat dengan selembar kertas sisa. Namun, ketenangannya tak bertahan lama. Ingatan bahwa ada seorang pria kota yang sedang menunggunya di ruang sebelah seketika membuat punggungnya kembali menegak.
Tina bangkit berdiri, merapikan rok kainnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu kantor guru. Setelah mengetuk pintu dua kali dengan ragu, ia mendorong daun pintu kayu itu perlahan.
Di dalam ruangan, Andry sedang berdiri di dekat jendela, memandangi pekarangan sekolah yang sepi. Begitu mendengar suara langkah kaki, pria itu berbalik. Senyuman tipis yang sarat akan kelembutan langsung terukir di wajahnya.
"Sudah selesai urusan ijazahnya, Tina?" tanya Andry dengan suara baritonnya yang tenang.
"Sudah, Pak," jawab Tina, sengaja mengambil posisi berdiri yang agak berjarak di dekat meja kerja, mencoba menjaga batasan. "Sekali lagi, saya mohon maaf karena membuat Bapak harus menunggu lama di ruangan yang sempit ini."
"Tidak apa-apa. Menunggumu adalah hal yang paling tidak melelahkan yang saya lakukan akhir-akhir ini," sahut Andry santai, namun kalimat itu sukses membuat debaran di dada Tina kembali berpacu.
Andry melangkah mendekati meja, menunjuk amplop cokelat tebal yang tadi ia bawa. "Berkas itu murni untuk anak-anak, Tina. Pihak yayasan sudah menyiapkan semuanya. dan akan lansung merenovasi sekolah ini besok, tim tukang dari kota akan datang untuk mulai memperbaiki atap kelas yang bocor. Saya harap kamu tidak menolaknya."
Tina menatap amplop itu dengan pandangan haru. "Saya tidak akan menolaknya, Pak. Ini adalah impian anak-anak Desa Sukamaju. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan hati Bapak yang sudah memikirkan nasib sekolah kecil ini."
"Lalu... bagaimana dengan nasib saya, Tina?"
Pertanyaan yang meluncur tiba-tiba dari bibir Andry membuat ruangan kantor itu seketika hening. Andry menatap lekat-lekat sepasang mata jernih gadis di hadapannya. Tidak ada lagi kilat keangkuhan di mata pria itu; yang tersisa hanyalah kesungguhan seorang lelaki yang sedang meminta kepastian arah masa depannya.
"Satu minggu sudah berlalu sejak saya datang ke rumah mu," lanjut Andry dengan nada suara yang melembut, melangkah satu tapak lebih dekat. "Saya tahu, cara saya di masa lalu sangat brengsek. Tapi saya berdiri di sini hari ini, membawa seluruh perubahan yang bisa saya lakukan, hanya untuk mendengar satu hal. Apakah... apakah ada sedikit ruang di hatimu untuk menerima niat baik saya, Tina?"
Tina terdiam. Pertanyaan itu seolah menariknya kembali pada kejadian di jalan desa pagi tadi, saat Tante Ros merendahkan keluarganya dan menganggapnya sok jual mahal. Kata-kata tantenya memang menyakitkan, namun ketulusan Andry di hadapannya saat ini jauh lebih kuat meruntuhkan seluruh keraguannya. Tina tahu, pernikahan bukan sekadar pelarian dari omongan orang, melainkan tentang memilih imam yang tepat.
Tina menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia tidak menunduk lagi; ia membalas tatapan mata Andry dengan ketegasan yang anggun.
"Pak Andry..." ucap Tina, suaranya terdengar jernih memenuhi ruangan. "Menikah bagi saya adalah komitmen seumur hidup. Saya bukan gadis kota yang berpenampilan menarik, saya hanya seorang sarjana desa dan guru PAUD di desa yang sederhana ini. Rumah saya hanya rumah tembok tua, dan keluarga saya penuh dengan kekurangan."
Andry hendak menyela, namun Tina mengangkat tangannya pelan, memintanya untuk mendengarkan terlebih dahulu.
"Jika Bapak datang kemari membawa harta dan kekuasaan untuk membeli kehormatan keluarga saya, maka hari ini juga saya akan menolaknya," lanjut Tina dengan binar mata yang berkaca-kaca namun kokoh. "Tapi... jika Bapak datang dengan niat karena Allah, siap menerima segala kesederhanaan hidup saya, dan berjanji tidak akan pernah merendahkan saya dan keluarga, saya akan sangat menghargainya. Namun, Pak... beri saya sedikit waktu lagi untuk memantapkan hati."
Andry hanya terdiam mendengar penuturan itu. Tidak ada seulas pun gurat kemarahan di wajah tampannya, melainkan sepasang matanya justru memancarkan rasa hormat yang semakin mendalam terhadap prinsip hidup gadis di hadapannya.
"Baiklah, Tina, jika itu memang keinginanmu," ucap Andry dengan nada suara yang lembut, mengalah dengan penuh keikhlasan. "Saya tidak akan mendesakmu lagi. Tapi... bolehkah saya meminta satu hal kecil?"
Tina mendongak, menatap Andry dengan sepasang alis yang bertaut heran. "Apa itu, Pak?"
Andry mengembuskan napas pendek, lalu mengulas senyum geli yang tampak begitu lepas. "Ah, tolong jangan panggil aku 'Pak' lagi. Setiap kali kamu memanggilku begitu di luar urusan pekerjaan, aku merasa diri ini mendadak menjadi sangat tua."
Kalimat spontan dari Andry itu seketika memecah ketegangan yang sejak tadi mengikat ruangan kantor guru tersebut. Mereka berdua sempat terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya kompak tertawa kecil secara malu-malu. Rona merah di pipi Tina yang sempat memudar kini kembali merayap naik, sementara Andry hanya bisa menggaruk peluk keningnya yang tidak gatal, merasa salah tingkah sendiri dengan candaan yang baru saja dilontarkannya.
"Bagaimana, Tina? Bisa, kan?" tanya Andry lagi, memastikan.
"Iya, Pa... eh, Andry," sahut Tina dengan suara yang sangat pelan, menyebut nama itu dengan bibir yang terasa amat canggung dan malu.
Andry tersenyum lebar, matanya berbinar cerah. "Begitu kan baru enak didengar. Rasanya jarak di antara kita langsung berkurang beberapa kilometer."
Meskipun suasana sudah mencair, Tina tetap berusaha mempertahankan fokusnya. Ada sebuah rasa penasaran yang sudah sangat lama terpendam di dalam dadanya, sebuah teka-teki yang belum sempat ia temukan jawabannya sejak pria kota ini tiba-tiba masuk ke dalam lingkaran kehidupannya yang tenang.
"Tapi... Andry," panggil Tina, mencoba membiasakan lidahnya dengan panggilan baru itu meskipun ada rasa mendebat yang aneh di ulu hatinya. "Sebelum kita melangkah lebih jauh nanti, saya... saya sebenarnya ingin menanyakan sesuatu juga kepadamu."
Andry menegakkan posisi berdirinya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah yang mendadak tertarik. "Tentang apa?"
Tina menarik napas pendek, menatap lurus ke dalam manik mata Andry. "Dari mana sebenarnya kamu mengenal saya? Apa yang membuatmu menyukai saya, dan mengapa... mengapa kamu begitu yakin ingin menikah dengan saya? Padahal, di kota sana, pasti ada begitu banyak wanita yang jauh lebih berpendidikan, lebih cantik, dan lebih setara dengan kehidupanmu."
Rentetan pertanyaan yang meluncur dari bibir ranum Tina seketika membuat Andry terdiam seribu kata. Lidahnya mendadak kelu, dan raut wajahnya yang semula tenang kini berubah menjadi agak kikuk. Ada rona merah yang samar-samar muncul di pelipisnya. Pria kota yang biasanya selalu punya jawaban taktis dalam setiap negosiasi bisnis itu kini mendadak mati kutu karena merasa sangat malu jika harus membongkar rahasia besarnya; bahwa sebenarnya ia sudah mengincar dan mengagumi Tina sejak gadis itu masih menjadi juniornya dulu di kampus kota, jauh sebelum Tina kembali ke desa dan menjadi seorang guru PAUD.
Saat Andry sedang memutar otak, mencari untaian kata yang pas untuk menjawab pertanyaan itu tanpa membuat dirinya terlihat seperti seorang pengagum rahasia yang aneh, sebuah suara yang sangat tidak terduga tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.
*Kruuukkk...*
Suara nyaring itu berasal dari arah perut Tina. Suara keroncongan yang cukup keras, yang menandakan bahwa lambung gadis itu benar-benar sudah kosong melompong sejak pagi hari. Maklum saja, ingatan tentang tahu goreng dan sambal tomat buatan ibunya di meja makan tadi pagi langsung melintas, mengingatkan Tina bahwa ia memang menolak sarapan demi mengejar waktu ke sekolah.
Seketika itu juga, atmosfer romantis di dalam ruangan berubah total. Wajah Tina yang semula tampak anggun dan penuh selidik langsung berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus karena menahan malu yang luar biasa. Ia refleks membekap perutnya dengan kedua tangan, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap lantai kayu di bawah kakinya bisa terbelah dan menelan tubuhnya detik itu juga.
Andry yang mendengar suara itu sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya sebuah senyuman geli yang sangat manis terukir di sudut bibirnya. Ia sama sekali tidak berniat mengejek, melainkan justru merasa situasi ini sangat menggemaskan.
"Ah... bagaimana kalau kita makan dulu?" tanya Andry dengan nada menawarkan yang sangat ramah, mencoba menyelamatkan Tina dari rasa malunya yang teramat sangat.
Tina yang wajahnya masih terasa panas langsung menggelengkan kepala dengan cepat tanpa berani mendongak. "Ah, tidak usah... tidak usah, Andry. Saya... saya bisa makan di rumah saja nanti setelah ini."
"Ayolah, Tina. Tunggu sebentar di sini, jangan kemana-mana," potong Andry dengan cepat.
Tanpa menunggu persetujuan dari Tina, pria itu langsung membalikkan badannya dan berlari kecil keluar dari ruangan kantor, menuruni anak tangga selasar menuju mobil sedan hitamnya yang terparkir di bawah pohon. Dari balik jendela, Tina hanya bisa menatap bingung melihat Andry membuka pintu belakang mobilnya dan meraih sebuah kantong kertas tebal berukuran besa berisi makanan dan air minum, lalu kembali berlari menuju kantor dengan wajah yang penuh dengan binar kegembiraan.
Andry kembali masuk ke dalam ruangan sembari membawa dua buah kotak makan premium yang masih terasa hangat. Tampaknya, pria kota ini memang sudah merencanakan dan menunggu momen ini sejak ia berangkat dari kota pagi-pagi sekali.
"Ini... kebetulan sekali saya juga belum sempat sarapan tadi karena terburu-buru mengejar waktu agar tidak terlambat menemuimu," ujar Andry bohong, padahal ia sengaja membelinya di restoran terbaik di pinggir jalan kabupaten khusus untuk dinikmati berdua dengan Tina.
"Jadi, lebih baik kita makan bersama di sini saja, sambil... saya akan menceritakan semua jawaban dari pertanyaanmu tadi."
Tina menatap dua kotak makan hangat yang kini sudah diletakkan di atas meja kerja guru yang kosong. Perutnya kembali berbunyi lirih, seolah memberikan persetujuan sepihak. Menolak tawaran tulus yang sudah disiapkan dengan matang seperti ini rasanya akan sangat tidak sopan dan melukai hati Andry.
"Baiklah... kalau begitu, terima kasih," sahut Tina akhirnya, menerima tawaran itu dengan berat hati namun penuh rasa syukur tersembunyi.
Mereka berdua pun mengambil posisi duduk berhadapan di kursi kayu yang dibatasi oleh meja guru yang sederhana. Andry dengan telaten membuka tutup kotak makan tersebut, memperlihatkan menu nasi pandan wangi yang dilengkapi dengan lauk pauk yang sangat menggugah selera. Uap hangat yang mengepul dari dalam kotak langsung memenuhi ruangan dengan aroma rempah yang gurih, membuat air liur siapa pun yang menciumnya akan menetes.
Namun, begitu jemarinya menyentuh sendok, pandangan mata Andry yang menatap Tina yang sedang membuka kotak makanannya sendiri mendadak mengabur. Pikirannya melayang jauh, melepaskan diri dari realitas fana di kantor guru yang sempit itu. Sebuah khayalan yang teramat indah tiba-tiba muncul dan menari-nari di pelupuk matanya.
Dalam lamunannya, Andry melihat sebuah pemandangan di masa depan. Ia melihat dirinya dan Tina tidak lagi duduk di atas kursi kantor yang keras, melainkan di dalam sebuah ruang makan yang hangat di rumah masa depan mereka nanti. Di dalam khayalan itu, Tina mengenakan celemek rumah tangga yang anggun, sedang tersenyum manis sembari menyendokkan nasi ke piringnya. Mereka duduk berdampingan, saling bertukar cerita tentang kegiatan seharian, lalu dengan penuh kasih sayang, Andry mengulurkan tangannya untuk menyuapi sepotong lauk ke dalam mulut Tina yang menyambutnya dengan tawa renyah yang sangat membahagiakan.
Khayalan itu terasa begitu nyata dan manis, hingga tanpa sadar, Andry duduk mematung dengan sendok yang menggantung di udara. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman lebar yang terlihat agak aneh karena ia terus menatap wajah Tina dengan pandangan kosong yang penuh dengan binar cinta.
Tina yang baru saja selesai menata sendoknya menyadari keanehan pada pria di hadapannya. Ia memperhatikan bagaimana Andry hanya diam menatapnya sembari tersenyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang kehilangan kesadaran.
"An... Dry? Dry... Pak Andry?" panggil Tina, suaranya naik satu oktav karena panggilan pertamanya sama sekali tidak direspons.
Panggilan bernada tegas itu seketika bagai sebuah siraman air dingin yang mengejutkan Andry. Ia tersentak, mengerjapkan matanya berulang kali, dan rohnya seolah baru saja ditarik paksa kembali masuk ke dalam tubuhnya di dunia nyata.
"Ah... iya! Iya, ada apa, Tina?" tanya Andry gelagapan, buru-buru membetulkan posisi duduknya yang sempat condong ke depan, wajahnya mendadak memerah karena malu karena ketahuan melamun tentang masa depan.
Tina menatapnya dengan sepasang mata yang menyipit penuh selidiki, namun ada sedikit senyuman geli di sudut bibirnya. "Silakan dimakan, dan... silakan diceritakan. Katanya tadi mau makan sambil cerita tentang dari mana kamu mengenal saya?"
Andry berdeham keras, mencoba membersihkan tenggorokannya sekaligus menutupi rasa salah tingkahnya yang sudah mencapai ubun-ubun. Ia menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan cepat, lalu menarik napas panjang untuk mulai membongkar rahasia yang sudah ia simpan rapat-rapat selama bertahun-tahun di dalam hatinya.