NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: DINGINNYA LANTAI MARMER DESEMBER

Desember kian menderu di luar jendela, membawa curah hujan yang seolah tidak ada habis-habisnya mengguyur kota Semarang. Namun, di dalam rumah besar bergaya kolonial-modern milik keluarga Wijaya ini, hawa dingin yang kurasakan jauh lebih menusuk hingga ke dalam tulang. Di rumah megah ini, aku tidak lebih dari sekadar bayangan tanpa suara yang bergerak dari satu sudut ke sudut lain, memeras keringat untuk memastikan kenyamanan lima kepala yang tinggal di dalamnya.

Sejak hari pertama aku melangkah masuk sebagai istri Mas Rendra, Ibu Retno sudah menegaskan satu aturan tak tertulis yang kejam: tidak ada pembantu atau juru cuci di rumah ini. Beliau beralasan bahwa seorang istri dari desa harus rajin dan membuktikan baktinya pada keluarga suami dengan mengurus segala sesuatunya sendiri. Akibatnya, setiap hari tugasku dimulai sejak pukul empat subuh. Aku harus menyapu dan mengepel lantai marmer dua lantai yang sangat luas, mencuci tumpukan pakaian sekeluarga dengan tangan hingga jemariku keriput dan memutih, menyetrika kemeja-kemeja batik yang kaku, hingga membersihkan kamar mandi yang besar.

Rasa lelah fisik itu sebenarnya bisa kutahan. Tubuhku sudah biasa ditempa kerasnya lajur tiga pabrik garmen Cakung. Namun, yang perlahan-lahan mengikis batinku adalah penderitaan mental, sebuah tekanan harian yang sengaja diciptakan oleh Ibu Retno dan diadopsi dengan sangat baik oleh adik-adik iparku.

"Yuni! Kamu lihat ini, kaca meja rias Ibu masih ada bercak debunya! Kalau kerja itu matanya dipakai, jangan cuma asal seka!" Lengkingan suara Ibu Retno selalu menjadi pembuka hari yang meneror rungu. Beliau akan berdiri dengan kebaya sutranya yang anggun, menunjuk sudut ruangan dengan tatapan menghina seolah aku adalah makhluk paling teledor di dunia.

Penderitaan itu kian lengkap dengan kelakuan Bagus, remaja kelas satu SMA, dan Ambar, gadis kelas satu SMP. Mereka sama sekali tidak menghormatiku sebagai kakak ipar. Bagi mereka, aku hanyalah pembantu gratisan yang dibawa Mas Rendra dari desa miskin.

"Mbak Yuni, seragam pramukaku kenapa belum disetrika? Kamu ini kerjanya ngapain aja sih dari pagi? Nanti kalau aku dihukum guru, Mbak Yuni mau tanggung jawab?" bentak Bagus sore itu, melemparkan tas sekolahnya begitu saja ke atas sofa ruang tengah, mengabaikan fakta bahwa aku baru saja selesai mengepel lantai di bawah kakinya.

"Iya, lagian masakan Mbak Yuni hari ini asin banget, tidak enak. Selera orang desa memang beda ya, tidak tahu takaran bumbu yang pas," timpal Ambar sembari membolak-balik majalah remajanya dengan wajah ditekuk masam.

Pak Didi, ayah Mas Rendra, lebih banyak diam di sudut ruangan, berpura-pura membaca koran atau merokok, menyerahkan seluruh otoritas penindasan itu kepada istrinya. Di tengah lingkaran intimidasi yang menyesakkan ini, aku hanya bisa menunduk, menelan ludah yang terasa pahit, dan membisikkan kata maaf yang seolah sudah menjadi makanan harianku.

Satu-satunya penawar racun di rumah ini, satu-satunya alasan mengapa aku masih sudi bertahan memeras sisa-sisa tenagaku, adalah Mas Rendra.

Suamiku itu berbeda dari keluarganya yang lain. Di malam hari, saat kami hanya berdua di dalam kamar lantai dua yang sunyi, Mas Rendra akan duduk di tepi ranjang, meraih kedua tanganku yang kasar dan pecah-pecah karena deterjen, lalu mengolesinya dengan minyak zaitun sambil berbisik lirik, "Maafkan Ibu dan adik-adik ya, Yun. Kamu yang sabar. Aku janji, kalau tabungan toko grosir kita sudah makin stabil, kita akan pindah rumah."

Tutur katanya yang lembut, tatapan matanya yang penuh rasa bersalah, dan pelukan hangatnya di tengah dinginnya malam Desember perlahan-lahan meruntuhkan seluruh pertahanan hatiku. Di pabrik dulu, aku tidak pernah mengenal apa itu kasih sayang seorang pria. Maka, ketika Mas Rendra memperlakukanku bagai permata di dalam kamar—meskipun dia mendadak pasif dan tidak berdaya saat ibunya memarahiku di depan meja makan—aku tidak bisa menolak getaran aneh yang tumbuh di dadaku.

Aku, Sri Wahyuni, seorang mantan buruh jahit miskin, perlahan-lahan mulai jatuh cinta pada suamiku sendiri. Rasa cinta itu tumbuh secara organik, menjadi satu-satunya jembatan emosi yang membuatku rela bangun setiap subuh untuk kembali menghadapi siksaan mental dari mertuaku. Aku bertahan demi senyuman Mas Rendra di penghujung hari.

Kutatap pantulan diriku di cermin dapur yang buram sembari memotong sayuran untuk makan malam. Kulitku tampak lebih pucat dari biasanya, dan kantung mataku menghitam karena kurang tidur. Namun, saat mengingat bagaimana Mas Rendra mengecup keningku sebelum berangkat ke toko grosir pagi tadi, rasa lelah di pundakku seolah menguap begitu saja.

Aku rela menjadi pelayan di rumah ini, aku rela menahan setiap cacian Ambar dan bentakan Bagus, asalkan di akhir hari, ada Mas Rendra yang memelukku dan meyakinkanku bahwa aku adalah istrinya. Biarlah badai Desember di luar sana mengamuk sepuasnya, dan biarlah lantai marmer ini sedingin es, karena di dalam hatiku, kehangatan cinta untuk suamiku baru saja dimulai, mengalir perlahan menembus pekatnya penderitaan yang harus kutanggung seorang diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!