Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Pagi pertama setelah pernikahan kami datang dengan cara yang jauh lebih sunyi daripada yang pernah kubayangkan sebelumnya. Tidak ada pelukan hangat ketika bangun tidur. Tidak ada ucapan selamat pagi yang lembut. Bahkan tidak ada suara langkah kaki dari kamar sebelah. Yang ada hanya cahaya matahari pucat yang masuk melalui celah tirai, lalu jatuh diam-diam di atas ranjang besar tempat aku tidur sendirian semalaman.
Aku membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang masih terasa asing. Selimut di sampingku tetap rapi, tak terusik siapa pun. Dan untuk beberapa detik, aku hanya berbaring tanpa bergerak, mencoba menerima kenyataan bahwa beginilah awal pernikahanku dimulai.
Namun anehnya, pagi ini aku tidak ingin menangis. Aku justru bangkit lebih cepat dari biasanya, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan langkah pelan. Rambutku masih sedikit berantakan ketika aku menatap pantulan diriku sendiri di cermin. Di jari manisku, cincin pernikahan itu masih melingkar dengan sempurna.
Aku tersenyum kecil pada diriku sendiri. “Setidaknya… aku masih punya kesempatan.”
Dan pagi itu, aku memutuskan untuk mencoba lagi.
Aku turun ke lantai bawah saat rumah masih terasa tenang. Beberapa pelayan tampak sedikit terkejut melihatku sudah bangun sepagi ini, namun mereka segera menyapaku dengan sopan. Aroma kopi mulai tercium samar dari arah dapur, membuatku menarik napas pelan sebelum melangkah masuk ke sana.
“Apa Mason biasanya sarapan di rumah?” tanyaku pada salah satu pelayan dapur.
Wanita paruh baya itu tampak berpikir sejenak. “Kadang-kadang, Nyonya. Kalau beliau tidak terlalu terburu-buru ke perusahaan.”
Aku mengangguk kecil. “Kalau begitu… hari ini aku akan menyiapkannya.”
Pelayan itu terlihat sedikit gugup. “Kami bisa melakukannya untuk Anda, Nyonya.”
“Tidak apa-apa.” Aku tersenyum pelan. “Aku ingin melakukannya sendiri.”
Aku tidak terlalu pandai memasak makanan rumit. Namun setidaknya aku bisa membuat sarapan sederhana. Jadi pagi itu, aku mulai menyiapkan roti panggang, telur, buah potong, dan secangkir kopi hangat yang aromanya perlahan memenuhi dapur.
Tanganku bergerak hati-hati, mungkin sedikit terlalu hati-hati. Karena anehnya, hal sekecil ini saja sudah membuatku gugup.
Beberapa menit kemudian semuanya selesai. Aku memandangi meja makan yang sudah tertata rapi dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Tidak mewah, juga tidak sempurna. Tapi setidaknya, ada usahaku di sana.
Aku menarik napas pelan sebelum akhirnya berjalan menuju lantai dua. Lorong itu masih terasa terlalu sunyi. Dan langkah kakiku sendiri terdengar begitu jelas ketika aku berhenti di depan kamar Mason. Untuk beberapa detik aku hanya berdiri diam, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengetuk pintu itu perlahan. Namun, tidak ada jawaban.
Aku kembali mengetuk sedikit lebih keras. Baru beberapa saat kemudian pintu itu akhirnya terbuka. Mason berdiri di sana dengan pakaian kerja yang sudah rapi sempurna. Kemeja gelap, jas mahal, rambut yang tertata rapi, dan ekspresi wajah yang masih sama tenangnya seperti kemarin.
Tatapannya jatuh padaku beberapa detik. “Ada apa?” tanyanya datar.
Aku menggenggam jemariku sendiri diam-diam. “Aku sudah menyiapkan sarapan.”
Ia tampak sedikit terdiam.
“Aku juga membuat kopi,” lanjutku pelan. “Kalau kau belum terburu-buru… mungkin sebaiknya kau sarapan dulu.”
Untuk sepersekian detik, aku menunggu penolakan. Namun Mason hanya mengangguk kecil. “Baik.”
Dan entah kenapa, jawaban sesingkat itu saja sudah cukup membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Aku berjalan lebih dulu menuju meja makan, sementara Mason menyusul beberapa menit kemudian. Begitu melihatnya datang, aku langsung berdiri dari kursiku.
“Kopinya masih hangat,” kataku pelan sambil menarikkan kursi untuknya.
Mason duduk tanpa banyak bicara. Gerakannya tetap tenang dan rapi, seperti biasa. Ia memandang meja makan beberapa saat sebelum akhirnya mengambil cangkir kopinya.
Aku memperhatikannya diam-diam. Lalu ketika ia meminum kopinya tanpa komentar apa pun, aku mulai merasa gugup sendiri.
“Rasanya aneh?” tanyaku hati-hati.
Mason menoleh sebentar. “Tidak.”
“Hanya tidak terlalu manis?”
“Aku memang tidak suka terlalu manis.”
Aku langsung mengangguk cepat, berusaha mengingatnya baik-baik di kepala.
Hening kembali turun di antara kami setelah itu. Hanya suara alat makan kecil yang sesekali terdengar pelan di meja makan besar tersebut.
Aku mencoba tersenyum kecil. “Aku tidak menyangka kau akan langsung pergi bekerja hari ini.”
“Ada banyak hal yang harus diselesaikan.”
“Bahkan tepat sehari setelah pernikahan?”
“Itu tidak mengubah pekerjaanku.”
Jawabannya tetap singkat dan tetap datar. Tapi kali ini tidak terasa dingin seperti sebelumnya. Dan mungkin karena ekspektasiku sudah terlalu rendah, aku mulai belajar merasa cukup hanya dengan itu.
“Orang-orang biasanya mengambil cuti panjang setelah menikah,” kataku pelan, mencoba menjaga percakapan tetap hidup.
Mason meminum kopinya lagi sebelum menjawab. “Aku bukan orang-orang itu.”
Aku terdiam sesaat. Namun sebelum suasana berubah canggung, Mason kembali bicara. “Lagipula aku tidak terbiasa diam di rumah terlalu lama.”
Aku mengangguk kecil. “Oh.”
Setelah itu pembicaraan kembali tenggelam. Namun anehnya, pagi itu tetap terasa lebih baik daripada yang kubayangkan. Setidaknya ia duduk di sini bersamaku. Setidaknya ia tidak pergi sebelum sarapan. Dan untuk saat ini, aku ingin merasa cukup dengan hal-hal kecil seperti itu.
Tak lama kemudian Mason berdiri dari kursinya. Ia merapikan manset kemejanya dengan gerakan tenang sebelum akhirnya menoleh padaku.
“Aku pergi dulu.”
Aku ikut berdiri spontan. “Ya.l.”
Ia mengambil kunci mobilnya di atas meja. Lalu setelah beberapa detik hening, aku memberanikan diri berkata, “Hati-hati di jalan.”
Tatapan Mason sempat tertahan padaku sepersekian detik. “…Ya.” jawabnya. Dan hanya itu sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan rumah.
Suara pintu depan pun akhirnya tertutup perlahan. Lalu rumah besar itu kembali sunyi.
Aku berdiri cukup lama di ruang makan setelah kepergiannya. Menatap kursi kosong yang tadi sempat ditempatinya. Entah kenapa, kehangatan kecil yang tersisa di sana membuatku tersenyum tipis sendiri. Mungkin aku memang terlalu mudah bahagia. Namun jika itu tentang Mason, aku memang selalu seperti itu.
Siang harinya, aku mulai menghabiskan waktu berbicara dengan para pelayan rumah. Awalnya hanya obrolan ringan. Namun perlahan-lahan, aku mulai menanyakan hal-hal kecil tentang Mason.
“Makanan favoritnya apa?”
“Biasanya Mason pulang jam berapa?”
“Dia lebih suka kopi atau teh?”
Aku mencatat semuanya diam-diam di kepalaku seperti seseorang yang sedang mempelajari bahasa baru.
“Tuan Mason suka pasta,” jawab salah satu pelayan dapur.
Aku langsung menoleh cepat. “Benarkah?”
“Iya, terutama yang agak pedas.”
Aku tersenyum kecil tanpa sadar.
“Kalau begitu… malam ini aku akan membuatnya.”
Dan sejak saat itu, hariku berubah menjadi sangat sibuk. Aku pergi ke pusat perbelanjaan sore harinya sendirian. Membeli bahan makanan sendiri, memilih satu per satu dengan hati-hati seperti seorang istri sungguhan yang sedang mempersiapkan makan malam untuk suaminya.
Aku bahkan membuka video resep di ponselku beberapa kali di tengah lorong supermarket. Beberapa orang sempat melirik aneh karena aku terlalu lama berdiri di depan rak saus pasta sambil membaca tutorial memasak. Namun aku tidak peduli.Karena untuk pertama kalinya sejak menikah, aku merasa benar-benar melakukan sesuatu untuk Mason. Dan perasaan itu membuatku diam-diam bahagia.
Sore menjelang malam, dapur rumah berubah jauh lebih hidup dari biasanya. Para pelayan beberapa kali menawarkan bantuan, namun aku tetap bersikeras melakukannya sendiri.
Tanganku beberapa kali hampir terkena minyak panas. Saus yang kubuat bahkan sempat terlalu asin dan harus diulang dari awal. Namun entah kenapa, aku tetap tersenyum sepanjang proses itu. Karena di kepalaku hanya ada satu bayangan sederhana. Mason pulang, duduk di meja makan, lalu menyukai masakanku. Sesederhana itu.
Saat semuanya selesai, aku menata meja makan dengan hati-hati. Aroma makanan hangat memenuhi ruangan besar itu. Dan jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam.
Aku duduk menunggu. Awalnya aku tidak merasa khawatir. Perusahaannya yang besar pasti membuat Mason sibuk. Namun pukul delapan malam berlalu, lalu sembilan. Dan makanan di meja mulai kehilangan uap hangatnya sedikit demi sedikit.
Aku melirik ponselku berkali-kali sebelum akhirnya memberanikan diri mengirim pesan.
'Apa kau masih di kantor?'
Namun, tidak ada balasan. Beberapa menit kemudian aku mencoba menelepon. Namun panggilannya tidak dijawab.
Aku menggigit bibir pelan sambil kembali duduk di kursi makan. “Mungkin dia sedang rapat,” gumamku mencoba menenangkan diri sendiri.
Dan waktu pun terus bergerak perlahan. Hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam, bahkan sebelas malam. Rumah mulai terasa terlalu sunyi.
Aku kembali mencoba menghubunginya beberapa kali, namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban, tidak ada pesan, juga tidak ada kabar apa pun. Pada akhirnya aku hanya duduk diam di meja makan besar itu seorang diri.
Di hadapanku, makanan yang tadi kubuat dengan penuh semangat perlahan mulai dingin sepenuhnya. Dan anehnya, yang terasa sesak bukan karena makanan itu tidak disentuh. Melainkan karena aku menyadari sesuatu yang jauh lebih sederhana. Aku bahkan tidak tahu kapan suamiku akan pulang.
Aku memeluk lenganku sendiri pelan sambil bersandar di kursi. Mataku terasa berat tanpa sadar. Lampu ruang makan masih menyala hangat ketika akhirnya kepalaku perlahan jatuh di atas lipatan tanganku sendiri. Dan malam itu, aku tertidur sambil menunggu seseorang yang bahkan belum tentu berpikir untuk pulang lebih cepat demi diriku.