Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menerima perintah
Keesokan harinya di kantor.
"Keluar sekarang,"
Teriakan dari dalam ruangan, tak membuat seorang wanita yang berprofesi sebagai sekertaris dari ceo di perusahaan developer perumahan itu bergeming.
Dia telah mendengar teriakan itu beberapa kali dalam seharian ini.
Tak lama kemudian. Seperti dugaannya, telpon di mejanya berdering.
"Masuk kesini," perintah itu terdengar tegas, tanpa bisa di tolak.
"Kenapa kamu membiarkan mereka masuk?" tanya Rysh Sinclair dengan muka memerah.
"Itu perintah dari nyonya Sinclair langsung pak. Aku gak berani membantah ataupun menolaknya," balasnya sembari menunduk hormat.
"Cih ..." Rysh hanya mendesis. Rysh menduga perempuan-perempuan itu ialah, wanita yang mamanya katakan semalam.
Tapi, itu sangat jauh berbeda, dengan apa yang mamanya ucapkan.
Namun, Rysh tak terlalu ambil pusing, sebab dia akan menayakan langsung pada mamanya nanti.
Dan Rysh tahu, jangan sekertarisnya. Bahkan, papanya saja gak berani menolak permintaan dari ibu suri di kerjaan mereka.
Ya, nyonya Sinclair ialah pemengang kendali ataupun seseorang yang ucapannya tak bisa di tolak.
Tapi, ini menikah.
Sesuatu yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh Rysh selama ini.
"Kamu keluar," perintah Rysh, ketika ponselnya berdering.
"Cih," Rysh melempari ponselnya ke sofa. Dia enggan mendengar ceramah dari mama tercinta.
Di luar ruangan. Violet sang sekretaris menarik napas, kala membaca nama dari layar ponselnya.
Nyonya Sinclair menelponnya.
"Suruh Rysh untuk pulang ke rumah malam ini,"
"Baik nyonya," balas Violet singkat.
Violet menarik napas dan menghembusnya pelan. Dia kembali mengetuk, pintu atasannya.
"Masuk," suara di dalam terdengar penuh frustasi.
"Pak, nyonya meminta anda untuk pulang,"
"Heum," balas Rysh, sembari mengode agar Violet segera keluar.
✨✨✨
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi, tak ada tanda-tanda Rysh akan keluar dari ruangannya.
Violet yang sejak tadi menunggu, harap-harap cemas.
Sebelum di terima jadi sekertaris, syarat yang diajukan oleh Rysh ialah: Violet baru bisa pulang, ketika ia keluar dari ruangan.
Beruntung, dia bisa masuk satu jam lebih telat dari karyawan-karyawati lainnya.
Beberapa menit kemudian, lampu di ruangan Rysh terlihat mati. Dan Violet langsung bernapas lega. Setidaknya, malam ini ia bisa pulang lebih awal dari malam-malam sebelumnya.
"Pulang lah," perintah Rysh melihat Violet sejenak.
"Terima kasih pak," balas Violet, mengambil tas yang telah disiapkannya beberapa saat yang lalu. "Ingat untuk pulang ke rumah pak," tambah Violet sebelum berlalu.
Dan Rysh, hanya mendengus.
"Vio," Rysh menarik tangan Violet, dan mendorongnya hingga punggungnya menyentuh tembok.
Rysh langsung mendekatkan wajahnya ke leher jenjang milik Violet. Aroma tubuh Violet membuatnya kehilangan kendali.
"Maaf pak, aku pulang dulu," ujar Violet menatap nyalang ke arah Rysh.
Rysh berdecak. Kemudian, melepasi kukungannya.
"Pergi lah," perintahnya.
"Terima kasih pak," balas Violet, membungkuk.
Setelah peninggalan Violet, Rysh juga ikut keluar. Dia langsung pulang seperti pesan yang disampaikan Violet padanya.
"Perempuan aneh," umpatnya yang di tujukan untuk Rubi. "Selalu menolak kenikmatan," lanjutnya.
Rysh memang sedikit penasaran sama Violet. Sebab, dari sekian banyaknya pegawai wanita di perusahannya, hanya Violet yang menatapnya tanpa rasa kagum, ataupun cinta.
Dan asal kalian tahu, selama ini, tak ada perempuan yang berani menolak pesonanya. Bahkan, dia bisa mendapatkan artis papan atas, untuk berbagi kenikmatan dengannya.
Tapi Violet? Wanita itu selalu terlihat menjaga diri. Dia bahkan, selalu bisa membuat keinginan Rysh mati seketika.
Tatapannya terlalu tajam, untuk di taklukan.
Bukan sekali dia mencobanya. Bahkan, dia pernah beberapa kali menelpon Violet,untuk menjemputnya di bar. Tak jarang, dia juga memperlihatkan kemesraannya dengan cewek bayaran.
Tapi, Violet tetap profesional. Dia datang hanya karena undagan. Pergi, ketika kedatangannya dianggap sebuah gangguan.
Tak lama kemudian, mobil yang di kendarainya tiba di sebuah kediaman bergaya eropa.
Kedatangannya langsung di sambut oleh beberapa orang, yang memakai baju seragam.
"Anda telah di tunggu, di ruangan nyonya pak," kepala pelayan mengikuti langkah kaki Rysh.
"Bawakan aku jus lemon ke ruangan mama," perintah Rysh, sembari berjalan kearah perpustakaan.
Yang mana, perpustakaan itu ruangan favorit mamanya.
Begitu tiba di depan pintu. Sang kepala pelayan langsung menekan interkom, guna memberitahu kedatangan Rysh.
Sesaat, pintu di buka oleh asisten nyonya Sinclair.
"Saya permisi nyonya," ujar asisten menunduk hormat.
Nyonya Sinclair hanya mengangguk. Sang asisten dan kepala pelayan langsung berlalu.
"Tiga gadis, kenapa dan kamu, menolak mereka?" tanya nyonya Sinclair tanpa menatap sang anak.
"Bukannya mama bilang, sudah mendapatkan pasangan yang cocok untukku? Terus, kenapa mereka terus datang?" tanya Rysh mendekat, mencoba mendekap sang mama.
Namun sebelum tangan Rysh, berhasil menyentuh tubuhnya, nyonya Sinclair mengangkat tangan.
"Kalo begitu, kamu setuju dengan pilihan mama?" tanya nyonya Sinclair menatap tajam kearah sang putra.
Glek ... Rysh menelan ludah dengan susah payah.
"Ma ... Aku belum siap terikat," ujar Rysh dengan suara lembut.
"Belum siap, jika kamu belum pernah tidur sama jalang-jalang itu Rysh," balas nyonya Sinclair membuat Rysh kalah telak.
"Mereka bukan jalang ma. Aku membayar mereka dengan mahal,"
"Semahal apapun, mereka tatap jalang. Karena berani ngakang, demi uang. Bukan karena ikatan," lagi-lagi ucapan mamanya membuat Rysh bungkam.
"Kalo gitu. Berikan aku waktu satu bulan. Aku akan membawa mama menantu idaman," ujar Rysh berharap sang mama bisa sedikit memberinya kelonggaran.
"Aku hanya butuh menantu baik-baik Rysh. Karena selain jadi istri mu dan menantuku. Dia juga calon mama untuk anakmu. Cucu mama," ujar mamanya, sembari melepaskan kaca matanya.
Rysh hanya mengangguk patuh.
"Ingat ... Waktumu hanya satu bulan Rysh. Setelahnya, kamu harus menerima, siapapun wanita pilihan mamamu," tekan nyonya Sinclar, lalu berdiri, mengajak Rysh untuk segera keluar.
"Iya mama ku sayang," ucap Rysh. Berharap sang mama melupakan perkataannya.
✨✨✨
Di tempat lain. Violet baru tiba di rumahnya.
Rumah itu sepi. Sama seperti kehidupannya.
Sang ibu, mungkin mungkin telah masuk kamar. Dan Violet, gak berkeinginan mengetuk pintu di samping kamarnya itu.
Sejujurnya Violet tumbuh, dalam kebencian. Benci pada ibunya yang selalu memilih bertahan.
Bertahan dengan lelaki yang selalu ringan tangan. Dengan alasan, bagaimana kehidupannya jika tahu, orang tuanya bercerai.
Apakah, akan ada orang yang menikahinya, atau apakah ada mertua yang akan menerimanya? Itulah, alasan yang selalu ibunya ucapkan, ketika ia menyinggung soal perceraian.
Tapi, berbeda dengab kemarin. Permintaan ibunya untuk ia menikah, seolah persepsinya sejak dulu berubah.
Dan menikah? Ah, itu bukanlah, impiannya. Dia tak bodoh, seperti wanita yang telah melahirkannya.
Membiarkan hidupnya, bergantung pada lelaki yang bahkan tak tahu, apa itu tanggung jawab.
Violet menyangkut tasnya. Dia juga melempari bajunya ke keranjang baju kotor. Mengambil handuk, seraya melangkahkan kakinya, ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Air, sesuatu yang membuatnya nyaman. Begitu butiran itu jatuh, semua rasa takut, rasa lelahnya hilang seperti kotoran.
Ketukan di pintu, membuatnya bergeming.
Sang ibu selalu begitu. Enggan tidur, sebelum melihatnya makan malam.
Dia sadar, ibundanya begitu menyayanginya. Namun, rasa sayangnya jauh lebih besar. Maka dari itu, tak salahnya dia berkorban, dengan tak berniat untuk berumah tangga.
Begitu pintu di buka, hal pertama yang dilihatnya ialah: sudut bundanya masih terlihat merah, dan ujung matanya, terlihat lembam.
"Aku mau, aku mau menikah dengan lelaki pilihanmu bu!" serunya.
Lebih karena ingin benar-benar lepas dari sang ayah. Bukan karena anak yang berbakti, yang harus menuruti setiap ucapan orang tuanya.