Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^25
Waktu bersantai di malam hari tiada sinar bulan yang menerangi, akan mega yang mengadu pada langit. Jika sang senja telah berkhianat tidak menepati janjinya untuk datang bertamu sebagai penyejuk. Jika pun singgah itu hanya sesaat, kemungkinan besar mega hitam itu tidak pernah terlihat.
Karena memberi kesempatan berulang kali dalam hidup seseorang itu adalah sebuah keberuntungan yang tidak terencana sama sekali. Walaupun penghalang itu ada.
Penghalang yang sulit menerima tawaran. Penghalang yang tidak sanggup menanggung resiko besar. Penghalang yang hanya ingin kesejahteraan, tanpa adanya perjuangan. Dan penghalang, yang begitu mudah mendorong dirinya sendiri ke dalam lubang yang telah dia gali sendiri.
Senyuman masam tercetak begitu jelas, membuat siapapun yang melihat akan langsung unjuk diri berpamitan. Tanpa menyapa.
Keputusan yang tidak di rundingkan lebih dulu itu bisa disebut sebagai ilegal. Jadi, sebagai direktur utama sekolah harus mencari kesepakatan di antara para wali murid. Jika mereka setuju, lanjutkan lah peraturan baru itu. Tapi jika direktur sekolah kalah, malah ubah lah seperti semua.
Dengan kesal tangan kanan itu meletakkan benda persegi di atas meja kecil di sisi kanannya. Pandangan lurus ke depan, sembari menikmati minuman bersoda yang ada di dalam gelas yang berada pada tangan kanannya.
"Bagaimana bisa dia merubahnya setelah bertemu dengan ku? Apa ada tawaran lebih besar untuknya? Hingga, dia sangat berani melakukan hal ini." Gumamnya dengan perasaan kesal.
Menoleh ke arah pintu, di mana seorang pelayan wanita yang tengah berjalan mendekat kearahnya.
"Non Yuna sudah pulang nyonya." Adunya yang memang setiap hari pelayan itu lakukan. Agar sang wanita tahu, jika suami ataupun putrinya sudah ada di dalam rumah.
"Apa ibu sudah tidur?" Tanya Rani sembari berdiri dari duduknya dengan tangan yang meletakkan gelas itu di atas nakas.
"Beliau ada di ruang kerja tuan." Jawab sang pelayan dengan sopan.
"Apa yang mereka diskusikan?" Tanya Diandra pada dirinya sendiri, sebelum melangkah keluar kamar untuk menemui Yuna terlebih dahulu.
Berjalan pelan ke arah di mana kamar Yuna berada, akan tetapi langkah itu memelan, saat kedua mata melihat Yuna yang baru saja dari arah dapur.
"Kau tidak memberitahu ibu?" Lontar Diandra begitu saja, tanpa adanya basa-basi terlebih dahulu.
Yuna membuang napas lelah, menatap Diandra. "Tanpa kuberi tahu ibu sudah mengetahuinya, bukan?"
"Seharusnya kau lebih dulu mengatakannya. Apa sesulit itu menghubungi ibu?" Tidak begitu cepat Diandra menimpalkan perkataannya, yang benar-benar membuat Yuna ingin menamparkan kepalanya pada dinding rumah.
"Bukankah ibu selalu mengambil handphone ku saat aku ingin pergi ke sekolah?" Sangat rendah, tapi begitu ampuh mematikan mulut Diandra.
"Karena itu juga untuk kebaikanmu. Agar kau tidak terlalu sering memainkan handphone mu di sekolah__"
"Jadi berhentilah menyalahkan ku jika aku tidak memberitahu apapun kepada ibu soal pembaruan peraturan sekolah." Tajam Yuna merasa muak sendiri dengan Diandra. Karena wanita itu selalu menyuruhnya belajar. Padahal Yuna akan belajar tanpa harus disuruh.
"Jika ibu takut nilai ku turun, ibu tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena itu tidak pernah akan terjadi." Imbuhnya, sebelum melangkah ke arah anak tangga.
"Siapa saja teman kelompok belajar mu?" Melontarkan pertanyaan yang mampu menghentikan langkah Yuna di tengah-tengah beberapa anak tangga yang gadis itu pijaki.
"Ibu akan tahu sendiri. Kepala sekolah pasti mengirim pesan untuk hal itu." Balas Yuna tanpa menoleh ke arah Diandra. Dan kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
Diandra membuang napas, merasa akan perubahan sikap dan tingkah Yuna yang semakin kesini semakin berani melawannya tanpa rasa sesal.
"Apa yang membuatnya seperti itu?" Gumam Diandra.
"Kau belum tidur ternyata." Suara familiar yang menyapa pendengaran, ampuh membuat Rani menoleh ke arah di mana seorang wanita paruh baya yang terlihat masih sangat sehat. Berjalan mendekat.
"Jika Yuna belum berada di dalam rumah, aku tidak bisa tidur sebagai seorang ibu." Sahut Diandra dengan sangat sopan, tanpa melupakan lengkungannya yang sempurna. Agar ibu mertuanya itu tidak melontarkan kalimat sederhana tapi begitu menyakitkan.
"Dia sudah pulang?"
Entah kenapa tatapan wanita tua itu membuat lidah Diandra merasa keluh. Sulit memberi balasan. "Sudah bu."
Wanita itu mengangguk kecil, sebentar melihat Diandra sebelum berjalan ke arah anak tangga berada. Dan hal itu menambah kegusaran memenuhi ruang sukma Diandra.
"Ibu mau kemana?" Dengan cepat Diandra menahan tangan sang wanita, agar menghentikan langkah kakinya itu.
"Aku ingin menemui cucuku." Jawab sang wanita, dengan pelan menjauhkan tangannya dari cekalan Diandra.
"Tidak bisakah, ibu menemuinya esok hari saja? Yuna harus istirahat, dia pasti lelah karena baru saja pulang dari sekolah." Sangat hati-hati Diandra mengatakannya, agar ibu mertuanya itu tidak tersinggung.
"Kau melarang ku untuk menemuinya?" Mulai menaruh curiga, tetapi sang wanita tidak menunjukkan bagaimana raut wajahnya.
"Bukan seperti itu, hanya saja__" tidak menuntaskan perkataannya, Diandra bingung harus melontarkan kalimat seperti apalagi untuk mencegah sang wanita agar tidak menemui Yuna. Karena entah kenapa, Diandra merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Kau tidak perlu khawatir, aku hanya ingin menemuinya sebentar." Akhir sang wanita yang kini melangkah kembali, tanpa menunggu balasan dari Diandra.
Melihat sekitar dengan helaan napas gusar, kini Diandra berjalan sedikit cepat untuk mengikuti ibu mertuanya dari belakang. Dan hal itu tidak luput dari pandangan seorang pria dewasa. Tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya sebentar. Sebelum melangkah keluar rumah untuk menemui seseorang.
Tetapi, langkah kakinya terhenti karena teringat satu hal yang memang harus pria itu lakukan. Melihat sekitar hingga terhenti pada seorang pelayan yang berjalan dari arah dapur dengan nampan di tangannya itu.
"Kau__" panggil sang pria, ampuh menghentikan langkah pelawan wanita itu.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Sangat sopan wanita itu melontarkan perkataannya.
"Jika istriku bertanya aku ada di mana, jawablah, jika aku tengah menemui temanku." Pinta sang pria kepada pelayan rumahnya itu.
"Baik tuan, saya akan mengatakannya pada nyonya." Balas pelayan itu. Sekilas menganggukkan kepalanya, sebelum enyah dari hadapan sang pria.
Kini kembali melangkah pergi dengan raut wajah yang sangat datar. Hingga dihalaman luas kediamannya, membuat seorang sopir berbadan kekar spontan berjalan cepat membuka pintu mobil untuk sang pria.
"Kau tidak perlu mengantarkan ku, aku akan pergi sendiri." Celetuknya. Mengambil kunci mobil yang berada di tangan sang sopir pribadinya. Kembali menutup pintu mobil itu secara perlahan.
"Baik tuan." Sopan sang sopir yang tidak memaksa diri untuk tetap mengantar majikannya itu. Karena sang sopir sangat sadar, jika tuannya juga memiliki privasi yang tidak seharusnya sopir itu ketahui.
Sedangkan sang pria mengangguk kecil, sebelum mencetuskan perkataannya kembali. "Jika istriku keluar malam ini, kau harus mengikutinya dari belakang. Mungkin saja dia akan menemui seseorang yang tidak seharusnya dia usik kehidupannya."
"Baik tuan." Akhir sang sopir. Kini membuat pria itu masuk ke dalam mobil pribadinya, yang telah melesat keluar dari halaman luas rumahnya.