"Dua sisi kegelapan, satu raga, dan satu candu yang mematikan: diriku."
Zaviar, penguasa dingin yang sebelumnya mati rasa, mendadak meledak gairahnya saat Arumi—sang macan bar-bar yang bertransmigrasi ke tubuh istrinya antagonis—menghapus riasan badutnya.
Perubahan drastis ini tak hanya membangkitkan Zaviar, tapi juga monster di dalamnya: Varian.
Varian, alter ego gelap, obsesif, dan haus gairah, bangkit tanpa kendali, matanya memancarkan kedalaman yang menakutkan dengan mata merahnya.
Terkunci di dalam sangkar emas kamar utama, Arumi terjebak dalam kecemburuan Calista istri kedua sekaligus pemeran utama wanita dan pusaran hukuman ganda: kelembutan menuntut Zaviar, dan keganasan tanpa lelah Varian. Keduanya menginginkannya dengan cara yang paling mengerikan.
Varian menyeringai gelap, manik merahnya mengunci pergerakan arumi. "Kau membuat monster dalam diriku terbangun, Sayang. Bersiaplah untuk tidak bisa berjalan besok pagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candu Manis dan Mahkota yang Terenggut
"Kenapa harus Arumi?! Kenapa tubuh Zaviar hanya bereaksi pada wanita ular itu?!" Calista berteriak histeris, menyapu vas bunga porselen di atas meja hingga jatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer.
Prang!
Napas Calista memburu. Sifat aslinya sebagai karakter antagonis drama yang licik dan penuh tipu daya kini bangkit sepenuhnya akibat cemburu buta. Rasa takut kehilangan posisi dan kasih sayang Zaviar mengubahnya menjadi sosok yang sangat kejam. Jika Zaviar mulai terobsesi pada Arumi, maka Calista harus memastikan bahwa Arumi tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk merebut posisinya sebagai penguasa hati Zaviar.
Calista berjalan dengan langkah cepat menuju kamarnya di sayap kanan mansion. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu mengambil sebuah ponsel pintar rahasia yang ia sembunyikan di balik tumpukan pakaian dalam di laci lemari besarnya. Ia menekan sebuah nomor kontak tanpa nama yang terdaftar di sana.
Sambungan telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya suara berat seorang pria terdengar menjawab di seberang sana.
"Halo, Nyonya Calista. Ada perintah baru?" tanya suara di seberang telepon dengan nada rendah.
"Cari tahu ke mana koordinat jet pribadi Zaviar terbang malam ini," perintah Calista dengan nada suara yang sedingin es, sangat kontras dengan citra lembutnya selama ini. "Dan hubungi jaringan mafia properti yang sebelumnya bekerja sama dengan Danu Razheta.
Arumi baru saja membersihkan kantor Razheta Group dan memenjarakan Danu. Manfaatkan sisa-sisa pengikut Danu yang tersisa di luar untuk membuat kekacauan besar." Calista menjeda kalimatnya, sepasang matanya menyipit tajam memancarkan aura membunuh yang pekat. "Aku ingin kalian menyabotase proyek pembangunan terbesar Razetha Group di wilayah kota J besok pagi. Buat kerugian finansial yang sangat besar hingga saham mereka anjlok ke titik terendah. Dan jika Arumi datang untuk memeriksa lokasi... pastikan dia mengalami kecelakaan kerja yang fatal hingga wajah cantiknya itu hancur dan dia lenyap dari muka bumi ini selamanya. Mengerti?"
"Dimengerti, Nyonya. Rencana akan segera dieksekusi malam ini."
Calista memutus sambungan telepon dengan senyuman miring yang penuh kelicikan di wajahnya. Ia meremas ponsel rahasia itu di dadanya, menatap ke arah cermin kamarnya sendiri. "Arumi... lu pikir setelah lu berubah jadi cantik dan bisa silat, lu bisa merebut Zaviar dariku? Kita lihat saja siapa yang akan menangis di atas makam siapa dalam permainan ini."
Di dalam kamar tidur privat jet pribadi yang sedang mengangkasa menembus awan malam, pertarungan fisik antara Arumi dan Varian telah mencapai titik jenuh. Kedua pergelangan tangan Arumi terkunci rapat di atas kepala oleh satu tangan kekar Varian. Napas mereka beradu, panas dan memburu di dalam keheningan kabin kedap suara.
"Lepas... hngh..." Arumi melenguh lirih, wajahnya yang seputih pualam kini merona merah padam.
"Hmm, lepas... tidak mungkin Sayang, kamu tahu hari ini hukumanmu sayang, karena telah membangkang... berdekatan dengan pria lain." Desisnya penuh intimidasi
Sifat bar-bar Arumi meleleh di bawah intimidasi mental yang dipancarkan oleh manik mata kegelapan milik Varian.
Namun, yang membuat jantung Arumi berdegup kencang hingga ke tenggorokan bukan hanya karena ciuman brutal Varian tadi, melainkan sebuah sensasi berdenyut kencang di balik dada dan kemeja sutra putihnya.
Kondisi rahasia tubuh raga ini—penyakit galaktorea atau kelebihan ASI yang selama ini Arumi sembunyikan dengan rapat menggunakan bantalan kain khusus—mendadak bereaksi akibat lonjakan hormon dan gairah seksual yang terlalu masif dari sentuhan Varian. Arumi bisa merasakan cairan hangat mulai merembes perlahan, membasahi kain bagian dalam kemejanya.
"Sialan! Jangan sekarang... please, jangan sampai cowok gila ini tahu kelainan tubuh gue!" batin Arumi menjerit panik. Ia mencoba memutar tubuhnya untuk menyembunyikan dadanya, namun gerakan itu justru membuat dadanya yang sensitif bergesekan langsung dengan dada bidang Varian.
Deg.
Varian mendadak menghentikan pergerakannya. Seringai kejam di wajah tampannya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi tertegun yang dalam. Indra penciuman Varian yang tajam menangkap sebuah aroma baru yang mendadak menguar di antara wangi parfum mawar milik Arumi. Itu adalah aroma yang sangat lembut, manis, murni, dan memicu insting purba di dalam otak Varian bergetar hebat.
Tatapan mata Varian yang gelap perlahan turun, tertuju pada bagian depan kemeja sutra putih Arumi. Di sana, sebuah noda basah berbentuk lingkaran kecil mulai terbentuk, menjiplak samar kulit halus di baliknya.
"Apa ini...?" Suara Varian terdengar sangat rendah, serak, dan dipenuhi oleh rasa penasaran yang pekat.
"Kagak ada apa-apa! Lu jangan liat, bajingan!" Arumi ceplas-ceplos berteriak panik, wajahnya semakin memerah karena rasa malu yang luar biasa. Ia meronta kasar, mencoba menendang Varian, namun Varian justru melepaskan kuncian pergelangan tangan Arumi hanya untuk meraba noda basah di kemeja sutra tersebut dengan jemari kasarnya.
Begitu ujung jari Varian menyentuh permukaan kain yang basah dan hangat tersebut, ia mendekatkan jemarinya ke hidung, menghirup aroma manis murni itu sedalam mungkin.
Detik itu juga, kejantanan Varian di bawah sana berkedut keras hingga memicu rasa sakit yang luar biasa nikmat. Gairahnya yang semalam sudah meledak, kini naik ke tingkat kegilaan yang baru.
"Kau... menyembunyikan hal seindah ini dariku, Arumi?" Varian berbisik parau, matanya berkilat penuh obsesi yang gelap. "Zaviar yang bodoh itu mengira kau adalah wanita ular yang hambar... tapi ternyata tubuhmu... menyimpan candu paling manis di dunia."
Tanpa memberikan waktu bagi Arumi untuk memaki atau membela diri, Varian dengan satu gerakan dominan menyentak kancing kemeja sutra putih Arumi hingga terlepas. Ia menyingkirkan kain penghalang tersebut, mengekspos rahasia tubuh Arumi seutuhnya di bawah temaram lampu kabin jet pribadi.
"Varian, jangan... hngh!" Arumi memekik, mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan, namun Varian dengan mudah mencengkeram kedua pergelangan tangan Arumi lagi dan menekannya ke kasur.
Varian menundukkan wajahnya, mengecup permukaan kulit hangat yang mengeluarkan aroma manis tersebut dengan penuh pemujaan yang posesif.
Rasa manis murni yang menyentuh lidah Varian bertindak seperti obat penawar bagi jiwa gelapnya, sekaligus menjadi candu seksual yang membuatnya kehilangan seluruh kendali warasnya.
Pria penguasa itu menghisap dan menyesap cairan alami dari tubuh Arumi dengan agresif, mengurung wanita bar-bar itu dalam jeratan gairah yang begitu intim dan intens di atas awan, mengabaikan fakta bahwa di belahan bumi lain, Calista sedang menyusun rencana pembunuhan untuk mereka.
"Sayang, bersiaplah di Sangkar Emas awan ini aku akan memiliki mu sepenuhnya, aku yang pertama Sayang." Bisik Varian di depan bibir Arumi yang bengkak dan melumatnya kembali.
Tangannya merayap ke paha Arumi, hingga ke titik sensitif, bergerak liar di balik tirai segitiga yang belum terbuka.
"Mmm." Arumi meronta walaupun kekuatannya tidak seimbang, Varian melepaskan ciumannya, dia menatap Arumi dengan kilatan gairah liar yang membara.
Dia merobek segitu Arumi.
"Sakit... Kaku sakit... Hentikan..." lirih Arumi mahkotanya terasa terenggut.
Sabar Sayang, rasa sakit ini akan berubah menjadi kenikmatan, dan kamu harus bisa menahannya sampai aku puas Sayang, aku ingin mendengar suara seksimu Sayang, dibawah kukungan ku." Desis Varian langsung menghisap Candu manisannya kembali.
Jleb... "Akh... Sakit." Desis Arumi Varian akhirnya membuka segel Arumi.
kek nya seru nih. aku juga sering uring² thor klo baca novel yg mc ny cinta buta + tulul.