NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

Matahari siang menyengat pelataran Fakultas Bisnis dengan hawa panas yang seolah membakar aspal.

Di salah satu sudut koridor luar yang agak tersembunyi di balik pilar-pilar beton besar, suasana justru terasa mencekam, sedingin es yang siap memecah batasan waras manusia.

Maximilian Valerio tidak pernah menjadi pria yang penyabar jika itu menyangkut ketenangan hidup Amieyara Walker.

Setelah meninggalkan Yara dengan aman di bawah perlindungan Carter dan Demon di dalam ruang perpustakaan hukum, Max bergerak laksana predator yang telah mencium bau darah mangsanya.

Langkah kakinya yang lebar dan tegas menggema di sepanjang selasar, menuntun tubuh tegap bertatonya menuju sasaran utama yang telah diidentifikasi oleh tim IT internal keluarga Valerio sepuluh menit yang lalu.

Melalui pelacakan alamat IP dari peladen bayangan yang digunakan untuk mengunggah video manipulasi deepfake pagi buta tadi, satu nama keluar dengan validitas mutlak sebagai penyewa peretas pasar gelap tersebut. Nama yang membuat rahang Max mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang.

Cinmocha Walker. Adik Yara sendiri.

Max menemukan gadis itu sedang berdiri di dekat area loker luar, tampak sedang mengobrol santai dengan dua orang temannya sembari sesekali melirik layar ponsel dengan senyuman puas yang belum luntur sejak pagi.

Bagai sebuah kepuasan jahanam, Caca merasa di atas angin setelah berhasil meledakkan bom skandal palsu yang ia pikir akan menghancurkan Yara dalam sekejap mata.

BRAK!

"Singkirkan wajah-wajah menjijikkan kalian dari hadapanku sebelum aku membuat keluarga kalian bangkrut besok pagi," desis Max dengan suara bariton yang teramat rendah, namun sarat akan aura intimidasi yang begitu pekat saat dia tiba-tiba berdiri di hadapan sirkel Caca.

Dua teman Caca seketika mematung, wajah mereka pias tanpa darah melihat tatapan mata gelap Max yang berkilat dingin laksana malaikat pencabut nyawa.

Tanpa sepatah kata pun, mereka langsung melangkah mundur dan lari terbirit-birit meninggalkan koridor, menyisakan Caca yang kini berdiri sendirian dengan senyuman yang mendadak kaku.

Caca mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, menarik napas panjang untuk memasang topeng kepolosan yang biasa ia agungkan di depan publik.

Dia menatap Max dengan kerlingan mata yang dibuat seolah dia adalah korban yang terkejut. "Oh, Hai Max... Ada apa? Kenapa kau tampak begitu marah—"

SREET!

Belum sempat Caca menyelesaikan kalimat munafiknya, tangan kekar Maximilian sudah bergerak maju laksana kilat.

Jemari kokohnya yang dipenuhi tato geometris itu langsung mencengkeram kuat leher depan Caca, mendorong tubuh ramping gadis itu dengan kecepatan brutal hingga punggung Caca menghantam keras pintu loker besi di belakangnya.

BUM!

Suara benturan itu diredam oleh cengkeraman tangan Max yang kian mengetat di leher Caca.

Max memperlakukan anak gadis kesayangan keluarga Walker itu benar-benar seperti seonggok sampah yang tidak berharga di pinggir jalan. Tidak ada sedikit pun rasa hormat terhadap gender atau status sosial Caca sebagai mahasiswi dari keluarga terpandang. Di mata Max, wanita di hadapannya ini hanyalah seekor ular berbisa yang salah memilih lawan.

"Ugh—Max... lepas..." Caca melotot horor, sepasang matanya membelalak lebar saat pasokan oksigen ke dalam paru-parunya mendadak terputus total.

Kedua tangan kecilnya bergerak panik, mencoba mencakar dan memukul lengan kekar Max yang menempel laksana borgol besi di tenggorokannya, namun kekuatan Max terlalu masif, tidak bergeming sedikit pun.

Max memajukan wajah tampannya yang kini berubah menjadi sangat dingin dan kejam, menatap Caca dari jarak beberapa sentimeter dengan pandangan menghina yang teramat sangat pekat.

"Kau pikir kau pintar, hah, Jalang Kecil?" bisik Max, suaranya begitu tenang namun justru terdengar ribuan kali lebih mengerikan daripada sebuah bentakan. "Kau pikir dengan menggunakan enkripsi dari pasar gelap, aku tidak bisa melacak jari kotor siapa yang memesan video rekayasa murahan itu? Kau meremehkan nama Valerio, Mocha."

Cengkeraman Max semakin naik, membuat tubuh Caca sedikit terangkat hingga ujung sepatunya nyaris tidak menyentuh lantai koridor. Wajah Caca yang semula dilapisi riasan mahal kini perlahan berubah warna menjadi pias, lalu memerah keunguan karena hampir kehabisan napas.

Air mata kepanikan mulai menetes dari sudut matanya, mendapati fakta bahwa Maximilian Valerio benar-benar bisa membunuhnya di tempat ini tanpa berkedip.

"Kau berani menyentuh Yara dengan fitnah menjijikkan itu... kau membuat video palsu seolah dia pelacur di kamar mandi..." desis Max lagi, setiap kata yang keluar dari mulutnya diiringi oleh tekanan jemarinya yang kian mencekik jalur udara Caca.

"Asal kau tahu, sampah seperti kalian bahkan tidak pantas untuk sekadar menyebut namanya. Ayahmu mendekam di sel federal, dan kau... kau justru memilih untuk menggali kuburanmu sendiri di tempat ini."

Caca mulai megap-megap, mulutnya terbuka lebar mencoba meraup udara yang tidak pernah sampai ke tenggorokannya. Kesadarannya mulai mengabur di tepi kegelapan, rasa sakit yang luar biasa membakar dadanya karena paru-parunya berteriak meminta oksigen.

Dia benar-benar berada di ambang kematian di tangan seorang pria berusia dua puluh tahun yang tidak memiliki belas kasihan sedikit pun untuk seorang pengusik.

Tepat sebelum Caca benar-benar kehilangan kesadarannya secara total, Max mengibaskan tangannya dengan gerakan memuakkan, melempar tubuh Caca ke atas lantai koridor begitu saja, seolah dia baru saja membuang tisu kotor yang menjijikkan.

BRUK!

Caca jatuh tersungkur di atas lantai aspal yang keras. Dia langsung meringkuk, memegangi lehernya yang kini dipenuhi memar merah keunguan bekas cengkeraman jari Max.

Gadis itu terbatuk-batuk dengan sangat hebat, menghirup udara sebanyak-banyaknya laksana orang yang baru saja tenggelam di dasar laut. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang kini tampak sangat menyedihkan.

Seluruh keangkuhan dan sorak kemenangan yang ia rasakan sejak subuh tadi menguap tak berbekas, digantikan oleh rasa trauma yang teramat sangat mendalam.

Max berdiri tegap di atas tubuh Caca yang masih terengah-engah di bawah kakinya. Dia meraba saku celananya, mengeluarkan selembar saputangan putih, lalu mengusap telapak tangannya yang baru saja menyentuh leher Caca seolah-olah dia baru saja menyentuh kotoran yang paling menjijikkan di dunia, sebelum membuang saputangan itu tepat di atas wajah Caca.

"Dengarkan aku baik-baik, Sampah," ucap Max, suaranya kembali terdengar santai namun sarat akan titah kematian yang mutlak.

"Video itu sudah dihapus total dari seluruh server universitas dan salinannya sudah dihancurkan oleh timku. Jika sampai besok pagi aku masih melihat wajah munafikmu berkeliaran di area Fakultas Bisnis atau hukum, aku tidak akan hanya mencekikmu sampai pingsan. Aku akan memastikan seluruh bisnis rahasia ibumu hancur, dan kau akan menyusul ayahmu ke dalam sel dengan dakwaan pencemaran nama baik dan manipulasi digital tingkat tinggi. Paham?!"

Caca tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa mengangguk samar dengan tubuh yang gemetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat masif.

Dia menatap ujung sepatu Max dengan pandangan pias, menyadari bahwa dia telah resmi membangunkan iblis sejati dari dalam diri dinasti Valerio, dan mulai detik ini, posisinya di atas papan catur permainan telah hancur berantakan tanpa ada peluang untuk kembali bangkit.

Max membalikkan tubuh tegapnya perlahan, melangkah pergi meninggalkan koridor remang itu tanpa menoleh sedikit pun, kembali menuju tempat di mana wanitanya sedang menunggu dengan ketenangan yang agung.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!