Leonel adalah seorang hantu yang bersemayam di dalam patung.
Keberadaannya sudah bertahun-tahun lamanya dan tidak pernah keluar menampakkan wujudnya pada siapa pun.
Sampai suatu hari ada seorang wanita yang mengusik keberadaannya, sehingga dia terpaksa keluar dan menampakkan wujud aslinya, seorang hantu tapi tampan meskipun dengan wajah pucat, dia memang tidak bisa dilihat oleh mata awam kecuali orang itu sama energinya dengan hantu Leo, pasti manusia itu akan melihatnya seperti wanita yang mengusiknya hari itu ternyata sama energinya dengan hantu leo.
jadi siapakah yang bisa melihat leonel.
kalau mau tau ikutin kisahnya ya teman-teman ☺️🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Meskipun rasa takut itu menjalar hingga ke tulang sumsum, mereka memaksakan kaki untuk terus melangkah. Dimas memejamkan sebagian pikirannya, berusaha mengabaikan sosok-sosok menyeramkan yang kadang berjalan sangat dekat, bahkan seolah menembus tubuh mereka.
Suasana hening total, hanya terdengar suara roda kursi roda yang bergesekan pelan di lantai keramik.
Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa sangat panjang dan menyiksa, mereka melihat pintu kamar perawatan Arun sudah berada di depan mata. Cahaya lampu yang hangat memancar dari celah pintu itu, seolah menjadi mercusuar keselamatan di tengah lautan kegelapan.
"Cepat,,, masuk!" desis Arun pelan.
Dimas langsung mendorong kursi roda masuk, diikuti Putra yang segera menutup pintu kamar dengan keras dan menguncinya dari dalam.
KLIK!
Begitu pintu terkunci rapat, seketika itu juga mereka bertiga serentak menghela napas panjang seolah baru saja selesai berlari maraton. Tubuh mereka lemas seketika, keringat dingin membasahi seluruh baju.
"Huahhh,,, Alhamdulillah,,,," Putra langsung jatuh duduk di lantai, dadanya naik turun hebat. "Gila Pak,,, gila! Itu beneran nyata! Gue kira cuma bualan doang, taunya beneran serem setengah mati!"
Dimas bersandar di pintu, tangannya mengusap wajah kasar. Matanya masih terbelalak tak percaya.
"Dunia ternyata jauh lebih luas dari apa yang kita pikirin,,," gumam Dimas pelan, suaranya terdengar parau. "Selama ini aku buta,,, aku gak percaya hal-hal begini. Tapi hari ini,,, hari ini mata aku dibuka paksa."
Dia menatap Arun yang masih duduk di kursi roda dengan wajah pucat namun lega.
"Untung kita selamat Run,,, untung kita dengerin omongan kamu. Kalau enggak, entar nasib kita gimana."
"Nah sekarang,,," Arun menunjuk ke arah patung yang masih tertutup kain di sampingnya. "Kita harus segera membebaskan Leo sebelum kekuatan malam makin kuat dan dia makin susah ditarik kembali."
"Sudah Pak ya,,, yang terpenting kita sudah masuk ke sini dan aman," ucap Arun sambil menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih kencang. "Tolong ini Pak,,, letakkan di meja dekat sini."
Dimas dengan hati-hati mengangkat bungkusan kain itu, merasakan bobot patung yang cukup padat di tangannya. Dia meletakkannya tepat di atas meja samping tempat tidur, di bawah cahaya lampu kamar yang terang.
"Nah,,, ini dia," bisik Arun penuh harap.
Dengan tangan gemetar namun penuh keyakinan, Arun mulai membuka perlahan kain penutup itu. Terlihat sosok Patung Dewi yang anggun namun misterius itu di hadapan mereka bertiga.
Arun menatap lekat-lekat ke arah wajah patung itu, seolah menembus batas dimensi.
"Leo,,, Leo,,, bangunlah,,," panggil Arun lembut namun tegas. "Keluarlah Leo,,, sementara ini aman di sini. Aku sama Pak Dimas dan Mas Putra sudah memindahkan Patung Dewi ini ke kamar rawat aku."
"Kamu sudah aman sekarang Leo,,, jangan takut, kami di sini untuk bantu Leo," lanjut Arun lagi, matanya mulai berkaca-kaca.
Dimas dan Putra berdiri mematung di belakang, menahan napas sambil memandangi patung itu. Suasana kamar mendadak terasa berubah. Udara mulai terasa berat, lampu-lampu mulai berkedip-kedip tidak stabil.
Hati Dimas tercabik-cabik melihat pemandangan itu. Perlahan dia pun berlutut di hadapan patung tersebut, air matanya tak kuasa dibendung lagi. Menetes membasahi pipinya yang tegas.
"Om,,, maafin aku ya Om,,," Isak Dimas lirih, penuh rasa bersalah yang mendalam. "Rasanya aku mau mati rasanya liat Om jadi begini. Ini semua salah aku,,, gara-gara aku Om Leo jadi terperangkap di situ."
"Om,,, aku janji," lanjut Dimas dengan suara bergetar, tangannya tergenggam erat. "Aku janji akan bantu Om ketemu sama Eyang Putri. Aku akan jagain Om sampai bisa mencapai kesempurnaan lagi, supaya nanti Om bisa bertemu sama Eyang Putri dengan tenang dan bahagia."
Dimas menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia sadar betul kesalahan fatal apa yang telah dia perbuat. Dulu, Leo adalah sosok yang begitu tenang, sabar, dan penuh welas asih. Meditasinya begitu kuat hingga dia hampir mencapai tingkat kesucian yang tinggi.
Tapi semuanya hancur berantakan karena ulahnya. Karena Dimas, Leo berhasil dibuat marah besar. Kesabaran yang selama ini dijaga setengah mati itu retak, dan amarah itu justru menjadi jangkar yang menarik arwah Leo turun ke Alam Arwah Paling Dasar, tempat yang gelap dan menyiksa.
Apakah Leo akan benar-benar muncul?