Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Hujan di Halaman Pengkhianatan
Vanya berdiri di depan sebuah gerbang rumah minimalis modern yang tampak sangat asri di sebuah kawasan elit. Ini adalah rumah yang baru saja dibeli Devan untuk Viona, sebuah "sarang" yang dibangun dari uang keluarga Jacob sementara istrinya sendiri dibiarkan kedinginan dalam mansion yang luas.
Vanya menekan bel berkali-kali. Ia mengetuk pintu kayu jati itu dengan tangan yang mulai gemetar. Sunyi. Namun, ia tahu mereka ada di dalam. Setelah menunggu hampir lima belas menit di bawah terik matahari yang mulai menyengat, pintu itu akhirnya terbuka.
Devan keluar dengan kaos santai, diikuti oleh Viona yang mengenakan daster satin tipis, tampak begitu nyaman di rumah itu.
"Devan, aku mohon pulang dulu untuk dua hari ini," suara Vanya terdengar parau. "Ibumu sangat marah karena pembatalan pembacaan warisan tadi pagi. Pak Andrew tidak akan bicara jika kau tidak ada."
Devan hanya menatap Vanya dengan tatapan kosong, seolah Vanya adalah pengemis yang mengganggu ketenangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia justru menarik tangan Viona menuju mobil yang terparkir di carport. Mereka pergi begitu saja, meninggalkan Vanya berdiri sendirian di depan pintu yang tertutup kembali.
Waktu berlalu begitu lambat. Pukul tujuh malam, deru mesin mobil Devan kembali terdengar. Saat mereka turun, mereka terkejut melihat Vanya masih ada di sana, duduk tenang di bangku taman depan rumah Viona. Wajahnya pucat, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Kenapa dia begitu keras kepala, Sayang?" bisik Viona sambil bergelayut di lengan Devan, menatap Vanya dengan pandangan jijik.
"Masuklah, biar aku yang bicara," jawab Devan pendek.
"Jangan lama-lama ya," ucap Viona sambil memberikan kecupan singkat di pipi Devan, sebuah tindakan yang sengaja dilakukan untuk menyakiti hati Vanya sebelum ia masuk ke dalam rumah.
Devan melangkah mendekat, berdiri di depan Vanya yang masih duduk. "Vanya... jangan terlalu keras kepala. Pulanglah. Bilang pada pengacara itu, bacakan saja apa yang sudah tertulis di sana tanpa kehadiranku. Aku tidak butuh uang itu."
Devan berbalik, hendak menyusul Viona masuk.
"Aku akan tetap di sini sampai kamu ikut pulang besok pagi," ucap Vanya dengan suara yang kecil namun tajam.
Devan menghentikan langkahnya sejenak, bahunya menegang. "Terserahlah," ucapnya dingin sebelum membanting pintu depan.
Malam semakin larut. Sekitar pukul sepuluh malam, langit yang sejak tadi mendung akhirnya tumpah. Hujan deras turun membasahi bumi, disertai angin kencang yang membuat suhu udara merosot tajam. Vanya tidak beranjak. Ia tetap duduk di bangku taman itu, meski baju kini basah kuyup dan menempel di kulitnya yang mulai membiru karena kedinginan.
Di dalam rumah yang hangat, Viona mengintip dari balik tirai jendela lantai dua. Ia melihat sosok Vanya yang basah kuyup di bawah guyuran hujan.
"Ih, dia masih di sana. Jangan perbolehkan dia masuk meneduh ya, Devan! Nanti karpet mahalku kotor terkena air hujan dari bajunya yang dekil itu," ketus Viona sambil membalikkan badan.
Devan berdiri di dekat jendela kamar, menatap lurus ke arah taman. Di bawah temaram lampu taman yang mulai berkedip, ia melihat Vanya—wanita yang dulu pernah ia kagumi saat kuliah, wanita yang kini menjadi istrinya namun ia sia-siakan. Melihat Vanya yang kedinginan seperti itu, ada sesuatu yang berdenyut di ulu hati Devan. Sebuah rasa bersalah yang selama ini ia tekan kuat-kali ini mulai muncul ke permukaan.
Viona menyadari perubahan ekspresi Devan. Ia melangkah mendekat dan menyilangkan tangan di dada.
"Kenapa? Khawatir?" tanya Viona dengan nada bicara yang mulai meninggi. "Kalau kamu sebegitu khawatirnya, temui dia sekarang! Biarkan dia menang dengan sandiwara hujannya itu!"
Devan menoleh, menatap Viona dengan kening berkerut. "Apa sih? Kamu cemburu?"
"Abisnya kamu sih!" Viona berlaga marah, memunggungi Devan. "Kamu terus melihat ke arahnya. Kalau kamu masih peduli, kenapa tidak nikahi saja dia dengan benar dan tinggalkan aku di sini?"
Devan menarik napas panjang. Ia merasa terjepit di antara egonya, rasa kasihannya pada Vanya, dan manipulasi Viona. Namun, melihat Vanya yang mulai menggigil hebat di bawah sana, Devan tidak bisa lagi berdiam diri.
"Dia bisa mati kedinginan, Viona. Ini bukan soal cemburu, ini soal kemanusiaan," ucap Devan dengan suara yang lebih keras.
"Kemanusiaan atau cinta?!" seru Viona.
Tanpa menjawab lagi, Devan menyambar jaketnya. Ia tidak tahan lagi. Ia tidak tahu apakah itu cinta atau sekadar sisa-sisa rasa hormat pada ayahnya yang sudah tiada, tapi ia tahu ia tidak bisa membiarkan istrinya hancur berkeping-keping tepat di depan matanya sendiri.
Devan baru saja akan melangkah keluar saat tangan Viona mencekal lengannya dengan kuat. Wajah wanita itu kini berubah, tidak ada lagi senyum manja, yang ada hanyalah amarah yang meledak-ledak.
"Jangan berani-berani melangkah keluar, Devan!" teriak Viona. "Kalau kamu keluar untuk menjemputnya, itu artinya kamu lebih memilih dia daripada aku. Kamu mau membiarkan dia menang? Kamu mau membiarkan dia merasa bahwa dengan cara menyedihkan seperti ini dia bisa mengaturmu?"
"Viona, ini sudah lewat jam sepuluh malam dan hujan semakin deras! Dia bisa sakit parah," Devan mencoba melepaskan cengkeraman Viona, namun wanita itu justru memeluknya erat, menahan tubuh Devan dengan seluruh kekuatannya.
"Dia sengaja melakukannya! Dia tahu kamu akan luluh kalau dia berlagak jadi korban. Itu taktik wanita licik, Devan! Kalau kamu keluar, aku akan pergi dari rumah ini sekarang juga dan jangan pernah cari aku lagi!" ancam Viona sambil terisak, tangisan manipulatif yang selalu berhasil meluluhkan Devan.
Devan terdiam. Ia menatap pintu depan, lalu menatap Viona yang menangis di pelukannya. Egonya kembali berperang. Di satu sisi, ada rasa kemanusiaan yang memberontak melihat istrinya kedinginan, namun di sisi lain, ia tidak ingin kehilangan Viona yang selama ini ia perjuangkan mati-matian di depan keluarganya.
Akhirnya, Devan menghela napas panjang. Ia melepaskan pegangan pintunya. Ia memilih untuk kembali duduk di sofa, membiarkan Viona terus memeluknya sambil membisikkan kata-kata manis yang menenangkan hatinya.
Di luar, air hujan seperti ribuan jarum yang menusuk kulit Vanya. Tubuhnya sudah menggigil hebat, giginya bergeletuk tak terkendali. Pandangannya mulai mengabur, lampu-lampu di rumah itu tampak bergoyang di matanya. Ia bisa melihat bayangan dua orang dari balik jendela lantai atas yang kini sudah tertutup tirainya kembali.
Vanya merapatkan mantelnya yang sudah berat karena air. Hatinya jauh lebih dingin daripada air hujan yang membasahinya. Ia teringat masa kuliah dulu, saat ia jatuh cinta pada Devan yang rela kehujanan hanya untuk mengantarkan buku catatannya. Kini, pria yang sama membiarkannya nyaris membeku hanya karena perintah wanita lain.
"Hanya... sampai pagi, Devan. Aku... berjanji pada Papa..." bisik Vanya dengan suara yang hampir hilang tertelan suara gemuruh hujan.
Kesadaran Vanya mulai naik turun. Ia menyandarkan kepalanya di tiang kayu bangku taman. Ia tidak akan pergi. Jika ia harus pingsan atau bahkan mati di sini, biarlah itu menjadi saksi bisu betapa hancurnya janji pernikahan yang mereka ucapkan.