Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Penghianatan atau Profesionalisme?
"Ton, aku... aku di sini buat kamu. Kamu bisa percaya sama aku," Ekantika berbisik, menangkup tangan Riton. Ia tahu ini adalah kebohongan lain, tapi ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebagian dari itu adalah kejujuran. Kejujuran tentang perasaannya pada Riton.
Riton menatapnya, lalu mengangguk pelan. Ada kerinduan dan kebutuhan yang jelas terpancar di matanya. "Aku butuh kamu, Na. Aku... aku cuma butuh satu orang yang bisa kupercaya di tengah semua kekacauan ini."
Ia melihat sekeliling, lalu menurunkan volume suaranya. "Dengar, Na. Aku tahu aku nggak seharusnya cerita ini ke orang lain, tapi aku benar-benar butuh masukan. Minggu depan itu presentasi final tender. Kita punya strategi yang bagus, tapi ada beberapa celah yang bikin aku khawatir."
Riton menarik napas dalam-dalam, lalu membuka sebuah folder di laptopnya. Ekantika melirik. Layar itu menampilkan diagram alur proyek, angka-angka proyeksi, dan beberapa poin strategi. Ini adalah inti dari proposal tender Aksara Digital! Informasi rahasia yang tidak seharusnya ia lihat.
"Aku khawatir di bagian integrasi blockchain ini, Na," Riton menunjuk sebuah bagian di layar. "Tim kami yakin ini inovatif, tapi aku takut dewan juri akan menganggapnya terlalu berisiko. Perusahaan Garuda itu selalu main aman dengan teknologi yang sudah teruji."
Ekantika terdiam, otaknya berputar cepat. Dia membocorkan strategi utamanya! Ini adalah kelemahan Aksara Digital! Jika ia menggunakan informasi ini, Garuda bisa dengan mudah menyusun strategi tandingan yang menyerang tepat di titik kelemahan Riton. Kemenangan akan ada di tangan Garuda.
Tapi harga kemenangan itu... adalah kehancuran Riton.
"Apa pendapatmu, Na?" Riton bertanya, matanya menatap Ekantika, penuh harapan. "Menurutmu, apakah dewan juri akan melihat ini sebagai inovasi atau risiko?"
Ekantika merasakan perang batin yang hebat. Integritas profesionalnya sebagai CEO, yang seharusnya tidak akan ragu memanfaatkan kelemahan kompetitor, berbenturan dengan perasaannya sebagai wanita yang mencintai pria di depannya. Apakah aku akan menjadi orang yang menghancurkan impiannya?
"Menurutku... ini inovasi yang berani, Ton," Ekantika berkata, suaranya berusaha terdengar netral. Ia berusaha keras untuk tidak memberikan analisis yang terlalu mendalam, agar tidak terlihat seperti CEO. "Tapi kalau mau aman, mungkin kamu bisa siapkan alternatif yang lebih... konvensional. Buat jaga-jaga."
Riton mengangguk, lalu menutup laptopnya. "Itu ide bagus, Na. Makasih banyak ya. Aku benar-benar butuh sudut pandang lain. Kamu memang hebat."
Pujian itu terasa kosong di telinga Ekantika. Ia telah menipu pria ini lagi, bahkan saat ia menunjukkan kerentanan terbesarnya. Rasa bersalah itu semakin menggerogoti.
"Ngomong-ngomong, Na," Riton berkata, teringat sesuatu. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam. "Ini... dokumen cadangan semua proposal kita. Aku backup di sini. Aku mau minta tolong kamu simpan ini sebentar, ya."
Ekantika menatap flashdisk di tangan Riton, lalu ke wajahnya yang penuh kepercayaan.
"Aku nggak yakin mau simpan ini di kantor, takut ada mata-mata," Riton melanjutkan, tatapannya sedikit gelisah. "Aku cuma bisa percaya sama kamu, Na. Kamu... kamu orang yang paling jujur yang aku kenal."
Kata "jujur" itu menghantam Ekantika bagai tamparan keras. Orang paling jujur? Matanya berkaca-kaca.
Riton meletakkan flashdisk itu di telapak tangan Ekantika. Sebuah benda kecil, ringan, namun terasa begitu berat. Di dalamnya, ada kunci kemenangan perusahaan Ekantika. Dan juga, kunci kehancuran Riton.
Ekantika menatap flashdisk di tangannya, benda kecil berwarna hitam itu terasa begitu berat. Di sana ada kunci kemenangan perusahaannya, sekaligus kehancuran Riton. Apa yang harus kulakukan? Jemarinya mengusap permukaan plastik yang dingin, otaknya memutar ulang adegan di Kopi Senja, wajah Riton yang penuh kepercayaan, suaranya yang tulus saat berkata, "Aku cuma bisa percaya sama kamu, Na. Kamu... kamu orang yang paling jujur yang aku kenal." Kata-kata itu bergaung di kepalanya, menusuk tepat ke ulu hati. Jujur? Bagaimana bisa aku menjadi orang yang paling jujur di matamu, Riton, sementara aku adalah kumpulan kebohongan?
Rasa jijik pada diri sendiri menjalar, bercampur dengan kebingungan. Sebagai CEO Garuda, instingnya akan mengatakan untuk memanfaatkan setiap kelemahan kompetitor. Ini adalah perang, dan dalam perang, tidak ada aturan yang bersih. Tapi sebagai Nana, wanita yang hatinya telah disentuh oleh Riton, ia tidak bisa melakukan pengkhianatan sekejam itu. Itu akan menghancurkan pria itu, menghancurkan kepercayaan terakhir yang tersisa di hatinya setelah trauma masa lalu.
"Tidak," bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau. "Aku tidak akan melakukannya."
Ia menyimpan flashdisk itu di laci tersembunyi mejanya, tidak membukanya, tidak sekalipun melirik isinya. Keputusan itu terasa seperti beban raksasa yang terangkat dari dadanya, namun digantikan oleh ketakutan lain: Bagaimana jika tanpa informasi ini, Garuda kalah? Bagaimana jika dewan direksi tahu aku punya kesempatan dan tidak menggunakannya?
Pagi berikutnya, ruang rapat utama Garuda dipenuhi ketegangan. Ekantika duduk di kursi kepalanya, memimpin rapat strategis terakhir menjelaran presentasi tender Proyek Garuda. Matanya tajam, memindai wajah-wajah di sekeliling meja, mencari dukungan sekaligus mendeteksi potensi pengkhianatan. Pak Doni duduk di seberang, tatapannya menyiratkan kebencian yang tidak disembunyikan. Vina, asistennya, sesekali meliriknya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Baik, tim," Ekantika memulai, suaranya lantang dan tegas. "Kita sudah punya proposal final yang solid. Inovasi kita di bidang AI dan infrastruktur cloud jauh melampaui kompetitor. Tapi saya ingin memastikan, apakah ada celah yang mungkin bisa dimanfaatkan oleh Aksara Digital atau perusahaan lain?"
Seorang manajer proyek mempresentasikan hasil analisis risiko. "Bu, Aksara Digital memiliki keunggulan dalam integrasi blockchain untuk keamanan data. Itu adalah poin yang sangat berani dan inovatif. Jika dewan juri terpukau, mereka bisa unggul."
"Saya tahu itu," Ekantika mengangguk. Riton sudah memberitahuku. Ingin sekali ia menambahkan, tapi menahan diri. "Namun, blockchain juga memiliki risiko implementasi yang lebih tinggi untuk skala nasional seperti Proyek Garuda. Itu adalah pedang bermata dua."
Pak Doni menyeringai tipis. "Saya rasa, Bu Ekantika terlalu meremehkan kompetitor. Bukankah kita punya cara untuk mengetahui strategi mereka lebih dalam? Mungkin ada informasi yang bocor dari internal mereka?" Ia melirik Ekantika, nadanya menyiratkan sesuatu. "Kita tidak boleh kalah hanya karena terlalu... berhati-hati."
Ekantika menatap Pak Doni lurus. "Garuda tidak akan pernah menggunakan cara kotor untuk menang, Pak Doni. Kita bersaing dengan integritas. Keunggulan kita ada pada kualitas dan etika, bukan pada sabotase atau intrik." Ia sengaja menekan kata-kata itu, sebagai pernyataan tidak langsung bahwa flashdisk itu tidak akan pernah ia sentuh.
Pak Doni mendengus, namun tidak membantah lebih jauh. Ada beberapa anggota dewan lain yang mengangguk setuju dengan Ekantika, terutama Ibu Indri. "Saya sependapat dengan Bu Ekantika. Reputasi jangka panjang jauh lebih penting daripada kemenangan sesaat yang diwarnai kecurangan."
Rapat berlanjut, membahas detail terakhir presentasi. Ekantika tetap fokus, namun otaknya sibuk memikirkan Riton. Dia percaya padaku. Dia menganggapku orang yang paling jujur. Keputusan untuk tidak menggunakan flashdisk itu terasa benar, namun juga menakutkan. Ia mempertaruhkan segalanya, bukan hanya untuk perusahaan, tapi juga untuk kepercayaannya pada dirinya sendiri.