Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesuatu yang hilang
Drrrrrrtt drrrrrrtt drrrrrrtt
Sering telpon beberapa kali membuat Leon terbangun dari tidurnya, sinar matahari masuk melalui celah celah gorden di kamar mewah apartemen nya. Matanya mulai terbuka dari tidurnya yang berasal sangat nyaman.
Leon tidak mempedulikan suara dering telpon yang masih berbunyi, dirinya lebih memilih menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Matanya memindai sekitar kamar, seprei yang berantakan dengan bantal yang sudah berada di lantai, selimut yang entah sudah berada dimana. Hingga matanya tertumpu pada bercak merah di seprei putih.
Leon baru menyadari ada sesuatu yang hilang, ya gadis itu yang semalam sudah di nodai oleh dirinya. Leon tampak berpikir kemana gadis itu pergi.
"Semalam aku sudah menodai seorang gadis, tapi di mana orangnya kenapa tidak ada di sini, dan siapa gadis itu? " tanya nya dalam hati.
"Ada bercak darah keperawanan, jadi aku sudah merusak anak gadis orang. Ya Tuhan apa yang sudah ku lakukan. Aku harus minta maaf karena semalam aku melakukan nya akibat pengaruh obat perangsang. " Leon menyugar rambutnya.
Teringat kembali saat dirinya berada di sebuah pesta relasinya, Leon meminum minuman yang di berikan seorang pelayan. Sesaat setelah meminumnya badannya terasa panas. Maka nya Leon meminta anak buahnya untuk mencarikan seorang wanita untuk segera melampiaskan hasratnya akibat dorongan obat yang ada di dalam minumannya tersebut.
"Lebih baik aku tanyakan saja mereka mendapatkan gadis itu darimana, aku harus meminta maaf serta memberikan sejumlah uang. "
Leon meraih ponselnya yang tergeletak di atas makasih, belasan panggilan tak terjawab dan pesan dari mamahnya. Leon tidak langsung menghubungi mamahnya, namun lebih tertarik untuk menelpon asistennya Ryan.
"Halo tuan apa ada yang di perlu kan? "
"Iya kamu sekarang ada dimana? "
"Saya sedang di kantor, sebentar lagi harus bertemu klien, apa tuan akan datang ke kantor hari ini? "
"Aku datang agak siangan, aku mau tanya semalam kamu mendapatkan gadis itu dari mana? "
"Anak buah saya bilang mendapatkan gadis itu di depan pos ronda, dia sedang duduk sendiri karena hujan sangat lebat, memangnya kenapa tuan? "
"Gadis itu sudah pergi entah kemana saat aku bangun gadis itu sudah tidak ada, kamu cari tahu di mana gadis itu tinggal, aku ingin minta maaf dan bertanggung jawab jika sampai ada sesuatu atau dia sampai hamil. "
"Baik tuan akan saya cari tahu di mana gadis itu tinggal. "
Leon memutuskan panggilan sepihak, kemudian Leon menelpon mamahnya yang sedari tadi terus menelpon dirinya.
"Halo mah ada apa? "
"Kamu bilang ada apa, mamah telpon kamu karena mamah khawatir dengan kamu. Karena Stela bilang kamu menghilang sebelum pesta usai. "
"Semalam aku pulang duluan mah, kepalaku merasa pusing. Dan sekarang aku ada di apartemen. Sebentar lagi aku ke kantor. "
"Pusing kenapa, mamah panggilkan dokter ya. Kalau masih pusing tidak usah kantor! "
"Sekarang sudah tidak apa apa, mamah tidak usah khawatir. "
"Sebelum ke kantor, kamu telpon dulu Stela, dia sangat mengkhawatirkan keadaan kamu."
"Nanti saja Leon telpon, sekarang mau mandi dulu, hari sudah siang karena sebentar lagi ada meeting. "
"Iya, tapi jangan lupa kamu telpon Stela ya sayang."
"Leon ga janji ya mah. "
Leon memutuskan telpon mamahnya secara sepihak. Leon sudah muak mamahnya selalu saja membahas tentang Stela yang membuat nya sangat pusing. Karena Stela hanya menjadikan dirinya sebagai mesin ATM.
Leon dan Stela bertunangan karena di jodohkan oleh kedua orang tua mereka, dengan alasan agar kedua perusahaan bisa menjadi lebih kokoh, sebenarnya Leon tidak menyukai Stela yang selalu hidup glamour, suka pergi ke club malam, namun karena menghormati kedua orang tuanya Leon terpaksa menerima perjodohan tersebut.
Leon bangkit dari tempat tidur kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa sangat lengket. Lima belas menit kemudian Leon keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang lebih segar. Mengganti pakaiannya menggunakan setelan kantor karena hari ini ada meeting yang tidak bisa gantikan oleh asistennya.
Selesai memakai bajunya, Leon bersiap ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu karena waktu yang semakin cepat berlalu.
Leon mengendarai mobil mewahnya membelah lalu lintas kota yang sudah sangat ramai dengan kendaraan yang saling mendahului. Dengan kesabaran penuh akhirnya Leon sampai juga di depan gedung kantornya. Gedung pencakar langit yang memiliki banyak usaha yang menggurita membuat perusahaan Leon sebagai salah satu perusahaan raksasa yang terbesar se Asia, dengan anak cabang di beberapa negara Eropa dan juga negara Arab.
Dengan langkah tergesa Leon berjalan masuk lift khusus CEO ke lantai tiga puluh lima lantai tempat ruangannya berada. Pintu Lift terbuka, Leon di sambut sekretaris nya, kemudian mengkuti Leon ke dalam ruangan nya.
"Bagaimana persiapan meeting hari ini, apakah saya kesiangan? "
"Persiapan nya sudah seratus persen, dan tuan belum kesiangan karena tuan Yun Chen terlihat baru saja memasuki lobi perusahaan bersama asisten dan juga sekretaris nya. " Lidya menjelaskan.
"Syukur lah kalau belum terlambat, saya akan mempelajari materi meeting ini sebentar, kamu bawa tuan Yun Chen ke ruang meeting dan jamu mereka dengan baik. " Perintah Leon.
"Baik tuan. " Lidya membungkukan badan lalu keluar dari ruangan Leon.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan Leon di ketuk dari luar, Lidya memberitakan jika meeting akan segera di mulai. Leon segera berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan ke ruang meeting di ikuti Lidya di belakang nya. Biasanya Ryan asistennya selalu mendampingi Leon jika ada meeting penting, namun karena hari ini Ryan juga ada meeting di luar kantor, jadi hanya sekretaris nya saja yang mendampingi Leon untuk meeting membahas kerja sama yang akan dilakukan dua perusahaan besar.
Setelah tiga jam akhirnya meeting selesai, dengan wajah lelah namun terpancar kepuasan dari hasil meeting yang saling memuaskan.
"Maaf tuan sudah lewat jam makan siang, apakah tuan akan makan siang di kantor atau di luar? "
"Saya makan siang di sini saja, tolong kami pesan kan. Sekalian kamu juga pesan makan siang, seandainya tuan Yun Chen tidak terburu buru mungkin saja kita bisa makan siang bersama di luar. "
"Iya tuan, maaf menu makan siangnya apa tuan? " Lidya bertanya dengan sopan.
"Hari ini ingin makan sea food. "
"Baik tuan. Saya permisi dulu. "
Hanya di jawab anggukkan oleh Leon yang sedang mengecek berkas berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Setengah jam kemudian makan siang sudah datang sudah datang, setelah di tata di atas meja oleh Lidya, Leon menyantap makan siang yang sudah terlambat.
Hari ini sangat melelahkan untuk Leon, setelah meeting yang menguras emosi dan juga tenaga, belum lagi banyak berkas yang harus di periksa dan juga di tanda tangan. Tidak terasa hari sudah sore, matahari sudah kembali ke peraduan nya berganti malam. Leon masih berkutat dengan pekerjaan nya.
Tidak lama kemudian, Ryan datang membawa hasil meeting dan juga hasil peninjauan proyek untuk di laporkan pada Leon.
"Selamat malam tuan, ini laporan hasil meeting hari ini dan juga peninjauan proyek." Ryan menyerahkan beberapa dokumen penting.
"Bagaimana perkembangan proyek nya? "
" Bagus tuan, hasil nya memuaskan. "
"Lalu bagaimana dengan identitas gadis itu? "
"Maaf tuan, anak buah saya kehilangan jejaknya, namun mereka akan berusaha mencarinya lagi. "
"Saya kasih waktu tiga hari, saya ingin laporan nya segera di meja saya secepatnya. "
"Baik tuan. "
Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya keduanya memutuskan untuk segera pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 22.30.
Leon masuk ke dalam mobilnya kemudian tancap gas membelah jalanan ibu kot yang sudah lengang, hanya satu dua kendaraan yang masih berlalu lalang, karena jalanan sepi, biasa nya waktu tempuh sampai satu jam setengah sampai rumah. Namun sekarang hanya setengah jam sampai rumah.
Leon biasanya akan pulang ke apartemen jika pulang dari kantor sampai larut malam, namun semenjak kejadian tadi malam, Leon memutuskan untuk pulang kerumah orang tua nya.
Keadaan rumah sudah gelap, mungkin penghuninya sudah terbuai dalam mimpi. Setelah memasukan mobilnya ke carport, Leon masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Berjalan menaiki tangga lalu masuk ke dalam kamarnya.
Leon termenung di pinggir tempat tidurnya, merenungi kejadian semalam dan teringat dengan gadis itu.
"Ya Tuhan apa yang sudah aku lakukan, aku sudah merusak anak gadis orang, mungkin saat ini orang tuanya sangat sedih melihat anaknya hilang kehormatan nya. "
Aaarrrgghhj
Leon menyugar rambutnya ke belakang, hatinya nuraninya tidak terima karena sudah merampas kehormatan seorang wanita.
"Seandainya semalam aku tidak minum minuman itu, mungkin saat ini aku tidak merasakan bersalah. "
Leon menyambar ponselnya yang ada di atas tempat tidur kemudain menghubungi asisten nya, dua kali panggilan langsung terhubung.
"Kamu cek CCTV di tempat pesta semalam, pastikan siapa orang yang sudah menyimpan obat perangsang di minimum ku? "
"Baik tuan, akan segera saya cek CCTV di tempat pesta semalam. "
"Saya tunggu kabarnya secepatnya. "
"Baik tuan. "
Setelah selesai menelpon, Leon bangkit dari duduknya masuk ke kamar mandi membersihkan tubuh nya yang terasa sangat penat.
Hari berganti pagi, Leon sudah selesai mandi dan bersiap berangkat ke kantor, di rasa sudah siap, Leon turun ke lantai bawah untuk sarapan. Terlihat mamah dan papahnya sudah berada di meja makan.
"Pagi mam, pah. " Leon mencium pipi mamahnya.
"Pagi sayang tumben kamu pulang ke rumah, mau sarapan apa? "
"Lagi mau pulang saja mah, Leon sarapan roti saja. "
"Gimana pertemuan dengan tuan Yun Chen kemarin? " Tuan Aditama bertanya dengan suara beratnya.
"Berjalan lancar, dan kita sudah sepakat dengan kerja sama kita. " Sambil mengunyah Leon menjawab.
"Sayang mamah dan papah sudah ingin secepatnya menggendong cucu, kapan kamu akan menikahi Stela? "
"Leon belum ingin menikah mah, Stela bertunangan dengan Leon karena mamah dan papah yang menjodohkan kami, dan itu karena bisnis bukan karena Leon cinta sama Stela. " Leon menjawab dengan ketus dan datar.
"Iya memang kami yang menjodohkan kamu dengan Stela, dan walaupun kamu tidak mencintai nya nanti juga cinta akan tumbuh seiring kebersamaan kalian berdua. Iya kan pah? " Nyonya Erlina bertanya pada tuan Aditama.
"Iya mah, Leon kita berdua juga menikah karena di jodohkan oleh kakek kamu, dan sampai sekarang kami masih saling mencintai. " ujar tuan Aditama.
"Mungkin papah dan mamah saling cocok sehingga timbul rasa saling mencintai, sedangkan Leon dan Stela sangat jauh berbeda. "
"Beda di mananya sayang? " tanya nyonya Erlina.
"Stela itu kerjaanya hanya bisa menghabiskan uang Leon saja tanpa mau tahu bagaimana caranya mendapatkan uang. "
"Ya mungkin karena Stela itu lahir dari orang orang kaya dan sejak dulu tidak pernah kesusahan, dan juga kedua orang tuanya sangat memanjakan nya, Jadi mungkin saja hal itu sudah menjadi kebiasaan Stela. "
"Terserah mamah saja, karena kalau bicara sama mamah Leon tidak akan pernah menang. "
Leon bangkit dari kursi dan menghampiri mamah nya juga papah nya dan pamit untuk berangkat ke kantor.
"Mah, biarkan saja dulu Leon jangan di paksa, nanti kalau di paksa terus malah jadi berbalik tidak mau menikahi Stela. Biarkan air mengalir mengikuti arus. Kalau sudah waktunya dengan Stela atau siapapun Leon pasti akan menikah. " Tuan Aditama dengan bijak.
hahhhhhh.
Nyonya Erlina hanya bisa menghela nafasnya, karena jika suaminya sudah berkata seperti itu sudah tidak bisa di bantah lagi, nyonya Erlina hanya bisa pasrah saja.
"Papah mau berangkat sekarang? "
"Iya mah, sudah siang juga. "
"Baiklah hati hati ya pah, nanti siang mau makan siang di rumah atau di kantor? "
"Di kantor saja, dan seperti biasa papah ingin makan masakan mamah, masakan mamah is the best. " Tuan Aditama mengerlingkan matanya.
"Ih papah genit. "
"Genit juga sama istri sendiri. "
Tuan Aditama berdiri dan mengecup kening istri nya dengan penuh kasih sayang. Tuan Aditama tipe orang yang romantis, seorang pria yang setia. Walaupun termasuk salah seorang pengusaha terkaya se asia naungan tuan Aditama selalu merendah dan sayang keluarga.
Pak sopir sudah menunggu di samping mobil mewah, bersiap menyambut tuannya yang akan pergi ke kantor.
"Selamat pagi tuan. " Pak Jono membungkuk hormat.
"Selamat pagi Jono, kamu sudah sarapan? "
"Sudah tuan. " Jono menjawab sambil membuka kan pintu mobil untuk tuannya.
Nyonya Erlina melambaikan tangan nya menatap kepergian suaminya keluar gerbang rumah yang tinggi menjulang.
Nyonya Erlina masuk ke dalam rumah, bersiap untuk ke butik miliknya, hari ini jadwalnya mengecek butik yang biasanya di cek tiga kali dalam seminggu.
"Bi Irah... "
Seorang art berusia setengah baya berjalan menghampiri nyonya Erlina.
"Ya nyonya ada apa? "
"Hari ini saya ada kunjungan ke butik, nanti tolong buat masakan untuk tuan, kalau sudah selesai kamu minta mang Usep untuk mengantarkannya ke butik, saya makan siang dengan tuan di kantornya. "
"Baik nyonya, kira kira menu apa yang akan di bawa nanti? " Bi Irah bertanya dengan hormat.
"Masak saja sop buntut goreng dan teman temannya, kamu mungkin lebih tahu makanan yang cocok untuk pendamping sop buntut. "
"Baiklah nyonya, nanti saya siapkan semuanya. "
"Saya berangus dulu ya bi. "
"Iya nyonya silakan. "