NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANDA DI KULIT

Alana berlari sekuat tenaga begitu sosok-sosok itu lenyap di antara bangunan tua. Napasnya terengah-engah, dadanya terasa sesak, dan kakinya terasa lemas seolah tidak sanggup menopang tubuhnya lagi. Hujan masih turun, membasahi seluruh tubuhnya, tapi ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya cuma satu: menjauh, sejauh mungkin dari tempat itu.

Begitu sampai di tempat yang agak terang dan banyak orang, ia berhenti sejenak, bersandar pada tembok gedung. Tangan kanannya memegang erat pergelangan tangannya yang masih terasa sakit. Ia menunduk, dan napasnya tercekat—di sana ada bekas cengkeraman berwarna merah keunguan, jelas sekali terlihat di kulitnya yang putih.

Suara teriakan memanggil namanya terdengar dari kejauhan. Ia menoleh dan melihat para pengawalnya beserta Pak Martin berlari ke arahnya dengan wajah panik. Begitu sampai di hadapannya, mereka langsung mengerumuni, bertanya ini itu sekaligus.

“Nona Alana! Di mana saja kamu? Kami sampai cari ke mana-mana!” seru salah satu pengawal, suaranya masih terdengar kaget dan khawatir.

Pak Martin mendekat, wajahnya pucat pasi. “Kamu kenapa? Kenapa basah kuyup begini? Ada apa sebenarnya?”

Alana mencoba menenangkan dirinya, tapi suaranya masih bergetar ketika menjawab.

“Aku... aku cuma jalan-jalan sebentar saja. Terus tersesat. Tidak ada apa-apa, sungguh.” Ia langsung menyembunyikan tangannya di balik punggung, takut mereka melihat bekas itu dan jadi semakin khawatir.

Mereka semua saling pandang, jelas-jelas tidak percaya, tapi melihat keadaan Alana yang seperti itu, tidak ada yang berani menanya lebih jauh. Mereka langsung mengantarnya pulang dalam keheningan yang mencekam.

Sesampainya di rumah, suasana di dalamnya sudah kacau balau. Ayahnya sudah menunggu di ruang tengah, berjalan mondar-mandir dengan langkah cepat. Begitu melihat Alana masuk, ia langsung berhenti dan menatap tajam, tapi di balik tatapan itu terlihat ada kekhawatiran yang mendalam.

“Ke mana saja kamu?” tanya Gubernur William, nada bicaranya tinggi tapi terdengar juga lelah.

“Kamu tahu tidak betapa khawatirnya kami semua? Kamu ini sudah besar, tapi kenapa masih bertindak sembarangan begitu?”

Alana menunduk, menatap ujung kakinya. “Maaf, Yah. Aku cuma bosan saja. Ingin menghirup udara segar. Aku tidak menyangka akan tersesat sejauh itu.”

Ayahnya menghela napas panjang, lalu duduk di kursi, memijat pelipisnya. “Kamu tidak mengerti, kan? Selama ini aku melarang kamu pergi sembarangan bukan tanpa alasan. Ada banyak orang yang tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Mereka bisa saja memanfaatkan kamu untuk menyakitiku. Kamu itu hal terpenting yang aku miliki, Alana. Kalau ada apa-apa denganmu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.”

Kalimat itu membuat hati Alana terasa perih. Ia tahu ayahnya berkata begitu karena sayang, tapi malam ini ia baru merasakan sendiri betapa nyatanya bahaya yang selama ini cuma ia dengar dari cerita orang. Ia ingin sekali bercerita tentang apa yang terjadi, tentang orang yang ia temui, tentang tatapan dan perkataannya yang masih terngiang-ngiang di kepalanya. Tapi ia takut. Takut ayahnya akan bertindak nekat, takut semuanya jadi makin kacau, dan entah kenapa... ada bagian dari dirinya yang merasa tidak boleh menceritakan hal itu. Seolah ada sesuatu yang melarangnya.

“Aku mengerti sekarang, Yah. Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi,” katanya pelan.

Ayahnya mengangguk, lalu melambaikan tangan. “Sudah, sekarang kamu naik ke kamar. Istirahatlah. Besok kita bicarakan lagi.”

Alana berjalan menaiki tangga dengan langkah lambat. Begitu sampai di dalam kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat, barulah ia merasa bisa bernapas lega sedikit. Ia berjalan ke arah cermin besar di sudut ruangan, lalu mengangkat lengan kanannya. Bekas cengkeraman itu masih ada, warnanya malah makin terlihat jelas. Ia menyentuhnya perlahan, dan seketika ingatannya kembali pada momen itu—bagaimana tatapan mata pria itu, suaranya yang dingin, dan kata-katanya yang terasa seperti kutukan.

“Kita akan bertemu lagi, lebih cepat dari yang kau kira.”

Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, membuat bulu kuduknya meremang. Siapa sebenarnya orang itu? Ia tahu namanya, tahu bahwa ia orang yang paling ditakuti di kota ini, tapi malam ini ia baru sadar bahwa cerita yang ia dengar selama ini tidak seberapa dibandingkan dengan kenyataannya.

Tiba-tiba, suara sesuatu yang jatuh dari luar jendela membuatnya terkejut. Ia langsung berbalik dan mendekat, lalu membuka tirai perlahan. Di bawah sana, di halaman rumahnya yang gelap, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada bunga-bunga yang tertiup angin malam. Tapi di ambang jendela, ada sesuatu yang tergeletak di sana.

Ia membuka jendela dan mengambil benda itu. Itu adalah sekuntum bunga mawar hitam, yang diikatkan selembar kertas kecil. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka lipatan kertas itu. Tulisan di sana ditulis dengan tinta berwarna gelap, tulisan tangan yang tegas dan tajam:

Tanda di kulitmu itu baru permulaan. Jangan coba-coba sembunyikan apapun dariku. Aku selalu tahu di mana kamu berada, apa yang kamu lakukan, dan apa yang kamu rasakan. Tidak ada tempat di kota ini yang bisa menyembunyikanmu dariku. — R

Kertas itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Alana mundur selangkah, punggungnya menempel pada dinding. Jantungnya berdegup kencang sampai rasanya bisa didengar oleh orang lain. Rumah ini dijaga ketat dari segala arah, bagaimana bisa ada orang yang datang sampai sedekat ini tanpa ada yang sadar?

Ia menatap sekeliling ruangannya yang terasa tiba-tiba jadi sempit dan menyesakkan. Selama ini ia merasa hidupnya terkekang karena selalu dijaga dan dibatasi, tapi malam ini ia baru sadar—semua batasan itu ternyata tidak ada artinya sama sekali. Ia tidak terlindungi, tidak aman. Ia seperti burung yang dikurung di dalam sangkar, tapi ternyata sangkar itu tidak ada dindingnya sama sekali. Siapa saja bisa masuk dan keluar sesuka hati.

Suara ketukan pintu terdengar, membuatnya melonjak kaget.

“Nona Alana? Ini aku, Bibi Rina. Aku antar air hangat dan baju ganti buat kamu,” suara wanita itu terdengar dari balik pintu.

Alana buru-buru memungut kertas itu dan bunga mawar itu, lalu menyembunyikannya di dalam laci meja kerjanya, sebelum membukakan pintu.

Bibi Rina masuk, meletakkan barang-barang yang dibawanya, lalu menatap wajah Alana dengan tatapan curiga. “Kamu baik-baik saja, Nona? Wajahmu pucat sekali.”

“Aku cuma lelah saja, Bi. Tidak apa-apa,” jawabnya berusaha tersenyum, meski rasanya senyum itu terasa berat dan dipaksakan.

Wanita itu masih menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Kalau begitu istirahatlah ya. Kalau ada apa-apa panggil aku saja.”

Begitu Bibi Rina keluar dan menutup pintu kembali, Alana berjalan kembali ke jendela, menatap ke kegelapan di luar sana. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi satu hal yang ia yakini—hidupnya tidak akan pernah kembali seperti sedia kala. Dan orang yang bernama Raka itu... ia sudah masuk ke dalam hidupnya, dan tampaknya tidak akan pergi begitu saja.

><><><><

Di suatu tempat yang tidak jauh dari sana, Raka berdiri di balkon sebuah gedung tinggi, menatap ke arah rumah kediaman gubernur dengan pandangan yang sulit ditebak. Di sampingnya berdiri orang kepercayaannya.

“Semua sudah dilakukan sesuai perintah, Tuan. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang tahu,” kata orang itu dengan nada hormat.

Raka tidak mengalihkan pandangannya dari rumah itu. “Bagus. Mulai sekarang, awasi dia terus. Setiap langkahnya, setiap orang yang ia temui, setiap hal yang ia lakukan. Aku mau tahu semuanya, tidak ada yang boleh terlewatkan.”

“Baik, Tuan. Tapi... apakah ini benar keputusan yang tepat? Ia itu anak orang yang sedang kita lawan. Ia bisa jadi senjata, tapi ia juga bisa jadi bahaya buat kita sendiri,” ujar orang itu ragu-ragu.

Raka tersenyum tipis, senyum yang sama seperti yang ia tunjukkan malam itu. “Justru karena itulah ia menarik. Ia berbeda dari orang lain yang pernah aku temui. Ia takut, tapi ia berani melawan. Ia lemah, tapi ada kekuatan tersembunyi di dalam dirinya. Dan hal yang paling penting...” Ia berhenti sejenak, matanya berkilat dalam kegelapan.

“Ia milik orang yang ingin aku hancurkan. Mendapatkan dirinya adalah cara terbaik untuk membuat orang itu merasakan apa artinya kehilangan sesuatu yang paling berharga.”

Ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam ruangan, tapi sebelum pintu tertutup, ia menambahkan dengan suara yang pelan tapi pasti:

“Dan aku juga ingin tahu... seberapa jauh ia akan bertahan sebelum akhirnya ia jatuh ke dalam genggamanku, sama seperti hal-hal lain yang sudah aku miliki.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!