Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.
Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Narapidana yang menempati penjara di lantai sepuluh kebanyakan adalah terpidana mati yang menunggu eksekusi, sementara sisanya dipenjara seumur hidup. Untuk beberapa kasus ada yang bebas setelah terbukti tidak bersalah ketika kasusnya diangkat lagi.
Dua hari lalu, pengunguman telah digaungkan pada lantai sepuluh sehingga memicu kehebohan dalam ruang yang selalu senyap seperti tidak berpenghuni itu. Solomon telah mengeluarkan aturan baru, di mana hampir semua semua aturan lama tidak lagi diberlakukan.
Yang terhebat adalah aturan baru
Itulah kata-kata yang digaungkan kemudian para petugas penjara berdatangan sembari memasukkan selembaran pada tray slot.
Selembaran itu mengatakan bahwa para tahanan tidak akan mendekam di dalam ruangan sepanjang waktu. Mulai saat ini, mereka akan berkumpul setiap kali sarapan dan makan malam. Maksud lainnya, itu adalah adalah waktu di mana mereka bisa melepas penat dan rasa bosan yang telah ditumpuk sejak masuk ke Dakrossa melalui sebuah pertarungan. Menunjukkan siapa terhebat dan mampu bertahan hidup hingga ke puncak kemudian menjadi aturan itu sendiri.
Bagi terpidana mati ini adalah hiburan paling spektakuler sembari menunggu hari pengeksekusian. Sementara, terpidana lain menganggap Solomon tengah bermain-main atau mungkin sedang merencanakan sesuatu yang lebih gila. Bukan sekadar mengusir rasa bosan karena terlalu jenuh bekerja di tempat suram dan kaku seperti Dakrossa.
"Sebenarnya apa yang direncanakan oleh orang gila itu?"
"Apa dia berusaha mengosongkan lantai sepuluh?"
"Aku tidak sabar."
"Wah, hari-hari menuju kematianku akan terasa menyenangkan."
"Sialan! Dia memperlalukan kita lebih buruk dari binatang!"
"Aku akan melihat wajah-wajah baru besok!"
Keheningan sebelumnya segera pecah. Dalam ruangan masing-masing, semua tahanan melontarkan gunjingan serta komentar terhadap keputusan Solomon sehingga suara-suara mereka yang keluar dari tray slot memecah kesunyian di sepanjang koridor.
"Besok? Sebenarnya apa yang akan terjadi besok?"
Itulah pertanyaan yang memenuhi kepala Ilyar hingga esok harinya semua tahanan dikeluarkan dari ruang tahanan menuju ruang lebih lapang dan punya meja serta kursi batu.
Meja batu bundar itu berukuran sedang dan dikelilingi lima kursi batu yang menyatu dengan permukaan lantai sehingga tidak bisa berpindah-pindah, jadi mereka akan berbagi meja ketika makan.
Jika semua tahanan ada di sini, maka Graven pun ada!
Mata Ilyar segera berpendar untuk menangkap keberadaan pemuda itu di tengah puluhan tahanan yang baru saja berdatangan. Langkah mereka berat dan menimbulkan kebisingan karena rantai borgol bersegel yang membelit dan terhubung di antara leher, sepasang dan tangan berguncang setiap kali membuat pergerakan kecil.
Gila! Mereka semua mengerikan dan setelah diperhatikan, Ilyar-lah yang paling kecil dan termuda di sana sehingga para tahanan yang telah mengisi kursi menatapnya dengan ragu dan penasaran.
Bagaimana bisa bocah perempuan berkulit
mulus seperti bayi dengan tampang menawan nan lugu menjadi tahanan lantai sepuluh?
Kejahatan apa yang telah dia lakukan?
Kemampuan apa yang dimilikinya?
Para tahanan punya pemikiran sama. Ilyar menelan ludah, rasanya seperti berada si sarang predator dan dia merupakan mangsa paling mudah untuk disantap.
"Kenapa tidak memilih tempat dudukmu?"
Seseorang bertanya tepat di belakang punggung Ilyar.
Ilyar tersentak dan langsung menoleh ke sisi kiri, mendapati Graven berbicara dengan tubuh merunduk dekat telinganya, pangkal hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Ada apa?" Sepasang mata merah Graven berkilat dan membuat Ilyar menahan napas karena gugup. Mata itu selalu indah untuk ditatap lebih lama.
"Aku bingung memilih kursi, mereka semua menatapku dengan mengerikan," jawab Ilyar pelan.
Graven mendengkus lalu menegapkan tubuh sembari menyikut bahu Ilyar dengan pelan sebelum jalan terlebih dahulu dan berkata, "Ikuti aku."
Ilyar mengekor seperti anak bebek di belakang Graven, mengisi salah satu bagian yang kursinya tersisa tiga. Mereka yang sudah lama berada di sana memperhatikan Graven dan Ilyar secara bergantian, ternyata banyak tahanan lebih muda dari mereka.
"Huh? Tidak ada yang terjadi? Apa penjaga itu hanya menakut-nakutiku?"
Ilyar bermonolog dalam hati ketika semuanya tenang di saat makanan di antar di hadapan mereka. Nampan kayu berisi sejumlah menu makanan berporsi sedikit sudah tersuguhkan di depan mata. Ilyar tersenyum puas karena bisa menikmati makanan dengan suasana khidmat karena tidak ada kejadian buruk, tapi baru hendak menyuap sesendok makanan ke dalam mulut, sebuah nampan nyaris mengenai wajahnya kalau tangan Graven tidak memblokir benda tersebut.
Mata Ilyar terbelalak seiring berdebar tidak karuan. Lantas kepalanya terangkat, menatap situasi yang kini kacau dalam sekedip. Raungan penuh makian segera bergaung, nampan berisi makanan berhamburan ke udara sebelum teronggok dan berserakan di lantai kemudian sebagian tahanan mulai menghajar satu sama lain.
"Apa yang terjadi?" Wajah Ilyar berubah pucat.
Graven mengembuskan napas dan menikmati makanan dengan tenang. Meja mereka yang diisi tiga tahanan lain tidak ada yang bersiteru, terlihat tidak peduli dengan sekitar. Untuk saat ini mengisi perut lebih penting dari pada mengabiskan tenaga untuk pertarungan.
"Makanlah sebelum makananmu bernasib seperti itu," kata Graven sembari melirik makanan yang berserakan.
"Bagaimana bisa aku makan dengan tenang di situasi seperti ini?" Ilyar tidak berkedip ketika tahanan-tahanan di sekitarnya menghajar satu sama lain, seolah tidak ada hari esok untuk saling membunuh.
"Kamu akan terbiasa," celetuk tahanan yang berada di seberangnya.
"Aku benar-benar bisa gila, tapi... mereka semua sangat hebat," gumam Ilyar. Matanya berbinar melihat setiap tekni pertarungan orang-orang di sana.
Graven tersentak mendengar itu sehingga menoleh cepat ke arah Ilyar, menangkap sepasang mata kelabu jernih yang tidak berkedip untuk mempelajari hal-hal baru. Gadis tersebut terlalu fokus sampai mengenggam sendok begitu kuat dan tidak berminat pada makanan.
"Dia bahkan tidak sadar sudah menjadi lebih gila, "batin Graven.
***
Hari pertama pemberlakuan aturan, belasan tahanan mengalami luka parah, tapi tidak seorang pun mendapat perawatan. Mereka seperti dilepas ke alam liar demi bertahan hidup satu sama lain dengan saling memangsa.
Ilyar berpikir di hari kedua tidak akan seburuk hari pertama, tapi ternyata dugaannya salah. Para tahanan yang tidak ikut bertarung kemarin adalah mereka yang lebih hati-hati dalam memilih lawan. Tahanan yang terluka kemarin pun masih muncul dan kembali bersiteru dengan tahanan lain. Alhasil, di hari kedua ini ada dua orang yang tewas. Mereka terpidana mati.
Suasana menjadi lebih mencekam dan Ilyar sadar suatu hari akan ditargetkan. Maka dari itu, dia terus berlatih setiap ada waktu luang sembari meniru setiap pergerakan dan teknik pertarungan para tahanan yang telah dia perhatikan sepanjang hari.
"Tidak bisakah kamu membantuku?" Ilyar mencekal lengan kekar Graven ketika jam makan malam tiba.
"Apa?"
"Jadi lawan tandingku. Banyak teknik yang mau kucoba, tapi tidak efektif karena berlatih sendirian," kata Ilyar agak sedih.
"Kenapa harus aku?"
"Karena aku hanya mengenalmu!"
Mereka baru saja menuntaskan makan malam.
Graven menopang wajah lalu mengarahkan atensi pada sejumlah tahanan yang tidak bosan bertarung satu sama lain. "Aku tidak mau."
Ilyar tidak lagi memohon sehingga melepaskan tangan dari lengan pemuda tersebut. Dia terdiam cukup lama sembari memperhatikan orang-orang disana. Jika Graven tidak bisa membantu, maka ada cara lain untuk itu.
Lantas Ilyar bangkit dari posisi duduk. Berdiri cukup lama sembari menelan ludah agak gugup memandangi pertarungan. Satu langkah mulai tercipta, awalnya itu tampak berat dan lambat, tapi lama kelamaan menjadi cepat dan mantap.
Duagh!
Dalam satu lompatan amat tinggi, Ilyar mengudara dan berputar dengan satu tendangan mengarah ke kepala salah satu tahanan bertubuh besar di sana. Sejumlah tahanan yang melihat pergerakan tiba-tiba Ilyar menahan napas kemudian menyemburkan tawa sebelum bibir mereka beralih jadi seringai penuh makna. Sementara, Graven menahan tawa di ujung bibir.
"Sudah kuduga dia cepat tanggap," kata Graven.