NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Seratus Mata Air

Malam di Kota Seratus Mata Air adalah simfoni cahaya.

Ketika matahari sepenuhnya tenggelam, teratai-teratai spiritual raksasa di seluruh kota mulai bersinar—satu per satu, seperti lentera yang dinyalakan oleh tangan tak kasatmata. Cahayanya lembut, biru keperakan, menciptakan pantulan yang menari-nari di permukaan kanal dan danau. Jembatan-jembatan batu diterangi lampu minyak spiritual, dan dari kejauhan, suara musik dawai terdengar dari salah satu rumah teh terapung.

Xiao Chen berdiri di beranda vila, menatap pemandangan itu. Angin malam membawa aroma bunga teratai dan sesuatu yang manis—mungkin dari pohon buah di pulau kecil di tengah danau.

Di belakangnya, pintu geser terbuka. Wei Ling melangkah keluar, rambutnya masih basah setelah mandi di pemandian air panas vila. Gaun tidur putihnya yang sederhana menempel di kulitnya yang lembap, memperlihatkan siluet tubuhnya yang ramping.

"Kau tidak lelah?" tanyanya, duduk di bangku kayu di samping Xiao Chen.

"Aku jarang lelah."

"Beruntung." Wei Ling menyandarkan kepalanya di bahu Xiao Chen tanpa diminta—gerakan yang sudah menjadi kebiasaan sekarang. "Aku sudah memeriksa peta dari Xu Mei. Perjalanan ke Lembah Seribu Bintang akan melewati Hutan Kabut dan Ngarai Angin. Katanya ada binatang buas tingkat tinggi di sana."

"Aku tahu."

"Kau tidak khawatir?"

Xiao Chen menoleh, mencium puncak kepalanya. "Aku tidak perlu khawatir."

Wei Ling tersenyum. "Kadang-kadang aku lupa bahwa kau bisa menghancurkan gunung dengan satu jentikan."

"Hanya kadang-kadang?"

"Yah, kau juga membuatku sulit berpikir dengan semua... ciuman dan... hal-hal lain."

"Hal-hal lain?" Suara Xiao Chen merendah, nakal. "Kau harus lebih spesifik."

Wei Ling memukul lengannya, wajahnya memerah. "Kau tahu maksudku."

"Aku tahu. Tapi aku suka mendengarmu mengatakannya."

"Tidak. Aku tidak akan mengatakannya."

"Kalau begitu, biarkan aku menunjukkan."

Xiao Chen berdiri dan menarik Wei Ling ke dalam vila. Mereka melewati ruang tamu, melewati koridor dengan dinding kayu yang dihiasi lukisan pemandangan, menuju kamar Xiao Chen di ujung—kamar dengan jendela besar menghadap danau.

Begitu pintu tertutup, Xiao Chen sudah menciumnya. Tangannya membingkai wajah Wei Ling, ibu jarinya mengusap pipinya yang panas. Ciuman itu dalam, lidah bertemu, napas bercampur.

"Kau tahu," bisik Xiao Chen di antara ciuman, "setiap kali aku menciummu, kau masih tersipu seperti pertama kali."

"Karena... karena kau selalu membuatku gugup."

"Bagus."

Dia melepaskan gaun tidur Wei Ling dengan gerakan yang sudah mahir. Kain putih itu meluncur ke lantai, dan Wei Ling berdiri di hadapannya—telanjang, kulitnya bersinar dalam cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Tubuhnya yang ramping, payudaranya yang montok, pinggulnya yang mulai mekar setelah berminggu-minggu bersama Xiao Chen.

Xiao Chen mendorongnya pelan ke dipan, dan Wei Ling jatuh dengan desahan. Dia memposisikan dirinya di atasnya, mencium lehernya, bahunya, tulang selangkanya. Setiap sentuhan bibirnya meninggalkan jejak hangat di kulit Wei Ling.

"Xiao Chen..." Wei Ling melengkungkan punggungnya saat mulut Xiao Chen menemukan putingnya. Lidahnya berputar, gigi kecilnya menggigit pelan, dan Wei Ling mengerang keras—suara yang sekarang sudah tidak asing lagi di telinga Xiao Chen, tapi tetap membuatnya puas setiap kali mendengarnya.

"Kau selalu responsif," gumam Xiao Chen, beralih ke sisi satunya. "Itu salah satu hal favoritku tentangmu."

"Kau... kau punya daftar?"

"Mungkin." Xiao Chen mengangkat kepalanya, menatap matanya. Senyum nakal itu muncul. "Mau kusebutkan?"

"Jangan—"

"Pertama, caramu tersipu. Kedua, caramu mendesah saat aku menyentuhmu di sini—" Jarinya turun, menemukan bagian paling sensitifnya, dan Wei Ling tersentak. "—ketiga, caramu menyebut namaku saat kau hampir mencapai puncak."

"Xiao Chen..."

"Seperti itu."

Dia memasukkan satu jari, lalu dua, dan Wei Ling mencengkeram seprainya. Gerakannya lambat pada awalnya, membangun ritme, lalu semakin cepat. Ibu jarinya menekan titik di atas, menciptakan gesekan yang membuat Wei Ling melihat bintang.

"Aku—aku—"

"Belum." Xiao Chen menarik jarinya, dan Wei Ling mengerang frustrasi.

"Kenapa kau berhenti?!"

"Karena aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda."

Dia berbalik, memposisikan dirinya membelakangi Wei Ling. "Sekarang, giliranmu."

"A-apa?"

"Sentuh aku. Di mana pun kau mau."

Wei Ling ragu-ragu sejenak. Lalu, dengan tangan gemetar, dia menyentuh punggung Xiao Chen. Jari-jarinya menyusuri otot-ototnya, mengagumi setiap lekuk. Dia turun lebih rendah, ke pinggangnya, ke pinggulnya.

"Aku... aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

"Lakukan apa yang terasa benar."

Wei Ling menelan ludah. Lalu dia mendorong Xiao Chen hingga terlentang, dan—dengan keberanian yang baru ditemukan—dia membenamkan wajahnya di pangkuannya.

Xiao Chen mengerang saat mulut Wei Ling menemukannya. Gerakannya canggung pada awalnya, tidak pasti, tapi dia belajar dengan cepat—seperti yang selalu dia lakukan. Lidahnya berputar, bibirnya menghisap, dan setiap kali Xiao Chen mendesah, dia merasa lebih percaya diri.

"Cukup," kata Xiao Chen akhirnya, suaranya serak. "Aku ingin di dalam dirimu."

Wei Ling mengangguk, wajahnya merah padam, bibirnya sedikit bengkak. Xiao Chen menariknya ke atas, dan Wei Ling mengangkangi pinggangnya. Posisi baru—dia belum pernah mencoba ini sebelumnya.

"Kau yang mengendalikan," kata Xiao Chen. "Sesuai kecepatanmu."

Wei Ling menurunkan dirinya pelan-pelan. Sensasinya berbeda—lebih dalam, lebih penuh. Dia mendesah panjang saat Xiao Chen sepenuhnya berada di dalam dirinya. Tangannya bertumpu di dada Xiao Chen, dan dia mulai bergerak.

Perlahan pada awalnya. Lalu semakin cepat. Semakin berani.

"Kau... kau menyukaiku melakukan ini?" tanyanya di antara napas.

"Aku menyukai apa pun yang kau lakukan."

Wei Ling tersenyum—senyum malu-malu yang berubah menjadi erangan saat Xiao Chen mendorong ke atas, bertemu dengan gerakannya. Ritme mereka semakin cepat, semakin intens, menciptakan simfoni suara yang hanya milik mereka berdua.

Ketika Wei Ling mencapai puncak, dia menjatuhkan dirinya ke dada Xiao Chen, seluruh tubuhnya gemetar. Xiao Chen mengikutinya beberapa detik kemudian, melepaskan kehangatannya dengan erangan rendah.

Mereka berbaring dalam keheningan, napas mereka perlahan kembali normal. Wei Ling masih di atasnya, kepalanya di dadanya, mendengarkan detak jantungnya.

"Aku mencintaimu," bisiknya. "Aku tahu kau mungkin belum siap mengatakannya kembali, tapi aku hanya ingin kau tahu."

Xiao Chen mengusap rambutnya. "Aku mungkin tidak sepenuhnya mengerti cinta. Tapi aku tahu bahwa kau penting bagiku, Wei Ling. Lebih dari yang bisa kujelaskan."

Itu bukan "aku mencintaimu". Tapi bagi Wei Ling, itu sudah cukup. Untuk sekarang.

Keesokan paginya, suasana di meja sarapan sedikit berbeda. Bukan karena ketegangan, tapi karena sesuatu yang lebih... nyaman. Wei Ling duduk di samping Xiao Chen tanpa rasa canggung. Lin Yao duduk di seberang mereka, dan meskipun dia masih menatap Xiao Chen dengan intensitas yang sama, ada kelembutan di sana yang tidak ada sebelumnya.

Xu Mei, di sisi lain, terlihat seperti tidak tidur semalaman. Ada kantong kecil di bawah matanya, dan dia menenggak tehnya seperti obat.

"Kau baik-baik saja?" tanya Feng Mo.

"Aku baik-baik saja. Hanya... banyak pekerjaan. Peta, rute, persiapan." Xu Mei menuang teh lagi. "Aku tidak bisa tidur."

Itu tidak sepenuhnya benar. Dia tidak bisa tidur karena suara dari kamar Xiao Chen. Lagi. Dinding di vila ini memang lebih tebal dari kapal, tapi tetap saja tidak cukup tebal. Dan sekarang dia tidak bisa berhenti memikirkan suara-suara itu.

"Kau butuh istirahat," kata Xiao Chen, menatapnya dengan keprihatinan yang tulus. "Kita tidak berangkat sampai besok. Hari ini, kau bisa bersantai."

"Aku tidak perlu—"

"Aku bersikeras."

Xu Mei menatapnya. Mata ungu keemasannya hangat, penuh perhatian. Dan entah kenapa, itu membuatnya semakin sulit berkonsentrasi. "Baiklah. Tapi hanya karena kau yang meminta."

Sore harinya, Xiao Chen berjalan-jalan sendirian di pasar terapung.

Xu Mei sedang tidur di vilanya—akhirnya. Wei Ling dan Lin Yao pergi ke pemandian umum bersama beberapa kultivator perempuan yang baru mereka temui. Wei Zhen, Feng Mo, dan Zhang Yuan masih sibuk mencari informasi.

Pasar sore lebih ramai dari biasanya. Para pedagang berteriak menawarkan dagangan, anak-anak berlarian di antara perahu, dan sesekali ada kultivator yang terbang rendah di atas kanal.

Begitu Xiao Chen melangkah ke pasar, efeknya langsung terasa.

"Tuan muda! Tuan muda berambut putih!"

"Lihat! Itu dia!"

"Cepat, panggil kakakmu! Dia harus melihat ini!"

Seorang gadis kecil—mungkin tujuh tahun—berlari ke arah Xiao Chen dan berhenti tepat di depannya. Dia menatapnya dengan mata berbinar, mulutnya terbuka. "Kakak... kakak bidadari?"

Xiao Chen berjongkok, menyamakan tinggi dengannya. "Aku bukan bidadari. Aku hanya pengembara."

"Tapi rambut kakak putih! Dan mata kakak ungu! Seperti di cerita!" Gadis itu meraih rambut Xiao Chen, menyentuhnya dengan kagum. "Lembut... seperti awan..."

Ibunya—seorang wanita muda berwajah lelah dengan jubah sederhana—berlari sambil membawa bayi di gendongannya. "Maafkan anakku! Dia tidak bermaksud—" Dia berhenti, melihat Xiao Chen, dan melupakan apa yang hendak dikatakannya.

"Ti... tidak apa-apa," bisiknya akhirnya, wajahnya merah. "Dia... dia hanya ingin menyentuh rambutmu."

"Aku tidak keberatan." Xiao Chen menggendong gadis kecil itu, yang tertawa riang. "Siapa namamu?"

"Lian! Aku Lian!"

"Lian yang manis. Rambutku memang putih, lihat?" Dia membiarkan gadis itu menyentuh rambutnya lagi. "Tapi bukan dari awan. Hanya... putih."

"Kakak tinggal di sini?"

"Tidak. Aku hanya lewat."

Wajah Lian langsung sedih. "Kakak pergi?"

"Aku harus pergi. Tapi sebelum pergi..." Xiao Chen mengangkat tangannya, dan sebuah jepit rambut kecil muncul di telapaknya—berbentuk teratai, dengan batu kecil berkilau di tengahnya. Sebuah Artefak Fana tingkat Rendah yang bisa melindungi pemakainya dari bahaya kecil. "Ini untukmu."

Mata Lian membelalak. "Untukku?!"

"Untukmu. Agar kau selalu ingat bahwa kau pernah bertemu pengembara berambut putih."

Gadis itu menerima jepit itu dengan tangan gemetar. Ibunya menatap dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Tuan... kami tidak bisa menerima—"

"Sudah kubilang, aku tidak keberatan." Xiao Chen menurunkan Lian, menepuk kepalanya. "Sekarang, jadilah anak baik untuk ibumu."

Saat Xiao Chen berjalan pergi, Lian berteriak, "Aku akan jadi kultivator kuat! Dan aku akan mencari kakak!"

Xiao Chen melambai tanpa menoleh, senyum di wajahnya.

Malam itu, Xiao Chen menemukan Lin Yao di beranda. Sendirian.

Wei Ling sudah tidur—kelelahan setelah seharian di pemandian umum dan... aktivitas lain. Tapi Lin Yao masih terjaga, matanya menatap air danau yang berkilau.

"Kau tidak tidur?" tanya Xiao Chen, duduk di sampingnya.

"Aku sedang berpikir."

"Tentang apa?"

Lin Yao menoleh, menatapnya. "Tentang apa yang akan terjadi setelah Lembah Seribu Bintang. Setelah kau menemukan jawabanmu." Dia berhenti. "Apakah kau akan meninggalkan kami?"

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Karena kau berbeda. Kau bukan dari dunia ini—aku bisa merasakannya. Suatu hari nanti, kau akan pergi ke tempat yang tidak bisa kami ikuti."

Xiao Chen menatap bintang-bintang. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi satu hal yang kutahu: selama aku bisa memilih, aku tidak akan meninggalkan kalian."

"Janji?"

"Janji."

Lin Yao mengangguk. Lalu, tanpa peringatan, dia mencium Xiao Chen. Singkat, tapi penuh makna.

"Malam ini," bisiknya, "giliranku."

Xiao Chen tersenyum. "Kau yakin?"

"Aku tidak pernah melakukan apa pun tanpa keyakinan."

---

Kamar Lin Yao lebih kecil dari kamar Xiao Chen, tapi pemandangan dari jendelanya sama indahnya—danau berkilau, teratai bercahaya, bulan yang hampir purnama.

Begitu pintu tertutup, Lin Yao sudah mendorong Xiao Chen ke dinding. Agresif, seperti gaya bertarungnya. Tangannya sudah menarik-narik jubahnya, mulutnya menempel di leher Xiao Chen.

"Kau selalu terlihat terlalu tenang," gerutunya di antara ciuman. "Aku ingin melihatmu kehilangan kendali."

"Itu tantangan?"

"Anggap saja begitu."

Xiao Chen membalikkan posisi mereka. Sekarang Lin Yao yang menempel di dinding, dan Xiao Chen yang mendominasi. "Kau suka tantangan, ya?"

"Kau tahu aku suka."

Dia menciumnya—keras, intens, penuh gairah. Tangannya merobek jubah Lin Yao (dia akan menyesalinya nanti, tapi sekarang dia tidak peduli). Tubuh Lin Yao yang atletis terbuka, bekas luka di perutnya berkilau dalam cahaya bulan, otot-ototnya tegang karena antisipasi.

"Aku ingin kau dari belakang," kata Lin Yao tiba-tiba.

Xiao Chen mengangkat alis. "Kenapa?"

"Karena aku ingin merasakanmu lebih dalam. Dan karena... aku ingin melihat bintang-bintang saat kau melakukannya."

Dia berbalik, tangannya bertumpu di jendela. Punggungnya melengkung, dan Xiao Chen memposisikan dirinya di belakangnya. Satu dorongan, dan keduanya mendesah bersamaan.

Gerakan Xiao Chen semakin cepat, semakin keras, dan Lin Yao menahan erangannya dengan menggigit bibirnya sendiri.

"Jangan tahan," bisik Xiao Chen di telinganya. "Aku ingin mendengarmu."

"Orang... orang akan dengar..."

"Biarkan."

Lin Yao melepaskan. Erangannya keras, panjang, bergema di seluruh vila. Dia tidak peduli lagi. Yang ada hanyalah Xiao Chen—di dalam dirinya, di sekelilingnya, mengisi setiap bagian dari dirinya.

Ketika mereka selesai, mereka terkulai di dipan, napas tersengal. Lin Yao berbaring di dada Xiao Chen, rambutnya berantakan, matanya setengah tertutup.

"Aku tidak akan pernah mengakuinya di depan umum," bisiknya, "tapi... aku mencintaimu."

Xiao Chen mencium keningnya. "Aku tahu."

"Jangan sombong."

"Aku tidak sombong. Aku hanya jeli."

Lin Yao memukulnya. Tapi kali ini, tidak ada tenaga di balik pukulan itu.

Bersambung ke Episode 7...

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!