NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kandang Ayam Dibakar Orang

Malam itu udara terasa lebih panas dari biasanya. Angin berhembus kencang, membawa debu kering dan bau hangus yang samar-samar tercium dari arah kampung. Raka terbangun tengah malam karena suara anjing menggonggong liar di kejauhan. Instingnya sebagai anak yang tumbuh di lingkungan keras berkata ada sesuatu yang tidak beres.

Ia menoleh ke samping. Tempat tidur Nisa kosong.

"Nisa?" panggil Raka panik. Hatinya berdebar kencang. Ia ingat Bu Indah menjemput Nisa sore tadi untuk menginap di rumahnya karena Raka harus mengurus berkas beasiswa sendirian di sekolah. Tapi kenapa Nisa belum kembali? Atau jangan-jangan...

Raka segera mendorong kursi rodanya keluar dari kamar gudang sekolah. Langit malam tampak merah menyala di ufuk timur. Bukan merah matahari terbit, tapi merah api.

"Ya Allah... itu arah kandang!" teriak Raka. Darahnya berdesir hebat. Meskipun mereka sudah pindah, kandang ayam tua itu masih menyimpan sisa-sisa barang berharga mereka: foto almarhum orang tua, buku-buku pelajaran Nisa, dan sedikit uang tabungan yang disembunyikan di balik dinding bambu.

Tanpa pikir panjang, Raka memacu kursi rodanya menuruni jalan setapak yang berbatu. Roda kursinya bergemuruh di atas tanah kering, semakin cepat seiring dengan jarak yang semakin dekat ke sumber cahaya merah itu.

Saat tiba di lokasi, pemandangan di depannya membuat napasnya tercekat.

Kandang ayam yang dulu menjadi rumah sekaligus sekolah darurat bagi Raka dan Nisa, kini telah menjadi lautan api. Lidah api menjilat tinggi ke langit, mengubah malam gelap menjadi siang yang mencekam. Panasnya begitu hebat hingga Raka bisa merasakannya dari jarak sepuluh meter. Asap hitam pekat membubung tinggi, menutupi bintang-bintang di langit.

"Tolong! Ada orang di dalam! Tolong!" teriak beberapa warga yang baru datang, tapi mereka hanya berdiri melingkar, takut mendekat. Air dari ember-ember kecil yang mereka bawa seperti percuma dihadapkan pada amukan api sebesar itu.

Di tengah kerumunan, Raka melihat sosok kecil berlari menuju api. Itu Nisa!

"NISA! JANGAN!" teriak Raka histeris.

Ternyata Nisa tidak sengaja tertinggal saat mengambil boneka kelinci kesayangannya yang terselip di celah dinding belakang sebelum api membesar. Kini, si kecil itu terjebak di sisi belakang kandang yang atapnya mulai runtuh. Api menghalangi jalan masuk, dan Nisa menangis tersedu-sedu, batuk-batuk karena menghirup asap.

"Kakak! Aku takut!" jerit Nisa dari balik tirai api.

Warga sekitar saling pandang, tak ada yang berani menerobos. Panasnya sudah tidak manusiawi. Balok-balok kayu mulai patah dan jatuh dengan suara dentuman mengerikan.

"Biarkan saja! Sudah terlambat!" teriak seseorang. "Nanti malah ikut mati!"

Raka mengepalkan tangan di atas roda kursinya. Matanya memerah menahan marah dan takut. *Tidak,* batinnya. *Aku tidak akan kehilangan adikku lagi. Tidak hari ini.*

Dengan tenaga yang seolah datang dari Tuhan, Raka memutar kursi rodanya, mencari jalur alternatif. Ia ingat ada jalan tikus di sisi kanan kandang, jalur sempit yang biasa dipakai ayam keluar masuk, tertutup semak belukar. Jalur itu mungkin masih aman dari api utama.

"Minggir!" teriak Raka pada warga yang menghalangi. "Minggir!"

Dengan susah payah, ia mendorong kursi rodanya masuk ke semak-semak berduri. Duri-duri itu mencakar lengan dan wajahnya, tapi Raka tidak peduli. Rasa sakit itu nichts dibandingkan dengan rasa takut kehilangan Nisa.

Ia sampai di dinding belakang. Api sudah mulai merambat ke sana. Atap seng mulai meleleh, meneteskan cairan panas seperti hujan logam. Nisa terlihat terpojok di sudut, matanya terpejam rapat menahan perih asap.

"Nisa! Dengar suara Kakak!" teriak Raka menembus deru api. "Lari ke arah Kakak! Cepat!"

Nisa membuka mata, melihat kakaknya yang berjuang menembus semak dengan kursi roda. Dengan sisa tenaga, ia merangkak menghindari balok yang jatuh, lalu berlari kecil menuju Raka.

Saat Nisa hampir sampai, sebuah balok kayu besar terbakar jatuh tepat di depan mereka, menghalangi jalan keluar. Nisa menjerit ketakutan.

Raka tidak punya pilihan lain. Ia harus menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai.

"Cepat, Dek! Masuk ke pangkuan Kakak!" perintah Raka tegas.

Nisa menurut, merangkak masuk ke antara kaki Raka yang lumpuh, lalu memeluk erat pinggang kakaknya. Raka kemudian memposisikan tubuh bagian atasnya melindungi kepala Nisa dari percikan api dan reruntuhan kecil.

"Sekarang kita keluar!" gumam Raka.

Dengan satu tangan memeluk Nisa erat-erat, dan tangan lainnya mendorong roda kursi sekuat tenaga, Raka memundurkan kursinya melewati jalur sempit itu. Panas api membakar punggung bajunya. Bau rambut gosong mulai tercium. Tapi Raka terus mendorong, gigi terkunci, urat leher menonjol.

"Ayo... ayo..." desisnya.

Akhirnya, setelah terasa seperti satu abad, mereka berhasil keluar dari zona bahaya. Raka menjatuhkan diri dari kursi rodanya, terguling ke tanah berdebu bersama Nisa. Keduanya batuk-batuk hebat, wajah mereka hitam oleh jelaga, pakaian mereka hangus di beberapa bagian.

Warga yang tadinya hanya menonton dengan diam, kini bersorak lega. Beberapa orang segera menghampiri, membawa air dan selimut.

"Anak itu gila! Dia lumpuh tapi nekat masuk api!" seru seorang bapak dengan takjub.

"Hebat sekali... dia menyelamatkan adiknya sendiri," ucap ibu-ibu lain sambil mengusap air mata.

Di tengah keriuhan itu, Bu Indah datang berlari, wajahnya pucat pasi saat melihat kondisi Raka dan Nisa. Ia langsung memeluk keduanya erat-erat, tangisnya pecah.

"Syukur... syukur kalian selamat," isak Bu Indah. "Kalian gila tahu tidak? Kenapa nekat begitu?"

Raka tersenyum lemah, usap-usap kepala Nisa yang masih gemetar. "Kalau bukan aku, siapa lagi, Bu? Nisa cuma punya aku."

Namun, di balik kelegaan itu, ada kemarahan yang mulai mendidih di dada Raka. Saat petugas pemadam kebakaran mulai menguasai situasi, seorang pemuda tetangga yang sedang membantu memadamkan api menemukan sesuatu di semak dekat lokasi kejadian.

"Pak RT! Lihat ini!" teriak pemuda itu sambil mengangkat sebuah botol kaca bekas berisi kain yang masih menyala sedikit. "Ini bukan kecelakaan! Ini disengaja! Ada sumbu buatan dari kain dan minyak tanah!"

Suasana hening seketika. Semua mata tertuju pada botol itu.

"Siapa yang tega melakukan ini?" tanya Pak RT geram. "Ini ada anak kecil di dalamnya! Kalau sampai meninggal, dosanya besar!"

Raka menyipitkan matanya. Ingatannya melayang pada kejadian sore tadi. Bu Ijah. Ancamannya. Wajah puas wanita itu saat melihat Raka ragu-ragu menerima beasiswa. Dan sekarang, kandang—satu-satunya saksi bisu perjuangan mereka—hangus tak bersisa.

"Ini pekerjaan Bu Ijah," gumam Raka pelan, tapi cukup terdengar oleh Bu Indah dan Pak RT.

"Tidak mungkin..." buktikan dulu, Nak," kata Pak RT, meski wajahnya juga menunjukkan kecurigaan yang sama.

Tapi Raka yakin. Api ini bukan sekadar bencana. Ini adalah serangan. Serangan terhadap mimpi mereka. Serangan terhadap nyawa Nisa.

Malam itu, di bawah sinar lampu sorot mobil damkar, Raka duduk memeluk Nisa yang sudah tertidur lelah dalam dekapan Bu Indah. Ia menatap puing-puing kandang yang masih berasap. Matanya tidak lagi menampilkan ketakutan, melainkan tekad baja yang dingin.

"Mereka pikir dengan membakar kandang, mereka bisa membakar semangatku," bisik Raka pada angin malam. "Mereka salah. Abu ini justru akan menjadi saksi bahwa aku tidak akan pernah berhenti. Jika mereka ingin perang, maka aku akan lawan dengan prestasi yang tidak akan pernah bisa mereka bakar."

Bu Ijah mungkin berpikir ia telah menang malam ini. Tapi ia tidak tahu, bahwa tindakan jahatnya justru telah memicu sesuatu yang jauh lebih besar daripada api: Kebangkitan seorang pahlawan sejati.

Dan besok, Raka akan memastikan seluruh kampung, bahkan seluruh Indonesia, tahu siapa dalang sebenarnya. Tidak ada lagi tempat bersembunyi bagi kejahatan.

Langit mulai cerah di ufuk timur. Matahari akan segera terbit, menyinari puing kehancuran, tapi juga menyinari wajah Raka yang penuh determinasi. Perang baru saja dimulai.

1
Ray Penyu
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!