NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: HADIAH UNTUK SANG BENALU

Malam jamuan itu tiba. Mansion keluarga Halim tampak begitu gemerlap, lampu-lampu kristal memancarkan cahaya yang memantul di lantai marmer yang licin. Mobil-mobil mewah berderet di halaman, menandakan bahwa tamu yang hadir bukan orang sembarangan.

Di dalam mobil, Alzena—atau Arcelia—duduk dengan tenang. Ia mengenakan gaun sutra berwarna merah darah yang membalut tubuh kurusnya dengan sempurna. Ia sengaja memilih warna yang mencolok, sangat kontras dengan Alzena yang dulu selalu memakai warna-warna pucat agar tidak terlihat. Riasan wajahnya tajam, terutama di bagian mata, memberikan kesan dingin dan berani.

Keano yang duduk di sampingnya sesekali melirik. Ia tidak menyangka Alzena akan memilih gaun seberani itu. Ada kilatan bangga sekaligus posesif di matanya.

"Ingat," bisik Keano saat mobil berhenti tepat di depan lobi. "Tetap di sampingku. Jangan membuat keributan yang bisa merusak nama Winchester."

Alzena hanya menyeringai kecil sambil merapikan antingnya. "Tergantung mereka, Keano. Kalau mereka nggak nyari masalah, gue juga bakal anteng. Tapi kalau mereka mulai... lo tahu sendiri kan gue nggak suka dipermaluin?"

Keano hanya bisa mengembuskan napas panjang. Ia turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Alzena—sebuah perlakuan yang membuat para pelayan keluarga Halim yang berjaga di depan pintu terbelalak. Keano Winchester, pria sedingin es itu, membukakan pintu untuk istrinya?

Mereka melangkah masuk ke aula besar. Begitu kaki Alzena menginjak lantai rumah itu, aroma masa lalu yang menyesakkan langsung menyambutnya. Memori tubuh Alzena berteriak, mengingatkannya pada setiap hinaan yang pernah ia terima di bawah atap ini.

"Alzena! Akhirnya kamu datang juga, Kak!"

Suara Shania memecah suasana. Gadis itu berlari kecil mendekat, mengenakan gaun berwarna merah muda lembut yang membuatnya tampak seperti malaikat suci. Ia langsung mencoba meraih tangan Alzena untuk memeluknya, tapi Alzena dengan sengaja mengangkat tangannya untuk membetulkan rambut, membuat Shania memeluk angin.

"Oh, hai Shania. Maaf, gue nggak liat lo," ujar Alzena datar.

Wajah Shania berubah kaku sesaat sebelum kembali tersenyum manis. "Kakak sudah sehat? Shania khawatir sekali kemarin Kakak pingsan lagi."

"Gue sehat. Lebih sehat dari orang yang hobinya ngurusin hidup orang lain," jawab Alzena telak.

Keano menahan senyum di balik wajah datarnya. Ia bisa merasakan Shania mulai gemetar karena kesal.

Tak lama, Aldric Halim datang mendekat bersama Mirelle. Mirelle tampak lebih segar malam ini, matanya berkaca-kaca saat melihat Alzena. Ia ingin mendekat, tapi Aldric menghalanginya dengan tatapan kaku.

"Kau datang juga," ujar Aldric dingin. "Kuharap kau tidak melakukan hal bodoh malam ini, Alzena. Ini acara penting untuk investasi baru kita."

Alzena menatap ayahnya tanpa rasa takut. "Tenang aja, Pa. Selama Papa nggak nyalahin aku buat hal-hal yang nggak aku lakuin, semuanya bakal lancar."

Jamuan makan malam dimulai. Suasana terasa sangat formal dan kaku. Shania, yang merasa posisinya terancam karena perhatian Keano kini terus tertuju pada Alzena, mulai melancarkan rencananya.

"Oh iya, Tuan Keano," Shania membuka suara di tengah keheningan makan malam. "Aku dengar Alzena sekarang suka sekali bermain komputer ya? Bahkan sampai memasang kunci canggih di kamarnya. Padahal dulu, menyalakan laptop saja dia sering bingung."

Aldric mengerutkan kening. "Benarkah? Untuk apa kau melakukan itu, Alzena? Kau menyembunyikan sesuatu?"

Alzena tetap tenang memotong steak-nya. Ia tahu Shania sedang mencoba menggiring opini bahwa dia menyembunyikan "selingkuhan" atau hal negatif lainnya.

"Aku cuma butuh privasi, Pa. Di rumah sebesar itu, banyak mata-mata yang nggak tau diri. Jadi lebih baik aku jaga-jaga," sindir Alzena sambil melirik Shania.

"Tapi Kak..." Shania melanjutkan dengan nada sedih yang dibuat-buat. "Aku tidak sengaja melihat riwayat pencarianmu di komputer ruang tamu saat kamu berkunjung bulan lalu. Kamu... kamu mencari soal panti asuhan dan anak hilang? Apa kamu masih terobsesi dengan 'dia'? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mengungkit masa lalu yang menyakitkan bagi Ibu?"

Seketika, suasana meja makan membeku. Wajah Mirelle mendadak pucat pasi, sementara Aldric membanting garpunya ke piring. Brak!

"Alzena! Sudah kubilang jangan pernah bahas soal itu lagi!" bentak Aldric. "Kau ingin membunuh ibumu dengan kesedihan?"

Alzena meletakkan pisau dan garpunya pelan. Ia menatap Shania yang kini memasang wajah sok prihatin. Di bawah meja, tangan Keano menggenggam tangan Alzena, mencoba memberinya peringatan untuk diam.

Tapi ini Arcelia. Dia tidak akan diam saat dipojokkan.

"Kenapa Papa marah?" tanya Alzena tenang. "Apa mencari kebenaran tentang keluarga sendiri itu salah? Atau... Papa takut kalau aku nemuin sesuatu yang selama ini sengaja ditutup-tutupi?"

"Jaga bicaramu!" teriak Aldric.

"Shania," Alzena menoleh pada adik tirinya itu. "Lo bilang lo liat riwayat pencarian gue? Lucu banget. Padahal komputer ruang tamu itu udah gue pasang sistem enkripsi yang nggak mungkin bisa ditembus sama orang awam kayak lo. Kecuali... lo emang punya hobi nguping dan nyadap?"

"A-apa maksudmu, Kak? Aku cuma..."

"Dan soal hadiah yang lo siapin buat gue malam ini," Alzena mengeluarkan ponselnya dan menaruhnya di meja. "Hadiah lo udah gue 'terima'. Rekaman CCTV butik kemarin saat lo nyuruh orang buat naruh barang di tas gue? Udah gue hapus dari server butik, tapi gue simpen salinannya di sini."

Alzena memutar sebuah video singkat di ponselnya. Di sana terlihat jelas Shania sedang memberikan sejumlah uang pada seorang pelayan butik untuk memasukkan sebuah perhiasan ke dalam tas Alzena.

Wajah Shania memucat seputih kertas. Tamu-tamu lain yang duduk di dekat mereka mulai berbisik-bisik. Aldric terpaku melihat video itu.

"Ini... ini fitnah! Tuan Keano, Alzena memfitnahku!" seru Shania sambil mulai menangis.

Keano berdiri, auranya yang dingin membuat seisi ruangan merinding. Ia menatap Shania dengan tatapan yang sangat tajam. "Winchester tidak pernah mentoleransi kecurangan, apalagi yang ditujukan pada anggota keluarga kami. Shania, sebaiknya kau tutup mulutmu sebelum aku yang menutup perusahaan ayahmu."

Keano menarik Alzena untuk berdiri. "Jamuan ini sudah tidak menarik lagi. Ayo pulang."

Alzena tersenyum penuh kemenangan pada Shania yang kini tertunduk malu. Saat melewati ayahnya, Alzena berbisik pelan, "Lain kali, Pa... jangan percaya sama ular yang lo pelihara di rumah sendiri."

Saat mereka menuju pintu keluar, Ibu Mirelle tiba-tiba mengejar. Ia memegang lengan Alzena dengan gemetar. "Alzena... tunggu."

Alzena berhenti. Tatapannya melunak saat melihat ibunya.

"Pita merah itu..." bisik Mirelle pelan. "Ibu melihatnya di tasmu tadi saat kau mengambil ponsel. Itu... itu milik adikmu, kan?"

Jantung Alzena berdegup kencang. Ia belum sempat menjawab saat Keano sudah menariknya masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, suasana sunyi menyelimuti mereka. Alzena menyandarkan kepalanya di jok mobil, merasa sangat lelah. Konfrontasi tadi menguras tenaganya yang belum pulih benar.

Tiba-tiba, Keano menarik tubuh Alzena dan memeluknya erat. Sangat erat.

"Lo... lo ngapain lagi sih, Keano?" gumam Alzena kaget.

"Diamlah," bisik Keano di ceruk lehernya. "Kau tadi hebat. Tapi jangan pernah berani melakukan hal berbahaya seperti itu lagi sendirian. Kau membuatku takut kehilangan kendali."

Alzena terdiam. Ia bisa merasakan detak jantung Keano yang cepat. Ia mulai menyadari satu hal: Keano benar-benar mulai terobsesi padanya. Dan entah kenapa, rasa nyaman yang ia rasakan di pelukan pria ini terasa sangat akrab. Seperti sebuah potongan puzzle yang akhirnya menemukan pasangannya.

"Keano," bisik Alzena.

"Hmm?"

"Lo... lo beneran sayang sama gue, atau cuma karena lo merasa gue 'berguna' buat bisnis lo?"

Keano melepaskan pelukannya, menangkup wajah Alzena dengan kedua tangannya. Ia menatap dalam-dalam ke mata istrinya. "Aku tidak peduli pada bisnis. Aku hanya tahu... aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi. Siapa pun kau, Alzena... atau siapa pun namamu yang sebenarnya... kau milikku."

Alzena membeku. Siapa pun namamu yang sebenarnya? Apa Keano sudah mulai menyadari sesuatu?

Misteri ini semakin rumit, tapi bagi Arcelia, permainan baru saja dimulai. Dan target selanjutnya bukan lagi Shania, tapi mencari tahu siapa sebenarnya anak yang hilang itu—dirinya sendiri.

...****************...

keano dan alzena

...****************...

TBC

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!