NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Genangan merah pekat di lantai Paviliun Pedang Patah perlahan mulai mengering, meninggalkan bau besi karat yang menempel di dinding batu.

Di tengah-tengah menetap di ladang itu, Lin Ruoxue berjongkok dengan wajah pucat dan rahangnya yang tebal. Tangan kirinya memegang pedang baja biasa untuk mencongkel inti siluman dari tengkorak monster yang mati bercampur dengan mayat murid sekte, sementara tangan endometrium yang mengenakan Cincin Ruang kosong sibuk memungut setiap kantong penyimpanan, senjata utuh, hingga potongan taring siluman yang bernilai jual.

Ia merasa luar biasa terhina. Sebagai lawan yang baru saja menembus tahap empat Kondensasi Qi dan memegang senjata legendaris, ia diperlakukan tidak lebih baik dari seekor anjing pemulung. Setiap kali ia menyentuh daging yang membusuk, menggerogoti bergejolak, namun Segel Teratai Hitam di dahinya berputar perlahan, mengingatkan bahwa ia tidak punya hak untuk menolak.

"Jangan melewatkan Logam Bintang di sudut sana. Kau melewatkan dua langkahnya," suara Jiang Xuan terdengar datar dan tanpa belas kasihan, mengawasi dari dekat ambang pintu yang hancur.

Lin Ruoxue menghancurkan gigi, membalikkannya dengan kaku, dan memungut logam berdarah itu. Di dalam hatinya, ia membayangkan merobek tenggorokan pemuda itu.

Di dekat kaki Jiang Xuan, tumpukan tengkorak bergeser. Baozi, yang baru saja pulih dari ketakutannya, melihat sebuah batu kristal kecil yang berkilau di kumpulan darah. Air liur menetes dari hidung mungilnya. Gumpalan bulu putih itu mengendap-endap, membuka mulutnya lebar-lebar untuk menelan batu itu.

Sret!

Ujung Pena Kuas Tulang tiba-tiba menancap di lantai batu, tepat dua milimeter dari hidung Baozi. Niat Membunuh murni menguar dari gagang tulang itu.

"Telan batu itu, dan aku akan merobek perutmu untuk mengambilnya kembali dari ususmu," ancam Jiang Xuan dengan suara sangat pelan namun kotor. "Semua yang berkilau di ruangan ini adalah milikku. Berhentilah mengais seperti babi kelaparan."

Baozi langsung menutup mulut, menegakkan sayap kecilnya dalam pose hormat yang kaku, lalu beringsut mundur dan melompat masuk kembali ke dalam jubah Jiang Xuan, tak berani bersuara "Kyuu" sedikit pun.

Setelah Lin Ruoxue selesai memasukkan semua jarahan ke dalam cincinnya (yang statusnya hanyalah sebagai ruang penyimpanan sekunder milik Jiang Xuan), sang Cendekiawan Tinta Hantu melangkah keluar paviliun.

Jiang Xuan memusatkan Qi-nya. Mata kirinya menyala keemasan.

Bzzzt.

Roda Langit berputar cepat, menembus kabut kelabu dan struktur sekelilingnya yang menghalangi pandangan fana. Ia memindai seluruh Area Inti. Di ujungnya tersebar, tepat di pusat labirin batu bawah tanah ini, menjulang sebuah menara batu raksasa yang puncaknya menembus langit-langit gua.

Dari menara itu, terbentang sebuah Benang Takdir Raksasa. Namun kali ini, warnanya bukan emas terang seperti harta, melainkan merah darah yang luar biasa pekat dan berdenyut seperti jantung yang dikuliti.

"Benang merah darah..." monolog Jiang Xuan dalam hati, otaknya menganalisis tanpa henti. "Tanda dari bahaya ekstrem dan kematian absolut. Tetapi posisinya yang menembus Langit Sembilan Tingkat dari gua ini menunjukkan bahwa menara itu adalah titik koneksi ruang. Itu adalah satu-satunya jalan keluar dari reruntuhan terkutuk ini."

Harta telah diamankan. Pasukan perintis telah dibantai. Tidak ada lagi nilai yang tersisa di area bawah ini.

"Jalan," perintah Jiang Xuan, mengarahkan ujung kuasnya ke arah utara. "Tujuan kita adalah Menara Pusat. Berada di depanku sejauh sepuluh langkah. Jangan lengah."

Mereka berdua berjalan menembus kabut Area Inti. Lin Ruoxue di depan, tangan kanannya kini menggenggam Pedang Ratapan Musim Dingin yang memancarkan kabut biru tipis. Udara di sekitar gadis itu secara alami turun beberapa derajat, efek dari meridian esnya yang telah dibersihkan sepenuhnya.

Satu jam perjalanan berlalu dalam keheningan yang mencekam, hanya diselingi suara sepatu bot yang menginjak kerikil dan tulang-belulang kering.

Saat mereka memasuki sebuah ngarai sempit yang diapit oleh dua tebing batu hitam, langkah Lin Ruoxue terhenti tiba-tiba. Insting barunya memperingatkan adanya fluktuasi Qi yang sangat kuat menutupi jalur di depan mereka.

Dari balik bongkahan batu besar yang menghalangi ujung ngarai, muncullah lima sosok manusia.

Mereka adalah kelompok elit murid luar Sekte Awan Azure. Pakaian mereka bersih dari darah, menandakan bahwa mereka tidak perlu bertarung dengan susah payah karena kekuatan mereka yang mendominasi. Di barisan paling depan, berdiri seorang pemuda tampan dengan jubah sutra abu-abu mahal, memegang sebuah tombak perak yang memancarkan aura panas.

Dia adalah Wang Tian, murid jenius peringkat kedua di sekte luar, tepat berada di bawah bayang-bayang Ye Chen. Kultivasinya telah mencapai tahap delapan Kondensasi Qi, sebuah puncak mutlak di antara para umpan meriam.

Wang Tian dan kelompoknya sedang dalam perjalanan memburu siluman tingkat tinggi, namun langkah mereka terhenti saat melihat siapa yang datang.

"Oh? Bukankah ini pemandangan yang menarik," Wang Tian tersenyum arogan, memutar tombaknya dengan gaya meremehkan. Matanya langsung tertuju pada Lin Ruoxue. Ia menyadari fluktuasi Qi gadis itu telah meningkat drastis, tetapi yang paling membuat matanya terbakar keserakahan adalah pedang kristal es di tangannya.

"Sebuah senjata tingkat pusaka? Di tangan seorang gadis yatim tanpa latar belakang?" Wang Tian tertawa keras, didukung oleh kekehan merendahkan dari empat anak buahnya yang berada di tahap enam. "Dan kau ditemani oleh si sampah Jiang Xuan? Apa yang kau lakukan, Adik Lin? Apakah kau menjual tubuhmu pada sampah tahap dua ini demi perlindungan di reruntuhan?"

Lin Ruoxue menggertakkan gigi. Penghinaan itu membuat hawa dingin di sekitarnya mengeras menjadi bunga es di tanah.

Wang Tian melangkah maju, memancarkan tekanan tahap delapannya secara penuh untuk mengintimidasi. "Serahkan pedang itu padaku, Lin Ruoxue. Senjata seperti itu hanya akan membawa malapetaka bagi orang lemah sepertimu. Sebagai gantinya, aku akan mengizinkanmu bergabung dengan kelompokku. Tentu saja, kau harus 'melayaniku' setiap malam sebagai bentuk rasa syukur."

Jiang Xuan, yang berdiri sepuluh langkah di belakang Lin Ruoxue, tidak menunjukkan sedikit pun reaksi emosional. Tidak ada kemarahan atas penghinaan Wang Tian, tidak ada ketakutan akan perbedaan kultivasi. Di matanya, Wang Tian hanyalah batu asahan berukuran agak besar.

Seringai yang luar biasa kejam dan kalkulatif terukir di wajah pucat Jiang Xuan. Ia menyilangkan lengannya, sama sekali tidak berniat mengangkat Pena Kuas Tulangnya. Ia telah berinvestasi besar pada gadis di depannya. Saatnya melihat dividen dari investasinya.

"Pelayan," panggil Jiang Xuan, suaranya sangat tenang, namun memotong seluruh tawa kelompok Wang Tian.

Lin Ruoxue menoleh sedikit tanpa mengalihkan pandangan utamanya dari musuh.

"Kau membenci dirimu karena dipaksa melayaniku, bukan? Kau butuh pelampiasan," Jiang Xuan menatap gadis itu dengan kekosongan klinis. "Mereka adalah milikmu. Bunuh semuanya. Uji pedangmu."

Mendengar perintah yang meremehkan itu, wajah Wang Tian memerah karena amarah. "Sampah arogan! Kau pikir pelacur tahap empat ini bisa melawan kami?! Cincang mereka berdua!"

Empat murid tahap enam menerjang maju secara bersamaan. Senjata mereka dilapisi Qi tebal, berniat merobek tubuh Lin Ruoxue menjadi serpihan daging.

Namun, saat mereka memasuki radius lima langkah dari gadis itu, neraka beku meledak.

Lin Ruoxue tidak berteriak. Ia tidak melolong. Mata hitamnya berubah sepenuhnya hampa, memancarkan esensi murni dari Iblis Es Hitam. Ia menggenggam erat gagang Pedang Ratapan Musim Dingin dan menebaskannya dalam satu lingkaran horizontal yang sempurna.

WUSSSHHH!

Udara di ngarai sempit itu anjlok melampaui titik beku dalam seperseribu detik. Sebuah gelombang kabut biru melesat dari bilah kristal pedang itu.

KRAAAK!

Keempat murid tahap enam itu bahkan tidak sempat menyentuh ujung baju Lin Ruoxue. Saat gelombang es itu menerpa mereka, tubuh mereka membeku di udara. Darah di dalam pembuluh mereka mengkristal dengan bunyi seperti kaca yang retak. Pertahanan Qi mereka hancur layaknya kertas basah. Mereka jatuh ke tanah bukan sebagai mayat, melainkan sebagai patung es murni dengan ekspresi teror yang membeku permanen.

Wang Tian terhenti. Langkah kakinya membatu. Matanya melotot hingga nyaris keluar dari rongganya melihat empat elit sekte hancur dalam satu sapuan pedang.

"B-bagaimana mungkin..." Wang Tian tergagap, keringat dingin meluncur dari dahinya dan langsung membeku menjadi butiran es. "Kau hanya tahap empat! Ini tidak masuk akal!"

"Mati."

Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Lin Ruoxue. Suaranya tidak lagi terdengar seperti manusia, melainkan bisikan badai salju.

Gadis itu melesat maju. Kecepatannya tidak bisa dipahami oleh logika Kondensasi Qi. Ia menyatu dengan kabut es yang ia ciptakan. Wang Tian meraung putus asa, menjejakkan seluruh Qi apinya ke arah tombak peraknya dan menekannya ke depan dengan kekuatan penghancur gunung.

Tombak Naga Api Pembelah Awan!

Lin Ruoxue tidak menghindar. Ia menyongsong ujung tombak api itu dengan ujung pedang kristalnya.

TING!

Terjadi benturan yang sangat ringan dan presisi. Namun hasilnya sangat brutal. Api tahap delapan milik Wang Tian padam seketika, tertelan oleh afinitas es absolut dari Pedang Ratapan Musim Dingin. Udara beku menembus gagang tombak Wang Tian, membekukan kedua tangan hingga ke bahu.

"A-AAAARGH!" Wang Tian menjerit histeris saat lengannya mati rasa total, otot dan tulangnya berubah menjadi es batu.

Tanpa belas kasihan sedikit pun, Lin Ruoxue memutar pergelangan tangan. Bilah pedang kristal itu meluncur mulus membelah udara, melewati leher Wang Tian tanpa perlawanan berarti.

SRET.

Tidak ada darah yang memercik. Luka di leher Wang Tian langsung tertutup oleh lapisan bunga es. Kepala pemuda jenius itu bergeser dari posisi, lalu jatuh tabrakan tanah mewah, pecah belasan kepingan es merah layaknya vas kaca yang dijatuhkan dari tebing. Tubuh tanpa kepalanya masih berdiri kaku, tertutup es abadi.

Pertarungan berakhir dalam waktu kurang dari lima tarikan napas.

Lin Ruoxue berdiri di tengah jurang. Napasnya teratur. Ia mengibaskan Pedang Ratapan Musim Dingin, menghilangkan sisa es dari bilahnya. Kengerian akan kekuatannya sendiri sempat membuatnya gemetar sejenak, namun hawa pembunuh yang mendidih di darahnya perlahan mulai menenangkan pikiran.

Di belakangnya, terdengar langkah kaki sepatu bot yang sangat santai, menginjak lapisan es tanpa ragu.

Jiang Xuan berjalan melewati lima patung manusia tersebut. Wajahnya tidak memancarkan kegembiraan, apalagi kebanggaan. Ia mengungkap karya membunuh Lin Ruoxue dengan pandangan seorang insinyur yang puas melihat mesin barunya berfungsi sesuai spesifikasi cetak biru.

"Sedikit berantakan di tebasan pertama, tapi efisien untuk pemula," komentar Jiang Xuan datar, sama sekali tidak menoleh ke arah sisa-sisa tubuh Wang Tian. Ia tidak perlu repot-repot memungut kantong penyimpanan mereka, karena ia tahu Lin Ruoxue akan melakukannya tanpa perlu repot.

Sang Cendekiawan Tinta Hantu terus berjalan lurus ke depan, mengarah ke siluet Menara Pusat yang menjulang gelap di ujung ngarai.

"Kerja bagus, Pedangku. Bersihkan sisa-sisanya dan ikuti aku. Kita punya satu perhentian terakhir sebelum meninggalkan tempat pembuangan sampah ini."

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
serasa gigitan nyamuk, kata na 😱
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Teteh Lia: makasih penjelasan na, kak. maaf saya banyak tanya.
saya kurang paham cerita genre seperti ini.
total 5 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!