"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 Identitas Baru: Pendekar Jubah Hitam Pembawa Maut
Pertarungan di Aula Utama telah usai. Tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi perlawanan. Yang tersisa hanyalah puing-puing bangunan, tumpukan mayat setinggi bukit, dan genangan darah yang mengering di lantai marmer.
Li Yao berdiri tegak di tengah medan perang itu. Aura Puncak Qi Naga yang ia miliki kini terkunci rapat di dalam tubuhnya, namun tekanan yang dipancarkannya masih membuat udara di sekitar terasa berat dan sulit bernapas.
Di hadapannya, hanya tersisa beberapa orang pemimpin tinggi yang masih bernyawa, namun kini mereka sudah tidak memiliki kekuatan untuk berdiri. Mereka merangkak mundur, wajah mereka dipenuhi ketakutan yang tak terhingga.
"Tolong... ampun... Ampunilah kami, Dewa Maut..." isak Tetua Klan yang dulu sombong itu. Kini ia terlihat seperti orang tua menyedihkan yang memohon belas kasihan.
Li Yao menatap mereka dengan tatapan yang sedingin es. Tidak ada ampun, tidak ada ragu.
"Kalian tidak memohon saat membantai keluargaku. Kalian tidak menangis saat membakar desaku. Jadi jangan berharap aku akan menangis untuk nasib kalian sekarang," ucapnya datar.
Sret!
Dengan satu ayunan tangan yang ringan namun pasti, ia mengakhiri nyawa para pemimpin itu satu per satu. Kepala-kepala itu berguling, mata mereka melotot menatap langit-langit aula yang hancur.
Markas Klan Naga Hitam... telah jatuh. Hancur lebur oleh satu orang saja.
Li Yao berjalan melewati pintu belakang menuju area penjara bawah tanah. Di sana, ia menemukan apa yang ia cari.
Tawanan-tawanan itu. Orang-orang yang selamat dari Klan Ling dan klan-klan lain yang ditindas. Mereka terlihat kurus, kotor, dan ketakutan. Namun saat melihat sosok pria berdarah itu masuk, mereka bukan takut, melainkan terpesona.
"Ka... kau yang membunuh mereka semua?" tanya seorang pemuda dari Klan Ling dengan gemetar.
Li Yao mengangguk pelan. "Kalian bebas sekarang. Pergilah ke mana pun kalian mau. Mereka tidak akan bisa menyakiti siapa pun lagi."
"SIAPA NAMA KAU, PANGERAN PENOLONG KAMI?!" teriak salah satu tawanan dengan penuh haru. "KAMI AKAN MENCERITAKAN KEBESARANMU PADA ANAK CUCU KAMI!"
Pertanyaan itu membuat Li Yao terdiam sejenak.
Nama? Li Yao? Nama itu sudah mati bersama masa lalunya di desa kecil itu. Nama itu milik anak muda yang polos dan penuh cinta.
Orang yang berdiri di sini sekarang adalah orang yang berbeda. Ia adalah pembunuh, ia adalah iblis, ia adalah pembawa kehancuran.
Ia menatap jubah hitam panjang yang ia kenakan. Jubah itu sudah lusuh, penuh lubang dan noda darah, namun itulah yang menutupi identitas aslinya. Itulah yang membuatnya misterius dan menakutkan.
"Aku tidak punya nama," jawab Li Yao pelan, suaranya berat dan bergema di ruang sempit itu. "Panggil aku... Pendekar Jubah Hitam."
"Pendekar Jubah Hitam..." mereka mengulang kata itu, merasakan keagungan dan kengerian di dalamnya.
"Ya. Aku tidak mewakili klan mana pun. Aku tidak mewakili keadilan atau kejahatan. Aku hanyalah bayangan yang datang dari kegelapan."
Li Yao berbalik badan, siap meninggalkan tempat itu selamanya.
"Dan ingat pesanku: Siapa pun yang menindas yang lemah, siapa pun yang berbuat dosa di dunia ini... waspadalah. Karena suatu hari nanti, aku mungkin akan datang mengetuk pintu kalian."
"DENGAN BAWA PEDANG DAN KEMATIAN!"
Tanpa menunggu balasan, Li Yao melangkah pergi. Ia tidak mengambil harta karun, ia tidak mengambil gelar, ia bahkan tidak menoleh ke belakang untuk melihat kebebasan yang ia berikan.
Ia keluar dari reruntuhan markas itu, menyatu dengan malam yang gelap.
Sejak hari itu, sebuah legenda baru mulai tersebar di seluruh dunia kultivasi.
Cerita tentang seorang pendekar misterius yang selalu memakai jubah hitam panjang. Matanya gelap tanpa cahaya, pedangnya selalu basah oleh darah, dan ia datang tanpa diundang hanya untuk menegakkan keadilan dengan cara yang paling kejam.
Orang-orang takut menyebut namanya, mereka hanya berbisik-bisik:
"Itu... Pendekar Jubah Hitam. Pembawa Maut."
Dan di suatu tempat di kejauhan, Li Yao mendengar desas-desus itu. Ia tersenyum tipis di balik kerudungnya.
'Pendekar Jubah Hitam... Ya. Itu aku sekarang.'
Li Yao yang dulu sudah tiada. Kini yang ada hanyalah sosok abadi yang hidup hanya untuk dendam dan kenangan pada sang kekasih.