NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:264
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: KEBEKUAN YANG MENYESAKKAN

Haidar mengira ia sudah melewati neraka saat meninggalkan Sektor Pengempa. Namun, saat gerbang hidrolik di depannya berderit terbuka, ia sadar bahwa Niskala punya cara lain untuk menyiksa manusia. Bukan api yang menyambutnya, melainkan kabut putih tebal yang membawa hawa dingin yang begitu menusuk hingga terasa seperti ribuan jarum es yang menghujam pori-porinya.

​"S-sersan... tempat apa ini?" suara Haidar bergetar hebat. Giginya bergemeletuk tak terkendali.

​Uap napas Haidar keluar dalam gumpalan putih yang pekat. Keringat yang tadi membanjiri tubuhnya di sektor sebelumnya kini membeku secara instan, menciptakan lapisan kristal tipis di kening dan lehernya. Rasa sakit di mata kirinya yang semula panas membara, kini berubah menjadi sensasi beku yang kaku. Darah yang mengering di kelopak matanya membeku menjadi kerak merah yang tajam, membuat setiap kali ia mencoba mengedipkan mata, ia merasa seperti ada pisau kecil yang mengiris korneanya.

​"Sektor Pendinginan," jawab Sersan singkat. Langkahnya tetap stabil, meskipun lantai besi di bawah mereka kini dilapisi es tipis yang sangat licin. "Di sini, panas dari inti Baron diredam. Jika kau merasa panas Mata Niskala adalah musuhmu, maka di sini kau akan belajar bahwa dingin pun bisa menjadi pembunuh yang lebih senyap."

​Haidar mencoba melangkah, namun kakinya terasa kaku. Otot-ototnya seolah menolak untuk digerakkan. Ia meraba dinding lorong untuk mencari pegangan, namun tangannya justru menempel pada pipa besi yang membeku.

​"Argh!" Haidar menarik tangannya dengan kasar. Kulit telapak tangannya terasa perih karena sempat melekat pada logam yang suhunya jauh di bawah titik beku. "B-belatiku... Sersan, lihat!"

​Haidar mengangkat belati hitamnya. Senjata itu kini tidak lagi terasa berat karena panas, namun logamnya mengeluarkan suara gemeretak kecil yang mengkhawatirkan. Embun beku menutupi seluruh permukaan bilahnya.

​"Jangan menghantamkan senjatamu terlalu keras pada apa pun di ruangan ini, Haidar," peringat Sersan tanpa menoleh. "Pada suhu sedingin ini, baja yang paling kuat sekalipun akan berubah menjadi serapuh kaca. Satu benturan yang salah, dan belatimu akan hancur menjadi ribuan serpihan."

​Haidar mencengkeram gagang belatinya dengan tangan yang mulai mati rasa. Pandangan mata kanannya sangat terbatas karena kabut uap yang begitu tebal. Jarak pandangnya mungkin tidak lebih dari dua meter. Dunianya kini hanya berisi keputihan yang sunyi dan suara derit lantai es di bawah kakinya.

​Tiba-tiba, sebuah suara desisan halus terdengar dari balik kabut. Bukan suara mesin raksasa, melainkan suara gesekan logam yang sangat ringan, hampir tak terdengar.

​Sreeek... sreeek...

​Dari kegelapan putih, muncul siluet-siluet ramping yang bergerak dengan cara meluncur. The Frost-Walkers. Robot-robot penjaga ini tidak memiliki kaki, melainkan bilah seluncur di bawah tubuh mereka yang ramping. Di tangan mereka terdapat pipa-pipa kecil yang terus-menerus menyemburkan uap nitrogen cair.

​"Sersan, ada sesuatu di kabut!" Haidar memasang kuda-kuda, meski lututnya gemetar hebat karena kedinginan.

​Salah satu Frost-Walker meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Haidar. Robot itu tidak menyerang dengan pedang, melainkan menyemprotkan gas nitrogen langsung ke arah kaki Haidar.

​"Sial!" Haidar melompat mundur, namun gerakannya lambat karena sendi-sendinya mulai membeku. Sepatu botnya terasa kaku, dan ia terpeleset di atas lantai es yang licin.

​Robot itu kembali meluncur, kali ini mengincar wajah Haidar. Haidar terpaksa menggunakan belatinya untuk menangkis, namun ia ingat peringatan Sersan. Ia hanya menggunakan bagian samping bilahnya untuk memukul mundur robot tersebut. Teng! Suara benturan itu terdengar sangat garing, seperti dua piring porselen yang beradu. Haidar bisa merasakan getaran dingin yang merambat dari belati ke lengannya, membuat tangannya hampir kehilangan rasa.

​"Gunakan sisa panas di kepalamu, Haidar!" teriak Sersan. "Jika kau membiarkan suhu tubuhmu turun lebih jauh, jantungmu akan berhenti sebelum kau sempat melihat The Welder!"

​Haidar memejamkan matanya. Ia mencoba memancing sisa-sisa energi dari Mata Niskala yang masih burnout. Ia tidak berani mengaktifkannya secara penuh, namun ia mencoba mengalirkan sedikit frekuensi liar itu ke seluruh aliran darahnya. Rasanya menyakitkan—seperti ada aliran listrik yang dipaksa masuk ke pembuluh darah yang menyempit—tapi rasa panas yang muncul sesaat itu membantunya untuk kembali bergerak.

​Haidar bangkit, menerjang robot terdekat. Dengan satu gerakan cepat, ia menusukkan belatinya ke celah sendi robot tersebut yang juga mulai rapuh karena dingin.

​KRAK!

​Sendi robot itu hancur berkeping-keping. Haidar tidak berhenti di situ. Ia bergerak di antara kabut, menyerang dengan gerakan pendek dan efektif agar senjatanya tidak patah. Ia bertarung melawan rasa kantuk yang mulai menyerang akibat hipotermia. Pikirannya mulai melayang kembali ke rumah, ke kehangatan selimut di kamar Kinaya.

​Tidak... jangan sekarang... Haidar menggigit bibirnya hingga berdarah untuk tetap sadar. Rasa asin darah yang hangat di mulutnya menjadi satu-satunya pengingat bahwa ia masih hidup.

​Setelah pertarungan yang menguras energi dan suhu tubuh, Haidar dan Sersan sampai di sebuah ruangan berbentuk kubah raksasa. Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah tangki induk yang dikelilingi oleh ribuan pipa uap dingin. Di dalam tangki transparan itu, berdenyut sebuah benda berbentuk kristal biru yang sangat terang.

​"Cryo-Core," ucap Sersan sambil menatap kristal itu. "Inti pendingin utama Baron. Inilah alasan kenapa kau harus melewati semua ini."

​Haidar mendekat, tubuhnya bergetar hebat. Ia bisa merasakan energi dingin dari kristal itu seolah-olah memanggil Mata Niskala-nya yang masih meradang. "Ini... ini yang bisa memadamkan api di mataku?"

​"Bukan memadamkan, tapi menjinakkannya," sahut Sersan. "Ambil inti itu, Haidar. Tapi bersiaplah, karena saat kau melepaskannya dari tangki, seluruh sistem di sektor ini akan mencoba membekukanmu hidup-hidup sebelum kau sempat keluar."

​Haidar menatap kristal biru itu dengan penuh harap. Di balik kabut es dan penderitaannya, ia melihat sebuah peluang untuk menjadi lebih kuat. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, mendekati tangki pendingin, menyadari bahwa di dunia Niskala, kehangatan harus dibayar dengan kedinginan yang mematikan.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!