Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Siang itu udara terasa hangat ketika Adi menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar yang berdiri anggun di kawasan yang tenang. Linda yang duduk di kursi belakang bersama Kirana tampak sedikit bingung, matanya menyapu sekitar dengan rasa penasaran.
“Ini… rumahnya?” tanya Linda pelan, masih belum sepenuhnya percaya.
Adi mengangguk ringan sambil membuka pintu mobil. “Iya, Bu. Ini rumah yang dibeli Pak Erlan untuk Ibu dan Kirana.”
Linda turun perlahan, kakinya menyentuh halaman luas yang dipenuhi rumput hijau rapi. Pandangannya langsung terpaku pada rumah dua lantai dengan desain modern yang berdiri megah di hadapannya. Ada kesan hangat, tapi juga mewah, seolah rumah itu memang dirancang untuk memberikan kenyamanan tanpa batas.
Kirana yang sejak tadi digendong mulai gelisah. Mata kecilnya berbinar melihat halaman yang luas.
“Ma… turun…” ucapnya terbata, berusaha melepaskan diri.
Linda tersenyum kecil, lalu menurunkannya dengan hati-hati. Baru saja kakinya menyentuh tanah, Kirana langsung berlari kecil menjelajahi halaman, langkahnya belum stabil tapi penuh semangat.
“Kirana, pelan-pelan…” Linda langsung mengikuti dari belakang, sedikit khawatir.
Namun Kirana justru tertawa kecil, menikmati kebebasan barunya. Tangannya menyentuh rumput, lalu berlari ke arah pohon kecil di sudut halaman.
Adi yang melihat itu hanya tersenyum tipis. “Halamannya memang luas, Bu. Aman juga, sudah dipasang pagar tinggi.”
Linda akhirnya menggendong Kirana kembali sebelum anak itu terlalu jauh. “Dia terlalu penasaran. Semua hal baru pasti langsung dikejar.”
“Seperti ayahnya,” gumam Adi pelan, hampir tak terdengar.
Linda melirik sekilas, tapi tidak menanggapi.
“Mari masuk, Bu. Saya tunjukkan bagian dalam rumahnya,” lanjut Adi, berusaha tetap profesional.
Begitu pintu dibuka, Linda kembali terdiam. Rumah itu sudah sepenuhnya terisi. Tidak ada ruang kosong yang terasa dingin. Sofa empuk tersusun rapi, meja kayu mengilap berdiri di tengah ruangan, dan pencahayaan alami dari jendela besar membuat seluruh ruangan terasa hidup.
“Semua sudah disiapkan, Bu. Perabotan, perlengkapan dapur, bahkan kebutuhan sehari-hari,” jelas Adi sambil berjalan masuk.
Linda melangkah perlahan, seakan takut merusak sesuatu.
“Ini ruang tamu… di sana dapur,” Adi menunjuk satu per satu. “Dapur sudah lengkap. Peralatan masak, kulkas, semua sudah diisi.”
Linda membuka lemari dapur, dan benar saja. Semua tertata rapi, bahkan bahan makanan dasar sudah tersedia.
“Dia… benar-benar mempersiapkan semuanya,” gumam Linda lirih.
Adi tidak menjawab, hanya melanjutkan penjelasannya. “Di lantai satu juga ada kamar mandi, Bu. Dan satu ruang tambahan kalau ingin digunakan.”
Mereka kemudian naik ke lantai dua. Tangga kayu yang kokoh terasa hangat di kaki.
“Di atas ada empat kamar,” lanjut Adi.
Linda membuka salah satu pintu kamar. Ruangan itu luas, dengan tempat tidur besar dan jendela yang menghadap ke halaman. Cahaya matahari masuk dengan lembut.
“Kamar utama,” kata Adi.
Linda mengangguk pelan, tapi matanya belum berhenti bergerak, masih mencoba mencerna semuanya.
Ketika membuka pintu berikutnya, Linda terdiam lebih lama.
Ruangan itu penuh warna.
Boneka berbagai ukuran tersusun rapi. Ada yang kecil, ada yang hampir sebesar tubuh anak kecil. Di sudut ruangan, sebuah kuda kayu berdiri dengan cat mengilap. Di dekat jendela, sepeda roda tiga berwarna cerah menunggu untuk digunakan.
Kirana yang melihat itu langsung berseru kecil. “Ma… ma…!”
Dia berusaha turun lagi dari gendongan.
Adi tersenyum. “Itu kamar khusus untuk Kirana, Bu. Semua mainan itu dipilih langsung oleh Pak Erlan.”
Linda menelan pelan. Ada sesuatu yang terasa menekan di dadanya.
“Dia… membeli semua ini?” suaranya hampir tak terdengar.
“Iya, Bu.”
Kirana akhirnya diturunkan, dan langsung berlari kecil menuju tumpukan boneka. Dia tertawa riang, memeluk satu boneka besar dengan susah payah.
Linda berdiri di ambang pintu, memandang anaknya yang begitu bahagia.
“Seakan… dia ingin menebus semuanya,” gumam Linda.
Adi tidak menyangkal.
“Masih ada lagi, Bu,” katanya, mencoba mengalihkan suasana.
Mereka berjalan ke bagian belakang rumah. Pintu kaca dibuka, memperlihatkan taman yang luas dengan satu pohon besar yang rindang di tengahnya. Di bawahnya, terdapat ayunan yang bergerak perlahan tertiup angin.
“Tempat santai,” kata Adi. “Bisa untuk bermain atau sekadar duduk.”
Linda mengangguk. “Bagus sekali…”
Namun pandangannya kemudian bergeser ke samping.
Sebuah kolam renang berkilau di bawah sinar matahari.
Airnya jernih, dengan perosotan kecil di salah satu sisi.
Kirana yang melihat itu langsung berlari mendekat.
“Air! Air!” teriaknya senang.
Linda dengan cepat mengejarnya dan menggendongnya kembali. “Tidak, itu berbahaya.”
Dia menatap kolam itu dengan sedikit khawatir. “Dia pasti akan terus ke sini.”
Adi mengangguk. “Memang perlu pengawasan ekstra, Bu.”
Setelah kembali ke dalam rumah, Adi mengambil sebuah map dari tasnya.
“Ini untuk Ibu,” katanya sambil menyerahkan dokumen.
Linda menerimanya dengan bingung. “Ini apa?”
“Sertifikat rumah. Sudah atas nama Ibu.”
Linda terdiam.
Adi kemudian mengeluarkan amplop lain. “Ini rekening bank dan kartu kredit. Pak Erlan akan rutin mengirimkan uang. Semua kebutuhan Ibu dan Kirana akan ditanggung.”
Linda menatap benda-benda itu lama.
“Semua ini… terlalu banyak,” ucapnya pelan.
“Bagi beliau, ini belum cukup,” jawab Adi tenang.
Linda menghela napas panjang. “Aku bahkan belum melakukan apa-apa…”
Dia menunduk, suaranya melembut. “Aku juga ingin bekerja suatu hari nanti. Tidak hanya menerima semua ini.”
Adi memandangnya sejenak, lalu berkata pelan, “Kalau boleh jujur, Bu… kami semua berharap Ibu kembali bersama Pak Erlan.”
Linda terdiam.
“Dengan adanya Ibu dan Kirana, beliau berubah,” lanjut Adi. “Sekarang beliau bekerja bukan karena terpaksa. Tapi karena keinginan.”
Nada suaranya sedikit lebih serius.
“Dan… kami juga tidak terlalu kewalahan lagi menghadapi beliau.”
Linda menoleh. “Memangnya separah itu?”
Adi tersenyum kecut. “Kadang, Bu.”
Ada jeda singkat.
“Kalau Ibu ada di sampingnya, mungkin beliau bisa jadi lebih baik. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.”
Linda tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang lantai, pikirannya berjalan ke banyak arah.
“Mungkin…” ucapnya akhirnya. “Aku harus memikirkannya.”
Adi mengangguk. “Saya mengerti.”
Dia kemudian berdiri. “Saya harus kembali ke kantor.”
Linda ikut berdiri. “Terima kasih sudah mengantarku.”
Adi tersenyum tipis, lalu berjongkok di depan Kirana yang masih sibuk bermain boneka.
Dia mengeluarkan cokelat dari sakunya. “Ini untuk Kirana.”
Kirana menerima dengan mata berbinar. “Makasih…”
Ucapannya masih belum jelas, tapi cukup membuat Adi tersenyum.
“Sama-sama.”
Setelah itu, Adi pamit dan meninggalkan rumah.
Suasana langsung berubah menjadi lebih sunyi.
Linda berdiri di tengah ruang tamu, menarik napas panjang. Rumah itu kini benar-benar miliknya… atau setidaknya untuknya dan Kirana.
Dia mulai membuka koper dan menata pakaian ke dalam lemari.
Kirana yang penasaran beberapa kali mendekat, menarik pakaian yang sudah dilipat rapi.
“Kirana…” Linda menghela napas pelan.
Anak itu hanya tertawa kecil, seolah itu permainan baru.
Akhirnya Linda menggendongnya. “Ayo, kamu di kamar main saja.”
Dia membawa Kirana ke kamar penuh mainan dan menurunkannya di sana.
Dalam hitungan detik, Kirana sudah kembali sibuk dengan dunianya sendiri.
Linda kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian, semuanya selesai.
Dia kembali ke kamar Kirana.
Anak itu masih bermain, tertawa kecil sambil memeluk boneka besar.
Linda berdiri di pintu, memandang sekeliling ruangan.
Begitu banyak mainan. Begitu banyak perhatian.
Dia melangkah masuk perlahan, lalu duduk di lantai.
Tangannya mengambil salah satu boneka kecil.
“Erlan…” gumamnya pelan.
Ada sesuatu yang berubah. Bukan hanya rumah ini. Tapi juga perasaan yang mulai tumbuh, perlahan, tanpa disadari.
Di tengah tawa kecil Kirana, Linda hanya bisa diam dan berpikir.
Mungkin… semua ini bukan sekadar pemberian.
Mungkin ini adalah cara seseorang untuk mencoba memperbaiki apa yang pernah hilang.
Dan untuk pertama kalinya, Linda tidak langsung menolak kemungkinan itu.