NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perpustakaan Malam

BAB 3 — Perpustakaan Malam

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Perpustakaan kampus yang biasanya ramai, kini sudah mulai sepi. Hanya tersisa beberapa mahasiswa yang benar-benar gigih menyelesaikan tugas, dan lampu-lampu ruangan yang dipadamkan satu per satu oleh petugas kebersihan.

Alena tidak peduli waktu. Dia terlalu fokus pada tumpukan buku dan laptop di depannya. Tugas pertama dari kelas Adrian Vale memang terkenal sulit dan butuh riset mendalam. Gadis itu ingin memberikan hasil terbaik, ingin membuktikan bahwa pujian kecil yang Adrian berikan kemarin bukan sekadar kebetulan.

Suara ketikan keyboard terdengar pelan memecah keheningan. Di luar jendela kaca besar, langit London sudah gelap pekat, diterangi oleh lampu jalan yang remang-remang. Angin malam bertiup kencang, sesekali menerpa kaca membuat suasana terasa semakin dingin dan sunyi.

Alena mengucek matanya yang mulai terasa perih, lalu meregangkan tangan ke atas. Sebentar lagi selesai, Len. Bertahan sedikit lagi, batinnya menyemangati.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar jelas di lantai keramik yang licin. Langkah itu berat, teratur, dan sangat familiar.

Alena tidak terlalu mempedulikannya, mengira itu hanya petugas atau mahasiswa lain. Sampai aroma itu menyeruak masuk ke hidungnya.

Aroma musk dan kayu cendana yang khas. Wangi yang sejak dua hari terakhir ini terus menghantuinya bahkan di dalam mimpi.

Jantung Alena seketika melonjak naik. Dia mengangkat wajah perlahan, dan napasnya seakan tertahan di tenggorokan.

Berjalan mendekati rak buku di depannya, adalah sosok tinggi besar yang sangat dia kenal.

Dr. Adrian Vale.

Pria itu tampak berbeda saat tidak di dalam kelas. Dia tidak memakai kemeja rapi, melainkan sweater rajut tebal berwarna abu-abu gelap yang membuatnya terlihat lebih santai namun tetap memancarkan aura classy yang kuat. Rambutnya sedikit berantakan, tidak diseset rapi seperti biasanya, justru membuatnya terlihat lebih muda dan... sangat menggoda.

Adrian tampak tidak menyadari keberadaan Alena. Dia berhenti di depan rak buku, matanya menyusuri judul-judul buku tebal dengan serius. Tangannya yang panjang dan kokoh terulur, menarik sebuah buku referensi tebal dari barisan paling atas dengan mudah.

Baru saat dia berbalik badan, matanya bertemu dengan mata Alena yang sudah mematung sejak tadi.

Kedua mata itu menyipit sedikit, seolah terkejut tapi tidak menunjukkan ekspresi kaget yang berlebihan.

"Still here?"

[Masih di sini?]

Tanya Adrian pelan, suaranya terdengar lebih rendah dan lebih lembut dibandingkan saat di kelas, mungkin karena efek keheningan malam.

Alena buru-buru menunduk sedikit memberi hormat, wajahnya langsung memanas. "Y-yes, Sir. I... I still have a lot to finish."

[Iya, Pak. Saya... masih banyak yang harus diselesaikan.]

Adrian mengangguk pelan. Alih-alih pergi, pria itu justru berjalan mendekat dan menarik kursi kosong tepat di sebelah Alena. Dia duduk dengan santai, meletakkan buku tebalnya di atas meja, membuat jarak mereka sekarang sangat dekat.

Hanya terpisah beberapa sentimeter. Alena bisa merasakan hangatnya tubuh pria itu, bisa mendengar suara napasnya yang teratur.

"Let me see."

[Biar aku lihat.]

Ucap Adrian singkat, lalu tanpa menunggu izin, dia meraih lembaran kertas hasil kerja Alena yang ada di meja.

Alena terpaku. Dia bisa melihat profil wajah Adrian dari jarak sangat dekat. Garis rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan bulu mata yang panjang. Pria ini terlalu sempurna untuk menjadi nyata.

Adrian membaca tulisan Alena dengan serius. Dahinya sedikit berkerut, membuat Alena makin gugup menunggu penilaian.

"Your arguments are strong, but here..." Adrian menunjuk satu paragraf dengan pulpennya. "You missed the core concept. The logic is slightly flawed."

[Argumen kamu kuat, tapi di sini... kamu melewatkan konsep utamanya. Logikanya agak kurang tepat.]

"Let me fix it for you."

Suara itu keluar dalam bahasa Indonesia. Pelan, berat, dan sangat dekat.

Adrian mendekatkan tubuhnya, mencondongkan badan ke arah Alena untuk melihat lebih jelas. Bahu mereka hampir bersentuhan. Alena bisa merasakan hembusan napas pria itu di lehernya, membuat bulu kuduknya merinding seluruh badan.

Dia terlalu dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dosen dan murid.

Alena mencoba tetap fokus, tapi otaknya rasanya macet total. Semua yang dia pikirkan sekarang hanyalah betapa nyamannya aroma tubuh pria ini, betapa dalamnya suara itu, dan betapa berdetaknya jantungnya yang mau copot.

"Understand?" tanya Adrian tiba-tiba, sambil menoleh ke arah Alena.

Mereka berdua kini saling berhadapan, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Mata Alena menatap lurus ke manik mata hitam pekat itu, tenggelam di dalamnya tanpa bisa bergerak.

"U-um... y-yes..." jawab Alena terbata-bata, suaranya hampir tak terdengar.

Adrian tersenyum tipis. Senyum kecil yang selalu berhasil membuat dunia Alena berhenti berputar.

Secara bersamaan, keduanya mengulurkan tangan untuk mengambil buku referensi yang sama yang tergeletak di tengah meja.

Srett.

Punggung tangan mereka bersentuhan.

Dingin. Sentuhan itu hanya sepersekian detik, tapi rasanya seperti aliran listrik yang menyambar kuat. Alena langsung menarik tangannya seakan tersengat, wajahnya memerah padam karena malu dan canggung.

"Sorry..." gumamnya pelan, menunduk dalam-dalam.

Suasana menjadi hening. Sangat hening. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang terdengar nyaring.

Adrian tidak menarik tangannya. Dia justru membiarkan tangannya tetap di atas meja, lalu perlahan menoleh penuh menatap profil wajah Alena yang memalingkan muka.

Dia melihat cara gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan gugup, melihat cara tangannya yang kecil itu saling mencengkeram kuat di bawah meja.

Pria itu mendekatkan wajahnya sedikit lagi, hingga bisikan suaranya terdengar jelas dan bergetar di telinga Alena.

"Kau selalu gugup kalau dekat aku?"

Pertanyaan itu terlontar pelan, tapi dampaknya luar biasa besar bagi Alena.

Gadis itu menegang. Dia tidak berani menoleh, tidak berani menjawab. Apa yang harus dia katakan? Iya Pak, karena Bapak bikin jantung saya gak karuan? Tentu tidak bisa!

Adrian melihat tidak ada jawaban, dia justru semakin menikmati reaksi gadis itu. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan kedua tangannya di dada, dan menatap Alena dengan tatapan meneliti yang penuh arti.

"Jawab aku, Alena."

Desaknya lagi, nadanya rendah dan memerintah, tapi ada nada godaan yang sangat kuat di sana.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!