Tidak ada yang tahu, Ratu pergi bukan karena ingin meraih cita-cita, namun untuk lari dari perasaannya kepada sosok laki-laki yang ternyata telah memiliki tunangan.
Dia adalah Ardiansyah, putra kedua dari keluarga Suhadi, seorang CEO yang baru saja di Lantik setahun yang lalu setelah menyelesaikan pendidikannya,dan fokus memimpin perusahaan raksasa. namun fakta yang membuat Ratu pergi, Ardiansyah telah bertunangan dengan seorang gadis salehah, teman Adiknya saat berada di pesantren dan memutuskan untuk pergi ke kota dengan misi tersembunyi.
yuk ikuti kisah Ratu di sini....
kawal sampai akhir ya...
apakah sad ending, atau happy ending...
terimakasih atas dukungannya selama ini...
🥰🥰🥰🥰🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Suasana di ruang perawatan VVIP itu terasa jauh lebih tenang saat Najwa datang. Sebagai adik yang paling memahami Ardiansyah, Najwa hanya duduk diam di samping ranjang, membiarkan kakaknya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Nisya dan Pramuji serta Angga pamit pulang karena ada urusan.
Sementara itu, di lorong rumah sakit, Monica sedang berbicara dengan nada rendah melalui ponselnya. "Cari tahu siapa wanita bernama Ratu itu. Saya ingin data lengkapnya lima menit dari sekarang. Pekerjaannya, keluarganya, dan hubungannya dengan Ardiansyah. Jangan sampai ada yang terlewat." ucap Monica di balik telponnya.
Di dalam ruangan, setelah memastikan orang-orang sudah pulang, Ardiansyah akhirnya membuka suara. Suaranya serak, penuh dengan beban yang beberapa hari ini ia pikul sendiri.
"Najwa... Abang merasa menjadi orang paling jahat di dunia ini. Abang punya Nisya, gadis yang baik, santun, temanmu dan itu pilihan Ibu. Tapi... hati Abang justru bergetar hebat untuk orang lain."
Najwa menggenggam tangan kakaknya dengan lembut "Seseorang yang bernama Ratu, Bang? Najwa dengar tadi Ibu sempat menyebut nama itu." katanya saat Abang tidur, Abang terus memanggil nama Ratu.
Ardiansyah menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca "Dia berbeda, Dek, Bersamanya, Abang merasa hidup. Dia menantang Abang, dia berani, dan dia punya sisi lembut yang tidak dia tunjukkan pada semua orang. Abang terjebak, Dek. Abang takut menyakiti Nisya, tapi Abang juga merasa sedang membohongi diri sendiri setiap kali melihat Ratu., Ratu selalu menghantui pikiran Abang dimanapun Abang berada"
"Bang, pernikahan itu bukan soal memenuhi ekspektasi orang lain, termasuk Ibu. Jika Abang memaksakan diri, Abang tidak hanya menyakiti diri sendiri, tapi juga menzalimi Nisya. Tapi Abang harus yakin, apakah ini cinta atau hanya sekadar obsesi, ?"
Ardiansyah tidak menjawab,ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas, jarinya ragu-ragu untuk membuka galeri foto. Ia mengambil semua foto Ratu yang berada di social media milik Ratu. Lalu menyerahkannya pada Najwa.
"Abang sudah mencoba menepisnya, Dek. Tapi setiap kali Abang melihatnya, Abang merasa menemukan kepingan yang hilang. Selama bertunangan dengan Nisya, Abang tidak merasakan itu, Tapi Nisya... dia sudah menyiapkan segalanya untuk pernikahan kita."
Tanpa mereka sadari, Monica berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Ia mendengar setiap kata pengakuan putranya. Wajahnya mengeras. Baginya, martabat keluarga Suhadi adalah segalanya, dan kemunculan gadis motor seperti Ratu dianggapnya sebagai ancaman.
Di rumah Pratama, Ratu sedang termenung di balkon, merapikan piyamanya yang tertiup angin malam. Ia ttahu bahwa saat ini, intelijen kiriman Monica sedang mengumpulkan foto-fotonya saat masih di luar negeri dan foto-foto aksinya saat menyamar menjadi asisten Vanessa.
Ratu berbisik pada angin "Kenapa aku harus peduli padamu, Ardi? Kamu itu tunangan orang lain..."
Monica tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki kemampuan meretas tingkat tinggi. Begitu Ratu mencium adanya pergerakan intelijen yang mengendus privasinya, ia segera mengaktifkan protokol keamanan digital. Dalam hitungan menit, seluruh data pribadinya, hubungan kekeluargaannya dengan Aditya, hingga arsip masa lalunya di luar negeri terkunci rapat di balik enkripsi yang tak tertembus.
Ratu mengambil tas ransel miliknya, ia menepuk jidatnya, ia lupa,kalau tas ransel itu tadi masih tergeletak di ruang tunggu lorong rumah sakit.
Sedangkan Hasil laporan sudah sampai ke tangan Monica , namun laporan yang sampai ke Monica hanya berisi data permukaan, Ratu, seorang asisten di Afnan Style, latar belakang pendidikan SI, dan tidak memiliki aset mencolok.
Kesal karena merasa gadis yang tidak memiliki adab ini mencoba bermain-main, Monica mencegat Ratu di lobi rumah sakit saat Ratu hendak mengambil beberapa berkas kantor yang tertinggal di dalam tas ranselnya.
Monica berdiri tegak dengan dagu terangkat, suaranya dingin dan tajam "Berhenti di sana, Nona Ratu. Saya sudah menyelidiki siapa kamu. Hanya seorang asisten, kan? Jangan bermimpi terlalu tinggi karena putra saya menyebut namamu dalam igauannya."
Ratu tersentak, Ia menghentikan langkahnya yang akan menuju resepsionis untuk menanyakan tasnya, ia tidak tahu apa yang di maksud Monica tentang igauan." Maksud Nyonya apa ya!, saya tidak mengerti?.
Monica menatap dingin Ratu, walaupun Ratu memakai jilbab,namun penampilannya lebih mirip preman daripada gadis shalihah "Tidak usah berkilah, Saya tahu , Kamu menyukai Ardiansyah kan? ,namun saat ini Ardi akan menikah dengan Nisya, Dan kamu juga belain datang kemari untuk menjenguk anak ku kan?, tadi saat kamu pergi, Ardi memanggil namamu dalam tidurnya"
Ratu tidak menunduk. Ia justru merapikan jaket kulitnya dan menatap balik Monica dengan ketenangan yang mengintimidasi.
"Nyonya Monica yang terhormat, penyelidikan Anda sepertinya kurang mendalam. Tapi itu tidak masalah. Jika putra Nyonya mengigaukan nama saya, itu masalah psikologis putra Ibu, bukan urusan saya."
"Jangan kurang ajar! Saya peringatkan kamu, menjauhlah dari Ardiansyah. Saya bisa membuat kariermu hancur di industri fashion ini hanya dengan satu telepon. Jangan rusak rencana pernikahan putra saya dengan Nisya."
Ratu melangkah satu langkah lebih dekat, senyum tipis yang meremehkan tersungging di bibirnya. Ia sama sekali tidak gemetar mendengar ancaman yang biasanya membuat orang lain berlutut itu.
"Silakan dicoba, Nyonya Suhadi. Tapi perlu Nyonya tahu, saya bekerja di Afnan style karena saya kompeten, bukan karena saya butuh belas kasihan. Hubungan saya dengan Tuan Ardiansyah hanya sebatas profesionalitas pekerjaan. Jika dia yang mengejar saya, bukankah seharusnya Nyonya mengancam putra sendiri sendiri, bukan saya?"
Monica terperangah. Keberanian Ratu terasa sangat asing dan berbahaya baginya. Ratu kemudian meraih ponselnya di saku jaketnya seolah menunjukkan bahwa waktunya terlalu berharga untuk drama ini.
"Permisi, Nyonya Monica. Saya masih punya laporan yang harus diselesaikan. Semoga putra Nyonya cepat sembuh dan bisa segera fokus pada tunangannya yang sempurna itu. Assalamualaikum...!"
Ratu berjalan menuju resepsionis ,dan benar saja , ternyata tas nya sudah di amankan di sana , Dilan yang menitipkan tas Ratu di sana, karena ia tahu, pasti Ratu akan kembali untuk mengambil yang tertinggal, kemudian Ratu berjalan keluar menuju parkiran motor dengan langkah mantap. Namun, begitu ia duduk di atas motor gedenya dan memakai helm, ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan rasa sesak di dadanya akibat ucapan Monica.
Ratu bergumam di balik helm "Mimpi tinggi? Dia tidak tahu kalau aku bisa membeli gedung kantornya jika aku mau. Tapi Ardi... kenapa kamu harus mengigaukan namaku di depan ibumu?" padahal Ratu sudah menepis jauh perasaan nya pada Ardiansyah dan akan fokus dengan karier nya terlebih dahulu, ambisinya sangat besar untuk merajai dunia fashion.
Di dalam kamar rawat, Ardiansyah yang sudah mulai sadar sepenuhnya menatap ke arah jendela, tidak tahu bahwa ibunya baru saja mengibarkan bendera perang terhadap wanita yang ia cintai.