Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Ketukan palu hakim bergema satu kali, memecah kesunyian yang mencekam di dalam ruang sidang.
Udara terasa sangat berat saat semua mata tertuju ke arah meja hijau di depan.
Wajah Bima tampak pucat pasi, sementara Zaidan mempererat genggamannya pada tangan Sulfi, merasakan denyut nadi istrinya yang tak beraturan.
"Silahkan berdiri semua," suara panitera terdengar lantang, menginstruksikan seluruh hadirin untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum putusan dibacakan.
Sulfi bangkit berdiri dengan perlahan, tangannya yang gemetar menumpu pada lengan kokoh Zaidan.
Di hadapan mereka, Hakim Ketua membacakan amar putusan setebal puluhan halaman itu dengan nada yang sangat berwibawa.
Setiap poin pelanggaran Bima disebutkan, mulai dari kasus tabrak lari yang disengaja hingga rentetan teror yang mengancam nyawa.
"Menyatakan terdakwa Bima terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana dan intimidasi berat," suara hakim menggelegar.
Putusan hakim menghukum Bima seumur hidup tanpa ada potongan masa tahanan.
TOK! TOK! TOK!
Suara palu itu seperti meruntuhkan beban raksasa yang selama bertahun-tahun menghimpit dada Sulfi.
Seketika, pertahanannya runtuh. Sulfi menangis sesenggukan, air matanya tumpah membasahi pipi. Ia tidak lagi peduli dengan keramaian di sekitarnya.
Tanpa mempedulikan perutnya yang masih sedikit kram, Sulfi meluruh ke lantai ruang sidang. Ia sujud syukur dengan dahi menyentuh ubin dingin pengadilan.
Di sana, di tengah isak tangisnya, ia membisikkan doa syukur yang tak terhingga karena Tuhan akhirnya menunjukkan keadilan-Nya melalui tangan Zaidan dan Yuana.
Zaidan ikut berlutut di sampingnya, mendekap bahu Sulfi dengan sangat erat.
Matanya pun tampak berkaca-kaca saat melihat Bima diseret keluar oleh petugas keamanan dengan wajah hancur dan putus asa.
Keadilan untuk mendiang suami Sulfi telah tegak, dan keamanan untuk calon bayi mereka kini telah terjamin sepenuhnya.
Perjuangan berdarah-darah itu akhirnya berakhir dengan kemenangan yang paling indah.
Udara sore di pemakaman itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan kamboja yang menenangkan.
Setelah hiruk-pikuk ruang sidang yang melelahkan, tempat ini menjadi tujuan pertama yang ingin Sulfi datangi.
Dengan langkah yang masih sedikit pelan karena kondisi kehamilannya, Sulfi mengajak suaminya ke makam suami pertama Sulfi.
Zaidan berjalan setia di sampingnya, merangkul pinggang Sulfi untuk membantu menjaga keseimbangan istrinya.
Tidak ada rasa cemburu di hati Zaidan; yang ada hanyalah rasa hormat dan syukur karena ia bisa membantu menuntaskan janji keadilan bagi masa lalu Sulfi.
Sesampainya di depan nisan yang bersih itu, Sulfi berlutut perlahan.
Ia mengusap permukaan batu nisan yang dingin dengan jari-jarinya yang masih sedikit gemetar.
Air mata kembali menetes, namun kali ini bukan air mata kepedihan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa.
"Mas, aku sudah menepati janjiku," bisik Sulfi pelan, suaranya terbawa angin sore.
"Dia dihukum seumur hidup. Keadilan yang dulu terasa mustahil, sekarang sudah tegak."
Sulfi menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Zaidan yang berdiri tegak di belakangnya seperti pelindung yang tak tergoyahkan.
Ia meraih tangan Zaidan dan membawanya ke atas pusara itu, seolah ingin memperkenalkan pria yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Terima kasih sudah menjagaku dari sana, Mas. Dan terima kasih karena Tuhan telah mengirimkan Zaidan untuk menjadi pelindungku dan anak kita sekarang," lanjut Sulfi dengan senyum tulus yang pertama kali terlihat sejak kasus ini dimulai.
Zaidan ikut menunduk, memberikan penghormatan terakhir.
Ia mengelus punggung Sulfi, meyakinkan istrinya bahwa beban masa lalu itu kini telah benar-benar terangkat. Di bawah langit senja yang mulai mejingga, Sulfi merasa jiwanya benar-benar damai.
Dendam telah padam, kebenaran telah menang, dan sekarang saatnya ia fokus pada kehidupan baru yang sedang berdenyut di dalam rahimnya bersama laki-laki yang sangat ia cintai di sampingnya.
Malam telah sepenuhnya turun menyelimuti kota, membawa udara dingin yang segar setelah hujan sore tadi.
Setelah melewati hari yang penuh emosi di pengadilan dan makam, perut Sulfi mulai memberikan sinyal lapar yang tak tertahankan. Zaidan, yang selalu sigap menjaga kenyamanan istrinya, segera memutar kemudi untuk mencari makan malam.
Mereka tidak memilih restoran mewah atau tempat yang formal.
Mobil Zaidan perlahan melambat saat melihat deretan tenda pinggir jalan yang mengepulkan uap harum di bawah lampu jalan yang kekuningan.
Aromanya begitu menggoda, perpaduan antara bawang putih goreng, kecap manis, dan asap arang yang khas.
"Kita makan di sini saja ya, Sayang? Sepertinya enak," ujar Zaidan sambil menunjuk sebuah rombong sederhana.
Mereka pun memesan mie goreng dan nasi goreng kaki lima.
Sulfi duduk di bangku plastik panjang, memperhatikan tangan lincah sang penjual yang mengayunkan sodet di atas wajan besar.
Bunyi dentingan besi dan kobaran api dari tungku memberikan suasana hangat yang sederhana namun sangat berarti bagi mereka.
Tak lama kemudian, dua piring panas tersaji di depan mata.
Mie goreng dengan sayuran segar dan telur orak-arik, serta nasi goreng cokelat mengkilap lengkap dengan kerupuk dan acar di pinggirnya.
"Wah, aromanya juara, Mas," ucap Sulfi dengan mata berbinar.
Ia mengambil sesendok nasi goreng, meniupnya pelan, lalu menikmatinya.
"Enak sekali! Si kecil sepertinya juga suka nasi goreng ini, dia langsung tenang."
Zaidan tertawa kecil melihat pipi Sulfi yang menggembung saat mengunyah. Il
Ia menyisihkan potongan ayam dari piring mie goreng miliknya ke piring Sulfi.
"Makan yang banyak. Kamu butuh energi setelah seharian ini berjuang hebat di persidangan."
Di bawah tenda kaki lima yang sederhana itu, ditemani suara bising kendaraan yang lewat, mereka menikmati makan malam dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Tidak ada lagi bayang-bayang Bima, tidak ada lagi ketakutan akan teror. Hanya ada Zaidan, Sulfi, dan masa depan yang mulai terasa nyata di setiap suapan kebahagiaan malam itu.
Baru saja Sulfi hendak menyuapkan sendok keduanya, sebuah mobil berhenti tepat di belakang kendaraan Zaidan.
Dari balik pintu yang terbuka, muncul sosok yang sangat mereka kenali.
Di tempat yang sama, mereka bertemu dengan Yuana dan Kompol Hendrawan, yang juga akan makan di tempat yang sama.
Yuana tampak sedikit terkejut, namun senyum lebar langsung mengembang di wajahnya saat melihat Sulfi dan Zaidan duduk di bangku kayu panjang tersebut.
"Wah, selera kita benar-benar sama malam ini!" seru Yuana sambil melangkah mendekat, masih mengenakan kemeja kerjanya namun dengan jaket tersampir di bahu.
Kompol Hendrawan, yang tampak lebih santai setelah melepas seragam dinasnya, tertawa kecil sambil menyalami Zaidan.
"Tadi Yuana terus-menerus bilang ingin nasi goreng kaki lima ini sejak kita keluar dari gedung pengadilan. Ternyata, insting 'pengacara' dan 'polisi' kita memang mengarah ke sini."
Zaidan segera bergeser untuk memberi ruang. "Ayo bergabung di sini, Komandan, Yuana," ajaknya dengan ramah.
Suasana kedai kaki lima yang tadinya tenang kini berubah menjadi hangat dengan canda tawa.
Mereka duduk berempat, memesan porsi tambahan untuk sang Kompol dan istrinya.
Di tengah kepulan asap wajan dan aroma kecap yang sedap, pembicaraan mereka tak lagi seberat di ruang sidang tadi.
"Ini baru perayaan kemenangan yang sebenarnya," ujar Yuana sambil menyenggol bahu Sulfi pelan.
"Bukan di restoran mahal, tapi di pinggir jalan dengan rasa yang tidak ada tandingannya."
Sulfi mengangguk setuju, merasa sangat bersyukur.
Di meja sederhana itu, ia tidak hanya didampingi oleh suaminya yang hebat, tetapi juga oleh sahabat dan rekan yang telah mempertaruhkan segalanya untuk keadilannya.
Malam itu, mie goreng dan nasi goreng kaki lima tersebut terasa jauh lebih nikmat karena dimakan bersama orang-orang yang telah menjadi benteng pelindungnya selama ini.