NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 Tantrum

Tiara seperti biasa berada di atas kursi roda, wajahnya tidak berhenti memperlihatkan kesedihan, seperti ada sesuatu yang mengganjar di dalam hatinya, perasaan tidak tenang dan merasa takut akan kehilangan sesuatu.

Krekkk.

Tiara menoleh ke belakang, semangat di wajah cantik itu mulai terlihat, tetapi seketika berubah ketika melihat orang yang memasuki ruangan itu ternyata bukanlah orang yang dia tunggu melainkan Ayana.

Ayana menundukkan kepala dengan senyum tipis dan kemudian melangkah memasuki kamar Tiara dengan membawa paper bag berwarna coklat.

"Di mana Emir?" tanya Tiara sudah menunggu sampai 1 menit dan tidak melihat pria itu menyusul dari belakang.

"Pak Emir sedang menghadiri rapat besar," jawab Ayana sedikit gugup karena sudah pasti tahu kekecewaan akan terlihat di wajah Tiara.

"Jangan bohong," sahut Tiara.

Ayana melihat ke arah Tiara sekitar berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Ayana terdiam dengan kesulitan menelan ludah, tidak biasanya Tiara tidak percaya kata-katanya dan memang bukan pertama kali Ayana datang terlebih dahulu Tiara di bandingkan Emir.

"Jika sedang ada rapat besar dan tidak mungkin kamu tidak ikut bersamanya? Katakan dia mana dia?" tanya Tiara dengan menekan suaranya.

"Maaf Nona Tiara, saya hanya diperintahkan untuk datang membawa makanan kesukaan Nona, beliau tidak bisa datang karena menghadiri rapat besar," jawab Ayana.

"Jangan berbohong!" teriak Tiara tidak terima dengan jawaban itu membuat Ayana tersentak dengan ciri-ciri Tiara mulai tantrum.

"Kamu hubungi Emir dan dalam hitungan detik dia harus secepatnya datang! Cepat!" teriak Emir dengan suaranya yang keras.

Ayana terdiam mematung, wajahnya mulai pucat, mulai gelisah karena sudah terlihat tanda-tanda kemarahan besar terjadi pada kekasih atasannya itu.

"Aku bilang cepat!" teriak Tiara.

Tidak melihat Ayana bergerak sedikitpun bahkan tidak mengambil ponselnya untuk menghubungi Emir membuat Tiara semakin menjadi-jadi, suara teriakannya semakin tidak terkendali membuat beberapa perawat memasuki ruangan tersebut.

"Emir kamu di mana!"

"Emir!"

"Cepat panggil Emir,"

Bukan pertama kali terjadi di depan mata Ayana bagaimana Tiara terlihat menyakiti dirinya sendiri dengan memukul kepalanya, Suster berusaha untuk mencegah dan menghentikan sesuatu agar wanita tantrum yang mereka hadapi bisa mengendalikan diri.

****

Ayana tidak lama di rumah sakit, hanya meletakkan paperbag yang dia bawa di atas meja dan kemudian langsung keluar dari ruangan tersebut dengan suster menangani pasien mereka.

Ayana kembali ke perusahaan, terlihat begitu lesu dengan beberapa kali menghela nafas, wajah cantik itu terlihat lelah, tidak ceria dan seperti memiliki beban pikiran.

"Ayana!" langkahnya terhenti ketika Diva memanggilnya.

"Ada apa?" tanya Ayana.

"Kita belum sempat mengobrol, kamu dua hari ini terlihat sibuk dan bahkan aku tidak tahu kapan kamu pulang," ucap Diva.

"Bukan hanya aku saja yang sibuk, kamu juga sibuk dan memang pekerjaan belakangan ini sangat banyak," jawab Ayana.

"Kamu benar! Lalu bagaimana dengan keadaan kamu? Kamu baik-baik saja?" tanya Diva.

"Kenapa bertanya seperti itu? Aku sudah pasti baik-baik saja dan seperti biasanya," jawab Ayana.

"Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya," sahut Diva.

"Oh iya Ayana, kemarin waktu kamu bersama dengan Pak Emir melakukan perjalanan bisnis, dua hari setelah itu Pak Emir sudah kembali ke kantor dan kamu tidak? Apa kamu melanjutkan pekerjaan di desa, aku lupa menanyakannya kepada kamu?" tanya Diva.

"Tidak, aku tidak enak badan dan istirahat di rumah," jawab Ayana.

"Tumben sekali kamu sakit?" tanya Diva.

"Pertanyaan seperti apa itu, aku juga manusia Biasa dan bukankah juga bisa sakit," sahut Ayana.

"Benar, tetapi sudah begitu lama kamu bekerja di perusahaan ini dan kamu adalah satu-satunya karyawan yang tidak pernah libur kerja kecuali libur nasional karena memang kantor tidak beroperasi," sahut Diva.

"Mungkin saja karena faktor usia sudah semakin tua jadi wajar saja sudah mulai sakit-sakitan," seloroh Ayana.

"Issss, setua apa sih kamu," sahut Diva dengan menaikkan sebelah ujung bibirnya.

"Sudahlah, aku ingin memberi laporan dulu kepada pak Emir," sahut Ayana membuat Diva menganggukkan kepala.

Ayana kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruang atasannya itu setelah. Emir seperti biasa hanya duduk di depan komputer dengan serius pada pekerjaannya.

"Bagaimana Tiara?" tanya Emir.

"Nona Tiara mengalami tekanan dan Suster kembali menyuntikkan obat penenang kepadanya," jawab Ayana.

Emir tidak menjawab dan tetap melanjutkan pekerjaannya.

"Pak, Nona Tiara benar-benar ingin bertemu bapak, seperti apa yang saya katakan sebelumnya dan Nona Tiara tidak percaya bahwa bapak menghadiri rapat besar," jelas Ayana.

Memang benar apa yang dikatakan Tiara bahwa tidak mungkin Emir menghadapi rapat besar dan sudah pasti Emir berbohong dan maka dari itu membuat Tiara tantrum karena Emir tidak kunjung datang kepadanya.

Seperti biasa Ayana adalah sekretaris yang penurut dan jika dikatakan memberikan alasan itu dan maka harus disampaikan dan sebelumnya Emir juga menegaskan untuk tidak menghubunginya meski apapun Yang terjadi.

"Saya permisi pak!" ucap Ayana berpamitan ketika tidak ada lagi yang dikatakan Emir.

Emir tidak merespon dan tetap melanjutkan pekerjaannya dan ketika Sekretarisnya itu sudah keluar dari ruangannya barulah matanya melihat ke arah pintu. Emir menarik nafas dan membuang perlahan kedepan.

*******

Sore hari seperti biasanya para karyawan mulai meninggalkan meja mereka masing-masing karena pekerjaan sudah berakhir dan termasuk Ayana yang juga sebelum meninggalkan mejanya seperti kebiasaannya merapikan terlebih dahulu dan mencatat hal-hal yang akan dia kerjakan besok.

Suara pintu dari ruang atasannya terdenga Ayana dengan siap siaga berdiri dengan menundukkan kepala.

"Ayo cepat!" ucap Emir.

"Ce_cepat untuk apa. Pak?" tanya Ayana terlihat bingung.

"Kamu tidak pulang dan akan bekerja sampai besok pagi di sini?" tanya Emir dengan sebelah alisnya di angkat.

"Saya pasti pulang. Pak, tetapi masih merapikan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan," ucap Ayana.

"Saya tunggu di mobil," ucap Emir melanjutkan langkahnya.

"Apa kami akan pulang bersama?" tanya Ayana sedikit kebingungan karena sebelum hari itu keduanya menghadiri rapat bersama dengan klien dan karena sudah malam pulang bersama dan berbeda hari ini, Ayana juga bingung seterusnya apakah dia harus pulang bersamaan dengan suaminya karena dia Emir.

"Buru-buru Ayana!" terlalu banyak melamun Ayana langsung menyelesaikan cepat-cepat merapikan mejanya itu sebelum atasannya menunggu terlalu lama.

Emir menunggu di depan perusahaan dan bolak-balik menoleh kebelakang untuk melihat Ayana apakah sudah sampai atau belum.

"Kenapa lama sekali," ucap Emir mengoceh dengan kesal.

"Hay!" tiba-tiba saja Dean menghampiri Emir.

Melihat sahabatnya itu seperti biasa membuat Emir menghela nafas.

Tidak lama Ayana akhirnya muncul juga dan seperti biasa menundukkan kepala kepada Emir.

"Hay Ayana!" Dean menyapa dengan ramah dan bahkan tersenyum lebar.

"Kau perlu apa menemuiku di kantor?" tanya Emir.

"Karena ini sudah sore hari dan kamu sudah selesai bekerja dan maka kita akan melanjutkan pertemuan di rumahmu," sahut Dean.

"Kau ingin kerumahku?" tanya Emir memastikan.

"Benar!" jawab Dean.

Emir seketika menjadi panik dan Ayana juga.

"Tidak bisa!" cegah Emir.

"Kenapa?" tanya Dean.

"Yang terpenting tidak bisa. Aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu di rumah, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dan jika kau ingin bicara kepadaku maka nanti hubungi aku kita akan membuat janji untuk bertemu," jawab Emir.

"Astaga Emir, segitunya kau dengan sahabat sendiri harus memulai janji terlebih dahulu untuk bertemu denganmu. Emir, kita berdua ini berteman sejak ingusan dan kau sekarang sangat sombong, bertemu sahabat saja harus melalui janji," ucap Dean.

"Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan semua keluhanmu, aku harus pergi dan terima kasih sudah menyapaku," ucap Emir yang melangkah terlebih dahulu menuju mobil dan sudah Ayana yang tidak lupa menundukkan kepala kepada Dean.

"Hey, Emir, aku belum selesai dan kau benar-benar begitu sombong. Emir, kau benar-benar ya, Emir!" Dean tidak dipedulikan sama sekali sampai mobil itu meninggalkan perusahaan.

Bersambung.....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!