“Benciku adalah candu, dan obsesinya adalah penjara paling mematikan.”
Ceisya, seorang santriwati tengil sekaligus hacker cerdas, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Ceisyra Valenor—tokoh antagonis yang seharusnya mati tragis.
Namun takdir berubah…
Kaelthas Virelion, penguasa dunia bawah yang dingin dan kejam, justru terobsesi padanya—bahkan menikahinya secara rahasia.
Di tengah fitnah licik sang adik, Clarisse, serta ancaman Axton—rival berbahaya yang mulai kehilangan kendali karena dirinya—Ceisya terjebak dalam permainan yang mematikan.
Haruskah ia melarikan diri dari sangkar emas itu…
atau bertahan dalam perlindungan berbahaya dari pria posesif yang siap menghancurkan dunia demi dirinya?
“Kamu adalah napasku, Ceisyra. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutmu dariku.”
Takdir, obsesi, dan kekuasaan bertabrakan.
Mampukah Ceisya mengendalikan nasibnya sendiri… atau justru tenggelam dalam obsesi yang semakin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Sableng dan Tamu Tak Diundang
Pukul 07:05 Pagi – Penthouse
Ceisya masih terduduk di atas ranjang.
Surat kecil dari Kaelthas masih berada di tangannya.
"Penjara indah…" Ia mengulang kata itu dalam hati.
Perlahan, Ceisya menghembuskan napas panjang. Kepalanya terasa penuh—oleh bayangan pria bertato ular, oleh janji Kaelthas, dan oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan… perasaan terikat yang semakin dalam.
Tangannya naik menyentuh lehernya. Jejak samar yang tertinggal di sana membuat napasnya sedikit tertahan. “Semalam… benar-benar gila,” gumamnya pelan.
Ia menurunkan kakinya dari ranjang.
Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, membuatnya sedikit tersadar sepenuhnya.
Tanpa banyak pikir, Ceisya berjalan menuju kamar mandi.
Di Dalam Kamar Mandi, Air hangat mengalir perlahan. Uap tipis mulai memenuhi ruangan.
Ceisya berdiri di bawah shower, membiarkan air membasahi rambut dan tubuhnya. Matanya terpejam.
Sejenak… semuanya terasa sunyi.
Tidak ada Kaelthas. Tidak ada Axton. Tidak ada dunia luar. Hanya dirinya sendiri.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Bayangan semalam kembali muncul, tatapan Kaelthas, sentuhannya, kata-katanya yang penuh kepemilikan.
Lalu— pria bertato ular.
Ceisya membuka matanya perlahan.
Air masih mengalir, tapi pikirannya sudah kembali tajam. “Aku nggak bisa terus kayak gini…” bisiknya.
Tangannya mengepal pelan.
“Kalau semua orang di sekitarku berbahaya…”
Ia mengangkat wajahnya sedikit, membiarkan air mengalir melewati wajahnya. “Berarti aku juga harus jadi lebih berbahaya.” Kalimat itu keluar pelan,
tapi penuh tekad.
Beberapa menit kemudian, Ceisya keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan pakaian bersih—tunik hitam dan jilbab instan yang rapi. Wajahnya tampak lebih segar, namun sorot matanya… jauh lebih fokus.
Bukan lagi gadis yang hanya bertahan, tapi seseorang yang mulai bersiap menghadapi.
Ia melangkah keluar dari kamar— Dan tepat saat itu…
Pintu terbuka.
Guntur masuk dengan langkah tenang. “Nyonya.”
Ceisya menoleh, ekspresinya kembali santai seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Pagi, Komandan Patung,” sahutnya ringan.
“Nyonya,” ucapnya singkat. “Tuan memerintahkan Anda tetap di penthouse hari ini.”
Ceisya langsung menoleh. “Tidak bisa,” jawabnya tegas.
Guntur sedikit terdiam.
“Pukul sepuluh ada pengumuman hasil presentasi. Itu penting,” lanjut Ceisya, suaranya tidak tinggi… tapi penuh tekanan.
“Keamanan Anda—”
“Justru karena itu aku harus keluar,” potong Ceisya. “Kalau aku bersembunyi, berarti mereka menang.”
Hening sejenak.
Guntur mengamati Ceisya. Bukan lagi gadis panik semalam, tapi seseorang yang… mulai berani berdiri.
Akhirnya, Guntur menghela napas tipis. “Saya akan siapkan pengawalan penuh.”
Ceisya menyeringai tipis.
“Baru gitu, Komandan Patung.”
Pukul 07:45 – Dalam Mobil Menuju Kampus
Mobil hitam mewah melaju mulus di jalanan kota.
Ceisya duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela.
Namun pikirannya jauh dari pemandangan di luar.
Ia membuka ponselnya. Pesan dari Kaelthas masih ada. "Jangan keluar dari penthouse ini."
Ceisya mendecak pelan.
“Posesif banget…” Tapi entah kenapa—
Ada rasa hangat yang mengganggu di dadanya.
Ia menghela napas, lalu mengetik cepat:
"Aku ke kampus. Jangan marah."
Tiga detik. Belum terkirim balasan.
Lima detik, sepuluh detik, tidak ada respon.
Ceisya menyipitkan mata. “Lagi sibuk atau lagi nahan marah ya…”
Guntur yang duduk di depan melirik melalui spion.
“Tuan sudah mengetahui Anda keluar.”
Ceisya langsung menatap tajam. “Hah?!”
“GPS kendaraan ini terhubung langsung ke sistem beliau.”
Ceisya terdiam. Lalu… menghela napas panjang.
“Yaudah. Biarin.” Namun di dalam hatinya— Ia tahu.
Begitu bertemu nanti… Kaelthas tidak akan diam saja.
Pukul 08:00 Pagi – Kampus Universitas Teknologi Nasional.
Setelah berita kebangkrutan keluarga Valenor meledak, Ceisya akhirnya diizinkan kuliah dengan pengawalan yang super ketat. Kaelthas tidak bisa menahan Ceisya selamanya karena hari ini adalah pengumuman hasil presentasi TI yang krusial.
Ceisya melangkah di koridor kampus dengan gaya tengilnya. Ia mengenakan jilbab instan yang praktis dan tunik hitam—warna favorit barunya karena ia merasa seperti agen rahasia. Namun, langkahnya terhenti saat dua orang menyerbu dan memeluknya secara brutal hingga ia hampir terjungkal.
"CEISYARA! Gila lo ya! Semalam ilang, pagi ini bokap lo bangkrut, terus lo dateng dikawal bapak-bapak jas hitam kayak mau jemput bansos!" teriak seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda dan kacamata yang miring. Dia adalah Rara, sahabat Ceisya yang otaknya sering "konslet".
"Duh, Ra! Sesek napas gue!" Ceisya mencoba melepaskan diri. kalian akhirnya masuk kuliah juga." lanjut Caieya santai.
Tanyu kita masuk, karena kita dapat kabar heboh tentang sahabat kita, sahabat kita ini jadi nyonya sultan. Jawab Rara.
"Eh, dengerin ya Nyonya Sultan dadakan," Lanjut sahabat Ceisya satu lagi, seorang pria bernama Bimo yang badannya bongsor tapi hatinya selembut sutra.
Bimo sedang sibuk mengunyah cilok. "Gue liat di berita, adek lo si Clarisse itu nangis-nangis di depan wartawan. Sumpah, aktingnya lebih busuk dari cilok basi! Lo nggak apa-apa kan? Lo nggak ikut miskin kan? Soalnya utang cilok lo kemarin belum lunas."
Ceisya tertawa lepas. Inilah alasan dia betah di kampus; Rara yang hobi gosip level intelijen dan Bimo yang hidupnya hanya seputar makan dan utang.
"Tenang, Bim. Gue sekarang udah jadi kargo berharga. Utang cilok lo bakal gue bayar pake saham logistik," canda Ceisya sambil menepuk bahu Bimo.
"Wuidih! Gayanya! Eh, tapi itu bapak-bapak di belakang lo kenapa mukanya kayak belum gajian sepuluh tahun sih? Serem banget!" bisik Rara sambil melirik Guntur yang berdiri tegap dua meter di belakang mereka.
Ceisya melirik Guntur, lalu kembali menatap sahabatnya. "Itu mah pajangan, Ra. Anggap aja patung selamat datang."
Pukul 11:00 Siang – Taman Belakang Kampus.
Saat Rara dan Bimo pergi ke kantin untuk antre mi ayam, Ceisya memutuskan untuk duduk sebentar di taman yang agak sepi untuk mengecek kodenya. Namun, insting silatnya tiba-tiba berteriak. Udara di sekitarnya mendadak mendingin.
"Ternyata di sini bidadarinya bersembunyi," sebuah suara serak terdengar dari atas pohon besar di dekatnya.
Ceisya melompat berdiri, memasang kuda-kuda silat yang kokoh. "Ular Tato? Kamu bosen hidup ya dateng ke wilayah Kaelthas?"
Axton melompat turun dari dahan pohon dengan gerakan sangat ringan. Kali ini ia tidak membawa senjata, hanya seringai tipis yang mengerikan.
"Kaelthas sedang sibuk menyita sisa-sisa harta ayahmu. Aku punya waktu lima menit sebelum robot-robotnya menyadari keberadaanku."
Axton melesat maju, mencoba meraih tangan Ceisya. Namun, Ceisya lebih cepat. Ia menepis tangan Axton dengan gerakan tangkisan dalam dan melancarkan pukulan ke arah dada Axton.
BUKK!
Axton terhuyung ke belakang, matanya membelalak kaget sekaligus kagum. "Luar biasa... kekuatan macam apa ini?"
Ceisya tidak memberi ampun. Ia melancarkan tendangan sabit yang nyaris mengenai leher Axton. Axton berkelit, ia menangkap pergelangan kaki Ceisya, namun Ceisya justru menggunakan kakinya yang tertangkap untuk melompat dan memberikan pukulan berputar ke rahang Axton.
PLAK!
Axton tersungkur ke tanah. Ia menyentuh rahangnya yang berdenyut, lalu tertawa terbahak-bahak. Bukannya marah, matanya justru berkilat dengan obsesi yang semakin gila.
"Kau bukan bidadari biasa, Ceisyra. Kau adalah dewi perang. Dan itu membuatku semakin tidak bisa membiarkan Kaelthas memilikimu sendirian," bisik
Axton dengan nada yang sangat haus. Ia bangkit, mendekati Ceisya hingga jarak mereka sangat dekat.
"Kaelthas mungkin memilikimu secara hukum, tapi aku akan membuatmu merangkak kepadaku karena kegilaan yang akan kuberikan."
"Dalam mimpimu, Ular! Sekali lagi kamu muncul, aku buat tato ularmu itu jadi cacing tanah!" tantang Ceisya dengan wajah paling tengilnya.
Axton meraih tangan Ceisya, mencium punggung tangan gadis itu dengan sangat cepat sebelum Ceisya sempat menariknya. "Sampai jumpa di pesta dansa yang sudah kusiapkan, Sayang. Oh, dan bilang pada suamimu... mawar hitamnya sudah layu, giliranku yang akan memberimu bunga bangkai."
Axton menghilang di balik rimbunnya semak-semak tepat saat Guntur dan pengawal lainnya berlari mendekat.
kok kejam amat
menarik banget alurnya 😃
seperti biasa kutunggu cerita tamat dulu baru ku baca