NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 15: Deklarasi

Sore mulai turun di Heimdall.

Langit perlahan berubah jingga pucat, sementara bayangan bangunan batu memanjang di jalan-jalan kota. Keramaian pasar mulai berkurang, namun suara kehidupan masih terus bergerak di setiap sudut.

Grachius berjalan sendirian.

Tatapannya tenang, namun pikirannya tidak sepenuhnya diam.

Distrik miskin yang ia lihat sebelumnya masih tertinggal di kepalanya.

Anak-anak kurus.

Rumah-rumah retak.

Tatapan kosong orang-orang yang hidup tanpa harapan.

Dan di atas semua itu—

nama para dewa tetap dipuja.

Tangannya bergerak pelan di dekat gagang Enjin.

Bukan marah.

Namun dingin.

Langkahnya berhenti ketika suara keributan terdengar dari sebuah gang sempit di sisi jalan.

“Sudah kubilang bayar!”

Suara kasar bergema di antara dinding batu lembap.

Grachius menoleh.

Di dalam gang, tiga pria bertubuh besar mengelilingi seorang pemuda dan seorang gadis.

Pemuda itu berdiri di depan gadis tersebut dengan napas berat. Wajahnya lebam, namun ia tetap mencoba melindunginya.

“Kami belum punya uang.” katanya pelan.

Salah satu preman tertawa.

“Kalau begitu bayar pakai dia.”

Tangannya bergerak hendak menarik gadis itu.

Namun sebelum sempat menyentuh—

“Singkirkan tangan kotor mu darinya.”

Suara Grachius terdengar datar dari ujung gang.

Semua orang menoleh.

Grachius berdiri tenang di bawah cahaya senja, rambut putihnya bergerak pelan tertiup angin.

Para preman saling pandang.

Lalu tertawa.

“Siapa kau?”

Grachius tidak menjawab.

Tatapannya tetap tenang.

Namun justru itu membuat suasana terasa aneh.

Salah satu preman mendecak kesal lalu melangkah maju.

“Kalau mau jadi pahlawan, setidaknya—”

Kalimatnya terputus.

Tubuhnya mendadak terjatuh ke tanah.

Cepat.

Grachius sudah berada di depannya.

Siku pria itu terpelintir ke belakang, sementara lutut Grachius menekan tubuhnya ke tanah tanpa kesulitan.

Dua preman lain langsung menyerang.

Grachius bergerak tanpa emosi.

Satu langkah.

Satu putaran tubuh.

Tangan pertama dipukul tepat di sendi.

Pria itu berteriak kesakitan.

Yang terakhir mencoba mengayunkan pisau.

Grachius memiringkan tubuh sedikit.

Pisau itu lewat beberapa sentimeter dari wajahnya.

Lalu gagang Enjin menghantam keras perut pria itu.

Buk.

Pria itu jatuh sambil muntah.

Sunyi.

Tidak ada gerakan berlebihan.

Tidak brutal.

Namun perbedaan level mereka terasa mutlak.

Grachius berdiri kembali dengan tenang.

Tatapannya menyapu ketiga pria itu.

“Pergi.”

Dan kali ini—

mereka benar-benar pergi.

Gang kembali sunyi.

Pemuda dan gadis itu masih berdiri diam beberapa detik.

Lalu pemuda itu menghela napas panjang.

“…terima kasih.”

Grachius mengangguk kecil.

“Kalian tidak apa-apa?”

Pemuda itu mengangguk.

“Sudah biasa.”

Jawaban itu terdengar terlalu ringan untuk sesuatu seperti ini.

Gadis di belakangnya akhirnya berbicara pelan.

“Aku Sasha.”

Pemuda itu menunjuk dirinya sendiri.

“Finn.”

Grachius memperhatikan mereka berdua.

Pakaian sederhana.

Wajah lelah.

Namun masih ada keberanian di mata Finn.

“Grachius.”

Sasha sedikit menatap rambut dan mata Grachius lebih lama.

“…kau bukan orang sini.”

“Ya.”

Hening sesaat.

Lalu Sasha bertanya pelan—

“...kau juga membenci para dewa?”

Pertanyaan itu membuat udara terasa lebih berat. Entah apa alasan Sasha tiba-tiba menanyakan itu.

Finn mendecak kecil.

“Sasha.”

Namun Grachius menjawab tanpa ragu.

“Ya.”

Keduanya sedikit terdiam.

Finn tertawa kecil tanpa humor.

“Bagus.”

Tatapannya turun ke tanah.

“Hidup di bawah mereka tidak pernah terasa hidup.”

Ia menatap jalan gang yang gelap.

“Orang seperti kami hanya bisa bertahan.”

Grachius mendengarkan dalam diam.

Lalu berkata—

“Aku akan membunuh para dewa.”

Kalimat itu keluar setenang seseorang yang sedang menyebut cuaca. Tanpa peringatan terlebih dahulu.

Namun justru itu membuat Sasha merinding.

Tatapannya perlahan naik ke rambut putih Grachius.

Ke matanya yang seperti bara matahari.

Lalu pada pedangnya.

“…ramalan itu…”

Finn juga mulai menyadarinya.

Namun Grachius tidak membenarkan.

Dan tidak menyangkal.

Ia hanya berdiri diam.

Dan itu sudah cukup.

...—...

Malam mulai turun.

Lampu-lampu minyak mulai menyala di sepanjang jalan Heimdall, memberi warna keemasan redup pada kota batu itu.

Grachius berjalan bersama Finn dan Sasha melewati jalan-jalan yang semakin ramai oleh orang-orang yang pulang.

“Jadi kau benar-benar tinggal di hutan?”

Finn terdengar masih sulit percaya.

Grachius mengangguk kecil.

“Ya.”

“Apa tidak bosan?”

“Aku tidak tahu apa itu bosan.”

Jawaban itu membuat Sasha tertawa kecil untuk pertama kalinya.

Suasana perlahan menjadi lebih ringan.

Mereka berbicara tentang Heimdall.

Tentang pasar.

Tentang penjaga kota yang korup.

Tentang bagaimana hidup di kota sering terasa lebih sulit daripada yang terlihat dari luar.

Lalu Grachius bertanya—

“Kuil di kota ini.”

Finn langsung mendecak pelan.

“Heimdall menyembah Sagitta.”

Tatapannya berubah dingin.

“Hampir semua kuil di sini berada di bawah namanya.”

"Tapi ada beberapa kuil Terra."

Grachius diam.

Finn menunjuk ke arah pusat kota yang terlihat lebih terang dibanding area lain.

“Yang terbesar di sana.”

Bangunan besar samar terlihat menjulang di kejauhan.

Grachius memperhatikannya beberapa detik.

Lalu berhenti berjalan.

“Aku akan ke sana.”

Sasha langsung menatapnya.

“Sekarang?”

Grachius mengangguk.

Finn dan Sasha saling pandang.

Entah kenapa—

keduanya merasa sesuatu besar akan terjadi malam ini.

“Hati-hati.”

Sasha berkata pelan.

Grachius hanya mengangguk kecil.

Lalu berjalan pergi sendiri menuju pusat kota.

...—...

Kuil utama Sagitta berdiri megah di tengah Heimdall.

Bangunan batu putih itu jauh lebih tinggi dibanding bangunan lain di sekitarnya. Pilar-pilar besar menopang atapnya, sementara simbol busur dan matahari terukir di hampir setiap dinding.

Indah.

Namun menekan.

Seolah manusia yang berdiri di depannya dipaksa merasa kecil.

Grachius berdiri di luar area kuil dalam bayangan malam.

Tatapannya tenang.

Melalui jendela besar di sisi bangunan, ia melihat bagian dalam aula utama.

Patung raksasa Sagitta berdiri di tengah ruangan.

Terlalu sempurna.

Terlalu mulia.

Seolah sosok pelindung umat manusia.

Di bawah patung itu—

satu High Hiereus dan Hiereus berjubah putih berdiri mengelilingi altar.

Dan di sana—

gadis-gadis dari distrik miskin itu berada.

Terikat.

Ketakutan.

Grachius melihat salah satu dari mereka gemetar menahan tangis.

Ritual dimulai.

Para Hiereus mengangkat tangan sambil melantunkan doa.

Udara di atas altar perlahan retak oleh cahaya keemasan.

Lalu—

satu per satu persembahan mulai menghilang.

Makanan.

Buah.

Dan gadis-gadis itu.

Tidak ada darah.

Tidak ada jeritan panjang.

Namun justru itu yang membuatnya terasa salah.

Seperti sesuatu mengambil mereka… begitu saja.

Grachius memperhatikan tanpa berkedip.

Dan sesuatu di dalam dirinya menjadi semakin dingin.

...—...

Beberapa waktu kemudian—

aula kuil mulai kosong.

Para Hiereus pergi meninggalkan ruangan.

Dan Grachius masuk.

Langkahnya bergema pelan di lantai batu besar.

Tatapannya langsung tertuju pada patung Sagitta.

Patung itu berdiri tinggi dan megah di bawah cahaya api.

Wajahnya tenang.

Heroik.

Penuh kebohongan.

Grachius berhenti tepat di depannya.

Lalu perlahan menghunus Enjin.

Shing.

Qi mengalir tenang ke bilah pedang.

Udara bergetar tipis.

Grachius menatap patung itu beberapa detik.

Lalu bergerak.

Satu lompatan.

Satu tebasan.

Dan—

BRAKKK.

Kepala patung Sagitta terpotong bersih.

Batu besar itu jatuh menghantam lantai aula hingga retak.

Suara kehancuran menggema ke seluruh kuil.

Grachius mendarat dengan tenang.

Tidak menoleh.

Tidak berkata apa-apa.

Lalu berjalan keluar begitu saja.

Namun malam itu—

deklarasi perang pertama telah dilakukan.

...—...

Jeritan langsung memenuhi kuil.

“PATUNGNYA—!”

Para Hiereus berlari panik ke aula utama.

Dan membeku.

Kepala patung Sagitta tergeletak di lantai.

Terpotong bersih.

Beberapa Hiereus langsung pucat.

Yang lain marah.

“Siapa yang berani—”

Namun jauh di dalam diri mereka—

ada ketakutan.

Karena mereka tahu.

Ini bukan pekerjaan manusia biasa.

Penjaga langsung disebar ke seluruh area kota.

Rumor menyebar lebih cepat daripada api.

“Seseorang menghancurkan patung Sagitta!”

“Ada yang menantang dewa!”

Sebagian orang ketakutan.

Namun tidak semuanya.

...—...

Di distrik miskin—

berita itu terdengar berbeda.

Tidak ada kepanikan.

Yang muncul justru bisikan-bisikan pelan penuh harapan.

“Patungnya dihancurkan…”

“Benarkah?”

“Orang berambut putih itu…”

Finn dan Sasha berdiri diam di tengah gang.

Mereka tahu.

Mereka tahu siapa pelakunya.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama—

sesuatu muncul di mata orang-orang sekitar.

Bukan ketakutan.

Melainkan kemungkinan.

Kemungkinan bahwa para dewa… bisa dilawan.

Sementara itu, jauh dari pusat kota—

Grachius berjalan sendirian di bawah langit malam Heimdall.

Tatapannya lebih dingin dari sebelumnya.

Dan tanpa ia sadari—

namanya mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Bukan sekadar pemburu dewa.

Namun simbol.

Harapan kecil…

di dunia yang terlalu lama hidup dalam ketakutan.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!