“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Permintaan yang Sulit Ditolak
Langit sudah berubah gelap ketika mobil Ardila memasuki halaman rumahnya.
Lampu taman menyala lembut, menerangi jalan setapak menuju pintu utama. Rumah besar itu terlihat lebih hangat dari biasanya, seolah sedang bersiap menyambut sesuatu yang penting.
Ardila turun dari mobilnya sambil merapikan tas di bahunya. Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, pikirannya tidak berhenti memikirkan perkataan ibunya tadi siang. Nada suara Bu Anita terdengar cukup serius, membuat Ardila merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Ia membuka pintu rumah dan langsung disambut aroma makanan yang menggoda.
“Ardila sudah pulang?” suara ibunya terdengar dari ruang makan.
“Iya, Ma.”
Ardila berjalan menuju ruang makan dan menemukan kedua orang tuanya sudah duduk di sana. Namun mereka tidak sendirian.
Di kursi seberang duduk pasangan suami istri yang cukup dikenal oleh Ardila. Pak Andreo dan istrinya. Mereka adalah rekan bisnis lama ayahnya. Ardila sedikit terkejut, tapi tetap tersenyum sopan.
“Selamat malam, Om, Tante.”
Pak Andreo tersenyum ramah.
“Wah, akhirnya Ardila pulang juga. Kami sudah lama tidak bertemu.”
“Maaf kalau membuat menunggu.”
“Tidak apa-apa.” Bu Anita segera berdiri.
“Ayo duduk dulu. Kita makan bersama.”
Ardila duduk di kursi yang sudah disiapkan. Ia masih merasa sedikit bingung dengan suasana malam itu. Biasanya makan malam di rumah hanya dihadiri keluarganya saja.
Namun malam ini terasa berbeda. Percakapan awal dimulai dengan hal-hal ringan.
Tentang pekerjaan, tentang perkembangan perusahaan, dan cerita-cerita lama ketika keluarga mereka masih sering bertemu bertahun-tahun lalu.
Ardila mencoba menikmati makan malam itu, meskipun rasa penasaran terus mengganggu pikirannya.
Beberapa menit kemudian, seseorang memasuki ruang makan. Seorang pria tinggi dengan setelan kemeja gelap.
Ardila mengenalnya. Rafa Andreo. Putra dari Pak Andreo.
“Maaf saya terlambat,” ucap Rafa singkat. Pak Andreo melirik anaknya.
“Duduk saja.”
Rafa mengangguk pelan sebelum menarik kursi dan duduk di dekat ayahnya. Pandangan Ardila sempat bertemu dengan Rafa sesaat.
Namun pria itu hanya mengangguk tipis sebagai salam.
Tidak lebih.
Tidak ada percakapan di antara mereka.
Sebenarnya Ardila sudah beberapa kali bertemu Rafa sebelumnya dalam acara keluarga atau pertemuan bisnis. Namun hubungan mereka tidak pernah lebih dari sekadar saling mengenal.
Rafa dikenal sebagai sosok yang cukup pendiam dan serius. Setelah makan malam hampir selesai, Pak Arhan akhirnya meletakkan sendoknya.
Ia menatap ke arah Ardila dengan ekspresi yang sedikit lebih serius.
“Ardila,” panggilnya. Ardila langsung menoleh.
“Iya, Pa?”
Pak Arhan bertukar pandang sebentar dengan Pak Andreo sebelum melanjutkan. “Sebenarnya malam ini Papa dan Om Andreo ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting.”
Ardila memperhatikan wajah ayahnya dengan rasa penasaran. “Apa itu?”
Bu Anita memegang tangan putrinya dengan lembut. “Ini tentang masa depan kamu.”
Ardila mengerutkan kening. “Masa depan?”
Pak Andreo tersenyum tipis. “Keluarga kita sudah saling mengenal sangat lama. Bahkan sebelum kalian lahir.”
Pak Arhan mengangguk.
“Karena itulah kami berpikir… mungkin akan lebih baik kalau hubungan keluarga kita bisa menjadi lebih dekat.”
Ardila mulai merasa arah pembicaraan itu menuju sesuatu yang tidak ia duga. “Lebih dekat… maksud Papa?”
Bu Anita menarik napas pelan. “Papa dan Mama ingin kamu menikah.”
Kalimat itu membuat Ardila membeku.“Menikah?”
Pak Arhan kemudian menambahkan dengan suara tenang.
“Dengan Rafa.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi. Ardila menatap kedua orang tuanya dengan mata yang membesar. Ia kemudian melirik Rafa secara refleks.
Namun pria itu terlihat sama tenangnya seperti biasa, seolah sudah mengetahui pembicaraan ini sebelumnya. Ardila kembali menatap ayahnya.
“Papa serius?”
Pak Arhan mengangguk pelan.
“Ini bukan keputusan yang kami buat dengan terburu-buru. Kami sudah memikirkannya cukup lama.”
“Tapi, Pa…” Ardila mulai berbicara, suaranya sedikit bergetar. “Ini terlalu mendadak.”
Bu Anita menggenggam tangan Ardila lebih erat. “Sayang, Rafa adalah pria yang baik. Keluarganya juga sudah sangat kita kenal.”
Pak Andreo ikut berbicara. “Kami juga berpikir kalian berdua bisa saling mengenal lebih dekat setelah ini.”
Namun bagi Ardila, semua itu terasa terlalu cepat. Ia bahkan tidak pernah memikirkan pernikahan dalam waktu dekat.
“Ardila…” suara ibunya terdengar lembut.
Ardila menoleh. Wajah Bu Anita terlihat sedikit pucat seperti biasanya. Ardila tahu kondisi kesehatan ibunya tidak terlalu kuat sejak beberapa tahun terakhir.
Dokter pernah mengatakan bahwa ibunya harus menghindari stres berlebihan. Bu Anita tersenyum tipis.“Mama hanya ingin melihat kamu bahagia.” Kalimat itu menusuk hati Ardila.
Ia tahu ibunya selalu khawatir tentang masa depannya. Ardila menunduk pelan. Di dalam pikirannya, berbagai pertanyaan berputar tanpa henti. Ia tidak siap.Namun melihat wajah ibunya membuat kata penolakan terasa begitu sulit keluar.
“Ardila,” panggil ayahnya dengan suara lebih lembut dari sebelumnya. “Papa tidak akan memaksamu… tapi Papa berharap kamu bisa mempertimbangkannya.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Akhirnya Ardila mengangkat wajahnya.Ia menarik napas panjang. “Kalau ini membuat Mama dan Papa tenang…”
Bu Anita menatapnya penuh harap. Ardila menatap kedua orang tuanya, lalu sekilas melihat Rafa yang masih duduk tenang.
“Ardila akan mencoba menjalaninya.”Mata Bu Anita langsung berkaca-kaca. “Terima kasih, Sayang.”
Pak Arhan terlihat lega.
Sementara Pak Andreo tersenyum puas.
Makan malam itu akhirnya ditutup dengan percakapan yang lebih ringan. Namun bagi Ardila, dunia terasa berbeda sejak kalimat itu keluar dari bibirnya. Ia baru saja menyetujui sesuatu yang akan mengubah hidupnya.
Sesuatu yang bahkan belum benar-benar ia pahami.Di dalam hatinya, Ardila hanya berharap satu hal. Bahwa keputusan malam ini tidak akan menjadi sesuatu yang ia sesali di kemudian hari.