"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: KODE DI BALIK PINTU
Malam pertama di mansion Winchester terasa lebih sunyi dari yang Alzena bayangkan. Setelah keributan kecil di ruang tengah tadi siang, suasana rumah menjadi sangat kaku. Para pelayan bekerja seperti robot—efisien, cepat, dan tanpa suara. Mereka takut salah langkah sedikit saja, Alzena akan mengeluarkan sihir digitalnya lagi untuk membongkar borok mereka.
Alzena berdiri di tengah kamar utama yang luasnya hampir seluas apartemen lamanya. Ia menatap dua tempat tidur yang terpisah jauh. Di pojok sana, sebuah sofa panjang yang tampak tidak nyaman itu adalah tempat Alzena yang asli biasanya meringkuk kedinginan saat Keano pulang terlalu larut atau sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Gila, lo bener-bener nggak punya harga diri ya, Zen," gumamnya sambil mengelus permukaan sofa yang kasar itu. "Tidur di sini selama dua tahun sementara suami lo punya kasur king size yang empuknya minta ampun? Nggak bisa dibiarin."
Alzena berjalan menuju pintu kamar. Ia memperhatikan kunci pintunya. Hanya kunci manual biasa. Terlalu mudah dibobol, bahkan oleh maling amatir sekalipun. Baginya, privasi adalah segalanya. Ia butuh tempat di mana ia bisa menjadi Arcelia sepenuhnya tanpa perlu takut Keano masuk tiba-tiba.
Ia meraih ponselnya, melakukan beberapa pesanan kilat dari toko perangkat keras premium di New Ardent yang melayani pengiriman satu jam sampai. Ia butuh smart lock biometrik, kamera mikro, dan beberapa perangkat sensor gerak.
Sambil menunggu barang-barangnya datang, Alzena memutuskan untuk mandi. Ia membiarkan air hangat mengguyur tubuhnya yang kurus. Saat bercermin setelah mandi, ia memperhatikan kulitnya yang pucat. Tidak ada luka fisik yang terlihat, tapi rasa lelah di jiwanya sangat terasa. Alzena yang asli pasti sangat menderita hingga memilih menyerah.
"Gue bakal bikin tubuh ini kuat lagi," janjinya pada pantulan dirinya di cermin. "Gue nggak bakal biarin siapa pun nginjak-nginjak lo lagi, Zen."
Satu jam kemudian, barang pesanan Alzena datang. Dengan cekatan, ia mulai membongkar gagang pintu kamarnya. Tangannya yang kurus tampak sangat ahli memutar obeng dan menyambungkan kabel-kabel halus ke panel digital. Ia bahkan tidak butuh buku panduan. Baginya, sistem keamanan seperti ini sudah seperti mainan anak TK.
Tepat saat ia sedang memasang panel biometrik di sisi luar pintu, suara langkah kaki yang berat terdengar dari tangga. Alzena tahu itu siapa. Aroma parfum maskulin yang mahal mulai tercium—aroma yang selalu berhasil membuat Alzena yang asli gemetar ketakutan.
Keano muncul di ujung lorong. Jasnya sudah tersampir di lengan, dasinya sudah dilonggarkan. Ia berhenti tepat di depan kamar, menatap tumpukan baut dan gagang pintu yang tergeletak di lantai.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Keano, suaranya terdengar berat dan penuh selidik.
Alzena tidak mendongak. Ia tetap fokus menyambungkan kabel kecil berwarna merah ke sensor utamanya. "Lagi pasang pengaman. Kenapa? Masalah buat lo?"
Keano menyipitkan mata. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Alzena sehingga bayangan tubuh tingginya menutupi wanita itu. "Ini rumahku. Kau tidak berhak mengubah apa pun tanpa izin dariku."
Alzena akhirnya berdiri tegak. Ia berbalik dan menatap Keano tepat di mata. Karena ia tidak menggunakan alas kaki, ia harus mendongak cukup jauh untuk menatap wajah suaminya.
"Rumah lo, oke. Tapi ini kamar gue," balas Alzena tenang. "Privasi itu hak asasi, Keano. Gue nggak suka ada orang masuk ke kamar gue tanpa izin, apalagi kalau gue lagi tidur atau... lagi nggak pengen liat muka orang."
"Kau sadar kau sedang bicara dengan siapa?" Keano mencondongkan tubuhnya, mencoba menekan Alzena dengan auranya yang mengintimidasi.
Bukannya mundur, Alzena justru melipat tangan di depan dada. "Sadar kok. Sama Keano Alistair Winchester, suami sah yang jarang pulang dan kalau pulang cuma bisa marah-marah. Ada lagi yang gue lewatkan?"
Keano tertegun. Kata-kata Alzena begitu tajam dan tidak ada nada ketakutan sedikit pun. Ia memperhatikan jemari Alzena yang masih memegang obeng kecil. Jari itu hitam karena debu besi, tapi gerakannya tadi sangat presisi. Sangat... profesional.
"Sejak kapan kau tahu cara memasang kunci digital?"
"Sejak gue sadar kalau ngandelin lo buat ngerasa aman itu hal paling sia-sia yang pernah gue lakuin," jawab Alzena telak. Ia kembali berbalik dan menekan tombol 'Enter' pada panel barunya. Click. Pintu terkunci otomatis.
Alzena menempelkan jempolnya di sensor. Beep. Pintu terbuka.
"Nah, beres. Mulai sekarang, kalau mau masuk, ketuk dulu. Kalau gue nggak jawab, berarti gue nggak mau liat lo. Paham?" Alzena memberikan senyum miring yang terlihat sangat provokatif di mata Keano.
Keano baru saja akan membalas saat ponselnya berdering. Ia melihat layarnya—panggilan dari ibunya di Calveron. Pria itu mendengus kesal, lalu menunjuk Alzena dengan jari telunjuknya.
"Kita belum selesai bicara, Alzena. Jangan pikir kau bisa seenaknya di sini hanya karena kau baru sembuh."
"Ya, ya, terserah. Sana angkat telpon dari mami lo," sahut Alzena santai sambil menutup pintu kamarnya tepat di depan wajah Keano.
Brak!
Keano menatap pintu kayu yang kini sudah terpasang panel digital canggih itu dengan perasaan campur aduk. Amarahnya memuncak, tapi ada rasa penasaran yang lebih besar yang mulai merayap di pikirannya. Alzena yang ia kenal bahkan tidak tahu cara mengganti baterai jam dinding, tapi sekarang dia bisa memasang sistem keamanan tingkat tinggi dalam waktu singkat?
"Siapa sebenarnya yang mengajarimu, Alzena?" gumamnya pelan sebelum berjalan menjauh menuju ruang kerjanya.
Di dalam kamar, Alzena langsung merebahkan diri di kasur besar milik Keano. Ia masa bodoh jika pria itu nanti marah karena ia tidak tidur di sofa. Kasur ini sangat empuk, dan ia butuh istirahat untuk aktivitas besok.
Ia menyalakan laptopnya lagi. Ia mulai masuk ke dalam database rahasia keluarga Winchester. Bukan untuk mencuri uang—ia sudah cukup kaya dengan kripto-nya—tapi untuk mencari tahu hubungan bisnis antara Winchester dan keluarga Halim.
Ia menemukan sesuatu yang menarik. Ternyata, pernikahan mereka adalah hasil dari kesepakatan bisnis besar di masa lalu. Keluarga Halim memberikan dukungan politik dan lahan di New Ardent, sementara Winchester memberikan suntikan dana segar untuk menutupi kerugian perusahaan Halim yang sempat goyang.
"Jadi Alzena bener-bener cuma barang jaminan," Alzena mendesah. "Pantesan lo nggak dihargain, Zen. Lo cuma angka di dalam kontrak bisnis mereka."
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di sudut layarnya. Sebuah firewall yang ia pasang di server panti asuhan tempat ia pernah mencari info tadi sore berbunyi. Seseorang mencoba melacak balik pencariannya.
"Wah, ada yang sadar ya?" Alzena tersenyum lebar. Matanya berbinar penuh semangat. Ini adalah dunianya. Dunia di mana ia memegang kendali penuh.
Ia mulai mengetik dengan kecepatan gila. Jarinya menari-nari di atas keyboard, membuat barisan kode-kode hijau mengalir di layarnya. Ia tidak tahu siapa yang mencoba melacaknya, tapi ia akan memberikan "hadiah" kecil untuk orang itu.
Sesaat kemudian, ia berhasil membalikkan pelacakan. Lokasi si pelacak muncul di petanya.
"Gedung perkantoran Halim Group?" Alzena menyipitkan mata. "Jadi ada orang di kantor bokap gue yang sengaja nutupin data anak yang hilang itu?"
Alzena bersandar di bantal. Misteri ini semakin menarik. Ada seseorang di keluarga Halim yang sangat takut jika rahasia tentang adik Alzena terbongkar. Siapa? Apakah ayahnya sendiri? Atau ibu tirinya yang terlihat baik tapi punya tatapan dingin itu? Atau... Shania?
Ia teringat sketsa tangan di dalam laci tadi. Anak kecil yang hilang itu... kenapa bayangannya selalu muncul setiap kali Alzena memejamkan mata? Kenapa ia merasa sangat merindukan sosok kakak, padahal Arcelia adalah seorang yatim piatu yang tumbuh sendirian?
"Gue harus hati-hati," bisiknya pada diri sendiri. "Keluarga Halim mungkin keliatan normal di luar, tapi di dalemnya pasti penuh bangkai."
Malam itu, Alzena tertidur dengan laptop masih di sampingnya. Ia tidak menyadari bahwa di ruang kerja seberang lorong, Keano sedang duduk menatap layar CCTV lorong mansion. Ia melihat pintu kamar Alzena yang terkunci rapat.
Keano memutar kembali rekaman saat Alzena memasang kunci itu. Ia memperhatikan setiap gerakan tangan istrinya. Cara Alzena memegang peralatan, cara dia fokus, bahkan cara dia menyeka keringat di dahinya.
Semakin ia memperhatikan, semakin Keano merasa jantungnya berdegup aneh. Ada sesuatu pada diri Alzena sekarang yang terasa sangat familiar. Sesuatu yang pernah ia temui di masa lalunya yang kelam.
"Nggak mungkin," Keano menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran gilanya. "Alzena itu lemah. Dia bukan wanita sehebat itu."
Namun, di dalam hatinya, Keano mulai meragukan kata-katanya sendiri. Ia merasa seolah-olah sedang menghadapi teka-teki yang paling sulit dalam hidupnya. Dan entah kenapa, ia merasa sangat tidak sabar untuk memecahkan teka-teki bernama Alzena itu.
Besok, drama yang sebenarnya akan dimulai. Dan kali ini, Alzena tidak akan menjadi pemeran pendukung yang tertindas lagi.
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘