Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Jejak yang Baru
Malam turun lebih cepat dari dugaan mereka.
Wira berjalan di tengah rombongan dengan dada masih penuh sesak oleh apa yang baru ia temukan di rumah lama. Liontin kecil itu kini tersimpan di balik kain, dekat dadanya, sementara lukisan kecil di dalamnya terus membayang di kepalanya. Wajah ibunya. Wajah pria yang dikatakan Ki Rangga sebagai ayahnya. Semua itu seperti membuka pintu baru dalam dirinya, tapi pintu itu belum memberi jawaban, hanya membiarkan rasa sakit masuk lebih dulu.
Ki Rangga memimpin di depan tanpa bicara banyak. Jaya sesekali menengok ke belakang, memastikan mereka tidak diikuti. Raden Seta membawa naskah tambahan yang mereka ambil dari peti batu, dan Panca berjalan sambil mengusap lehernya yang pegal.
“Aku resmi tidak mau turun tanah lagi,” gumam Panca.
Jaya meliriknya. “Kau bilang itu sejak bab sebelum ini.”
“Dan aku tetap serius.”
Wira tidak ikut menanggapi. Ia masih memikirkan satu hal yang membuatnya sulit bernapas lega: kalau ayahnya benar-benar ada dalam cerita ini, maka selama ini ia bukan hanya kehilangan ibu, tetapi juga dipisahkan dari seluruh asal-usulnya. Ia menatap jalan tanah di depan. Ada banyak pertanyaan, tetapi malam belum memberi cukup ruang untuk menjawab.
Setelah berjalan cukup jauh, Ki Rangga mengangkat tangan memberi isyarat berhenti.
Mereka langsung diam.
Di depan, jalur ladang tua berubah menjadi semacam pertemuan kecil di antara semak rendah dan batu besar. Tidak ada rumah di sekitar, tetapi Wira bisa melihat jejak tanah yang lebih segar di satu sisi. Seseorang baru lewat. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat mereka waspada.
“Jejak baru,” kata Ki Rangga pelan.
Raden Seta mendekat dan berjongkok. Ia menyentuh tanah lalu menatap arah bekas langkah itu. “Tiga orang. Mungkin empat.”
Panca langsung memucat. “Mereka?”
Jaya menatap ke arah yang sama. “Bisa jadi.”
Wira merasakan tengkuknya dingin. Kalau orang-orang itu benar mengikuti mereka, berarti pengejaran belum selesai. Dan jika mereka sudah sedekat ini, kemungkinan besar rumah lama tadi sudah diserbu. Ia menatap Ki Rangga. “Kita harus ke mana?”
Ki Rangga mengamati sekeliling. “Ada jalur kecil ke utara. Kita potong lewat pematang.”
Raden Seta menggeleng. “Terlalu terbuka.”
“Kalau begitu kau punya usul lain?”
Raden Seta terdiam sesaat, lalu menunjuk ke rumpun pohon bambu yang tak jauh dari sana. “Lewat sana. Ada aliran air kecil di belakangnya. Jejak akan tertutup.”
Jaya langsung mengangguk. “Itu lebih baik.”
Panca mendecak kecil. “Kenapa semua jalan aman harus tetap terasa seperti jalan menuju tempat angker?”
“Karena tempat aman yang benar-benar aman biasanya tidak ada,” jawab Jaya.
Mereka bergerak cepat ke rumpun bambu. Di baliknya memang ada aliran air kecil yang mengalir di sela batu licin. Wira menyeberang hati-hati sambil menahan napas agar tidak terpeleset. Airnya dingin sampai ke mata kaki. Panca sempat mengeluh karena salah pijak, tapi tidak sampai jatuh.
Setelah menyeberang, mereka berjalan mengikuti aliran air itu beberapa langkah, lalu keluar ke jalur tanah yang lebih tinggi. Dari sana mereka bisa melihat ladang tua yang mulai tertutup kabut malam. Cahaya terakhir matahari tinggal berupa garis merah tipis di ujung barat.
Wira menatap ke langit dan menyadari betapa cepat hari berganti sejak ia meninggalkan rumah dulu. Rasanya seperti hidupnya sudah dimasukkan ke dalam arus yang tak bisa dihentikan. Hanya dalam beberapa hari, ia menemukan ibunya tak sekadar menghilang, menemukan tanda-tanda keluarga yang dihapus, lalu mendengar bahwa ayahnya ternyata bukan sekadar bayangan mati. Semua itu terlalu banyak untuk dicerna sekaligus.
Jaya berjalan mendekat padanya. “Kau diam terus.”
Wira menoleh. “Aku sedang berpikir.”
“Bagus.”
“Tidak semuanya enak dipikirkan.”
Jaya memandang lurus ke depan. “Yang baik biasanya memang tidak datang dari pikiran yang nyaman.”
Wira ingin bertanya lebih jauh, tapi Raden Seta memanggil mereka dengan suara rendah.
“Berhenti dulu.”
Mereka segera berkumpul di dekat sebuah batu besar yang tumbuh dari tanah seperti punggung binatang. Raden Seta membuka naskah tambahan yang mereka ambil dari peti. Ia membolak-balik beberapa halaman sampai menemukan bagian yang diinginkannya. Kemudian ia menunjukkannya pada Ki Rangga dan Wira.
Di situ ada tulisan tangan yang berbeda dari yang sebelumnya.
“Bila rumah lama terbuka, jangan kembali ke pintu yang sama. Ikuti jejak tanah yang pecah ke timur. Tempat itu bukan akhir, melainkan saksi.”
Wira membaca kalimat itu berulang kali. “Jejak tanah yang pecah ke timur?”
Raden Seta mengangguk. “Berarti masih ada satu tempat lagi.”
Panca langsung menatapnya dengan lesu. “Aku tidak suka ‘satu tempat lagi’.”
Ki Rangga menatap arah timur, memeriksa gelap yang mulai turun. “Kalau itu petunjuk ibumu, kita ikuti.”
Wira memegang liontin di balik kainnya. “Apa yang dimaksud saksi?”
Raden Seta menjawab pelan, “Tempat yang menyimpan jejak keputusan lama. Mungkin bukan ruang simpan, tapi tempat pertemuan. Atau tempat orang terakhir kali melihat sesuatu yang penting.”
Wira mengernyit. “Lihat apa?”
Raden Seta menatapnya. “Mungkin ayahmu. Mungkin ibumu. Mungkin sesuatu yang mereka sembunyikan bersama.”
Kata-kata itu membuat Wira diam. Ia tidak tahu apakah harus merasa semakin dekat atau semakin takut. Namun yang jelas, arah baru ini membuatnya tak bisa kembali pada ketidaktahuan.
Ki Rangga menutup naskah itu. “Kita lanjut malam ini atau berhenti?”
Panca langsung mengangkat tangan sedikit. “Aku vote berhenti. Tapi kalau mayoritas memilih jalan, aku ikut.”
Jaya menatap langit yang semakin gelap. “Kalau kita berhenti di tempat terbuka, kita mudah ditemukan.”
Raden Seta mengangguk. “Sebaiknya teruskan sedikit lagi sampai ada perlindungan.”
Wira menatap ke sekeliling. Tidak ada rumah, hanya batang-batang bambu, ilalang, dan batu-batu rendah. Namun di kejauhan, samar terlihat siluet pohon besar di sisi timur. Seperti ada semacam kawasan kecil yang lebih rapat.
“Ada apa di sana?” tanya Wira.
Raden Seta menyipitkan mata. “Kemungkinan bekas tempat istirahat lama. Kalau masih ada bangunannya, kita bisa berlindung semalam.”
Ki Rangga langsung memberi isyarat bergerak.
Mereka pun melangkah lagi, kali ini ke arah timur. Angin mulai berubah lebih dingin. Di beberapa titik tanah di jalur itu tampak lebih retak, seperti memang pernah diinjak berkali-kali oleh orang-orang yang sudah lama pergi. Wira merasakan firasat aneh. Jejak tanah pecah itu disebut dalam naskah, dan semakin mereka berjalan, semakin tampak bahwa tempat ini memang pernah dipakai untuk sesuatu.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di sebuah area sempit yang dikelilingi pohon tua. Di tengahnya berdiri bangunan kecil setengah rubuh, hanya tersisa rangka kayu, sebagian dinding, dan satu atap miring yang masih menempel. Namun di dekat bangunan itu, tanah memang retak-retak, membentuk garis-garis memanjang yang tidak alami.
Raden Seta berhenti dan menatap tanah itu.
“Ini dia.”
Wira melangkah ke depan. “Apa ini?”
Jaya mengamati retakan tanah tersebut. “Seperti bekas sesuatu yang dulu pernah ditutup.”
Panca menghela napas panjang. “Aku sudah menduga ini.”
Ki Rangga memeriksa sisi retakan. “Ada titik yang lebih keras.”
Wira berjongkok dan menyentuh tanah. Benar saja, di satu bagian retakan itu terasa lebih padat. Ia menelusuri garis tanah dengan ujung jarinya, lalu menemukan sebuah batu kecil berbentuk pipih yang tertanam di sela retakan. Batu itu memiliki ukiran yang hampir sama dengan yang mereka temukan sebelumnya, hanya bentuknya lebih tua dan lebih kasar.
Raden Seta mendekat cepat. “Jangan tekan dulu.”
Wira berhenti. “Kenapa?”
“Kalau ini petunjuk ibumu, kemungkinan ada urutan.”
Ki Rangga menatap batu itu. “Urutan apa?”
Raden Seta membuka naskah tambahan lagi dan membaca bagian kecil di bawah gambar tanah retak. “Tekan batu pertama, lalu arahkan kunci ke utara. Setelah itu, tunggu bunyi kedua.”
Panca mengerjap. “Bunyi kedua? Kalian suka sekali dengan bunyi.”
Jaya menatapnya datar. “Karena pintu rahasia jarang suka dibuka dengan cara biasa.”
Ki Rangga mengangguk ke Wira. “Coba.”
Wira menelan ludah lalu menekan batu kecil itu perlahan. Bunyi pelan terdengar dari dalam tanah. Mereka semua diam. Beberapa detik tidak terjadi apa-apa. Lalu suara halus seperti gesekan logam dari bawah tanah muncul, sangat samar tetapi jelas. Wira mendongak cepat.
“Sekarang?” tanyanya.
Raden Seta mengangguk. “Arahkan kunci.”
Wira mengeluarkan kunci tua yang tadi dipakai membuka jalan tanah. Ia mengarahkannya ke utara seperti petunjuk naskah. Baru beberapa saat kemudian tanah di depan mereka bergetar lembut.
Dan dari retakan yang semula seperti garis mati itu, perlahan muncul celah lebih lebar.
Panca langsung mundur satu langkah. “Aku benar-benar tidak suka kalau tanah bisa bergerak sendiri.”
Ki Rangga menatap celah itu tanpa ekspresi. “Kita lihat dulu.”
Celah itu mengarah ke bawah, bukan ke ruang besar, melainkan lorong pendek yang tertutup batu-batu pendek. Dari dalam keluar udara yang sangat dingin, jauh lebih tua dari tempat mana pun yang mereka datangi hari ini.
Wira menatap lorong itu dengan perasaan campur aduk. Setiap langkah membawanya makin dekat pada jawaban, tetapi juga makin dekat pada sesuatu yang belum ia pahami. Ia menoleh pada Raden Seta. “Ini tempat saksi yang kau maksud?”
Raden Seta mengangguk perlahan. “Kemungkinan besar.”
Jaya menatap ke dalam lorong. “Ada ruang di bawah sana.”
“Dan mungkin ada orang dulu yang sengaja meninggalkan sesuatu,” tambah Ki Rangga.
Panca menutup mata sebentar. “Tolong bilang setelah ini kita benar-benar hampir selesai.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Wira menggenggam liontin di balik kain dan menatap lorong sempit itu. Di dalam dirinya, ada dorongan kuat untuk masuk, tetapi ada juga ketakutan bahwa jawaban berikutnya akan mengubah segalanya lagi. Namun ia sudah terlalu jauh untuk berhenti di tengah.
“Aku masuk dulu,” katanya pelan.
Ki Rangga menatapnya. “Aku di belakangmu.”
Jaya mengangkat lampu kecil. “Aku ikut.”
Raden Seta menyimpan naskah dan peta di balik kain. “Kalau ini petunjuk ibu kalian, kita harus melihatnya sampai selesai.”
Panca mengeluh pelan, lalu mengikuti di belakang. “Aku sudah pasrah.”
Mereka menuruni lorong pendek itu satu per satu.
Dan saat Wira melangkah ke ruang bawah yang samar di balik tanah retak, ia belum tahu bahwa tempat itu bukan hanya saksi masa lalu, melainkan pintu menuju kebenaran yang selama ini sengaja dipisahkan dari hidupnya.
bukin pusing aja