NovelToon NovelToon
Matahari Untuk Erlan

Matahari Untuk Erlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.

Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13

Langit malam menggantung tenang ketika mobil akhirnya berhenti di parkiran apartemen. Lampu-lampu gedung memantulkan cahaya kekuningan yang terasa hangat di tengah lelahnya hari. Begitu mesin dimatikan, langsung turun lebih dulu. Tanpa banyak bicara, ia berjalan cepat menuju pintu masuk, berniat mengatur sandi akses apartemen milik Erlan.

Di dalam mobil, suasana terasa lebih hening.

Erlan bangkit perlahan dari kursinya. Gerakannya hati-hati, seolah setiap detik adalah ujian. Di pelukannya, Kirana tertidur pulas, wajah kecilnya tampak damai tanpa beban dunia. Erlan menahan napas, mencoba agar gerakannya tidak mengusik tidur putrinya.

Namun, seperti anak kecil pada umumnya, Kirana sedikit mengerang. Tubuh mungilnya bergerak gelisah.

Erlan langsung bereaksi.

Dengan refleks yang hampir tanpa berpikir, ia menepuk pelan punggung Kirana, ritmis, lembut, penuh kehati-hatian.

“Tidur lagi, ya…” bisiknya sangat pelan, nyaris tak terdengar.

Ajaibnya, Kirana kembali tenang.

Dari sisi lain, memperhatikan pemandangan itu tanpa berkata apa-apa. Ada sesuatu yang berubah di matanya. Kekaguman? Kebingungan? Atau mungkin sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Ia bertanya dalam hati.

Apakah ini naluri seorang ayah?

Atau Erlan… diam-diam sudah belajar menjadi seorang ayah sebelumnya?

Pikiran itu terasa aneh, tapi sulit diabaikan.

Tak lama, Adi kembali, langkahnya sedikit tergesa. Ia membuka bagasi dan mulai mengambil belanjaan. Tanpa banyak instruksi, Linda ikut membantu. Tangannya mengambil beberapa kantong, lalu ia berjalan lebih dulu menuju lift.

Pintu apartemen akhirnya terbuka.

Begitu masuk, Erlan tidak berhenti di ruang tamu. Ia langsung menuju salah satu kamar. Langkahnya tetap hati-hati, seolah dunia di tangannya benar-benar rapuh.

Di dalam kamar, ia membaringkan Kirana perlahan di atas ranjang.

Tangannya tetap berada di punggung anak itu beberapa detik lebih lama, memastikan napas kecil itu kembali stabil.

Baru setelah itu ia menarik tangannya pelan.

Sementara itu, Linda menuju dapur. Ia menaruh semua belanjaan, lalu mulai membereskannya satu per satu. Gerakannya cepat, terlatih, seperti seseorang yang sudah terbiasa mengurus semuanya sendiri.

Beberapa menit kemudian, ia mengambil tisu basah.

Ia kembali ke kamar.

“Kirana belum mandi,” katanya pelan, lebih seperti pengingat daripada keluhan.

Erlan yang berdiri di samping ranjang menoleh.

“Aku lakukan saja,” lanjut Linda.

Namun Erlan menggeleng pelan.

“Aku mau coba.”

Linda sedikit terkejut, tapi tidak menghentikannya.

Erlan mengambil tisu basah itu. Gerakannya tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya percaya diri. Ia mulai membersihkan tangan kecil Kirana, lalu wajahnya, lalu bagian tubuh lainnya dengan hati-hati.

Sentuhannya lembut.

Lebih lembut dari yang Linda bayangkan.

Linda diam. Ia hanya memperhatikan.

Setelah selesai, Linda mengambil baju bersih dan mulai memakaikannya pada Kirana. Namun, saat baju hampir selesai dikenakan, Kirana terbangun.

Tangis kecil langsung pecah.

Refleks, Linda langsung menggendongnya.

“Sudah, sudah… sini sama Mama…”

Ia mengayun pelan tubuh Kirana, mencoba menenangkannya.

Erlan hanya berdiri di samping, memperhatikan.

Ia tidak ikut panik.

Ia tahu.

Kirana hanya terbangun karena terganggu tidurnya.

Beberapa menit kemudian, tangis itu mereda.

Kirana kembali tertidur di pelukan Linda.

Erlan menghembuskan napas pelan, lalu mengambil tisu bekas dan membuangnya ke tempat sampah. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan menuju kamar mandi.

Air mengalir.

Suara itu memenuhi keheningan apartemen.

Ketika Erlan keluar, ia sudah mengenakan pakaian yang lebih santai. Wajahnya tampak lebih segar, tapi matanya tetap menunjukkan sesuatu yang tidak sepenuhnya tenang.

Di kamar, Kirana sudah kembali terlelap di atas ranjang.

Linda duduk di sampingnya.

Erlan mendekat.

“Aku jaga dia,” katanya pelan. “Kamu mandi saja dulu.”

Linda menatapnya sejenak.

Tidak ada keraguan dalam suara Erlan.

Akhirnya, ia mengangguk.

“Baik.”

Linda pergi ke kamar mandi, meninggalkan Erlan sendirian bersama Kirana.

Erlan duduk di samping ranjang.

Lalu, perlahan, ia berbaring di samping putrinya.

Ia menoleh.

Menatap wajah kecil itu.

Ada sesuatu yang berbeda saat ia melihat Kirana sekarang. Bukan sekadar rasa sayang… tapi juga rasa kehilangan yang terlambat disadari.

Waktu yang hilang.

Momen yang tidak pernah ia alami.

Ia mengangkat tangan, hampir menyentuh pipi Kirana, tapi kemudian ragu.

Akhirnya, tangannya hanya berhenti di udara.

Tak lama, pintu kamar terbuka pelan.

Linda kembali.

Rambutnya masih sedikit basah.

Ia berjalan mendekat.

Erlan menoleh.

“Boleh… aku sebentar lagi di sini?” tanyanya pelan.

Linda tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengangguk, lalu duduk di tepi ranjang.

Beberapa detik hening.

Kemudian Erlan berbicara lagi.

“Linda…”

Suaranya lebih berat dari biasanya.

“Bagaimana… Kirana lahir?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Linda terdiam.

Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang.

Erlan menatap lurus ke depan.

“Aku sering dengar cerita orang lain,” lanjutnya pelan. “Tentang hari kelahiran anak mereka… tentang bagaimana mereka ada di sana.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku tidak ada.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.

Linda menarik napas.

Ia tahu… ini bukan sekadar rasa penasaran.

Ini penyesalan.

Ia menunduk.

“Kirana… lahir lebih cepat dari yang seharusnya,” katanya pelan.

Erlan menoleh.

Alisnya sedikit berkerut.

“Kenapa?”

Linda tersenyum kecil.

Bukan senyum bahagia.

Lebih seperti senyum yang dipaksakan.

“Karena aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik.”

Erlan langsung menggeleng.

“Jangan bilang begitu—”

“Aku sering mual,” potong Linda pelan. “Susah makan. Tapi aku tetap bekerja.”

Ia menatap tangannya sendiri.

“Kerja apa saja… supaya bisa bertahan hidup.”

Erlan terdiam.

“Padahal… perutku sudah besar,” lanjut Linda. “Harusnya aku istirahat. Tapi aku tidak punya pilihan.”

Suaranya mulai bergetar, meski ia berusaha menahannya.

“Itu sebabnya Kirana lahir kecil.”

Sunyi.

Erlan menatapnya.

Ada sesuatu yang menusuk di dadanya.

“Aku… gagal,” kata Linda pelan. “Bahkan untuk memenuhi kebutuhan anakku sendiri.”

Erlan langsung duduk tegak.

“Cukup,” katanya tegas.

Linda terdiam.

Namun ia tetap melanjutkan.

“Kalau bukan karena Anita… aku tidak tahu harus bagaimana.”

Nama itu membuat Erlan sedikit mengerutkan kening.

“Dia memberiku tempat tinggal,” lanjut Linda. “Dia membantu merawat Kirana. Bahkan… dia tidak pernah merasa terbebani.”

Linda tersenyum tipis.

“Dia menyayangi Kirana seperti anaknya sendiri.”

Erlan menunduk.

Tangannya mengepal pelan.

Seandainya…

Seandainya ia tidak pergi.

Seandainya mereka tidak berpisah.

Semua itu tidak akan terjadi.

“Kirana sekarang sehat,” kata Linda, seolah membaca pikirannya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Erlan mengangkat kepalanya.

“Dia anak yang kuat,” lanjut Linda. “Tidak rewel soal makan. Mudah akrab dengan orang.”

Ia tersenyum lebih tulus kali ini.

“Bahkan di rusun dulu… banyak orang yang membantu menjaganya.”

Kalimat itu membuat Erlan membeku.

Rusun.

Tempat yang ia gusur.

Tempat yang ia hancurkan tanpa banyak pertimbangan.

Orang-orang yang… ternyata membantu anaknya.

Tangannya perlahan melemas.

“Aku…” suaranya tercekat. “Aku menggusur mereka.”

Linda tidak langsung menjawab.

Erlan menatap lantai.

“Aku mengambil tempat tinggal mereka… padahal mereka membantu anakku.”

Sunyi kembali memenuhi ruangan.

Tidak ada yang mencoba memperbaiki kalimat itu.

Karena memang tidak ada yang bisa diperbaiki.

Erlan mengusap wajahnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat benar-benar rapuh.

Linda menatapnya.

Ada banyak hal yang ingin ia katakan.

Namun akhirnya, ia hanya berkata pelan,

“Mereka orang baik.”

Erlan menutup matanya.

Kalimat sederhana itu justru terasa lebih berat dari apa pun.

Ia membuka matanya kembali, lalu menoleh ke arah Kirana.

Anak kecil itu tertidur dengan damai.

Tidak tahu apa pun.

Tidak tahu konflik.

Tidak tahu kesalahan.

Tidak tahu penyesalan.

Erlan menatapnya lama.

Seolah mencoba mengingat satu hal penting.

Bahwa masih ada kesempatan.

Bahwa belum semuanya terlambat.

Ia menghela napas panjang.

Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya, ia berkata,

“Aku akan memperbaikinya.”

Tidak ada janji besar.

Tidak ada kata-kata dramatis.

Hanya satu kalimat sederhana.

Namun cukup untuk membuat malam itu terasa sedikit… lebih ringan.

1
Nessa
udalah balikan aja kalean
onimaru rascall: bapaknya ga bolehin karena pengen menantu yang setara keluarganya dari segi kekayaan 🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!