Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.
Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.
Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.
"Aku adalah ... Qin Xiang."
Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24: Beberapa Serangga Pengganggu
Gema ketidakpuasan meledak di antara kerumunan murid sekte dalam, bak ribuan lebah yang terusik dari sarangnya. Beberapa murid yang semula hanya berdiri menonton dengan sikap acuh tak acuh kini memajukan langkah, menatap Qin Xiang dengan binar mata yang penuh rasa curiga. Bagaimana mungkin seorang pemuda yang baru saja menapakkan kaki di ranah Qi Fondasi tingkat pertama sanggup menggenggam sesuatu yang bahkan sulit dicapai oleh mereka ketika masih berstatus murid sekte luar.
Sementara itu, Ji Yang, yang merasa martabatnya baru saja diinjak-injak hingga ke dasar lumpur, menolak untuk menerima kenyataan pahit di depan matanya. Darahnya mendidih, dan jemarinya yang gemetar mulai meraba gagang pedang, berniat memberikan "sedikit pelajaran" kepada Qin Xiang. Namun, sebelum niat buruk itu sempat mewujud menjadi serangan, sebuah gelombang tekanan tenaga dalam yang luar biasa dahsyat tiba-tiba jatuh dari langit-langit paviliun, membekukan setiap gerakan di lantai dua tersebut.
“Siapa yang memiliki keberanian setebal gunung untuk meragukan tindakan wanita tua ini?”
Suara itu terdengar parau namun mengandung getaran kekuatan yang sanggup menggetarkan organ dalam siapa pun yang mendengarnya. Tetua Lou Ji muncul dari balik tabir bayangan dengan langkah yang lambat namun pasti. Setiap pijakan kakinya di lantai kayu seolah-olah membawa beban titah yang tak tergoyahkan. Tatapannya yang sedingin es menyapu seluruh penjuru ruangan, membuat murid-murid dalam yang semula lantang kini menundukkan kepala seperti seekor anak ayam yang bertemu elang.
“Te-Tetua Lou...” Ji Yang tersentak. Bulu kuduknya berdiri, namun rasa tinggi hati yang berasal dari identitas ayahnya membuatnya tetap berdiri tegak, meski butiran keringat mulai membanjiri pelipisnya. Dengan suara yang dipaksakan stabil, ia memberanikan diri untuk bersuara. “Tetua Lou, murid memohon keadilan. Bagaimana mungkin sosok sampah sepertinya diperkenankan menginjakkan kaki di lantai dua yang mulia?”
Tetua Lou melirik Ji Yang dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat serangga kecil yang mengganggu pemandangan. Sebelum ia menjawab, matanya terlebih dahulu tertuju pada Qin Xiang, memastikan bahwa peraturan paviliunnya belum dinodai oleh perkelahian.
“Bocah, apakah kau sedang mencoba mempertanyakan keputusanku?” suara wanita tua itu merendah, namun setiap katanya membawa aura penindasan yang menyesakkan. “Apa kau benar-benar berpikir bahwa nama besar ayahmu sanggup menjadi tameng bagi nyawa kecilmu jika kau terus bertingkah seperti anjing liar yang tak tahu malu?”
“...Mohon maafkan kelancangan murid ini, Tetua.” Ji Yang membungkuk dalam, sebuah gestur yang sama sekali tidak dibarengi dengan ketulusan di dalam hatinya. Kilatan benci masih menari-nari di balik kelopak matanya yang menunduk. “Namun, sebagai murid dalam, murid hanya ingin memastikan bahwa ia memang layak menyandang gelar tersebut. Ia harus membuktikan bahwa ia tidak hanya mengandalkan keberuntungan, melainkan benar-benar sanggup menyaingi bakat jenius seperti Senior Xiao Yue!”
“Itu benar, Tetua! Mohon berikan pencerahan!” beberapa murid pendukung Ji Yang ikut menyahut, mencoba memojokkan Qin Xiang.
“DIAM!”
Bentakan Tetua Lou meledak, membuat formasi pelindung di dinding paviliun bergetar hebat. “Layak atau tidaknya, Qin Xiang telah menunjukkan bakatnya di hadapan Patung Pedang Giok milik Master Sekte secara langsung padaku! Apa kalian sekarang berani menuding bahwa Patung Pedang Giok milik Master Sekte telah keliru dalam menilai kemurnian seseorang?”
Keheningan yang mematikan seketika menyelimuti lantai dua. Kalimat itu seperti petir di siang bolong yang menghanguskan seluruh bualan para murid tersebut. Menyinggung Tetua Lou mungkin masih bisa dimaafkan karena pengaruh Tetua Agung, namun meragukan benda milik Master Sekte adalah tindakan tak termaafkan yang dapat membuat salah satu bagian tubuh menjadi cacat selamanya.
‘Tidak mungkin! Ini benar-benar mustahil!’ batin Ji Yang bergejolak hebat. Ia merasa seolah-olah seluruh dunianya baru saja runtuh. Kehadiran naga baru yang sanggup melampaui pencapaiannya adalah racun yang membakar ketenangannya.
“Cih!” Ji Yang hanya sanggup melemparkan lirikan penuh dendam kepada Qin Xiang. Di sisi lain, Qin Xiang tetap berdiri dengan ketenangan seorang raja yang sedang menonton sandiwara picik, tanpa sedikit pun rasa gentar yang terpancar dari matanya.
“Pergilah! Aku hanya akan memaafkanmu kali ini karena menghormati ayahmu. Jika aku melihatmu membuat onar lagi di paviliunku, jangan harap kau bisa melihat matahari terbit esok hari!” perintah Tetua Lou dengan nada mutlak. Perintah itu bekerja seperti angin badai; para murid sekte dalam segera membubarkan diri dengan langkah tergesa, tak berani menatap balik.
Setelah suasana kembali tenang, Tetua Lou menghela napas panjang, meredakan tekanan auranya hingga kembali seperti semula. Ia menatap Qin Xiang dengan pandangan yang sedikit melembut. “Qin Xiang, pohon yang paling tinggi akan selalu diterjang angin yang paling kencang. Sebaiknya kau fokus meningkatkan kultivasimu dan abaikan gonggongan binatang liar yang merasa terancam.”
“Aku akan mengingat nasehat itu, Tetua,” jawab Qin Xiang sembari menangkupkan tangan dengan hormat.
Tetua Lou mengangguk puas, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan paviliun. Qin Xiang hanya menggumam pelan, “Selalu saja ada kucing yang merasa dirinya harimau.” Ia pun kembali memusatkan perhatiannya pada deretan senjata, hingga akhirnya jemarinya berhenti pada sebilah pedang dengan gagang berwarna biru langit yang memancarkan getaran energi yang tajam.
...
Beberapa waktu kemudian, Qin Xiang melangkahkan kaki keluar dari megahnya Paviliun Harta. Di pinggangnya kini tersarung sempurna sebuah pedang kelas Misterius tingkat tinggi yang ia tebus dengan harga lima ribu poin sekte, sekarang ia berencana untuk menghabiskan sisa poinnya di Aula Kultivasi.
Qin Xiang berjalan dengan langkah yang tegak dan konstan. Namun, indra kaisarnya yang tajam menangkap riak-riak niat buruk yang bersembunyi di balik pilar-pilar batu dan lorong-lorong sempit di sepanjang jalan menuju Aula Kultivasi.
‘Ji Yang... nampaknya kau terlalu kekanak-kanakkan,’ batin Qin Xiang dengan seringai dingin.
Sekitar satu dupa berselang, Qin Xiang akhirnya tiba di depan gerbang Aula Kultivasi. Di sana, Qu Long yang bertubuh tambun sudah menunggu dengan wajah cemas. Begitu melihat sosok Qin Xiang muncul, matanya yang sipit langsung berbinar lega.
“Kakak Qin! Akhirnya kau sampai! Aku sudah menunggumu sangat lama. Apa yang terjadi?” tanya Qu Long dengan nada penuh tanya.
“Hmm, ada beberapa serangga pengganggu yang mencoba menghalangi jalan tadi,” jawab Qin Xiang santai sembari merapikan pakaiannya.
“Oh?” Qu Long bertanya dengan polos, “Apakah kau sudah mengusir mereka?”
“Ya, aku menjamin serangga-serangga itu tidak akan sanggup bangkit dari tempat tidur mereka selama beberapa bulan ke depan,” ungkap Qin Xiang pendek, suaranya sedatar es. “Ayo masuk, jangan buang-buang waktu.”
“Enn!” Qu Long mengangguk patuh dan mengekor di belakang Qin Xiang. Di dalam hatinya, ia hanya bisa membayangkan betapa malangnya nasib para murid yang mencoba mencari perkara dengan Qin Xiang. 'Murid bodoh mana yang begitu malang?' pikir Qu Long sembari menggelengkan kepala penuh rasa kasihan.
Bersambung!