NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Bayangan di Balik Lampu Jalan yang Padam

Napas Rama memburu, paru-parunya serasa dibakar hidup-hidup sementara kakinya terus menghantam aspal kasar di sepanjang kawasan Lembah Aspal. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya, bercampur dengan udara malam Yogyakerto yang mulai menusuk tulang. Peringatan keras dari Galang terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak. Tora bakal pakai dia buat ngancurin lo!

Lorong menuju pertigaan toilet umum itu terkenal sebagai zona merah. Lampu jalannya sengaja dipecahkan oleh preman-preman lokal agar mereka bisa mabuk-mabukan dan memalak orang lewat tanpa terlihat. Bau pesing bercampur aroma alkohol murahan dan tumpukan sampah basah langsung menyengat rongga hidung Rama begitu ia berbelok ke gang sempit tersebut.

Di tengah kegelapan yang hanya diterangi cahaya rembulan yang mengintip dari balik awan tebal, telinga Rama yang sangat peka menangkap suara tawa sumbang laki-laki. Tawa yang terdengar sangat merendahkan dan berbahaya.

"Jual mahal amat sih, Neng jilbab. Abang kan cuma mau kenalan. Masa ke toilet sendirian jam segini? Bahaya tahu, mending abang temenin."

"Mundur lo berdua! Jangan berani-beraninya mendekat atau gue teriak biar warga sekampung ke sini!"

Itu suara Nayla. Nadanya berusaha keras terdengar berani dan lantang, tapi Rama bisa menangkap getaran ketakutan yang sangat jelas di setiap suku katanya.

Darah di sekujur tubuh Rama seakan mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa nyeri di tulang rusuk dan bahunya menguap tanpa sisa, digantikan oleh ledakan adrenalin murni yang mematikan. Ia mempercepat langkahnya, keluar dari bayang-bayang gang gelap, dan pemandangan di depannya sukses membuat jiwa iblis jalanannya bangkit sepenuhnya.

Nayla berdiri terpojok di depan tembok bata yang berlumut, memeluk ranselnya erat-erat ke dada sebagai tameng. Di depannya, dua orang preman kampung berwajah sangar tengah menyeringai menjijikkan. Si pria berbadan tambun, yang sepertinya bernama Boni, sedang mencoba meraih ujung jilbab ungu Nayla, sementara temannya yang kurus kering bernama Jali tertawa-tawa sambil memegang botol minuman keras yang sudah setengah kosong.

"Teriak aja, Neng. Di sini mah warga pada budek semua kalau udah jam"

Bugh!

Kalimat Boni terputus secara brutal. Sebuah tendangan menyamping yang sangat keras dan presisi mendarat telak di rahangnya sebelum ia bahkan sempat menyadari dari mana datangnya serangan itu. Boni terpental sejauh dua meter, menabrak tumpukan galon kosong hingga berantakan, dan langsung tersungkur memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Jali yang sedang tertawa langsung terdiam kaku. Matanya melotot ngeri melihat sesosok cowok tinggi berjaket kulit hitam legam yang kini berdiri tegap di depan Nayla, layaknya malaikat maut yang baru saja bangkit dari neraka.

"Rama..." bisik Nayla lirih, suaranya bergetar hebat. Lutut gadis itu nyaris lemas, namun kehadiran punggung lebar di depannya memberikan rasa aman yang seketika melingkupi seluruh kewarasannya.

"Sentuh dia satu inci aja, dan gue pastiin tangan lo berdua putus malam ini juga," desis Rama dengan suara serendah bass, auranya begitu gelap dan mencekam hingga udara di sekitar mereka terasa ikut membeku.

Jali, yang nyalinya sebenarnya sekecil biji kacang, mencoba terlihat sok jagoan karena pengaruh alkohol. Ia memecahkan botol kaca di tangannya ke tembok, menyisakan ujung botol bergerigi yang tajam, lalu mengarahkannya ke arah Rama.

"Bangsat lo! Bocah tengik berani-beraninya cari mati di kandang gue!" teriak Jali sambil menerjang maju, mengayunkan pecahan botol itu ke arah perut Rama.

Nayla menjerit tertahan. Tapi bagi Rama yang sudah ratusan kali bertarung hidup dan mati di aspal jalanan, serangan mabuk Jali terlihat sangat lambat dan gampang dibaca. Dengan gerakan refleks yang luar biasa gesit, Rama memiringkan tubuhnya, membiarkan ujung botol itu meleset dari sasarannya. Tangan kirinya melesat secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Jali yang memegang botol, lalu memelintirnya ke belakang dengan tenaga penuh hingga terdengar bunyi krek yang ngilu.

"Arghhh! Sakit, ampun, ampun!" erang Jali, botol kaca itu langsung terlepas dari genggamannya dan pecah berantakan di atas paving blok.

Tanpa belas kasihan, Rama mendaratkan hantaman lututnya ke ulu hati Jali, disusul dengan pukulan telak di tengkuk pria kurus itu. Jali langsung tumbang ke tanah, kehilangan kesadaran seketika. Boni yang baru saja berusaha merangkak bangun, melihat temannya tepar dalam hitungan detik, langsung mengurungkan niat. Preman tambun itu tertatih-tatih lari terbirit-birit meninggalkan gang gelap tersebut, menghilang ditelan bayangan malam.

Keheningan kembali merajai pertigaan itu, hanya disela oleh suara napas Rama yang memburu dan detak jantungnya yang berdentum keras di telinga. Rama memejamkan mata sejenak, mencoba menetralkan emosi liarnya yang masih mendidih. Ia memutar tubuhnya, menatap Nayla yang masih berdiri mematung sambil meremas tali ranselnya. Wajah gadis itu seputih kapas.

Melihat Nayla ketakutan, amarah yang berbeda tiba-tiba meledak di dada Rama. Bukan amarah kepada preman tadi, tapi amarah karena rasa panik dan takut kehilangan yang nyaris membuat akalnya putus.

"Lo gila ya?!" bentak Rama dengan suara lantang, mengabaikan fakta bahwa ia tidak pernah meninggikan suaranya pada gadis ini sebelumnya. "Kan gue udah bilang tunggu di warung pecel lele! Ngapain lo keluyuran ke tempat sampah kayak gini sendirian?! Kalau gue telat satu menit aja, lo tahu apa yang bakal terjadi sama lo, hah?!"

Nayla berjinjit kaget mendengar bentakan itu. Mata bulatnya langsung berkaca-kaca, pertahanannya yang sedari tadi ia tahan akhirnya jebol juga.

"Gue kebelet, Ram! Di warung itu airnya mati, mang lelenya yang nyuruh gue ke sini!" balas Nayla, suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Mana gue tahu kalau tempat ini gelap dan banyak preman! Gue juga takut, bego! Lo pikir gue sengaja nyari mati?!"

Satu tetes air mata lolos begitu saja membasahi pipi Nayla, disusul tetesan-tetesan lainnya. Gadis cerewet yang biasanya selalu punya seribu satu kalimat nyinyir itu kini menangis tersedu-sedu sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang ketakutan.

Melihat air mata itu, seluruh ego, amarah, dan arogansi Rama runtuh seketika. Hatinya mencelos. Bentakannya tadi bukan karena ia benci, tapi karena ia tidak sanggup membayangkan skenario terburuk jika ia terlambat datang.

Rama menghela napas kasar, mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Karena tahu tidak sopan memeluk gadis berjilbab sembarangan, Rama hanya meraih ujung lengan sweter peach Nayla, lalu menariknya dengan lembut namun tegas.

"Udah, jangan nangis di sini. Tempat ini nggak aman. Kita pergi sekarang," ucap Rama, nadanya kembali melembut drastis, jauh lebih pelan dan menenangkan.

Ia membiarkan Nayla berjalan di belakangnya, sementara tangannya tetap menggenggam ujung lengan sweter gadis itu. Rama sengaja berjalan dengan posisi tubuh setengah menutupi Nayla, memasang mode waspada penuh sepanjang perjalanan kembali ke arah warung.

Setibanya di jalan raya yang jauh lebih terang dan ramai, barulah Rama melepaskan genggamannya. Mereka tidak kembali ke bengkel. Rama membawa Nayla ke sebuah minimarket 24 jam yang terang benderang. Ia menyuruh Nayla duduk di kursi teras, sementara ia masuk ke dalam dan keluar membawa sebotol air mineral dan sekotak susu stroberi dingin.

Rama meletakkan minuman itu di depan Nayla, lalu duduk di kursi seberangnya. Napas keduanya sudah lebih teratur. Nayla mengusap sisa air matanya menggunakan punggung tangan, terlihat masih shock tapi sudah jauh lebih tenang.

"Minum dulu, biar tenang," suruh Rama pelan.

Nayla menuruti tanpa membantah. Ia meneguk air mineral itu agak banyak.

Rama menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke arah jalan raya yang mulai dilintasi kendaraan malam. Perkataan Galang kembali terngiang. Ini bukan sekadar preman iseng. Kalau Kobra Besi yang menemukan Nayla, urusannya akan jauh lebih panjang dan berdarah.

"Nay," panggil Rama memecah keheningan. "Mulai besok, lo nggak usah nyari gue lagi setelah pulang sekolah. Tugas drama kita, lo kerjain bagian lo di rumah, gue kerjain bagian gue di rumah. Kalau ada perlu, chat aja."

Nayla menghentikan minumnya. Ia mendongak, menatap Rama dengan kening berkerut tajam. "Maksud lo apa? Lo ngusir gue gara-gara kejadian tadi? Gue kan udah bilang gue nggak sengaja ke sana!"

"Bukan soal lo sengaja atau nggak," potong Rama cepat, matanya menatap tepat ke dalam manik mata Nayla dengan sorot yang sangat serius. "Dunia gue yang ini... yang nggak pernah lo lihat di sekolah... itu terlalu kotor dan bahaya buat lo, Nay. Lo lihat sendiri tadi. Itu baru cecunguk mabuk. Lo belum lihat musuh gue yang sebenarnya. Kalau mereka tahu lo dekat sama gue, mereka bakal jadiin lo target buat ngehancurin gue."

"Gue nggak takut," potong Nayla keras kepala.

"Tapi gue yang takut!" Suara Rama naik setengah oktaf, membuat Nayla kembali terdiam. Rama mengacak rambutnya frustrasi. "Gue nggak bisa... gue nggak akan sanggup maafin diri gue sendiri kalau sampai ada orang yang nyakitin lo cuma gara-gara lo kebetulan dekat sama bos geng motor brengsek kayak gue. Ngerti nggak sih lo?"

Pengakuan itu meluncur begitu saja tanpa disaring. Kata-kata yang terdengar sangat protektif, jujur, dan telanjang. Rama Arsya Anta, sang Hantu Wana Asri yang tak pernah gentar menghadapi maut di lintasan aspal, kini mengakui dengan putus asa bahwa ia ketakutan. Takut kehilangan seorang gadis yang awalnya hanya ia anggap sebagai ancaman penyebar rahasia.

Nayla tertegun. Rona merah tipis menjalar di pipinya, mengalahkan rasa dingin malam itu. Ia menatap cowok di depannya lekat-lekat. Di balik kacamata minus dan jaket kulit sangar itu, ada jiwa yang sebenarnya sangat peduli dan penuh luka.

Gadis itu menarik napas panjang, lalu menyedot susu stroberinya dengan santai, seolah baru saja mendengar lelucon garing.

"Denger ya, Babu," ucap Nayla, nada suaranya kembali ke mode menyebalkan andalannya, meski kali ini diiringi sebuah senyuman tipis yang sangat tulus. "Sejak kapan seorang babu berhak ngatur-ngatur jadwal majikannya? Kalau gue bilang kita ngerjain tugas di kafe sepulang sekolah, ya lo harus datang. Titik."

Rama melongo. "Lo beneran budeg ya? Lo nggak denger omongan gue barusan soal bahaya—"

"Gue denger, Rama. Sangat jelas," potong Nayla, mencondongkan tubuhnya ke depan melintasi meja bundar minimarket. Matanya berkilat penuh tekad. "Tapi gue bukan cewek lemah di novel-novel yang harus lo kurung di menara gading biar aman. Kalau dunia lo emang bahaya, ya tugas lo sebagai bos geng motor dan sebagai partner tugas gue buat mastiin gue tetap aman. Bukan malah lari dan sembunyi."

Rama terdiam seribu bahasa. Ia menatap gadis berjilbab ungu di depannya ini dengan rasa takjub yang luar biasa. Nayla benar-benar spesies manusia yang tidak bisa diprediksi. Di saat semua orang waras akan lari menjauh dari kehidupannya yang berantakan, gadis ini justru melangkah maju dengan keras kepala, menolak untuk melepaskannya.

Sebuah senyum miring, campuran antara pasrah dan kekaguman, akhirnya terukir di bibir Rama. Ia membuang pandangannya ke arah lampu jalanan, merasakan desiran aneh di dadanya yang kini bukan lagi karena adrenalin perkelahian, melainkan karena getaran hangat yang semakin tak terbendung.

"Dasar keras kepala," gumam Rama pelan, menggelengkan kepalanya pasrah. "Awas aja kalau besok lo nagih dibeliin es krim mahal sebagai kompensasi kaget malam ini."

Nayla terkekeh renyah. "Ide bagus. Besok siapin dompet lo, Bos Besar."

Dan di bawah neon minimarket yang terang benderang itu, Rama menyadari satu hal yang pasti. Lintasan aspal mungkin mematikan, tetapi jatuh cinta pada seorang gadis yang mengacak-acak kedua dunianya ini ternyata jauh lebih berbahaya, dan anehnya... Rama sangat rela menempuh bahaya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!