NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Enam Bayangan di Arena

"Semua murid bersiap!" suara diaken menggema keras, membuat pelataran pertandingan yang luas itu perlahan menjadi sunyi. "Pertandingan akan dimulai sekarang!"

Huang berdiri tenang di antara kerumunan murid luar. Tatapannya lurus ke depan, sementara di kejauhan Dhu Yan duduk di area murid dalam dengan mata menyipit dingin. Tatapan pria itu seperti ular berbisa yang sedang menunggu mangsa lengah. Tidak hanya Dhu Yan, banyak murid luar juga menatap Huang dengan ekspresi tajam, terutama Lan Dong yang berdiri sambil melipat kedua tangan di dada.

Huang tidak mempedulikan semua itu. Wajahnya tetap datar, bahkan napasnya tidak berubah sedikit pun.

Diaken melanjutkan dengan suara keras, "Seperti yang dikatakan Tetua Wushuang sebelumnya, hari ini banyak tetua dari sekte bagian dalam hadir untuk melihat kemampuan kalian. Tunjukkan penampilan terbaik kalian!"

Seluruh murid segera menjawab serempak.

"Baik!"

Diaken membuka gulungan daftar pertandingan di tangannya. Matanya bergerak pelan sebelum akhirnya berhenti di satu nama.

"Pertandingan pertama... Huang melawan Han Wujian!"

Huang sedikit terkejut. Baru saja kompetisi dimulai, namanya langsung dipanggil. Namun keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat. Dia segera berjalan menuju arena batu di tengah pelataran. Langkahnya stabil meskipun empat gelang besi berat masih melekat di kedua tangan dan kedua kakinya.

Banyak murid memperhatikan gelang itu dengan heran.

"Itu... gelang penekan?"

"Orang gila mana yang bertarung memakai benda seperti itu?"

"Dia ingin pamer?"

Di sisi lain arena, Han Wujian juga berjalan masuk. Pria muda itu memiliki tubuh tegap dengan kultivasi Ranah Fana Tahap Akhir. Wajahnya terlihat tenang dan sopan. Setelah berdiri beberapa langkah dari Huang, dia segera menangkupkan kedua tangan.

"Saudara Huang, mohon bimbingannya."

Huang membalas hormat dengan sopan.

"Saudara Han terlalu baik."

Diaken mengangkat tangannya tinggi.

"Pertandingan pertama... mulai!"

Huang langsung mengeluarkan pedang peraknya dari cincin ruang. Cahaya dingin memantul di permukaan pedang itu. Han Wujian juga menarik pedangnya sendiri, lalu segera menyerang lebih dulu.

Swish!

Tebasan lurus mengarah ke leher Huang tanpa keraguan. Gerakannya cepat untuk ukuran murid luar. Namun mata Huang hanya bergerak sedikit. Tubuhnya miring setengah langkah ke kanan, membuat tebasan itu meleset tipis di depan wajahnya.

Han Wujian terkejut.

Belum sempat dia menarik kembali pedangnya, Huang sudah bergerak maju.

Duk!

Suara berat terdengar dari gelang besi di kaki Huang saat melangkah. Namun justru karena itu, ledakan kecepatannya terlihat lebih mengerikan. Pedang Huang menusuk lurus ke dada lawan.

Han Wujian buru-buru memutar pedangnya untuk menahan.

Trang!

Percikan api keluar. Han Wujian mundur dua langkah. Namun Huang tidak memberinya waktu bernapas. Pedangnya langsung menebas miring ke bahu kiri lawan, lalu berubah arah menjadi tebasan horizontal ke pinggang.

Gerakannya bersih. Tidak ada tenaga berlebihan. Tidak ada gerakan sia-sia.

Han Wujian mulai terdesak.

Mata beberapa tetua sedikit berbinar.

"Sangat rapi..."

"Teknik dasar yang hampir sempurna."

"Si bocah itu dilatih dengan sangat kejam."

Tetua Mo hanya berbaring malas sambil meneguk araknya. Ekspresinya seolah mengatakan semua itu masih belum cukup menarik baginya.

Di arena, Han Wujian menggeram lalu melesat maju. Pedangnya menusuk bertubi-tubi ke arah dada dan tenggorokan Huang. Namun Huang bergerak seperti bayangan. Dia menghindar dengan jarak tipis berkali-kali, lalu tiba-tiba memutar tubuhnya.

Slash!

Pedang Huang berhenti tepat di leher Han Wujian.

Sunyi sesaat memenuhi arena.

Han Wujian menelan ludah. Jika tadi Huang melanjutkan sedikit saja, lehernya sudah terbuka.

Diaken segera berbicara keras, "Pemenang... Huang!"

Sorakan langsung terdengar dari beberapa murid luar.

"Hebat!"

"Gerakannya cepat sekali!"

"Tidak aneh Tetua Mo memilihnya."

Namun tidak sedikit pula yang mendecakan lidah dengan sinis.

"Hanya teknik dasar."

"Percuma cepat kalau tidak punya teknik kuat."

"Kalau melawan murid kuat nanti... dia pasti tamat."

Huang turun dari arena tanpa mengatakan apa pun. Dia menyimpan kembali pedang peraknya ke dalam cincin ruang.

Setelah pertarungan Huang... Pertandingan demi pertandingan terus berlangsung.

Beberapa murid mulai menunjukkan kemampuan luar biasa. Seorang pria besar bernama Gu Ren menghancurkan lawannya dengan tinju bertubi-tubi hingga arena retak. Kultivasinya berada di Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung, dan teknik tubuhnya sangat keras.

Lalu muncul seorang pria kurus bernama Ji Kuang yang menggunakan tombak hitam panjang. Gerakannya dingin dan tajam seperti ular rawa. Lawannya bahkan menyerah sebelum pertarungan berlangsung lama.

Setelah itu dua wanita naik ke arena secara bergantian.

Wanita pertama bernama Ning Su. Rambut hitamnya panjang hingga pinggang dengan mata dingin seperti danau beku. Pedangnya tipis seperti daun willow. Setiap gerakannya lembut, namun lawannya tumbang hanya dalam tiga tebasan.

Banyak murid pria menatapnya dengan kagum.

"Dia terlalu cantik..."

"Kalau bisa bicara dengannya sekali saja aku rela terluka."

Bahkan Lan Dong pun terus memperhatikannya diam-diam.

Wanita kedua bernama Qiao Rin. Berbeda dari Ning Su yang dingin dan tenang, aura Qiao Rin justru tajam seperti bilah tersembunyi. Dia menggunakan dua belati pendek dan menyerang tanpa ampun. Lawannya dipenuhi luka hanya dalam beberapa napas.

Sorakan penonton semakin ramai.

"Dia juga berada di Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung!"

"Kompetisi tahun ini benar-benar mengerikan."

Huang hanya melihat sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada arena. Dia tidak memahami tatapan kagum para murid pria itu. Sesekali matanya justru bergerak ke arah Luo Mei dan Lei Shan yang berdiri di kejauhan.

Lei Shan mengepalkan tangan sambil tersenyum memberi semangat.

Luo Mei tetap dingin, namun dia juga mengangguk kecil ke arah Huang.

Tidak lama kemudian nama Huang kembali dipanggil.

"Huang melawan Zheng Ku!"

Seorang pria bertubuh sedang segera naik ke arena. Wajahnya tampak biasa saja, namun matanya bergerak licik. Huang tidak mengetahui bahwa pria ini diam-diam merencanakan sesuatu.

Begitu pertandingan dimulai, Zheng Ku langsung menyerang menggunakan pedang pendek melengkung. Tebasannya aneh dan sulit ditebak. Huang menahan dua serangan pertama, lalu mundur satu langkah.

Tiba-tiba Zheng Ku melempar sesuatu ke tanah.

Pak!

Kabut abu-abu langsung menyebar.

Beberapa murid terkejut.

"Itu pil tidur!"

"Kurang ajar!"

Namun sebelum para tetua berbicara, kabut sudah memenuhi arena.

Tetua Mo hanya tersenyum sambil minum araknya.

Di dalam kabut, Zheng Ku menyeringai dingin. Dia melesat cepat menuju bayangan Huang. Pedangnya menusuk lurus ke dada.

Namun yang dia tusuk hanyalah bayangan kosong.

Mata Zheng Ku membelalak.

Tiba-tiba suara langkah berat terdengar di belakangnya.

Duk!

Huang muncul sambil menahan napas sepenuhnya. Zheng Ku berbalik cepat. Pada saat itu pedangnya Huang sudah bergerak menusuk dengan cepat. Lalu berhenti tepat di depan mata Zheng Ku.

Ujung pedang itu bahkan sudah menyentuh kulit kelopak matanya.

Diaken segera mengibaskan lengan. Angin besar menyapu kabut hingga menghilang.

Seluruh arena langsung terdiam.

Semua orang melihat Zheng Ku berdiri gemetar dengan ujung pedang Huang tepat di depan matanya.

"Kau kalah." Ucap Huang tenang.

Zheng Ku berkeringat dingin.

Diaken mengangguk. "Pemenang... Huang!"

Kali ini bahkan beberapa tetua bagian dalam mulai memperhatikan serius.

"Anak itu tenang sekali."

"Refleks dan ketajaman instingnya luar biasa."

Dhu Yan duduk dengan wajah muram. Jarinya mengetuk pelan sandaran kursi batu.

Pertandingan terus berlanjut sepanjang hari. Huang bertarung berkali-kali dan terus menang. Kadang dengan selisih tipis, kadang dengan kemenangan cepat. Namun dia sama sekali tidak mengeluarkan Teknik Pedang Gravitasi.

Banyak murid mulai meremehkannya.

"Dia hanya mengandalkan teknik dasar."

"Kalau bertemu pengguna teknik kuat dia pasti kalah."

"Masih terlalu muda."

Mata Tetua Mo sedikit menyipit mendengar semua itu. Namun dia tidak mengatakan apa-apa.

Hingga akhirnya matahari mulai bergerak condong, dan jumlah peserta tersisa semakin sedikit.

Diaken kembali membuka gulungan daftar. Setelah memastikan nama terakhir, dia mengangkat suara keras.

"Kompetisi hari pertama selesai!"

"Peserta tersisa hanya enam orang!"

Seluruh pelataran menjadi riuh.

Enam murid yang tersisa perlahan berdiri di arena batu besar.

Huang.

Lan Dong.

Gu Ren.

Ji Kuang.

Ning Su.

Qiao Rin.

Enam orang saling memandang dalam diam. Aura Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung memenuhi arena seperti tekanan berat yang terus bertabrakan satu sama lain.

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!