Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Altar Kebahagiaan Nyata
Tiga minggu setelah malam yang menegangkan di kompleks pemakaman tua, langit Jakarta pagi ini bersih tanpa noda awan, memancarkan warna biru cerah yang hangat seolah ikut merayakan hari baru. Hari yang dinantikan oleh seluruh kalangan elite korporasi dan media nasional akhirnya tiba. Grand Ballroom Hotel Mulia sekali lagi didekorasi, namun kali ini suasananya berbanding terbalik dari malam perayaan setengah abad yang lalu.
Tidak ada lagi aura ketegangan atau intrik politik tersembunyi. Ruangan raksasa itu telah disulap menjadi taman musim dingin yang megah dengan ribuan bunga mawar putih segar, anggrek bulan, dan untaian kristal yang menjuntai dari langit-langit, memancarkan aroma harum yang menenangkan. Semua faksi yang dulu sempat bergolak kini telah tunduk di bawah kekuasaan mutlak Devan Alfarezel yang bersih dari pengaruh Karina maupun Hendra Wijaya.
Di dalam ruang transit pengantin, Anya duduk tegak di depan cermin. Gaun pengantin yang ia kenakan kali ini bukanlah gaun yang dikirim dalam kotak teror, melainkan gaun impian yang dirancang khusus oleh rumah mode di Paris. Sebuah gaun *off-shoulder* berbahan brokat premium dengan ekor gaun sepanjang tiga meter yang menyapu lantai marmer. Riasan wajahnya yang anggun disempurnakan oleh mahkota tiara berlian kecil yang berkilau di atas rambutnya yang disanggul rapi.
Pintu ruangan terbuka perlahan, dan Ibu Rahayu melangkah masuk dengan kebaya kurung modern berwarna salem. Wajahnya tampak begitu segar dan sehat, memancarkan kebahagiaan seorang ibu yang melihat putri tunggalnya akhirnya lepas dari segala penderitaan masa lalu.
"Anya..." suara Ibu Rahayu bergetar halus karena haru. Ia berjalan mendekat dan memeluk pundak Anya dari belakang, menatap pantulan wajah putrinya di cermin. "Kau sangat cantik, Nak. Ayahmu di atas sana pasti sedang tersenyum bangga melihatmu hari ini."
Anya memegang tangan ibunya, setitik air mata haru hampir saja merusak riasannya. "Semua ini berkat doa Ibu. Terima kasih karena selalu mempercayaiku, Bu."
"Ibu tidak pernah meragukanmu," bisik Ibu Rahayu lembut. "Dan Ibu tahu, Nak Devan adalah pria yang tepat untukmu. Dia membuktikannya bukan dengan uang, tapi dengan cara dia melindungimu dari badai yang lalu."
Pukul sepuluh tepat, pintu ganda Grand Ballroom terbuka lebar. Alunan musik instrumental dari kelompok orkestra simfoni mulai memainkan nada-nada megah The Wedding March. Ratusan tamu undangan mulai dari menteri, jajaran komisaris, hingga relasi bisnis internasional berdiri serentak, mengalihkan seluruh atensi mereka ke arah koridor utama.
Anya melangkah masuk secara perlahan, tangannya melingkar erat di lengan Kakek Bramanta yang dengan sukarela menggantikan peran mendiang ayahnya untuk mengantarkannya menuju altar. Setiap langkah Anya di atas karpet putih bertabur kelopak mawar diiringi oleh tatapan kagum dan tepuk tangan riuh dari para undangan. Di barisan paling depan, para staf Menara Alfarezel, termasuk Randi yang tampak mengenakan setelan jas terbaiknya, tersenyum lebar penuh kelegaan.
Di ujung altar, Devan Alfarezel sudah berdiri menunggu. Pria itu tampak sangat berwibawa dan luar biasa tampan dengan setelan tuksedo klasik berwarna hitam pekat, kemeja putih dengan kancing hitam, dan dasi kupu-kupu. Sepasang mata elangnya yang biasanya selalu memancarkan kedinginan dan ketegasan korporat, kini melunak sepenuhnya, terkunci hanya pada sosok wanita yang berjalan anggun ke arahnya. Bagi Devan, detak jantung ruangan itu seolah berhenti; dunianya kini hanya berpusat pada Anya Anandita.
Ketika Anya tiba di anak tangga altar terakhir, Kakek Bramanta melepaskan lengan Anya dan menyerahkan jemari wanita itu ke atas telapak tangan Devan yang sudah terbuka hangat.
"Jaga dia, Devan. Dia adalah permata terbaik yang pernah dimiliki keluarga kita sekarang," ucap Kakek Bramanta dengan suara berat yang sarat akan pesan mendalam.
"Saya berjanji, Kakek," jawab Devan mantap, menatap lurus mata kakeknya sebelum akhirnya menggenggam tangan Anya dengan erat dan menuntunnya menghadap pendeta.
Upacara pemberkatan pernikahan berlangsung dengan khidmat dan sakral. Di bawah kubah bunga putih yang megah, di hadapan hukum, Tuhan, dan ratusan saksi, Devan mengucapkan janji sucinya dengan suara bariton yang bergaung tegas tanpa keraguan sedikit pun.
"Saya, Devan Alfarezel, mengambil engkau, Anya Anandita, menjadi istri saya yang sah. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari hari ini dan seterusnya, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sakit maupun sehat, untuk saling mencintai dan menghargai, sampai maut memisahkan kita. Dan ini adalah janji setiaku yang tulus."
Anya menatap mata Devan yang berkilat penuh ketulusan murni saat giliran dirinya mengucapkan janji serupa. Air mata kebahagiaan yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi pipinya saat Devan perlahan menyematkan cincin kawin bertahtakan berlian soliter di jari manisnya, disusul oleh Anya yang menyematkan cincin emas putih polos di jari Devan.
"Dengan ini, saya menyatakan kalian sebagai sepasang suami istri yang sah," ucap pendeta dengan khotbah penutupnya yang damai. "Silakan mempelai pria mencium mempelai wanita."
Devan melangkah satu kali lebih dekat, memangkas seluruh jarak di antara mereka. Kedua tangannya yang besar naik perlahan, membuka helaian kain tule putih transparan yang menutupi wajah Anya, lalu membingkai pipi wanita itu dengan kelembutan yang teramat sangat.
"Kontrak kita sudah benar-benar selesai, Nyonya Alfarezel," bisik Devan dengan senyuman tipis yang begitu memikat, hanya bisa didengar oleh Anya sendiri. "Sekarang, ini adalah hidup kita yang sesungguhnya."
Anya tersenyum manis di tengah sisa air matanya. "Ya, Devan. Hidup kita yang nyata."
Devan kemudian menundukkan wajahnya, menempelkan bibirnya di atas bibir Anya dalam sebuah ciuman yang lambat, dalam, dan penuh dengan komitmen cinta yang murni. Tepuk tangan bergemuruh hebat memenuhi seluruh penjuru Grand Ballroom, mengiringi ciuman suci yang menandai berakhirnya segala bentuk sandiwara, konspirasi kotor, dan ancaman masa lalu.
Sore harinya, setelah resepsi formal selesai dan para tamu mulai berpamitan, Devan membawa Anya kembali ke balkon utama penthouse mereka, tempat di mana perjalanan emosi mereka sering kali diuji. Langit sore Jakarta yang berwarna keunguan menyambut kedatangan sepasang pengantin baru itu.
Anya berdiri di dekat pagar pembatas, membiarkan angin sore memainkan ujung gaun pengantinnya yang indah. Devan melangkah dari belakang, melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling pinggang Anya, menarik tubuh wanita itu bersandar pas di dada bidangnya. Ia menumpukan dagunya di pundak Anya, menghirup dalam-dalam aroma parfum mawar yang menenangkan dari leher istrinya.
"Apakah kau lelah?" tanya Devan lembut, tangannya mengusap jemari Anya yang kini telah dihiasi oleh cincin pernikahan mereka.
"Sedikit," sahut Anya, memiringkan wajahnya sedikit agar bisa menatap profil samping wajah suaminya. "Tapi rasa lelah ini tidak sebanding dengan kebahagiaan yang aku rasakan sekarang. Semuanya terasa seperti mimpi, Devan. Mengingat beberapa bulan lalu aku hanyalah asisten yang ketakutan di ruanganmu karena kontrak gila itu."
Devan terkekeh rendah, sebuah suara seksi yang selalu berhasil membuat jantung Anya berdesir. "Kontrak itu mungkin gila, tapi itu adalah keputusan terbaik yang pernah kuambil seumur hidupku. Jika aku tidak egois memaksamu masuk ke dalam hidupku saat itu, aku mungkin masih menjadi pria dingin yang terjebak dalam kegelapan masa lalu."
Pria itu memutar tubuh Anya perlahan hingga mereka kini saling berhadapan. Di bawah semburat cahaya senja yang romantis, Devan menatap manik mata Anya dengan binar cinta yang begitu pekat, tidak ada lagi ruang untuk keraguan atau rahasia di antara mereka.
"Terima kasih karena sudah memilih untuk bertahan di sampingku, Anya. Terima kasih karena sudah menjadi cahayaku," ucap Devan tulus, suaranya merendah penuh emosi yang dalam.
Anya tersenyum, mengulurkan kedua tangannya untuk merapikan kerah tuksedo Devan sebelum beralih mengusap rahang tegas suaminya. "Kita menyelamatkan satu sama lain, Devan. Dan mulai hari ini, tidak akan ada lagi badai yang bisa menggoyahkan kita."
Devan tidak membalas dengan kata-kata lagi. Ia memajukan wajahnya, kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman sore yang hangat, manis, dan sarat akan janji masa depan yang cerah.