NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasangan Pura-Pura

Bab 30 – Pasangan Pura-Pura

“Aku menyesal bilang iya.”

Alya mundur selangkah, hampir menabrak kursi di belakangnya.

Kael tetap berdiri tenang di tempatnya, kedua tangan dimasukkan ke saku celana, seolah baru saja tidak membuat jantung gadis itu hampir copot.

“Sudah terlambat.”

“Enggak! Tidak ada kata terlambat untuk kabur!”

“Ada.”

“Kapan?!”

“Kalau aku sudah mengunci pintu ini.”

Alya langsung menoleh cepat ke arah pintu ruang makan. Benar saja, pintunya tertutup rapat.

Ia menatap Kael dengan tatapan ngeri.

“Kamu bercanda kan?”

“Sedikit.”

Alya menarik napas panjang mencoba menenangkan diri.

“Aku mau revisi keputusan hidup!”

Kael berjalan mendekat perlahan.

“Kau sudah setuju membantu.”

“Aku setuju bantu soal sidang keluarga, bukan jadi kelinci percobaan dan korban eksperimen romantis gila ini!”

“Ini namanya strategi.”

“Ini namanya pelecehan psikologis!”

Kael berhenti tepat di hadapannya. Nada suaranya berubah menjadi sangat serius.

“Dengarkan aku baik-baik.”

“Aku dengar.”

“Anggota keluarga tua itu hanya percaya dua hal.”

“Apa?”

“Kekuatan… dan ikatan.”

Alya mengernyitkan dahi.

“Masih terdengar seperti slogan film penjahat.”

“Kita butuh mereka melihat dengan mata kepala sendiri kalau kau memilihku.”

Alya menunjuk wajahnya sendiri.

“Tapi kan faktanya aku belum memilihmu!”

Kael menatapnya lama.

“Aku tahu.”

Lalu suaranya menurun menjadi lebih lembut dan rendah.

“Tapi mereka tidak perlu tahu itu.”

Jantung Alya berdebar kencang lagi.

Sialan. Kenapa pria ini bisa terlihat begitu berbahaya dan memikat bahkan saat dia bicara masuk akal sekalipun?

 

Setengah jam kemudian.

Alya berdiri di ruang tengah mansion yang luas, sementara Kael berdiri di depannya layaknya seorang pelatih militer yang tegas.

Riko berdiri di samping memegang clipboard dan pena.

Serena? Wanita itu sudah duduk santai di sofa sambil makan anggur, jelas-jelas datang hanya untuk menonton hiburan dan penderitaan orang lain.

“Kenapa dia ada di sini sih?” tanya Alya kesal.

Serena mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Aku butuh hiburan gratis.”

Kael menatap Alya tajam.

“Fokus.”

“Aku sedang fokus membenci nasibku sendiri.”

“Mulai latihan pertama.”

Riko langsung membaca catatannya dengan suara lantang.

“Nomor satu: Kontak mata pasangan yang romantis.”

Alya membelalakkan mata.

“RIKO?! Kamu juga ikut-ikutan mendukung kegilaan ini?!”

Riko menunduk hormat sopan.

“Saya mendukung kemenangan Tuan Kael, Nona.”

Dasar pengkhianat!

Kael berdiri satu langkah tepat di depan Alya.

“Lihat aku.”

“Aku kan sudah lihat, mata kamu hitam pekat gitu.”

“Lihat dengan benar dan dalam.”

Alya mendecakkan lidah kesal lalu menatap lurus ke mata pria itu.

Salah besar.

Karena Kael menatap balik dengan intensitas yang tidak manusiawi. Mata gelap itu tenang, tajam, dan seolah di seluruh ruangan ini hanya ada mereka berdua.

Alya mulai gelisah, keringat dingin mulai keluar.

“Sudah cukup kan?!”

“Belum.”

“SUDAH CUKUP!”

“Baru tujuh detik.”

Dari sofa, Serena langsung bertepuk tangan antusias.

“Wah! Wajahnya merah sekali tuh! Kelihatan banget!”

“Aku panas karena cuaca!” bentak Alya membela diri.

“Benar,” gumam Kael pelan tapi jelas terdengar, “…panas karena malu.”

 

Latihan Kedua.

“Nomor dua: Sentuhan alami,” baca Riko lagi.

Alya menoleh tajam.

“SIAPA YANG NULIS DAFTAR INI?!”

Kael mengangkat tangannya sedikit.

“Aku.”

“Tentu saja. Pasti kamu.”

Kael mendekat.

“Pegang lenganku.”

“TIDAK MAU!”

“Kalau begitu aku yang pegang pinggangmu.”

Alya langsung meraih lengan pria itu cepat-cepat sebelum dia bertindak nekat.

“Nah, lihat?” Kael tersenyum tipis. “Kau bisa kooperatif kalau dipaksa.”

“Diam mulutmu!”

Lengan Kael terasa keras, berotot, dan sangat hangat. Alya jadi terlalu sadar akan sentuhan itu. Terlalu dekat.

Kael menunduk sedikit menatapnya.

“Sekarang, tersenyum.”

“Aku ingin menggigitmu sampai berdarah!”

“Itu juga bentuk antusiasme yang bagus.”

Serena tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak biji anggur.

 

Latihan Ketiga.

Ini membuat Alya ingin langsung kabur ke luar negeri.

“Masuk ruangan bersama-sama,” kata Kael.

“Berjalan biasa saja kan?”

“Berjalan… seperti kau milikku.”

Tubuh Alya membeku total.

“APA?!”

Kael mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu berbisik,

“Bukan sungguhan. Cuma gaya jalan.”

“Saya tahu itu, setan!”

Kael meraih tangan Alya dan menuntunnya berjalan perlahan dari ujung aula menuju ke tengah.

Kael berjalan tenang, mantap, dan gagah.

Sementara Alya? Kaku sekali seperti patung kayu.

“Rileks sedikit,” bisik Kael di sampingnya.

“AKU SEDANG DIKENDALIKAN MAFIA! GIMANA MAU RILEKS?!”

“Dan?”

“SULIT!”

Tiba-tiba Kael menarik tubuhnya lebih dekat hingga bahu mereka bersentuhan dan menempel.

Tubuh Alya langsung terasa panas membara.

“Nah,” kata Kael datar, “sekarang terlihat jauh lebih meyakinkan dan natural.”

Riko mencatat dengan wajah serius.

“Chemistry meningkat drastis.”

“RIKO, SAYA PECAT SECARA EMOSIONAL!” teriak Alya frustasi.

 

Saat mereka berhenti, Serena berdiri sambil menyeringai jahil.

“Sekarang bagian favoritku.”

Alya curiga.

“Apa lagi?”

Serena menoleh ke arah Kael.

“Ciuman pura-pura.”

Seluruh ruangan hening seketika.

Alya membeku tak bergerak.

“TIDAK AKAN PERNAH!”

Kael menatap Serena datar.

“Belum perlu.”

Serena tampak kecewa berat.

“Pengecut.”

Kael menoleh perlahan ke arah wanita itu dengan tatapan dingin.

“Aku hanya tidak ingin dia pingsan di tengah jalan kalau kulakukan beneran.”

Alya tersadar dan langsung menunjuk Kael.

“DIA BENAR! Tunggu—bukan! Bukan itu poinnya!”

Serena tertawa puas melihat keributan itu.

“Demi Tuhan, aku suka sekali pasangan aneh begini.”

 

Latihan akhirnya bubar menjelang sore.

Alya langsung kabur ke taman belakang mansion untuk mengambil napas segar dan menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

Ia berdiri di dekat air mancur sambil memegangi dadanya.

“Kenapa sih jantungku begini… kayak mau copot.”

Terdengar suara langkah kaki mendekat dari belakangnya.

Tak perlu menoleh pun ia tahu siapa itu. Aura dan wanginya terlalu khas.

“Kau kabur lagi.”

“Aku istirahat!”

“Kau selalu lari menjauh saat mulai gugup.”

Alya berbalik badan menghadapnya.

“AKU TIDAK GUGUP!”

Kael berdiri tegak dengan tangan di saku celana, kemeja putihnya berkibar tertiup angin sore.

“Bohong.”

“Aku cuma capek habis disiksa latihan tadi!”

“Kau capek karena menatapku terlalu lama dan suka.”

Alya memelototinya.

“Kamu punya bakat luar biasa bikin orang ingin melempar batu ke wajahmu!”

Kael malah mengambil satu langkah maju mendekat.

“Lakukan.”

“Aku bisa lho!”

“Tapi kau tidak akan melakukannya.”

Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja.

Alya menelan ludah dengan susah payah.

“Kenapa kamu begitu yakin?”

Kael menatap lurus tepat ke manik matanya.

“Karena dalam hati kecilmu… kau mulai menyukaiku.”

Darah Alya seakan mendidih.

Entah karena marah, karena malu, atau karena… mungkin saja perkataan itu sedikit banyak benar.

Ia mendorong dada bidang pria itu dengan kesal.

“Percaya diri sekali ya!”

Kael tidak tersungkur, malah menangkap pergelangan tangan gadis itu dengan lembut tapi tak bisa dilepaskan.

“Bukan percaya diri.”

Lalu ia menundukkan wajahnya semakin dekat.

“Tapi yakin.”

Jantung Alya rasanya mau meledak keluar dari rongga dada.

“Lepas…”

“Tidak.”

“KAEL.”

“ALYA.”

“Kalau kamu dekat-dekat gitu lagi… aku akan—”

Belum sempat Alya menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara langkah kaki yang berlarian sangat cepat dari arah lorong taman.

Riko berlari menghampiri mereka dengan wajah yang sangat tegang dan pucat.

“TUAN!”

Kael langsung melepaskan tangan Alya dan berbalik badan dengan sigap, ekspresinya kembali dingin dan serius.

“Apa terjadi?”

Riko terengah-engah menahan napas.

“Sidang keluarga… dimajukan menjadi MALAM INI!”

Seluruh udara seakan berhenti berputar.

Alya menatap Kael kaget.

“Malam ini?!”

Riko mengangguk keras-keras.

“Dan… Tuan, ayah Anda membawa bukti-bukti kuat. Dia berniat menghancurkan nama baik Nona Alya di depan semua orang!”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!