Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
"Tangisan Sanya yang menyayat hati ketika tangannya diobati, malah menjadi pemantik kesenengan para manusia berhati hitam.
"Rasakan, makanya jangan suka mencuri milikku, dasar pembawa sial..!" teriak Jinbao dari halaman.
Entah kapan bocah nakal tersebut berada dipekarangan kamar keluarga putra ketiga Xiao.
"Berisik kau Jinbao..!" Li Chao membentak keras.
Tapi Jinbao sama sekali tidak takut, bocah itu malah mengejek bibinya.
"Dasar ayam mandul, tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Heh, wanita tidka berguna..! harusnya nenek membuatmu bercerai dengan paman daei dulu."
Jantung Li Chao berdebar kencang, otaknya mendidih mendengar ucapan Jinbao.
Apa yang bisa dimengerti oleh anak kecil itu, sampai tahu istilah ayam mandul.
Semuanya pasti diajarkan oleh orang dewasa. Ibu mertuanya mungkin suka begunjing dan mengutuk Li Chao dibelakang punggungnya.
Sungguh jahat sekali, bodoh. Seorang anak yang seharusnya tumbuh dilingkungan sehat, malah sudah didoktrin dengan ajaran sesaat dan pertengkaran setiap hari.
Mau bagaimana mereka dimasa depan..?
Akan menjadi apa jika karakternya sudah buruk sejak dini..?
Api kebencian kian berkobar dihati Li Chao, tapi dia tidak membalas dan kembali fokus menenangkan Sanya.
Sementara Aran, makin mengeras saja hatinya. Ia tak bisa lebih lama tinggal dikeluarga toxic begini, ia dan suaminya harus segera pergi.
Song Aran teringat rencananya bersama sang suami. Mungkin dengan menasehati atau mengusik sifat Jinbao, akan lebih efektif untuk memaksa si ibu mertua mengusir dirinya dan Xiao Jian.
Aran dan Xiao Jian memang tidak menargetkan Jinbao dalam misi mereka, sebab berpikir Jinbao hanya anak kecil yang manja dengan kenakalan yang sewajarnya.
Tapi sekarang penilaian Aran telah berubah, anak seperti ini pantas diberi pelajaran. Sudah bukan sekadar nakal manja, tapi kurang ajar tak punya sopan santun beretika.
Melihat Sanya sudah tertidur tenang, Aran pun pamit untuk kembali kemar lalu memeriksa beras ketan yang telah direndam dalam mata air spiritual didalam Ruang Saji.
Aran menyalakan anglo, mengukus beras ketan dengan kukusan bambu.
Semua perabotan masak itu adalah milik Xiao Jian yang dulu ada dirumah lama, tempat persembunyian pemuda itu.
Sembari menunggu beras ketan matang, Aran memutuskan untuk merawat tanaman dan ayam peliharaan.
Setelah beras ketan matang, Aran menggelarnya di atas tikar bambu untuk mendinginkannya.
Setelahnya, Aran mencampurkan bubuk ragi secara merata, memasukkannya ke dalam ember kayu lalu dipadatkan, membuat lubang bagian tengah, kemudian ditutup rapat.
Tinggal menunggu saja dua sampai tiga hari, maka arak beras sudah bisa dikonsumsi.
Saat Song Aran sedang sibuk, tiba-tiba ia mendengar teriakan panik dari halaman.
"Ibu, tolong beri aku uang untuk membawa Sanya ke tabib, putriku demam..!" Li Chao memohon sembari terisak putus asa.
Song Aran segera keluar, dan langsung mendapati wajah Sanya memerah dengan badan menggigil.
Meski lukanya telah dibersihkan tepat waktu, cedera dan trauma adalah penyebab utama balita cantik itu mengalami demam.
"Tidka ada uang..!" pekik Wang Lian.
"Jangan manja, hanya karena jatuh saja sudah demam. Dasar lemah, tidak berguna.!"
"Li Chao meratap pedih "ibu, tolong, kasihani Sanya..!"
"Kau mau merampok keluarga ini..? lagi pula itu hukuman untuk Sanya karena mencuri dari Jinbao kita..!"
"Sanya tidak mencuri, putriku bukan anak seperti itu." raung menggelegar Li Chao.
Wanita itu sudah panik ketakutan melihat putranya yang mengigau, menggigil. Ini malah dimaki, dituding kasar.
"Apa yang dikatakan Jinbao, itu yang benar dan aku percaya. Jangan melawanku, atau aku akan membuatmu bercerai dengan putraku."
"Ibu, sakit..!" rintihan Sanya dengan mata terpejam dan bibir sepucat kapur.
"Ibu, tolong, Sanya bisa mati kalau tidak segera diobati." tubuh Li Chao bergetar hebat, memeluk putrinya erat.
"Tidak ada uang..! apa gunanya membawa anak yang tidak berharga ke tabib. Setiap anak pasti sakit, dia harus bertahan agar kuat, jangan manja."
"Ibu---
"Diam, lebih baik kau pergi memasak. Sebentar lagi waktunya bagi keluarga untuk makan."
"Istriku, apa yang terjadi..?" tanya suami Li Chao yang baru pulang daei ladang.
"Suamiku, tolong Sanya, dia demam. Kita harus segera membawanya ketabib, tapi aku tidak punya uang."
Song Aran hanya bisa menghela napas sedih.
Keluarga Li Chao tidak memiliki mas kawin saat menikah, tak juga punya tabungan karena semua uang yang mereka hasilkan diberikan kepada Wang Lian.
Xiao Laosan adalah anak yang paling jujur. Ia selalu patuh pada orangtua, menyetorkan semua hasil kerja tanpa menyisakan untuk istri dan anaknya.
Xiao Laosan memeriksa tubuh Sanya yang berada digendongan Li Chao. Melihat wajah putrinya yang memerah, serta tangan dibalut perban, wajah pria itu langsung berubah kelam.
Meski diabad ini anak lelaki lebih berharga, Xiao Laosan juga ingin memilikinya. Tapi pria itu sangat menyayangi kedua putrinya. Bagi Laosan, anak tetap anak, tidka boleh dibeda-bedakan.
"Jinbao memuli Sanya, menginjak tangan juga menendang perutnya. Aku sudah membalut lukanya, tapi dia masih demam. Sanya perlu diperiksa tabib." adu terisak Li Chao.
"Ibu..!" Xiao Laosan menatap Wang Lian, Tapi Xiao Laoer menyela.
"Jinbao-ku anak yang baik, mana mungkin dia menginjak tangan adiknya tanpa alasan..? Sanya pasti telah melakukan sesuatu yang buruk."
"Kau tahu apa..? Sanya hanya melihat manisan ditangan Jinbao, tapi putramu itu sudah mengamuk seperti ornag gila. Menuduh Sanya mencuri, mendorongnya, menginjak-injak Sanya." raung garang Li Chao.
"Kalian tidak punya hati, ibu dan Zhaoi niang bahkan cuma menonton melihat Jinbao yang seperti babi itu menginjak badan kurus putriku." jeritan marah meluap dari kerongkongan Li Chao.
Xiao Laosan meradang, ia menatap garang Wang Zhaoi, Jinbao lalu kakak keduanya Xiao Luoer.
"Ibu, berikan aku uang untuk membawa Sanya berobat, setelahnya aku akan melupakan kejadian ini." kata dingin Laosan.
"Omong kosong apa yang kau ucapkan..? semua anak pasti pernah sakit. Tidak usah berlebih, dibawa tidur juga sembuh." balas Wang Lian tak punya nurani.
"Belum lama ini Jinbao hanya batuk karena tersedak, Ibu langsung membawanya kedokter. Sanya sekarang demam, tangannya terluka, mungkin juga perutnya memar, dan Ibu cuma bilang semua anak pasti pernah sakit..?" ucap penuh kekecewaan Xiao Laosan.
"Bisakah Sanya yang tidak berguna ini dibandingkan dengan Jinbao..? dia satu-satunya cucu laki-laki di keluarga Xiao kita, tentu Jinbao harus mendapatkan yang terbaik."
"Baik, kalau ibu tidak mau memberiku uang, mari kita bagi harta keluarga..!" kata Xiao Laosan dingin.
Mendengar ini, Li Chao merasakan gelombang kegembiraan. Akhirnya keluarganya bisa terbebas dari keluarga utama, tidka akan merasa sakit hati jika melihat ketimpangan kasih sayang si ibu mertua.
Wang Lian berteriak, ia hendak menampar Xiao Laosan.
"Membagi harta keluarga.? anak durhaka. Aku masih hidup, kita tidak boleh membagi harta keluarga apa lagi hanya untuk membawa putrimu yang tidak berharga itu kedokter."
Aku ganti aja kata tabib jadi dokter ya, biar lebih enak aja.
Xiao Laosan tidak menghindar dari tamparan Wang Lian, tapi berlutut tegak, berkata dengan penuh kekecewaan.
"Ibu, selama aku menjadi putramu, apa pernah aku tidak berbakti..? aku bisa mengabaikan putriku yang ingin makan telur, tapi aku tidak melihat Sanya mati karena demam."
"Laosan, jangan bicara soal pembagian harta keluarga." Xiao Heng menyela dari pintu halaman.
"Istriku, berikan uangnya agar Sanya bisa segera dibawa kedokter." sambung Xiao Heng.
"Terimakasih, ayah..!" Xiao Laosan mengambil uang yang disodornya Wang Lian.
Ibunya itu terus saja menggerutu, mengomel tak ikhlas.
Xiao Laosan gegas menggendong Sanya, berlari keluar menuju ke klinik. Li Chao juga ikut berlari mengekori.
"Istri Laosan, giliranmu memasak hari ini. Kalau kau kabur, siapa yang akan melakukannya..?" seru Wang Lian.
"Ibu, biar aku saja yang memasak."
Wang Zhaoi, yang sejak tadi bersembunyi bersama Daya dan Jinbao, akhirnya menampakan diri, menawarkan jasa.
Song Aran yang tak mau jadi tumbal untuk makan malam, melipir keluar. Xiao Jian dan Song Qing Bao seharusnya sudah kembali sekarang.
Benar saja,begitu Aran tiba di pintu masuk desa, ia melihat Xiao Jian dan Qing Bao berjalan kearahnya sembari mengobrol serta tertawa.
Tampaknya kedua pria berbeda usia itu telah mendapatkan hasil buruan yang bagus.