NovelToon NovelToon
Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Gelombang Digital dan Langkah Pasti

Cahaya matahari pagi di Cisarua menembus kabut tipis, menyinari embun yang masih bertengger di daun-daun pinus. Arya Wiguna terbangun lebih awal dari biasanya, bukan karena alarm, melainkan karena ketenangan hati yang ia rasakan sejak malam tadi. Tidurnya lelap, tanpa mimpi buruk tentang keruntuhan perusahaan atau ancaman Pak Gunawan. Yang tersisa di benaknya hanyalah senyuman teduh dari pesan singkat Nadia dan tekad baja untuk melanjutkan perjuangan.

Setelah menunaikan salat Subuh berjamaah dengan suara merdu yang menggema di ruang tamu vila yang sepi, Arya segera bersiap. Ia tidak membuang waktu untuk sarapan mewah; hanya secangkir kopi hitam dan roti gandum sudah cukup untuk mengisi energinya. Hari ini adalah hari krusial. Jika kemarin adalah hari pertahanan dan serangan balik media, hari ini adalah hari eksekusi strategis untuk mengunci kemenangan dan memastikan kontrak bisnis masa depan tetap aman sesuai prinsip syariah.

"Pak Ujang," sapa Arya saat mobil sudah meluncur turun dari perbukitan Cisarua menuju Jakarta. "Bagaimana situasi pasar saham pagi ini? Cek berita terbaru."

Pak Ujang, yang sudah siap dengan tablet di dashboard, segera melaporkan. "Saham WCNN (Wiguna Cipta Nusantara) dibuka dengan kenaikan signifikan, Mas. Naik 12% dalam satu jam pertama perdagangan. Analis pasar modal menyebut ini sebagai 'The Arya Effect'. Publik dan investor ritel berbondong-bondong membeli saham kita sebagai bentuk dukungan moral atas sikap Mas kemarin. Sebaliknya, saham-saham konglomerat yang terkait dengan bank konvensional sedang tertekan karena isu boikot produk mereka mulai bergulir di media sosial."

Arya mengangguk pelan, wajahnya datar namun matanya berbinar. "Alhamdulillah. Itu bukan karena saya, Pak. Itu karena masyarakat kita sebenarnya haus akan keadilan dan kejujuran. Mereka lelah dengan korporasi yang serakah. Tapi ingat, euforia pasar itu bisa berubah cepat jika kita tidak segera memberikan realisasi nyata. Kita harus segera mengumumkan skema baru proyek Green Valley hari ini juga."

"Siap, Mas. Tim marketing sudah menyiapkan draf siaran pers, tapi mereka menunggu persetujuan final Mas soal detail bagi hasilnya," lapor Pak Ujang.

"Saya akan tinjau ulang di mobil. Hubungkan saya dengan Hendra dan tim legal via konferensi video," perintah Arya.

Dalam perjalanan menuju Jakarta yang mulai macet, Arya memimpin rapat virtual intensif. Wajah-wajah lelah namun penuh semangat timnya muncul di layar tablet. Mereka membahas teknis akad Musyarakah Mutanaqisah yang akan ditawarkan kepada mitra bank syariah alternatif yang sudah mereka hubungi semalam. Arya menekankan poin-poin penting: transparansi total, pembagian risiko yang adil, dan klausul perlindungan bagi nasabah kecil.

"Ingat," tegas Arya di akhir sesi, "Kita tidak boleh terjebak dalam jebakan 'syariah only on label'. Setiap angka, setiap persen, harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jika ada keraguan sekecil apa pun, buang. Lebih baik proyek terlambat seminggu daripada salah akad seumur hidup."

"Dimengerti, Mas Arya," jawab Hendra mantap. "Kontrak draft sudah kami revisi sesuai arahan Mas. Siap ditandatangani sore ini jika mitra bank setuju."

Sesampainya di kantor pusat Sudirman, suasana terasa berbeda drastis dibandingkan dua hari lalu. Tidak ada lagi bisik-bisik ketakutan di lorong-lorong. Karyawan menyambut Arya dengan senyum lebar dan salam yang hangat. Beberapa bahkan berani bersorak kecil saat mobil Arya memasuki area parkir bawah tanah. Rasa solidaritas telah tumbuh kuat; mereka merasa dilindungi oleh pemimpin yang berani melawan arus demi prinsip bersama

Namun, di lantai 40, ruang tunggu direktur utama, suasana sedikit mencekam. Pak Gunawan ternyata sudah datang lebih pagi. Ia duduk di sofa kulit dengan wajah masam, dikelilingi oleh dua pengacaranya yang tampak tegang. Melihat Arya masuk, Pak Gunawan langsung berdiri, wajahnya merah padam menahan amarah yang tertahan.

"Arya!" bentaknya begitu Arya melangkah keluar dari lift. "Kau pikir kau sudah menang? Kau pikir sorak-sorai karyawan dan kenaikan saham sesaat itu berarti kau aman? Aku masih memegang 35% saham perusahaan ini! Aku bisa memveto setiap keputusanmu di RUPS nanti!"

Arya berhenti sejenak, menatap Pak Gunawan dengan tatapan tenang yang justru membuat lawannya semakin geram. "Selamat pagi, Pak Gunawan. Saya tidak merasa perlu menang atau kalah melawan Bapak. Saya hanya melakukan kewajiban saya sebagai CEO untuk menyelamatkan aset perusahaan. Dan soal veto, silakan gunakan hak Bapak jika itu hati nurani Bapak. Tapi ingat, pemegang saham minoritas dan publik sekarang sedang mengawasi. Jika Bapak menggunakan hak veto itu untuk menghalangi skema halal yang sudah didukung mayoritas, Bapak akan dianggap sebagai musuh umat dan musuh kemajuan bangsa. Apakah Bapak siap menanggung konsekuensi sosial itu?"

Pak Gunawan terdiam, rahangnya mengeras. Ancaman Arya bukan main-main. Tekanan publik di era digital bisa menghancurkan reputasi seseorang dalam hitungan menit, lebih cepat daripada proses hukum apapun

"Saya tidak akan tinggal diam," desis Pak Gunawan pelan, jarinya menunjuk ke arah Arya. "Aku akan panggil RUPS Luar Biasa minggu depan. Kita lihat siapa yang benar-benar didukung pemegang saham. Dan aku akan bawa auditor eksternal untuk memeriksa semua transaksi pribadimu selama lima tahun terakhir! Jangan kira aku lupa soal masa lalumu itu, Arya!"

Mendengar sebutan "masa lalu", jantung Arya berdegup kencang sesaat, tapi ia segera menenangkan diri. Ia teringat nasihat Kyai Hasan dan dukungan tak terduga dari Nadia. Rasa takut itu telah berubah menjadi keberanian untuk mengakui kesalahan masa lalu sebagai bagian dari proses taubat.

"Silakan, Pak," jawab Arya tegas, suaranya lantang hingga terdengar oleh sekretaris di meja depan. "Periksa saja. Saya tidak punya sesuatu untuk disembunyikan. Justru saya menyambut audit tersebut. Biar dunia tahu bahwa seorang manusia yang pernah berbuat salah bisa bertaubat dan menjadi pemimpin yang lebih baik. Taubat saya menghapus dosa saya, dan kinerja saya berbicara lebih keras daripada fitnah Bapak. Silakan atur jadwal RUPS-nya. Saya akan hadir dengan kepala tegak."

Pak Gunawan tampak terkejut dengan respons setenang itu. Ia mengharapkan Arya panik atau marah, bukan menerima tantangan dengan begitu percaya diri. Tanpa kata-kata lagi, Pak Gunawan membalingkan tasnya dan berjalan cepat menuju lift, diikuti pengacaranya yang bingung.

Setelah lawan pergi, Arya menghela napas panjang. Ia tahu ini baru permulaan dari babak hukum yang lebih rumit, tapi ia siap. Ia masuk ke ruang kerjanya, di mana Rina sudah menunggu dengan segudang dokumen.

"Mas, telepon dari Bank Syariah Indonesia (BSI) cabang utama," lapor Rina antusias. "Direktur Utamanya ingin bertemu Mas siang ini untuk menandatangani nota kesepakatan proyek Green Valley. Mereka setuju penuh dengan skema bagi hasil murni yang kita ajukan!"

"Alhamdulillah," ucap Arya sambil melepas jasnya dan menggantinya dengan rompi kerja yang lebih santai. "Siapkan ruang rapat utama. Undang juga perwakilan dari koperasi karyawan dan tokoh masyarakat yang kemarin hadir. Kita akan buat penandatanganan ini sebagai acara publik, livestreaming ke seluruh negeri. Biarkan semua orang melihat bahwa bisnis syariah itu nyata, transparan, dan menguntungkan."

Siang itu, ruang rapat utama kembali dipenuhi orang, namun kali ini dengan atmosfer perayaan dan harapan. Penandatanganan kontrak senilai triliunan rupiah itu berlangsung khidmat. Tidak ada jabat tangan yang dingin dan formal semata; ada pelukan erat antara Arya dan Direktur Bank, ada air mata haru dari Pak Darman yang mewakili pekerja, dan ada senyum bangga dari para tokoh agama.

Saat sesi foto bersama, ponsel Arya bergetar lagi. Sebuah pesan masuk dari Nadia: "Saya menonton livestream-nya, Mas. Masya Allah, indah sekali melihat Mas berada di tengah-tengah orang banyak yang tersenyum karena kebaikan Mas. Teruslah bersinar. Doa saya selalu menyertai setiap langkah Mas. Semangat untuk RUPS minggu depan, insya Allah kemenangan ada di pihak yang benar

Arya tersenyum membaca pesan itu, lalu menyimpan ponselnya kembali ke saku. Ia menatap kamera yang merekam momen bersejarah itu. Di balik lensa kamera, di balik gemuruh tepuk tangan, dan di balik tumpukan dokumen kontrak, Arya Wiguna menyadari satu hal: ini bukan sekadar urusan bisnis. Ini adalah gerakan sosial, sebuah revolusi kecil dalam dunia korporasi Indonesia untuk mengembalikan ruh Islam ke dalam denyut nadi ekonomi.

Realitas yang dihadapi Arya jauh lebih dramatis karena taruhannya adalah iman dan masa depan ribuan manusia. Dan kisah ini belum berakhir. Babak berikutnya, RUPS Luar Biasa, akan menjadi arena pertempuran paling menentukan. Akankah Pak Gunawan berhasil memecah belah pemegang saham? Ataukah integritas Arya akan menyatukan mereka semua?

Sore itu, saat matahari mulai condong ke barat, Arya berdiri lagi di depan jendela kantornya, memandang kota Jakarta yang tak pernah tidur. Ia tahu, badai masih akan datang, tapi ia kini memiliki kompas yang jelas: Al-Qur'an, akal sehat, dan cinta yang tulus pada kebenaran. Dan dengan bekal itu, ia siap menghadapi apapun yang menanti di bab-bab selanjutnya.

[BERSAMBUNG]

1
Uking
semangat thor😍
Jesa Cristian: iya makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!