Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 ~ Kamu Berniat Untuk Menikahinya
Ayra melangkah masuk kedalam ruang rawat dengan wajah dingin. Tangannya masih menggenggam kantong sarapan yang baru saja ia beli dari luar. Namun tatapannya langsung tertuju pada sosok Shella yang berdiri tidak jauh dari ranjang Samuel.
“Ekhm…”
Suara kecil itu membuat Arga dan Shella sama-sama menoleh.
“Sayang… kamu sudah kembali?” tanya Arga pelan. Pria itu langsung meletakkan kotak makanan yang sejak tadi diberikan Shella padanya.
Namun Ayra tidak langsung menjawab. Tatapannya justru tertahan pada wanita didepannya.
“Dia ada disini?” tanyanya datar.
Suasana ruangan seketika terasa berbeda. Shella tampak menyadari perubahan nada bicara Ayra. Namun wanita itu buru-buru mencoba tersenyum kecil untuk mencairkan keadaan.
“Iya…” jawabnya pelan. “Aku pikir kalian pasti lelah menjaga Samuel semalaman. Jadi aku sengaja datang membawakan sarapan untuk kalian.” Nada suaranya terdengar lembut.
Namun entah kenapa, kali ini Ayra sama sekali tidak merasa tersentuh. Justru ada rasa tidak nyaman yang sejak tadi terus mengganjal didalam dadanya.
Ayra berjalan mendekati ranjang Samuel lalu duduk perlahan disamping putranya. Tangannya mengusap rambut Samuel lembut. “Tidak perlu repot-repot. Kami tidak pernah keberatan menjaga putra kami, Sam.”
Ayra tersenyum tipis menatap wajah Samuel. "Lagipula ..." lalu kembali menatap dingin kearah Shella. “Kamu hanya sekretaris Mas Arga. Pekerjaanmu ada dikantor, bukan dirumah sakit ini. Apalagi sampai menyiapkan makanan untuk suamiku.”
Deg. Wajah Shella berubah pucat seketika mendengarnya.
Samuel yang berada diranjang bahkan ikut diam sambil memandang wajah mamanya bergantian dengan Shella.
“Aku masih bisa melakukan itu sendiri,” ucap Ayra lagi.
“Tapi Mbak Ayra… aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Aku cuma—”
Bahkan panggilan Shella pada Ayra begitu berani, seolah hubungan mereka berdua memang sedekat itu. Padahal mereka berdua jarang sekali mengobrol atau bertegur sapa, tidak sampai kejadian semalam.
“Aku sangat berterima kasih untuk bantuanmu semalam,” potong Ayra cepat. Tatapannya kini benar-benar tajam.
“Tapi itu tidak berarti kamu menjadi bagian dari keluargaku.” lanjutnya.
Shella membeku ditempatnya.
“Baik Samuel… Maupun Mas Arga.”
“Ayra…!" suara Arga akhirnya terdengar. Pria itu menatap istrinya dengan kening berkerut, seolah tidak menyangka Ayra akan berbicara sejauh itu.
Namun Ayra justru menoleh menatap suaminya. “Ya,” ucapnya lirih. “Seharusnya kamu juga paham tentang hal ini tanpa aku harus mengatakannya.”
Deg. Kalimat itu sukses membuat suasana ruangan semakin menegang.
Shella langsung menundukkan wajahnya pelan. Jemarinya menggenggam tas ditangannya erat, seolah sedang menahan sesuatu.
Sementara Arga masih menatap Ayra dalam diam. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Ayra menunjukkan sisi dinginnya secara terang-terangan.
“Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu, tapi jika kedatanganku sudah membuat Mbak Ayra tersinggung… aku minta maaf,” ucap Shella pelan. Tanpa banyak bicara, Shella segera berbalik dan pergi.
Arga sempat menatap punggungnya, namun tidak sampai mencegah langkah Shella keluar dari ruangan.
“Tunggu.” Suara Ayra membuat langkah wanita itu terhenti.
Shella menoleh perlahan.
Ayra menatap paper bag mainan yang tadi diberikan untuk Samuel. Tanpa banyak bicara, wanita itu mengambilnya dari atas ranjang lalu berdiri.
Langkahnya pelan mendekati Shella.
“Samuel tidak suka mainan mobil-mobilan…”
Tatapan Ayra sempat bergeser pada Samuel yang hanya diam memperhatikan mereka dari atas ranjang. “Dia lebih suka mainan robot atau dinosaurus…”
Lalu Ayra kembali menatap Shella tepat dimatanya. “Tapi aku pastikan… aku bisa membelikannya sendiri.”
Paper bag itu berpindah ke tangan Shella. Wanita itu menerimanya perlahan. Wajahnya tampak sedikit pucat, namun ia tetap mencoba tersenyum tipis.
“Baik…” lirihnya pelan.
Tak lama kemudian Shella benar-benar pergi meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup perlahan. Ayra masih berdiri ditempatnya, menatap lurus ke arah pintu cukup lama sampai bayangan wanita itu benar-benar menghilang.
Hening. Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Ayra menghembuskan nafas pelan sebelum akhirnya berbalik hendak kembali ke sisi Samuel. Namun baru beberapa langkah, kakinya terhenti saat Arga menahan lengannya pelan.
“Tunggu, Ayra…”
Ayra mendongak. Tatapan mereka bertemu. Arga menatap bola mata Ayra dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
“Tidak seharusnya kamu berbicara pada Shella seperti itu,” ucap Arga lirih. “Kamu juga tahu, maksudnya itu baik…”
Ayra terdiam beberapa detik. Lalu perlahan bibirnya tersenyum tipis.
“Aku tahu…” jawabnya pelan. “Dan aku juga sudah berterima kasih, bukan?”
“Tapi tadi ucapanmu begitu kasar dan pasti melukai hati Shella…”
Alis Ayra langsung berkerut. “Melukai?” ulangnya perlahan. Tatapan wanita itu berubah.
“Jadi menurutmu… aku tidak terluka?”
Arga terdiam. Dan diamnya pria itu justru membuat dada Ayra semakin sesak.
“Seorang wanita membawakan makanan dan begitu mendapatkan perhatian yang khusus dari suamiku…” suara Ayra mulai bergetar pelan. “Apa aku tidak terluka?!”
Ayra langsung menarik lengannya dari genggaman Arga.
“Ayra kamu berlebihan…”
“Aku? Aku berlebihan?!” Nada suara wanita itu akhirnya naik untuk pertama kalinya. Matanya mulai memerah menahan emosi yang sejak tadi ia tahan.
“Mas sadar tidak dari tadi kamu terus membelanya?” tanya Ayra lirih namun menusuk. “Aku ini istrimu.”
Arga menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya.
“Ayra aku tidak membelanya… aku hanya—”
“Hanya apa?” potong Ayra cepat. Tatapannya tajam menembus mata Arga, seolah berusaha mencari sesuatu disana.
“Dari cara dia memanggilku barusan…” suara Ayra mulai bergetar menahan emosi. “Apa kamu berniat untuk menikahinya?”
Deg.
“Ayra!!” Arga langsung membentak tanpa sadar.
Suasana ruangan seketika membeku. Samuel sampai tersentak kecil diranjang karena nada suara papanya yang meninggi untuk pertama kali.
“Apa yang kamu bicarakan?” rahang Arga mulai mengeras.
Namun Ayra justru tertawa kecil.Tawa yang terdengar pahit.
“Kenapa?” tanyanya lirih. “Aku salah bicara?”
“Aku dan Shella tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?” potong Ayra cepat.
Pertanyaan itu menusuk. Arga hanya diam.
Ayra menatap Arga dengan mata memerah.
“Dia terlalu masuk kedalam hidup kita, Mas…” lirihnya. “Dan kamu membiarkannya.”
“Ayra, cukup.”
“Tidak!” Ayra menggeleng cepat. “Harusnya dari awal kamu yang menjaga batas itu. Bukan aku yang dipaksa mengerti semuanya.”
Arga mengusap wajahnya kasar, mulai terlihat emosi. “Kamu jangan berpikiran macam-macam.."
“Kalau begitu jawab aku.” Tatapan Ayra langsung menusuk tepat dimata suaminya. “Kalau tadi aku yang datang membawa sarapan untuk pria lain… apa kamu juga akan bilang aku tidak berlebihan?”
Arga langsung terdiam. Dan diamnya pria itu kembali menjadi jawaban yang paling menyakitkan untuk Ayra.
Sejenak tatapannya itu terpaku, tanpa ada yang bicara.
“Aku tidak mau bertengkar didepan Samuel. Lebih baik kamu tenangkan dirimu dulu…” Suara Arga terdengar lelah.
Pria itu menghela nafas pelan sebelum akhirnya berbalik menuju ranjang Samuel.
Ayra hanya diam ditempatnya. Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas normal.
Arga membungkuk sedikit lalu mengecup kening Samuel sekilas. “Papa ada pekerjaan,” bisiknya pelan. “Nanti sore Papa janji jemput kalian.”
Samuel tidak langsung menjawab. Bocah kecil itu hanya menatap wajah papanya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.
Namun kali ini tidak ada senyum diwajahnya. Seolah bahkan anak sekecil itu pun mengerti kalau sesuatu sedang tidak baik-baik saja.
Arga mengusap kepala Samuel sebentar sebelum akhirnya berdiri. Pria itu mengambil jasnya disofa lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Cklek. Pintu tertutup.
Dan detik itu juga pertahanan Ayra runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh begitu saja. Wanita itu menutup mulutnya sendiri sambil menangis pelan, dadanya terasa sakit.
“Mama…”